Tuesday, March 8, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Ciptakan Sungai Bersih Ala Mamah Muda (Day 8)


Sudah hampir dua tahun saya tinggal di rumah mertua yang letaknya persis bersebelahan dengan sungai kecil. Awal-awal menetap gak kepikiran bakal ngalamin banjir, namanya juga manten baru yak, haha, heppiii terus.

Masuk akhir tahun, saya pun mengalaminya, hujan menderas dalam kurun waktu 4 jam non stop, merata seluruh Medan, air sungai pun meluap dan masuk ke dalam rumah pelan tapi pasti. Saya shock, panik nyelametin barang, suami mah nyante banget T_T karena udah terbiasa, nah kalo sayaaa…?

Di tahun 2014 saja sudah dua kali saya alami banjir, masuk tahun 2015, lebih parah, dua kali lipat, 4 kali kami alami kebanjiran. Tahun 2016, awal Februari banjir kembali menyapa.


Oh ya Allah, kalau sudah banjir menghampiri, yang paling saya cemaskan adalah kondisi si kecil T_T yang masih bayi.

Dengan bencana banjir yang sering saya alami, membuat saya teruuss berpikir, pasti ada hikmah kenapa Allah menjodohkan saya dengan suami yang sudah hampir 14 tahun memilih tinggal disini walau sadar bakal disinggahi banjir.



Nah, sejak itu ada sebuah tekad dalam hati saya untuk memulai gerakan sungai bersih, dimulai dari edukasi kepada keluarga sendiri dan warga yang tinggal satu lorong dengan kami, di Lorong Bersama.

Adapun edukasi sederhana yang sudah saya lakukan terutama kepada keluarga saya adalah membiasakan untuk membakar sampah kering, dan jangan lagi membuangnya ke sungai.

Saya paling sedih kalau mendengarkan argument keluarga saya bila saya mulai cerewet kalau mereka buang sampah ke sungai.

“Kek mana lagi kak, semua pada buang sampah ke sungai?”

Lalu saya jawab,
“Lah, kalau setiap orang punya pemikiran yang sama, sungai ini bakal jadi sungai yang dipenuhi sampah, kalau gak kita yang mulai siapa lagi?”

Gak mudah, amat sangat gak mudah mengedukasi keluarga sendiri, konon lagi mengedukasi satu lorong yang memang sudah terbiasa buang sampah ke sungai. Gak tobat apa ya sudah ditegur Allah dengan banjir berkali kali eh masih saja buang sampah. Duh Gusti Allah, ampunkan kami.

Waktu masih hamil Khalil, saya rutin jalan pagi sepanjang komplek Lorong Bersama, kemudian saya berpas pas an dengan tetangga saya, seorang ibu menggendong anak bayinya, sebelah tangannya menggenggam bungkusan hitam, sebelah lainnya menggenggam lengan anaknya yang masih balita, berjalan ke arah sungai, dan sudah tahu lah ya ibu itu mau ngapain? Ya buang sampah pospak anaknya ke sungai. Miris hati saya, dan itu dilihat oleh anak-anaknya, dapat dipastikan someday anaknya juga akan lakuin hal yang sama.

Dan sampai sekarang saya gak abis pikir dengan isi otak orang yang tega buang tikar usang ke sungai, kasur busuk ke sungai, bahkan ayah saya ( sebelum nikah saya tinggal dekat sungai juga, tapi sungai besar dan lebar, Alhamdulillah gak pernah banjir)  pernah lihat bangkai sapi lewat di bawa arus sungai, kan ini gila!

