Monday, June 13, 2016

KARENA KAMI MANJA DAN SELALU INGIN DIMENGERTI



Foto: Pinterest


Setelah beberapa hari puasa sosmed karena sedang berada di kampung, saya pikir puasa saya jadi sedikit lebih mudah. Pasalnya, saya jadi nggak sering ngamuk, misuh-misuh apalagi sebel sama ulah para pengguna medsos yang kadang lebay sampe jahat. Tapi Minggu siang (12/6) kemarin beda. Saya nonton TV hampir seharian dan mulai tersulut emosi lagi.

Salah satu channel TV menyiarkan berita siang tentang Bu Saeni, perempuan perantau dari Jawa Tengah yang mencari hidup dan penghidupan di Kota Serang, Banten. Masih di Indonesia. Dalam video mereka, terlihat Bu Saeni sangat sedih, menangis, terlihat lemas dan kebingungan. Barang dagangannya yang baru selesai dimasak dimasukkan oleh beberapa anggota Satpol PP ke dalam plastik. Dimasukkan begitu saja tanpa peduli jeritan sang empunya warung. Sementara anggota lainnya malah sibuk membentak-bentak ibu yang tampak udah nggak berdaya ini. Terus pertanyaan saya, mau dikemanakan itu makanan segitu banyaknya?


Kalo kata adek sih, mungkin Satpol PP-nya mau buka puasa bareng karena udah adzan dzuhur -_____- *ya nggak gitu juga sih*

Foto: Sindonews

Pas pindah channel, masih tentang Bu Saeni malang. Tapi bedanya kali ini ada berita tentang penggalangan dana. Duh, kok ya langsung latah galang dana, pikir saya awalnya. Sampai berita itu diturunkan sekitar jam 12 siang, dana yang terkumpul sudah mencapai hampir dua ratusan juta. Dan setelah jam 12 siang kemarin konon penggalangan dana untuk "Para Bu Saeni" itu ditutup. Amazing!!! Ternyata di negeriku masih banyak juga orang-orang berhati selembut tahu sutera.

Usut punya usut, ternyata ada aturan bahwa selama bulan puasa, warung-warung makan di Kota Serang dilarang buka. Termasuk warungnya Bu Saeni. Masalahnya adalah Bu Saeni nggak pandai baca-tulis. Dia tau ada kertas ditempel di depan warungnya, tapi dia nggak tau itu apa. Jadi dia enjoy aja jualan seperti biasa. Wah, kalo pengakuan Bu Saeni itu benar, berarti emang sosialisasinya dong yang kurang? Berarti cuma ditempel-tempel doang entah kapan tapi  nggak dijelasin alasan lahirnya aturan itu dong?

Larangan penutupan warung makan, untuk siapa?

Saya marah bukan karena aturannya, toh saya nggak tau sejarahnya sampe keluar aturan seperti itu. KALAU MEMANG PENGAKUAN BU SAENI BENAR, berarti nggak ada sosialisasi. Saya emosi bukan karena nggak menghargai ramadhan, tapi cara para anggota Satpol PP itu dalam melakukan razia yang cenderung JAHAT!

Ya terus Si Dwika Putra yang melakukan penggalangan dana itu udah benar sih menurut saya. Daripada emosi dan komen-komen nggak jelas dan nggak berdampak. Terkadang upaya seperti itu akan lebih menyentuh dan tepat sasaran daripada upaya represif seperti yang dilakukan para   Satpol PP yang menjadi tangan kanan pemerentah. Apalagi kelak dana itu nggak cuma buat Bu Saeni seorang, tapi juga untuk orang-orang lain yang senasib dengan Bu Saeni. God job, Boy!

Dulu memang sering saya liat di TV kalau ada anjuran untuk menutup warung di siang hari selama bulan puasa. Tapi sekedar anjuran aja. Terus banyak warung makan yang tetap buka meskipun bagian depannya ditutup rapat dengan tirai, banner bekas, dan cuma ada tulisan “Tetap Buka”.

“Nggak seharusnya mereka mengungkap alasan mencari rezeki dengan membuka warung makan di Bulan Puasa. Toh rezeki sudah diatur oleh Gusti Allah. Dan Bulan ini Allah sedang punya  ‘hajatan’ puasa ramadhan. Kalo emang niat nyari rezeki kan tetap bisa buka warung pas sahur.”

