Monday, June 27, 2016

LDR BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA




Susah bagi saya untuk nggak kagum dengan seorang Swandari Auliya Izzati. Ibu muda beranak satu yang kerap disapa Mak Liya ini emang menyimpan segudang prestasi dan bakat yang bikin saya terus berdecak kagum. Saya emang nggak terlalu kenal dengan perempuan kelahiran 1990 yang semula saya panggil ‘Mbak’ ini. Bahkan membaca blognya pun belum cukup untuk bisa mengenalnya.

Saya kenal dia dari privat chat gara-gara mau daftar seminar bisnis yang digawangi oleh PKPU Jogja. Waktu itu saya ngejar tiket gratisan, dan Mak Liya punya. Sayangnya saya gagal ketemu dengan Mak Liya karena saya udah sangat kesakitan banget karena disminor waktu itu. Dia yang duduk di deretan bangku depan menyulitkan saya yang duduk di barisan tengah nyaris ke belakang.


Beberapa kali emang sering chatting dengan Mak Liya untuk suatu urusan. Artinya, saya memang belum terlalu mengenal dia privately. Ketemuan aja baru sekali atau dua kali. Saya ingat, pertama kali bertatap muka adalah sewaktu blogger gathering di Tickles Cafe. 2015 lalu. Waktu itu Mak Liya lagi hamil besar. Hebatnya, dia naik motor sendirian dari rumahnya yang jauh di arah utara. Sementara Tickles ada di tengah kota. Saya dan Mbak Diba yang boncengan aja masih nyasar-nyasar. Plus Mbak Nurul, jadi nyasar bareng. LOL.

Dia jago menggambar dan mewarnai. Ya iyalah, kalo nggak jago kayaknya nggak akan lulus dari Teknik Arsitektur UGM. Katanya sih Mak Liya punya sanggar dan doi emang berniat suatu hari nanti pengin punya sekolah menggambar dan menulis gratis. Wah, mulia banget niatnya! Kalo nggak malu, saya pengen banget antri jadi murid pertamanya.

Foto: FB Liya Swandari
Kalo baca curhatannya di www.senyumbahagia.com kayaknya saya selalu gagal fokus. Soalnya banyak cerita tentang LDR atau lebih tepatnya mungkin Long Distance Marriage (LDM). Banyak yang bikin baper karena saya selalu berpikir saya nggak akan mungkin bisa menjalani LDM suatu hari nanti. Sebut saja postingannya yang “Bulan Madu ala LDR-er”,Tips Agar Anak yang LDR Tak Lupa dengan Ayahnya” yang bikin saya mikir, duh jangan-jangan suami Mak Liya bakal dipanggil “Om” sama anaknya sendiri. Haha.

Anak Mak Liya baru berusia enam bulan. Kalo nggak salah sih unda undi sama anak keduanya Mbak Dian dan Mak Arifah. Unda undi tapi lumayan jauh. *failed* Mak Liya udah tiga tahun menikah dan LDR-an. Menurut dia sih nggak ada masalah dengan jarak, tapi saya kalo ngeliat orang udah nikah tapi LDR tuh selalu aja baper.

Masalahnya, sekarang aja saya LDR-an sama HB. Hampir empat tahun. Thank God for the technology. Karena kalo kami masih harus surat-suratan sih mungkin suratnya udah robek kena paruh merpati, atau kecemplung Selat Sunda. Atau tukang posnya udah bosen aja dengan surat yang harus dikirim setiap saat. Banyak juga kawan yang heran kenapa pelaku LDR seperti saya dan HB bisa awet sampe tiga tahunan (dan belum nikah-nikah *smirk*) karena banyak yang bilang kalo jarak adalah faktor krusial sebuah hubungan.

Kalo menurut saya, yang paling penting adalah kepercayaan. Kedua, komunikasi. Saya sering juga kok jeles-jelesan sama HB. Marahan nggak jelas sampe nangis-nangis. Sampe bete banget semuanya salah seharian. Tapi itu dulu. Dulu sewaktu hubungan kami masih renyah kayak kerupuk. Renyah, gampang terbang dan melempem. Kalo sekarang sih kami udah kebal. Karena kami sadar kami udah dewasa, nggak akan mungkin main-main. Setiap muncul perasaan nggak enak, nggak percaya, tinggal dikembaliin lagi ke alasan awal kenapa dulu percaya sama HB. Kenapa rela berburu tiket kereta promo Bandung-Jogja PP (at least) tiap bulan. Kenapa rela nungguin HB padahal doi suka tengil. Kemudian kalo alasan itu nggak cukup kuat untuk membuat saya bertahan, tinggal ungkapkan langsung apa yang membuat saya nggak nyaman dengan sikap HB. Ya, semuanya perlu dikomunikasikan.

Bahkan saya nggak sedikit nemuin kasus di sekitar saya. Udah nikah, tinggal serumah, tapi komunikasinya nggak bagus. Tetap aja bikin sakit hati. Bertahan dengan alasan demi anak rasanya nggak realistis. Karena masalah yang ada yaitu kepercayaan dan komunikasi yang emang udah rusak. Nggak ada tabayyun. Yang selalu ada kecurigaan yang nggak terkonfirmasi. So, jarak bukan masalah utama, kan?

Banyak kawan-kawan saya yang LDM-an. Sebut saja Mbak Diba, Mbak Dian, Mak Lusi, dan hubungan mereka nampak sehat dan sejahtera. Mungkin karena mereka pandai mengatur waktu dan berkomunikasi, ya. Kalo beberapa senior yang LDM-an nggak sedikit yang berakhir tragis. Kesimpulan saya, kesibukan mereka mengalahkan cinta.

Saya pikir, ada benarnya petuah Bang Edison. Seorang senior di dunia NGO sekaligus suami dari seorang profesor di kampus saya. Mencari pendamping hidup itu gampang, tapi merawat hubungan adalah yang paling penting, terkadang kita butuh melenyapkan ego, bahkan mimpi demi niat luhur yang telah kita ikrarkan bersama pasangan. So, yang namanya sepasang, memang sudah seharusnya saling mendukung. Bukannya saling iri dan menjatuhkan. Nggak ada derajat yang lebih rendah atau tinggi dalam sebuah hubungan, yang ada adalah saling menyukuri dan merawat. Itu aja.

Meski terlihat baik-baik saja, Mak Liya juga kelak pengin supaya nggak LDR-an lagi. Ya iyalah, saya juga. Saya juga nggak mau kalo udah nikah malah jauh-jauhan. *crying* Sama-sama saling mendoakan ya Mak Liya, semoga kita bisa mendidik generasi penerus kita dengan baik, dengan contoh terbaik dari orang tuanya. Orangtua yang selalu ada dalam bentuk fisik, bukan bergantung pada teknologi semata. Kalo masih haram sih LDR-an nggak apa-apa, tapi kalo udah halal mah jangan sampeeeee. Aamiin.

2 comments:

  1. Hyahahahaha judul mu menggelitik, Rinda. Tapi setuju banget. LDR bukan akhir segalanya :'))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciyeee yang pelaku LDR ciyeeee. Demi kemaslahatan umat yaaa, Mamiii :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<