Saya hampir hopeless sepertinya saya sendiri yang mau sungai kecil di samping rumah saya ini bersih? Adapun yang sudah sadar yakni tetangga di samping kiri kanan saya, mereka kadang bakar sampah rumah tangganya di lahan kosong, tapi sesekali mau juga buang sampah ke sungai T_T apalagi sampah kotoran udang atau ikan. Kalau tetangga yang di mulut lorong mah, cuek beibeh, jangankan sungai kecil, parit kecil di depan rumah mereka pun tak terjamah mereka untuk mereka bersihkan. T_T Gatal tangan saya ingin mencangkul sampah jajanan anak mereka yang turut menyumbat jalannya air di parit kecil mereka, tapi apalah daya, saya belum cukup berpengaruh di lorong ini. *mau jadi seleb lorong, bwahaha

Saya sampaikan keresahan saya ini ke suami, solusinya harus sistematis dan prosedural  serta kuat mental haha  dan ia dukung beberapa ide saya: 

1. Membuat spanduk yang berisikan himbauan untuk tidak buang sampah, spanduk ini rencananya akan dipasang di antara pepohonan dekat sungai, semoga gak nyakitin pohon ya, mau pasang plang, mesti nabung, atau khawatir ngurus izinnya susah. Yang jadi pertimbangan saya, biar spanduk ini legal, sepertinya saya harus izin dulu dengan keplor. Terus kira kira apa ya redaksi yang pas untuk dicantumkan di spanduk, supaya memberikan efek sadar?

2. Buat proposal pengajuan permohonan ke pejabat di lingkungan saya agar memfasilitasi dan ikut dalam usaha ciptakan sungai bersih, apakah itu dengan solusi memperlebar sungai, membersihkan sampah, atau dengan melakukan edukasi kepada warga berupa kampanye ciptakan sungai bersih, bebas sampah. Bisa jadi selama ini pejabat di lingkungan saya gak ngerasain banjir, jadi gak responsif.

Saya akan mulai dengan ngumpulin data, berupa foto warga yang buang sampah ke sungai di samping rumah saya, mem foto kejadian banjir dan keadaan yang tak mengenakkan selama menunggu air surut, belum lagi drama sesudah air surut yakni pinggang yang encok dan kaki penuh kutu air akibat menguras air, dan dokumentasi lain yang terkait. 

3. Gaet Komunitas Pecinta Sungai Bersih

Sepertinya di Medan udah ada, tapi masih fokus ngebersihin sampah di Sungai Deli, sungai terkenal di Kota Medan, belum menyebar untuk turut membersihkan anak anak Sungai Deli, kayak sungai kecil di samping rumah.

Sejauh ini saya belum ada berkomunikasi dengan komunitas-komunitas tersebut, tapi saya optimis, keberadaan komunitas seperti mereka mesti didukung, karena bisa jadi partner pemda atau pemko juga kan dalam menciptakan sungai bersih di Medan.

Lega rasanya, setelah menuliskan tentang tema sungai bersih dalam rangka meramaikan Giveaway Blogger Peduli Masa Depan yang dicetus Mbak Rinda. Mohon doa dari semua, tiga rencana besar saya di atas untuk ciptakan sungai disamping rumah saya bersih, jauuuuh dari keniscayaan untuk terwujud segera dikarenakan keterbatasan saya sebagai mamah muda beranak satu, tapi saya yakin, gak ada yang gak mungkin. Allah cinta kebersihan, kebersihan sebagian dari iman, Allah pasti bantu ikhtiar saya dan keluarga saya ini.

Meskipun begitu, di tengah kecemasan bahwa sewaktu waktu banjir bisa datang tanpa diundang, ada banyak hal yang saya syukuri, keluarga saya sangat menomorsatukan kebersihan rumah, sadar bahwa lingkungan rentan banjir begini berisiko banyak mendatangkan biang penyakit, maka makmer selalu memastikan rumah dan lingkungan sekeliling rumah dalam keadaan bersih.

Sebulan sekali rumput yang memanjang di lahan kosong dibabat oleh Adik bapak mertua saya, kemudian kami bersama sama membersihkan sisa-sisa potongan rumput dan sampah-sampah yang tertinggal karena dibawa aliran sungai pada banjir banjir sebelumnya.


Penulis:
Nurul Fauziah
Twitter           : @nufazee
IG                    : @nufaz3e
Facebook       : Nurul Fauziah
Url Blog         : www.nufazee.com

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<