Saturday, March 5, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Menyayangi Sampah Kita (Day 5)



Lima tahun lalu, saya pernah residensi di Tangerang, tepatnya di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga. Desa itu adalah desa nelayan. Pada saat santai, pernah saya dan teman-teman mengarungi laut menuju pulau Rambut. Pulau itu kecil. Namun yang mengejutkan buat saya adalah pulau yang seharusnya menjadi cagar alam itu dipenuhi sampah. Iya, sampah!


Saya tidak heran melihat Desa Tanjung Pasir berpasir hitam karena menggunungnya tumpukan sampah. Sampah-sampah yang berasal dari pabrik, wisatawan, dan sampah rumah tangga. Sampah-sampah itu dibawa oleh ombak menggelombang hingga ke pulau Rambut dan pulau-pulau sekitarnya.

Sampah di Pulau Rambut
 
Lebih sedih lagi ketika melihat bagaimana cara masyarakat menangani sampah tersebut di Desa Tanjung Pasir dan sekitarnya. Dengan cara membakarnya. Cara paling purba dan dirasa mudah. Saya kemudian pulang kembali ke Bandung. Di Bandung juga tak lepas dari perilaku membakar sampah secara liar.

Saya pikir masyarakat juga tahu bahaya membakar sampah secara liar. Mulai dari sumbangsih besar terhadap pemanasan global akibat efek rumah kaca, gangguan kesehatan seperti pernapasan, dan lain sebagainya. Bukankah ketika kita membakar sampah secara liar kita telah membakar diri kita sendiri? Alam selalu menang, begitu ucapan salah satu tokoh dalam serial Fear of the Walking Dead. Kok kesannya kita seperti berperang dengan alam? Ya jelas dengan membakar sampah sembarangan melukai alam dan wajar saja jika alam kemudian melawan.


Sudah saatnya kita menyayangi sampah kita sendiri. Rasa sayang yang tulus seperti kita menyayangi bagian tubuh atau anggota keluarga kita. Pertanyaannya bagaimana kita menyayangi sampah? Bukankah sampah identik dengan pembuangan?

Lama saya berpikir bagaimana menulis artikel ini hingga bisa menjadi, minimal laku hidup saya dalam menyayangi sampah. Pertama-tama adalah mengubah sudut pandang terhadap sampah dari yang awalnya sesuatu yang tidak berguna menjadi sesuatu yang berdaya guna asal tahu caranya atau tahu menyalurkannya ke mana. Bayangkan pohon kelapa yang seluruh elemennya berdaya guna. Sama saja dengan barang-barang yang kita pakai, sisa sampahnya pun berdaya guna. Ada yang bisa menjadi pupuk, plastik bisa menjadi tas, limbah bisa menjadi pembangkit tenaga listrik.

Kedua, agar daya guna sampah ini maksimal, biasakan menyiapkan tong sampah yang memisahkan sampah organik dan nonorganik. Sampah organik bisa kita kubur dan menjadi pupuk bagi tanaman. Sementara sampah no organik jika kita enggan membuat prakarya bisa kita hibahkan pada pemulung sampah. Tuh kan, kita bisa beramal pada sesama.

Ketiga, mengedukasi lingkungan terkecil yaitu diri kita sendiri dan keluarga dalam menyayangi sampah. Percayalah bahwa kesadaran satu orang dapat menjadi virus bagi orang lain juga. Saya sendiri sedang membiasakan diri disiplin membuang sampah sesuai kategorinya. Awalnya susah juga, lama-lama terbiasa. 

Sampah Di Desa Tanjung Pasir

Keempat, jangan membuang sampah sembarangan. Perilaku membakar sampah sembarangan dimulai dari perilaku membuang sampah sembarangan. Kita yang memakai suatu barang lalu orang lain yang harus membereskannya? Rasanya tidak adil. Saya membiasakan diri untuk selalu membawa sampah hasil pribadi ke rumah jika tidak menemukan tong sampah.

Kelima, mencintai diri sendiri. Lho, kenapa? Saya selalu percaya, orang yang mencintai dirinya sendiri bisa mencintai orang lain, lalu bisa mencintai alam sekitarnya. Tentunya kita mau sehat selalu? Menyayangi sampah, memperlakukan sampah dengan baik menimbulkan efek dicintai oleh sampah. Sampah-sampah tidak akan sampai hati menyakiti kita.

Dari lima cara menyayangi sampah di atas adakah yang sulit bagimu? Let’s talk ^_^

 Evi Sri Rejeki
Twitter: @EviSriRejeki
Instagram: @evisrirejeki
Blog: evisrirejeki.com 


2 comments:

  1. Ndaaa... itu, anu, namaku pake "Z" bukan "J".
    Jadi @EviSriRezeki dan www.evisrirezeki.com hehe

    ReplyDelete
  2. Di desa sini, mostly orang-orangnya buang sampah ke sungai. Pas musim hujan, terus sungai meluap dan banjir, rame-rame demo nyalahin pemerintah *kan ga lucu -____-

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<