Saturday, May 7, 2016

Birthday Girl & The Cartepillar Surprise




Sempat bingung ketika saya ditanya tentang ulang tahun yang paling berkesan. Saya persis nggak pernah merayakan hari lahir seperti kebanyakan orang. Nggak ada kue tart, balon dan teman-teman yang berpesta. Mungkin sebatas kado atau makanan sederhana yang agak spesial di rumah di hari lahir saya. Iya, saya lebih suka menyebutnya ‘hari lahir’ ketimbang ‘ulang tahun’ yang menurut saya salah secara harfiah.

Pernah di hari lahir saya yang keenam belas, saya mendapatkan kejutan yang belum bisa saya lupakan sampai sekarang. Bukan karena meriahnya pesta atau riuh rendah tawa teman-teman yang gemas-gemas remaja. Itu justru menjadi peringatan hari lahir yang paling mengerikan bagi saya.


Beberapa hari sebelumnya saya sering mendapat teror lewat SMS dan telepon di hape Nokia 3310 saya. Teror itu nggak kenal waktu. Nggak di rumah, nggak di sekolah saya kerap mendapatkan SMS dari seseorang yang mengaku sebagai pengagum rahasia. Awalnya saya abaikan, karena memang waktu itu sedang musim saling mengerjai orang. Maklum, generasi kami yang sedang labil mungkin gegar teknologi.


“Nda, bisa kita ketemu?” kira-kira begitu bunyi SMS yang saya dapat sehari sebelum hari lahir saya sebelas tahun silam.


Antara was-was, takut, penasaran saya meladeni SMS orang yang pakai kartu XL Jempol, yang biaya SMS-nya paling murah waktu itu.

Keesokan harinya kami janjian ketemu di ruang UKS karena saya memang pegang kunci UKS yang juga jadi sekretariat PMR di sekolah kami. Kami janjian ketemu di jam istirahat pertama. Sejak pagi dada saya bergemuruh, hihi lucu waktu itu antara takut dan senang mau ada yang ngajak ketemuan.

Ruang UKS saya buka sejak pagi karena ada siswa yang sakit dan harus istirahat di sana. Saya nggak bisa konsentrasi di pelajaran matematika yang diampu oleh wali kelas kami yang terkenal sebagai guru paling killer sekalipun. Saya gagal menata perasaan saya yang penasaran sekaligus sebal karena teman-teman melupakan hari besar saya.

Biasanya, malam-malam sebelumnya saya sudah dapat SMS dan telpon ucapan selamat yang bertubi-tubi. Pagi-pagi sebelum pelajaran dimulai, harusnya mereka sudah menyambut saya dengan kado-kado atau paling enggak sekedar ucapan selamat. Tapi hari itu sepertinya mereka benar-benar lupa. Bahkan mungkin mereka juga lupa kalau punya sahabat dan teman seperti saya. Saya benar-benar nggak ditegur sejak pagi. Entah apa salah saya.

Tanpa saya sadari, saya mulai menangis. Meratapi kesedihan di hari lahir saya tanpa ada orang-orang yang peduli. Beruntung tadi pagi kedua orangtua saya ingat kalau hari itu adalah hari spesial bagi saya. Hingga akhirnya bel istirahat pertama berdering melengking yang mengingatkan saya kepada janji kepada orang asing yang mungkin lebih peduli daripada sahabat-sahabat saya sendiri.

Tiba-tiba pengagum rahasia tak bernama itu mengirim saya SMS untuk membatalkan pertemuannya dengan saya. Gagal kopdar! Menyebalkan. Saya yang sudah sibuk deg-degan dari hari kemarin harus mengecap pahitnya penantian. Terdengar lebay mungkin, tapi bagi seorang yang terkucilkan dari lingkungannya sejak pagi seperti saya kondisi seperti itu bisa jadi sangat menyedihkan.

Akhirnya sang pengagum rahasia menyuruh saya untuk mengambil sebuah kotak di atas lemari obat di ruang UKS. Dia menaruh sesuatu di sana. Entah apa. Tanpa berpikir panjang saya pun segera menuju ke sana, berharap sesuatu yang spesial yang mungkin bisa menyembuhkan kesedihan saya di hari yang seharusnya bahagia. 
Memasuki ruang UKS, mata saya langsung tertuju kepada kotak berlapis kertas kado berwarna biru. Nggak ketinggalan, gambarnya beruang Teddy berwarna coklat yang tampak sangat menarik dan mempu menyunggingkan senyum bagi saya. Hidung saya kembang kempis demi menahan bahagia. Dada saya bergemuruh demi rasa penasaran yang semakin membara.

