Saturday, March 19, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Ketika Petani Menabung di Hutan (Day 19)


Dalam benak saya, Madura adalah pulau yang kering dan tandus.Pandangan itu berubah setelah saya berkunjung ke Desa Geger di Kabupaten Bangkalan, Madura. Di sana rumah-rumah penduduk sejuk oleh tanaman-tanaman kayu. Total ada lebih dari 2.800 hektar lahan penduduk yang berubah menjadi hutan.

Dahulu pada tahun 70an, Desa Geger tandus dan kering.  “Daerah ini kritis. Lahan dari sini sampai pinggir jalan sana sama sekali tidak ada tanaman kayu. Hutan jati milik saya dulu hanya bisa ditanami ketela.Tanahnya bercampur kerikil sehingga selalu gagal ditanami, tutur Mussawi.Tokoh masyarakat Dusun Togu bengini menambahkan jika tiap musim kemarau tanaman akan mati karena kekurangan air atau terbakar.


Dahulu penduduk Togubeng juga kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya.Mereka harus menjadi kuli di pasar Tanah Merah yang jaraknya puluhan kilo dari Desa Geger.Pada masa itu mereka mendapatkan upah Rp 10 per hari.

Lahan-lahan kritis tersebut mulai menghijau pada saat Ayah Ghazali dari Desa Kobangan mulai menanam kayu akasia.Ia membawa seratus dua puluh bbit kayu dari Kecamatan Sepuluh.Delapan puluh diantaranya berhasil tumbuh dan membesar. Ayah Ghazali kemudian menyuruh santri-santrinya menanan tanaman yang akhirnya diketahui bernama Acacia auriculiformis tersebut.

Kakek Ghazali kemudian mendapat bantuan dari petugas lapangan dari Dinas Kehutanan yang bernama Nuryanto.Ia mengajak penduduk untuk menanami lahan-lahan kosongnya dengan tanaman kayu.Untuk mengambil hati penduduk lokal, Nuryanto menggunakan pendekatan agama.Ia hadir di pertemuan-pertemuan warga.“Waktu itu sayasampai belajar kitab kuning padaseorangkyai. Di Bangkalanini, orang baruakanmelakukansesuatukalaukyai yang merekahormati yang menyuruh,” tuturNuryanto.

“Dulu orang-orang malas menanam karena kita cuma diberi bibit tanpa diberi ongkos penanaman. Biasanya setiap petugas pergi bibit tadi kami buang.Sampai saya mendengar Ayah si Ghazali di dusun sebelah mendapat penghargaan.Ia menerima kalpataru dan diantar Bupati untuk menemui presiden,” kata Mussawi. Ia kemudian mendambahkan jikadirinyainginmengalamihalserupa.Iakemudianmenanamitanahkosongnyadengantanamankayu.

Keberhasilah ayah Ghazalimendorong tetua-tetua di dusun lain tergerak untuk menanam pohon. Mereka menggunakan tradisi pengajian malam jumat untuk menyebarkan gerakan penghijauan.Para tokoh masyarakat ini menyelipkan pentingnya menanam pohon untuk menjaga mata air.

Penduduk baru mulai ikut-ikutan menanam pohon setelah tanaman kayu akasia yang dibawa ayah Ghazali mulai bisa dipanen.Para pemilik kayu mendapatkan uang yang tidak sedikit.

Penduduk di masing-masing dusun kemudian membuat kelompok tani.Ada ketua kelompok dan bendahara.Setiap bulan, kelompok ini mengadakan pertemuan.Salah satu agendanya adalah menanam dan merawat kayu.Salah satu aturan yang harus ditaati anggota adalah potong satu ganti sepuluh.Petani harus menanam sepuluh bibit pohon setiap merekamenebangsebatang.

Tahun 90an, kawasan Geger tumbuh menjadi hutan.Pihak Kementrian Kehutanan mulai memberi perhatian dengan pemberian bibit buah-buahan seperti manga, rambutan, dan durian.Penduduk juga mulai menanam taaman bawah tegakan seperti jamu.

Warga Geger menggunakan kayu sebagai tabungan.Mereka baru akan menebang kayu jika membutuhkan uang dalam jumlah besar. Kayu yang mereka tanam juga bisa menjadi jaminan dalam hutang-piutang.

“Sekarang banyak orang naik haji dari jual kayu. Beberapa orang di sini yang punya mobil juga dari menjual kayu.Harga kayu di tempat ini bagus.Kayu akasia dan mahoni per meter kubiknya bisa mencapai Rp 4,5 juta rupiah.Sedangkan jati bisa mencapai Rp 8,5 juta per meter kubik,” tutur Nurul Huda, ketua kelompok tani Dusun Geger.

Setelah kawasan Geger menjadi hutan, masyarakat tidak lagi kesulitan setiap membutuhkan air.Dahulu, untuk membuat sumur masyarakat harus mengebor berkali-kali.Kini tidak lagi.Mussawi bahkan memiliki sumber mata air yang tidak pernah kering di tanahnya.Setiap hari, puluhan tangki air mengambil air untuk dijual ketempat lain.

Membaiknya tutupan Hutan Geger juga berpengaruh sampai kecamatan Arosbaya.Dahulu, daerah ini selalu mendapat banjir kiriman setiap kali daerah Geger hujan berhari-hari. Setelah hutan di Geer tumbuh, daerah ini tidak pernah mengalami banjir lagi.


Lutfi Retno W.
@Lutfiretno
kotakpermen.com 










No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<