Monday, July 4, 2016

Berpagi di Plaosan, Sunyi Tanpa Matahari




Selamat lebaran, selamat liburan!

Eh, sebelumnya ini sih pengakuan yaaa... kalo postingan ini adalah postingan kangen. Ada kalanya saat-saat paling menyakitkan di perantauan adalah saat yang kamu rindukan di suatu malam. Apalagi sambil milah-milah foto karena gadget jadulmu udah mulai teriak karena kelebihan muatan.Tsaah. Bahasa gue!


Ini adalah salah satu perjalanan yang kami lalui di suatu pagi. Cerita tentang setahun silam. Saya dan dua orang yang paling sering hadir secara fisik di hadapan saya, di hari-hari sulit saya. Niko dan Bang Didi. Tentunya ada Kak Indra juga, sahabat yang paling sering membersamai saya untuk alasan lembur  tesis di warung kopi.



Malam itu, Niko dan Didi masih ada bersama saya sampai nyaris jam dua belas malam. Tapi tiba-tiba... “besok nyanrais yuk! (nyari sunrise)”, celetuk Didi yang langsung aja di-oke-in sama Niko. Mereka berdua langsung ngeliatin saya yang bermakna Rindanya-gimana. Secara rumah kos kami saling berjauhan dan untuk bisa ketemu sunrise dan dengan niat yang luhur untuk jogging, tentunya kami harus udah berngkat selepas subuh, tet.

Akhirnya motor Didi ditinggal di rumah kos saya supaya besok saya bisa meluncur sendirian. Sementara Didi nginap di rumah Niko. Keesokan harinya kami janjian di SPBU Jalan Solo pukul SETENGAH LIMA PAGI. Jadi saya membayangkan saya harus bangun jam empat, tepat saat adzan subuh berkumandang saya sudah harus siap sholat subuh dan buka pintu pagar tanpa membangunkan seisi rumah. Sementara jam dua saya belum juga tidur.

Realitanya udah bisa ditebak, kami kesiangan. Haha. Saya telpon mereka berdua nggak ada yang menjawab. Sudah pasti mereka molor. Dan saya hopeless untuk bisa menyambut matahari di Candi Plaosan pagi itu. Oh, iya... dari tadi panjang lebar saya belum cerita. Kami pengin ke Candi Plaosan. Candi kecil yang kalah pamor sama candi tetangganya, Prambanan. Candi ini bisa ditempuh dengan sepeda motor nggak sampai satu jam dari jantung Yogyakarta.

Pagi itu saya meluncur jam lima tiga puluh. Telat sejam dari rencana awal. Kami disambut cerahnya langit di seputaran Bandara Adi Sucipto. Kami sedikit putus asa dan kecewa, karena kami kalah pagi dari matahari. Tapi kami terus bergerak menuju timur. Menuju Candi Plaosan seperti yang sudah kami rencanakan.

Melewati komplek Candi Prambanan sepagi itu memang cukup asyik. Nggak kayak hari-hari biasanya yang penuh sesak dengan manusia dan kendaraan. Kami terus bergerak menuju arah perdesaan diselingi cerita Didi dan Niko tentang kehidupan-penuh-bunga di penginapan di sekitar Prambanan tentang petani dan sesekali candaan kami.

Perjalanan menuju Candi Plaosan semakin asyik ketika kami mulai memasuki areal persawahan. Meski Didi dan Niko nampak kecewa karena langit mulai muram dan kabut bergelayut menutupi jarak pandang kami yang tinggal beberapa meter saja. Ini berarti bahwa matahari nggak akan muncul. Rencana kami bakal gagal. Tapi menurut saya suasana seperti itu malah seru.


Sampai di komplek candi Plaosan, sudah ada satu tim yang mendahului kami. Ternyata mereka datang jauh-jauh dari Ibu Kota untuk sesi foto prewedding. Mereka pun sama, kecewa. Tapi menurut saya, foto mereka malah nampak romantis sekaligus gothic. Hingga akhirnya mereka malanjutkan sesi fotonya, begitu juga kami. Dan saya sibuk membuka bekal. LOL.

Niko mengajak saya lari, saya bilang saya belum sarapan. Saya memang sangat anti melalui pagi tanpa sarapan. Didi malah sudah lari duluan. Bolak-balik keluar-masuk komplek candi. Liat, mereka nampak gagah ya. Keliatan tampan karena yang keliatan cuma punggungnya, dan mukanya ketutupan kabut. Hahahaha.



Akhirnya kami masuk ke areal candi dengan membayar Rp. 3000 aja. Murah banget, kan?! Kata Didi dia biasanya juga nggak bayar. Duh. Eh iya, kami bawa bekal mokapot, air, kopi, dan gas burner. Mau ngapain? Mau menikmati kabut, doooongggg.

Saking asyik sendiri, saya jadi lupa foto-foto. Menurut saya, Candi Plaosan itu seksi. Terlepas dari cerita sejarah romantika di balik pembangunannya, aura candi ini memang sudah seksi. Romantis. Apalagi sewaktu kami ke sana ditemani kabut pagi. 



Candi yang terletak di Plaosan, Kecamatan Prambanan ini konon mengisahkan cinta beda agama antara Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu dan Pramodyawardani yang merupakan Putri Raja Samaratungga dari Syailendra yang beragama Budha. Di sekeliling saya banyak kisah serupa. Bahkan kedua orangtua saya juga dulu berbeda.

Mitosnya juga beda dengan Candi Prambanan yang konon sarat dengan kutukan kasih tak sampai. Makanya banyak yang percaya kalau pasangan yang datang ke sana suka nggak langgeng. Beda dengan Candi Plaosan yang banyak didatangi karena mitosnya yang mampu menyatukan cinta. Tsaaah. Bahkan ada juga yang datang ke sana mengharapkan keturunan dengan syarat-syarat tertentu. Yah, kalo saya mah sekedar kagum aja. Kagum dengan heritage yang amazing banget padahal zaman dulu belum ada Jurusan Teknik Arsitektur, Teknik Sipil, apalagi Seni Rupa.


Saya sendiri sebenarnya kurang suka ngejar-ngejar matahari gitu. Sekedar pengin nyari udara pagi yang segar, persawahan, dan ketenangan candi. Orang Jogja emang aneh menurut saya. Mereka suka ngejar sunrise atau sunset. Setelah mataharinya muncul atau tenggelam, yaudah selesai gitu aja. Say goodbye. Aneh sih menurut saya. Tapi kali itu, mengejar kabut di Plaosan asik juga. Didi mulai meditasi. Saya ikut-ikutan sambil sesekali mengingat gerakan tari untuk terapi yang waktu itu sedang saya jalani. Asyik. Tenang.

Cuaca Jogja lumayan panas. Belum lagi emisi kendaraan dan polusi suara deru di jalanan yang membuat saya tambah stress dengan berbagai deraan sehari-hari. Sangat berbeda dengan suasana desa di Candi Plaosan. Segar. Damai. Apalagi ditambah dengan kabut tebal yang membuat meditasi semakin syahdu. Dan berpagi dengan cara begitu membuat saya merasakan sisi lain dari kota yang kadang sangat saya benci. Tapi terkadang saya sulit untuk nggak mengamini bahwa saya juga merindukan kota itu. Aneh, ya. Benci tapi rindu gitu.

Baca Juga: Soto Batok untuk Jiwa dan raga Bahagia (minggu depan)

Kemudian kami duduk-duduk di pelataran candi sambil minum kopi. Sambil mengomentari pasangan yang asyik masyuk foto-foto. Sambil cerita kesana kemari.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<