Tuesday, June 21, 2016

Kisah Udin, Parno dan Agus yang Malang di Pengadilan




Tergopoh-gopoh Agus kembali datang ke kantor Pengadilan.

“Kenapa kamu ngasih berkas kamu ke Parno? Saya tunggu-tunggu kok kamu nggak datang-datang,” Udin nampak sangat kesal.

“Maaf, Pak, emangnya salah, ya? Tadi sewaktu saya pamit sama Bapak untuk pergi ke rental, Pak Parno mencegat saya. Dia bilang dia yang akan membuatkan surat permohonan dan surat pernyataan saya, Pak. Jadi saya nggak perlu pergi ke rental. Pak Parno juga bilang kalau dia yang akan menyerahkan berkas saya ke Bapak,” Agus sangat bingung sekaligus takut.


“Saya ini baru sebulan di (mutasi ke) sini. Saya pengen mengilangin budaya kayak gini. Kan kacau. Kemarin temen kamu yang sepuluh orang aja kena tiga ratus ribuan sama dia. Dia itu calo! Saya sempat tegang tadi sama dia...! Tapi kamu kan nggak tau, ya sudah. Tunggu sini aja. Pejabat yang tandatangan surat kamu belum datang dari istirahat.”

Sudah nyaris jam dua siang. Agus tetap bersabar dan berusaha menenangkan cacing-cacing sholeh di perutnya yang berpuasa. Udin marah karena Agus memberikan berkasnya kepada Parno yang ternyata seorang calo. Dia karyawan biasa, bukan PNS pula. Sementara Udin adalah pejabat Panitera Muda Hukum di kantor itu.

Agus memang sudah cukup lama menganggur. Jobless dan jomblo merupakan perpaduan nasib yang cukup menggelisahkan baginya. Hingga hari ini dia nyaris mendapatkan pekerjaan impiannya. Dia telah sampai pada tahap pemberkasan. Nyaris mencapai garis finish yang kelak akan menjadi start up kehidupan barunya. Dia membutuhkan Surat Bersih Diri atau biasa disebut dengan Surat Bebas Pidana. Maka dengan penuh harap Agus yang malang mengayuh sepeda tuanya menuju kota kabupaten, mendatangi kantor Pengadilan Negeri dimana Udin dan Parno mengabdikan diri.

Agus merasa sangat lega karena diselamatkan oleh Udin. Berkali-kali Agus mengucapkan terimakasih dan Udin terus mengungkapkan cita-cita mengubah tradisi buruk birokrasi di kantornya. Udin, pejabat berhati jujur dan berniat tulus untuk menghapus pungli di instansinya. Senada dengan karakter Agus yang tak pernah menyukai ‘ular-ular kantor’ semacam Parno. Agus merasa cocok dengan Udin dan juga Wati, rekan seruangan Udin. Mereka bercerita apa saja untuk membunuh waktu. Mulai dari karus peradilan hingga masalah jual-beli tanah di Kota Baru. Tak lupa tentang Agus yang bukan keturunan siapa-siapa sehingga sedikit sulit mendapat kerja. Keasyikan itu membuat Agus sedikit lupa bahwa sedang menunggu sang pejabat penandatangan yang mungkin sedang tidur siang di rumahnya. Dan Agus memang merasa nyaman di sana.

“Saya nanti gimana ya, Pak kalau ketemu Pak Parno lagi? Apa saya menghindar aja dari dia?” tanya Agus ketika surat pesanannyanyaris selesai seiring jam kerja yang telah berakhir.

“Kamu tadi sudah ditembak (suruh bayar) berapa sama dia?” bisik Udin.

“Enggak sih, Pak. Belum disuruh berapa-berapa. Saya pikir gratis, Pak.”

“Dia itu kemarin ngasih harga tinggi-tinggi! Nggak mikir orang yang dimintainya aja belum dapat kerja. Butuh surat ini untuk nyari kerja. Dia minta sampe minimal tiga ratusan!” Agus merasa terharu mendengar penuturan lembut Udin.

Waktu berlalu,

“Susah memang ya, Pak menghapuskan pungli. Padahal di depan kantor uda ada bannernya!” Agus mengutarakan idealismenya.

“Nah itulah!” Udin meninggi. Agus merasa di udara.

“Ini suratmu. Legalisirnya udah nggak bisa lagi ini. kantornya udah mau tutup. Kamu nggak bakal sempat motokopi,” Agus lemas.

“Gini aja, Gus. Enak nggak ya kalo kamu nanti bilang aja ke Si Parno kalo uangnya udah sama saya. Kamu ngasih seratus lima puluh (ribu rupiah) aja ke saya! Nggak usah banyak-banyak!”

“Pek go, Pak?” Agus yang lugu terbelalak.

“Iya. Enak nggak ya sama dia. Saya mah takut dia ngambek atau gimana. Kalo di sini sih yang wajib dibayar ke saya memang seratus ribu. Jadi kamu ngasih Parno gocap aja!” Udin bermain mata.

“Yaa Tuhaaaan... aku keluar dari mulut kobra, masuk ke kerongkongan singa!” Agus semakin lemas. Dia sangat merindukan rumah dan takjil berbuka puasa. Dia berharap angin dapat mengayuh sepeda tuanya dan membawanya pulang.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<