Tuesday, March 22, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Desa Mandiri Pangan; Titik Awal Kesejahteraan Masyarakat (Day 22)






Nyaris setahun lalu, saat tau dipindahkan ke radio cabang di kabupaten, rasanya aku ogah-ogahan banget. Udah kebayang nggak bakal bisa ngemall lagi, kongkow-kongkow di gerai fastfood, ato sekedar nyicipin es krim di kedai yang baru buka. Haduh. Hilang sudah keseruan hidup!

Eh tapi, ibuku bilang, saat punya kesempatan tinggal di desa, itu artinya kita bakal punya kesempatan lebih buat bisa menyimpan pundi-pundi rupiah. Dibandingkan sama tinggal di kota, yang apa-apa serba bayar, apa-apa serba beli, di desa jauh lebih ramah. Asal mau usaha dikit aja, dijamin ga bakal kelaparan, uang gaji bisa dihemat sehemat-hematnya.

Apa benar?


Coba kita lihat..

Mayoritas rumah penduduk di desa Pelajaran, Kaur, Bengkulu, punya halaman yang luas. Halaman itu dimanfaatkan untuk menanam berbagai tumbuhan yang tidak hanya berfungsi mempercantik, memperindang, melainkan juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan makanan. 



Di halaman depan, ditanam pohon buah-buahan berukuran besar, seperti pohon mangga, pohon jambu, pohon rambutan, pohon lengkeng dan lain-lain. Saat berbuah, hasilnya lebih dari cukup untuk dikonsumsi pribadi, melainkan pula mampu menjadi pemasukan tambahan dengan cara menjual buah-buahan itu di pinggir jalan, di depan rumah.


Halaman samping dimanfaatkan untuk menanam sayuran, juga tanaman rempah-rempah. Ada daun singkong, juga pepaya – yang daun juga bunganya bisa dijadikan gulai yang lezat, sedangkan buahnya bisa dijadikan salah satu menu sarapan bagi penduduk yang melaksanakan pola makan food combining. Saat musim hujan tiba, ada jamur lezat yang aman untuk dikonsumsi tumbuh di sekitar pohon di halaman. Sedangkan untuk tanaman rempah-rempah pun tersedia aneka rupa. Ada serai, lengkuas, jahe, kunyit bahkan cengkeh yang daunnya handal banget dijadikan bumbu sup.

Dan hei, penduduk desa juga memiliki area sawah yang cukup luas di belakang rumah. Hasil panen biasanya cukup melimpah, karena desa ini dikaruniai tanah yang subur nan makmur. Lebih dari cukup untuk dikonsumsi, hasil panen juga bisa dijual atau dibarter dengan hasil peternakan penduduk lain. 



Iya, selain rajin mengolah tanah dan tanam menanam, sebagian masyarat di desa Pelajaran juga ada yang getol beternak. Ada yang beternak sapi, kambing, juga itik. Daging dan telur yang mempunyai kandungan penting bagi tubuh, bisa didapatkan dengan mudah. Tinggal ambil di kandang sebelah, begitu kata tetanggaku. 


Dibantu oleh pemerintah, masyarakat desa saat ini juga sedang belajar mengolah hasil panenan dari halaman rumah loh. Yang menanam ubi, diajari dan dibekali alat modern agar bisa mengolah ubi-ubinya menjadi tepung Mocaf. Tepung Mocaf ini diklaim memiliki kadar gula yang rendah - lebih rendah dibanding nasi. Jadi lebih aman dikonsumsi untuk menjaga kesehatan karena membuat lebih cepat kenyang. Untuk harganya, per 800  gram dijual Rp 10.000,-. Yang menanam pisang, dibekali pengetahuan untuk mengolah pisang menjadi aneka panganan lezat, seperti cake pisang, keripik pisang, lepek dan lemang pisang, dll. 

Kemandirian masyarakat desa dari segi pangan ini memberi pengaruh positif bagi ketentraman desa. Tak dipungkiri, yang kerap menjadi penyebab awal tindakan kejahatan adalah laparnya perut. Dan di sini, di desa ini, minat orang terhadap uang tidak begitu menyala-nyala karena kebutuhan perut akan makanan enak dan bergizi sudah terpenuhi.

Ini menjadi pelajaran penting buatku. Ternyata, kesenangan tak melulu bisa dibayar dengan lembaran uang, kenyamanan perut bukan semata-mata bisa ditunaikan oleh gerai-gerai fast-food, melainkan dari halaman depan, samping belakang yang bisa diolah dengan sedikit usaha dan kreativitas. Maka seiring waktu, halaman rumahmu akan dipenuhi beragam buah, sayur, rempah bahkan hewan-hewan ternak yang daging dan telurnya teramat lezat.

Referensi tulisan :
Tabloid Info pusaka edisi 3/1/2013



Intan Novriza Kamala Sari
 Nama / GFC / Facebook : Intan Novriza Kamala Sari
Twitter & Instagram : @inokari_

 

3 comments:

  1. Setuju, Mbak. Apalagi saat mulai panen hasil tanaman, senengnya. Pernah waktu itu lagi panen ubi jalar di lahan petak depan rumah. Proses manen ubinya itu lho yang seru. Pernah juga panen nangka gede-gede di rumah, bisa bagi-bagi sama tetangga-tetangga, hehe.

    ReplyDelete
  2. Semoga desa saya jg berdikari. Mulai mandiri pangan :-)
    Di pekarangan rumah pun ibu mertua saya suka menanam supaya dalam skala rumah tangga kami bisa lebih sedikit mandiri pangan ^^

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<