Saya sendiri suka takut kalo harus keluar nyari makan pas sahur. Apalagi di Jogja yang meski pun disebut Kota Pelajar yang selalu berkampanye ‘berhati nyaman’ tapi saya suka nggak nyaman kalo malam hari. Suka ada aja kejadian nggak baik kalo jalanan udah sepi. Hari Kamis kemarin saya juga sempat nginep di salah satu kantor NGO di Bandar Lampung. Saya berdua dengan OB nyari makan sahur. Suasananya lumayan mencekam. Nah, kalo warung makan buka pas sahur terus mereka kenapa-kenapa gimana? *ah, itu sih lo aja yang parno!* LOL

Saya cuma bisa ngelus dada. Saya sendiri setuju sih kalo bulan puasa mereka tetap beroperasi. Saya sendiri nggak sekali dua kali punya pengalaman susah nyari makan siang di Bulan Ramadhan pas kos di Jogja. Kantin kampus tutup. Warung di sepanjang jalan tutup. Saya cuma bisa menahan perut yang melilit menahan lapar. Tapi FYI, saya bisa dengan mudah mendapat makanan kalo saya mau untuk sekedar mengayuh sepeda menuju resto fast food atau rela berkorban pulsa yang udah sekarat untuk minta delivery. Kadang-kadang saya juga jalan-jalan ke mall untuk sedar nongkrong tanpa perlu kelaparan sambil bawa gadget dan buku biar bisa ngerjain tugas. Tapi ya itu, budget saya jadi lebih banyak keluar untuk makan gara-gara ngisi perut dengan hedon. Jatah makan seminggu habis dalam sehari -_____-

Iya, warung makan di mall mah tetep buka. Katanya, di Serang sana juga gitu. Warung makan modern tetap buka meski ada yang ditutup tirai. Terus apa salahnya Bu Saeni? Apa? Untuk siapa aturan penutupan warung makan itu dibuat? Untuk mencekik rakyat kecil?

Ibadah kok manja!

Foto: Pinterest

Saya jadi ingat ‘dosa’ masa lalu. Kejadiannya sekitar dua tahun silam ketika saya masih diberikan kekuatan (fisik dan iman) untuk menjalankan puasa sunnah. Biasanya, saya sering janjian dengan teman-teman di kampus kalau mau puasa. Tapi kali itu cuma saya sendiri yang puasa. Seperti biasa, kami selalu makan siang bareng setelah selesai kuliah. Apalagi waktu itu pas banget lepas dzuhur. Karena saya sedang puasa, hanya teman-teman aja yang diskusi mau makan dimana. Saya cuma mengamati dan jadi pendengar setia aja. Dan tiba-tiba saya membatalkan puasa karena mereka akan pergi ke Warung SS, tempat makan sambal favorit saya.

Apakah saya menyalahkan teman-teman karena tetap makan meski saya puasa? ENGGAK.

Apakah mereka salah karena saya jadi batal puasa? Menurut saya sih ENGGAK. Toh, mereka nggak merayu saya untuk batal, kok. Ini murni inisiatif saya sendiri untuk batal karena terbayang kenikmatan sambal duniawi.

Tapi orang-orang dewasa kok malah makin aneh. Mereka pengen banget orang lain menderita karena nggak makan walau nggak puasa. Entah karena sakit, berhalangan, atau memang bukan muslim. Orang-orang pengen banget dihargai, pengen banget difasilitasi hanya karena merupakan umat mayoritas di negeri ini. Egois.

Apalagi membanding-bandingkan Perda di propinsi lain dengan di Serang. Semua pasti punya alasan mengapa mereka harus mengeluarkan aturan tetentu, termasuk Pemerintah Kota Serang. Menurut saya sih gitu. Sorry to say.

