Friday, March 25, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Desa wisata/wisata edukasi/wisata alam (Day 25)



Muara Gembong: Potensi Ekowisata yang Terus Diperjuangkan


Jalanan yang tak mulus tidak sedikitpun menyurutkan semangat kami untuk mengunjungi daerah ujung Bekasi itu. Tak banyak yang mengetahui tempat tersebut. Atau lebih tepatnya tak banyak orang yang tahu kondisi daerah ini.
Adalah Muara Gembong atau biasa disingkat MUGO, merupakan daerah pesisir kota Bekasi – Jawa Barat. Dimana fasilitas umumnya tergolong sangat minim. Namun berkat sekelompok anak muda, kini Muara gembong sedang berbenah untuk menjadi salah satu tujuan wisata edukasi.
Saya berkunjung ke Muara Gembong pertama kali bersama rombongan dari BPJ (Backpacker Jakarta) di akhir tahun 2014. Tujuan utama kami waktu itu mangroving. Selain itu untuk melihat dari dekat salah satu satwa yang saat ini mulai langka dan dilindungi, Lutung Jawa, salah satu habitatnya ada di muara Bendera, Muara Gembong – Bekasi. Terpilihnya Muara Gembong sebagai tujuan kegiatan kami bukan tanpa alasan. Setiap musim hujan, nama Muara Gembong selalu disebut. Sebagai daerah langganan banjir. Usut punya usut, penyebabnya tak lain karena semakin berkurangnya tanaman pembatas kawasan laut dan pantai, yaitu mangrove.
Untuk sampai di Muara Gembong kita harus melewati jalanan seadanya. Off road kalau istilahnya anak-anak touring. Di kiri-kanannya terhampar empang yang cukup luas, sebagian milik perorangan dan sebagian milik badan usaha. 

Hamparan debu merupakan pemandangan yang tak asing saat musim panas. Sebaliknya memasuki musim hujan, genangan dimana-mana. Jika tak hati-hati roda kendaraan dapat tergelincir. Oya, jangan harap ada kendaraan umum yang bisa ditumpangi. Usahakan membawa motor, atau jika datang bersama rombongan bisa sewa mobil atau angkot.

Setelah menumpuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota bekasi, kami sampai di kantor camat Muara Gembong, dari sini perjalanan ke Muara Gobah, dilanjutkan  dengan perahu kapasitas 25-30 orang, sekitar 30 menit. Tujuan penanaman mangrove terletak di Kampung Beting, 30 menit dari Muara Gobah dengan berjalan kaki.
Disinilah terlihat betapa kesejahteraan itu jauh dari kampung ini. 


Bicara tentang kesejahteraan dan pemerataan, Muara Gembong tentu jauh dari kata tersebut. Dan bicara tentang kesejahteraan tentu di dalamnya mencakup perekonomian, pendidikan dan kesehatan.
Fasilitas transportasi yang tidak memadai berpengaruh pada tersedianya layanan kesehatan. Jika pun ada, tetap tidak memadai. Demikian juga halnya dengan pendidikan,  anak-anak banyak yang tidak sekolah. Alasannya lokasi sekolahnya terlalu jauh. Dan tentu saja kendala utamanya adalah masalah ekonomi warga.
Untuk membantu meringankan beban masyarakat, komunitas Save Mugo mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk berpartisipasi mengembalikan mangrove sebagai tameng untuk kampung ini. Green belt untuk Muara Gembong. Gerakan Save Mugo merupakan gerakan independen non-profit untuk pembangunan berkelanjutan (penyelamatan lingkungan, pemberdayaan ekonomi, & sosial) di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Sejak tahun 2013, tepatnya bulan Mei, sekelompok anak muda yang peduli lingkungan dapat dikatan mengambil alih tanggung jawab pemerintah dalam upaya konservasi. Langkah utama yang mereka lakukan adalah dengan mangroving dan kerjasama  dengan berbagai kelompok sadar wisata (POKDARWIS).
Perjuangan ini bukan tanpa rintangan. Awalnya masyarakat sekitar tidak menyetujui empang mereka ditanami. Sebab ada perasaan was-was bahwa nantinya lahan tersebut akan berpindah tangan. Namun setelah diberikan penyadaran pada masyarakat tentang manfaat serta bahaya yang mengancam hidup mereka jika mangrove dibiarkan punah, masyarakat juga diberikan berbagai penyuluhan serta pelatihan, akhirnya mereka mendukung gerakan tersebut. Bahkan menyediakan fasilitas berupa bibit mangrove siap tanam. Dan belakangan, pemerintah juga mulai melirik upaya tersebut dan merasa patut untuk didukung.