Karena ada yang sedang beristirahat di ruang UKS, saya membawa kotak biru itu ke mushola. Pelan-pelan saya meletakkan kotak itu di atas lemari buku di mushola. Bel tanda waktu istirahat berakhir mulai berdering. Saya urung membuka kotak itu seperti pesan sang pengagum rahasia yang menyuruh saya membukanya ketika saya sendirian. Saya berniat membukanya di jam istirahat terakhir. Saya harus bergegas menuju mushola sebelum siswa lainnya ke mushola untuk sholat dzuhur.

Seperti rencana, saya yang masih merasa nggak dipedulikan oleh sahabat-sahabat saya segera berlari ke mushola di jam istirahat terakhir. Saya membuka kotak biru itu perlahan-lahan. Seketika dada saya semakin berdegup kencang karena isi kotak itu sama sekali tidak sesuai dengan harapan saya. Ulat bulu lengkap dengan dedaunan dan kotorannya bertengger santai di dalam kotak yang saya pikir berisi sesuatu yang menyenangkan. Seketika saya melemparkan kotak itu sejauh mungkin sambil berteriak tanpa suara dan menangis terisak. Saya marah, sekaligus malu dan kecewa.

Nggak berselang lama, sahabat-sahabat saya datang dengan wajah super ceria. Wajah-wajah keberhasilan, kemenangan yang tiada tara terpancar dari mata mereka. Saya marah. Saya biarkan mereka tertawa lepas dan menyangka saya sangat menyukai kejutan itu. Saya sangat marah dan tak peduli dengan keberadaan mereka.

Empat tahun sebelumnya...

Pernah ada kawan SMP yang luar biasa nakalnya mengejar-ngejar saya dengan membawa ulat bulu di tangannya. Saya lari keliling sekolah sampai lemas dan nggak mampu lagi berteriak. Sejak itulah saya jadi sangat takut dengan binatang yang justru bisa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.

Bahkan saya pun nggak berani untuk sekedar melihat gambar-gambar ulat bulu. Semua orang tau. Teman-teman saya tau kalau saya sangat benci dengan ulat bulu. Benci setengah mati. Dan saya juga benci mereka yang justru tertawa bahagia melihat saya yang nyaris mati ketakutan dengan kejutan ulat bulu di hari lahir saya.

Melihat saya marah luar biasa, mereka mengadu kepada kakak tingkat kami yang sudah saya anggap sebagai abang saya sendiri. Abang yang waktu itu memang sudah lulus menelepon saya dan meminta maaf. Ternyata, ini adalah rencana sahabat-sahabat saya, Five Sisters yang bekerja sama dengan abang dari jarak jauh. Sang pengagum rahasia itu adalah Kak Suci yang rela membeli nomor henpon baru demi mengerjai saya.


Saya berupaya terlihat marah di hadapan mereka berhari-hari. Saya menunjukkan kekecewaan yang malu sekaligus takut karena ulah mereka. Padahal sejujurnya, saya sangat bahagia mereka ingin agar saya nggak takut lagi dengan ulat bulu. Saya sangat bahagia mereka ternyata sudah menyiapkan hadiah novel Dear Miss Blue dan boneka beruang berwarna biru. Saya sangat bangga mempunyai sahabat seperti mereka yang ingin membantu saya keluar dari trauma.

Buat kalian, jangan pernah punya ‘niat baik’ seperti mereka. Nanti yang ada malah makin trauma. Upaya persuasif perlahan tapi pasti justru lebih mengena. Trust me!

http://www.warungblogger.org/2016/04/kompetisi-blog-5-tahun-warung-blogger.html

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger

4 comments:

  1. Hahahahhahahaha..... aduh.... iseng yg tidak iseng. Kebayang deh... aslinya sudah tidak marah tapi jaim. @_@

    ReplyDelete
  2. weleh2 dikerjain sama ulat bulu
    ihikkk... jadi geli nih kak hhheee

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<