Mungkin umat agama lain justru sebel sama umat Islam yang lebay. Cuma karena para muslim lagi puasa, harus banget warung makan ditutup. Belum lagi soal pemakluman lainnya. Seorang teman saya protes karena dia selalu terganggu dengan suara kebaktian dari gereja di depan rumahnya. Protesnya bukan sama umat yang melakukan kebaktian, tapi sama kami yang bahkan nggak pernah ikut kebaktian. Salah gerejanya yang emang udah ada sejak sebelum rumah dia ada? Salah kebaktiannya yang paling cuma seminggu sekali atau di hari besar tertentu aja? Sementara untuk membangun gereja butuh izin ini-itu, nggak kayak masjid yang (tampak) bisa berdiri dimana aja.

Seorang teman yang menganut agama lainnya juga pernah mengeluh terganggu dengan suara adzan yang sering membuatnya terbangun padahal baru aja pergi tidur. Belum lagi kalo bulan Ramadhan atau mau lebaran, suara dari masjid bisa sangat mengganggu dan menyakitkan. Padahal rumahnya cukup jauh dari masjid, tapi suara masjid dengan speaker subwover stereo kan bisa menjangkau seluruh negeri.

Pengalaman lainnya adalah ketika saya sering pergi dengan seorang teman penganut Katolik ke warung kopi untuk meeting atau sekedar mengerjakan tugas sementara dia sedang berpuasa. Ya dia nggak akan pesan apa-apa kecuali password wifi. Padahal puasanya dari malam sampai malam lagi. Dia nggak pernah ngeluh, tuh.

Saya sih nggak pengen membandingkan zaman kita dengan zaman Rasulullah dulu. Ya jelas beda, dong. Zaman dulu pemimpin-pemimpin agama kita kan sangat zuhud. Rasulullah aja nggak pernah makan roti enak karena rakyatnya masih banyak yang miskin. Muslim di zaman itu juga nggak sempat ngeluh lapar walau harus berperang ketika Ramadhan. Yang lalu biarlah berlalu. Kalo di masa sekarang, kita di Indonesia amat sangat jauh lebih mudah. Puasa nggak sampe 20 jam kayak di Swedia.  

Daripada mengharap pemakluman, mending di rumah aja, nggak usah kemana-mana kalo sedang puasa. Bukan sekedar takut dengan aroma sedap dari warung makan, banyak banget godaan di luar sana. Betis-betis aduhai, baju ketat dan rambut indah tergerai emangnya nggak menggoda iman para jejaka? Kalo merasa puasa di Indonesia memberatkan, pergi aja ke Argentina yang puasanya 9,5 jam doang. Iya kan ibadah itu kan bergantung pada niatnya. Perbaiki niatnya dulu, dong cobalah pahami orang lain sebelum ingin selalu menuntut untuk dimengerti. *kemudian baper*

Terus harus banget gitu warung makan dilarang beroperasi, menyisakan trauma bagi Bu Saeni yang rumah kontrakan sekaligus warungnya yang disambangi Satpol PP. Kenapa bisnis TV nggak pernah dibatasi? Iklan sirup bisa seliweran kapan aja nggak peduli tenggorokan udah dilanda el nino-plus-kemarau-menjelang-kebakaran-lahan-gambut. Belum lagi pasar dadakan selepas ashar yang menyediakan kesegaran dan aroma-aroma yang menggoda kok masih dibiarkan aja? Kan, kita-kita juga masih puasa di jam-jam kritisnya. Hayoooooo!

6 comments:

  1. Suka baca tulisannya mbak.. :) intinya kan dari niat kita sendiri ya dan jangan lebay... Salam kenal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang berlebihan kan enggak baik ya Mbak. Salam kenal jugaaa dari Lampung, terimakasih ya Mbak :)

      Delete
  2. Bener banget, setuju. Namanya ibadah kan urusan masing-masing ya.

    ReplyDelete
  3. Sosialisasinya mungkin ya yg harus di maksimalkan, walaupun betul beribadah urusan masing2, Sejatinya menghormati ramadhan dengan menjaga yg sedang melakukan perintah wajib berpuasa.
    Dan untul menegakkan perda bgitu, setidaknya dibekali ilmu, kelemahlembutan dan kesabaran. Cmiiw!

    Salam kenal yaaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul...betul! Sosialisasi adalah koentji! Dan aturan pemerintah wajib ditaati. Thanks Mbak :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<