Masyarakat tentu tidak menyangka dampak jangka panjang yang dapat disebabkan oleh pembabatan hutan Mangrove yang mereka lakukan. Hutan mangrove yang dulunya terhitung luas, perlahan beralih fungsi menjadi lahan tambak, baik milik perorangan maupun badan usaha. Hingga belakangan, mereka merasakan dampaknya secara langsung.  




Dampak langsung yang telah dirasakan sbb:

1. Erosi
Mangrove merupakan tumbuhan yang dapat menjadi penanda batas antara laut dan daratan. Sehingga ketiadaan pohon mangrove menyebabkan pergeseran garis pantai dan mengancam keberadaan daratan yang menjadi tempat tinggal manusia. 


2. Hilangnya sumber pendapatan
Pergeseran garis pantai juga secara langsung mempengaruhi roda perekonomian masyarakat sekitar. Dulunya penduduk mengandalkan hasil empang. Namun semakin banyak lahan yang dibuka, mangrove dimusnahkan, maka ganas air pasang tak terbendung. Benih ikan yang ditabur tak memberikan hasil, hanyut tersapu erosi.
Tak hanya itu, rumah, gedung sekolah dan masjid tergenang hampir setiap bulan. Sehingga membuat bangunan lebih cepat rusak.

Tujuan jangka panjang yang diharapkan Gerakan Save Mugo
Dengan mengembalikan hutan mangrove, setidaknya ada beberapa manfaat yang dapat diambil:


  1. Mencegah erosi, pastinya. Mencegah Pemanasan Global serta menjaga keseimbangan suhu dan iklim.
  2. Dampak ekonomi / Wisata berkelanjutan
    Dengan sistem adoptasi tanaman, diharapakan Kelompok Sadar Wisata yang pernah melakukan kegiatan mangroving bisa datang kembali ke Muara Gembong. Banyaknya pengunjung yang datang dapat menjadi sumbu perputaran perekonomian warga.
    Kawasan mengrove merupakan habitat bagi beberapa jenis makhluk hidup, seperti ikan, udang dan kepiting. Sehingganya dapat menjadi sumber nutrisi bagi warga sekitar. Serta dapat menjadi sumber pendapatan.
    Mangrove juga dapat diolahmenjadi berbagai hiasan atau kerajinan. Membuat manisan dan dodol dari buah mangrove merupakan salah satu penyuluhan yang telah dilakukan.
  3. Memenuhi kebutuhan kayu Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan pohon dan ranting mangrove yang telah kering sebagai kayu bakar, sehingga mengurangi beban kebutuhan gas. Kayu mangrove juga bisa dipakai untuk bahan bangunan atau konstruksi rumah. Tentunya dengan pemakaian yang tidak berlebihan.    
  4. Pusat penelitian, baik dibidang kelautan, perikanan  maupun kimia.
  5. Memenuhi kebutuhan




Seiring dengan mangroving yang sifatnya urgent, agar diperhatikan bersama (khususnya pemerintah) adalah jalur transportasi. Dengan lancarnya transportasi maka kegiatan masyarakat juga akan dimudahkan, dengannya pertumbuhan ekonomi juga akan membaik. Membaiknya perekonomian nantinya akan berimbas pada kemampuan masing-masing keluarga untuk memberikan pendidikan yang lebih layak untuk anak-anaknya.
Sarana dan prasarana pendidikan yang lebih memadai.
Sarana kesehatan.
Jika tidak, bukan tidak mungkin kelak Muara Gembong hanya tinggal nama. Sebab perjuangan itu masih sangat panjang.
Jadi bagi instansi atau komunitas yang ingin mengadakan kegiatan alam, dapat dialokasikan dengan ikut andil dalam penanaman mangrove di Muara Gembong. Ikut menanam mangrove di muara gembong berarti anda juga sudah ikut andil dalam upaya pelestarian Lutung Jawa yang keberadaannya mulai terancam kepunahan.


Azzura Lhi


2 comments:

  1. Nich info. Kalau umroh kan kupertimbangkan buat pake cheria travel. Kebetulan jg pgn ke Turki. Jadi bisa sekaligus.

    ReplyDelete
  2. Antara Surabaya dan Sidoarjo di Jawa Timur juga bertepikan tanaman bakau yg dijadikan obyek wisata. Hutan bakau itu lah yg menyelamatkan tepian daratan dari gerusan gelombang air sekaligus jadi rumah bagi hewan- hewan perairan :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<