Monday, July 18, 2016

PULAU MENGKUDU, DEMI APA SIH BERJUANG KESANA?




Widih judulnya, kayaknya isinya bakal kontroversial nih!

Haha... jangan suudzon dulu, itu adalah pernyataan sekaligus pertanyaan dari Bang Ari, warga Desa Kunjir. Bang Ari hanya salah satu dari puluhan pemilik perahu yang diuntungkan dengan tenarnya Pulau Mengkudu di Desa Batu Balak, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.


Jumat kemarin, (15/7) saya berkesempatan ke sana bareng HB. Kebetulan dia sedang ke Lampung untuk silaturahmi dan membantu saya menyelesaikan beberapa urusan. Dari rumah kami berangkat jam sembilan pagi. Agak nanggung kalo memang mau langsung nyebrang karena HB harus jumatan dulu. Akhirnya kami mampir sejenak ke beberapa pantai di sepanjang jalan. 

Semua pantainya bagus-bagus. Bahkan bagi saya yang emang udah sering ngeliat. Apalagi HB yang sampe ndusun banget karena pantainya keliatan jernih dan pasirnya putih bersih, beda dengan kebanyakan pantai di Pesisir Selatan Jogja. Di sepanjang jalan pengunjung disuguhi pemandangan Gunung Rajabasa di kiri jalan dan pantai-pantai yang eksotis di kanan jalan. Kondisi jalan yang nggak terlalu lebar, naik-turun dan sedikit berliku terkadang diabaikan oleh pengunjung yang baru pertama kali ke sini karena terpesona dengan pemandangannya.


Pulau mengkudu bisa diakses dengan menumpang perahu dari Dermaga Canti, Desa Kunjir, atau Pantai Kahai. Untuk bisa menuju ke sana harus dengan menggunakan kendaraan pribadi atau ojeg dari Kalianda. Jaraknya sekitar dua puluhan kilometer aja. Dulu memang ada angkutan pedesaan. Warnanya biru tua, tapi sekarang mungkin angkutan itu sudah kalah dengan bisnis tukang kredit kendaraan bermotor. Jadi semua orang sekarang nggak butuh angkutan umum.


Saya memutuskan untuk berhenti di pinggir pantai Desa Kunjir. Terakhir kali saya ke sana sekitar empat tahun lalu untuk urusan community development. Jadi sambil nunggu HB jumatan, saya bisa silaturahmi dan makan bakso di depan pantai.


Ini saya berpose bareng botol-botol bekas yang disusun membentuk perahu sebagai tugu selamat datangnya Desa Kunjir.

Desa ini telah concern menjadi desa wisata sejak lama. Saat ini mereka banyak dibantu oleh kawan-kawan dari Komunitas Janis, Jalin Inovasi Sosial, yang telah banyak membuat perubahan berarti bagi warga desa.

Menurut info sebelumnya, untuk bisa menyeberang ke Pulau Mengkudu harus menumpang perahu dengan tarif Rp. 25.000 per orang. Di beberapa plang pengumuman yang lebih tepat disebut iklan juga demikian. Tapi ketika kami ketemu dengan tukang perahu di Desa Kunjir, beliau memasang tarif Rp. 30.000 per orang. Perahu bisa berangkat setelah penumpangnya empat orang, jadi saya dan HB nggak bisa berangkat. Bisa aja perahu itu kami carter, tarifnya Rp. 100.000. Kami keberatan dengan tarif itu, maka kami teruskan perjalanan mengunjungi pantai-pantai lainnya.


Kami masuk ke gerbang Pantai Kahai Krakatau Resort. Menurut informasi dari media sosial, kita bisa menumpang perahu dari pantai ini. Kata petugas satpam di sana, tarif perahu ke Pulau Mengkudu Rp. 30.000 dengan tiket masuk pantai kahai resort Rp. 25.000. bisa juga lewat Pantai Kahai yang dikelola oleh Karang Taruna Sekitar dengan tarif Rp. 20.000. Kalau untuk rombongan, tarif bisa ditotal menjadi Rpp. 40.000 per orang. Menurut pengakuan petugas satpam, tarif kita akan dipotong untuk biaya calo.

Saya dan HB memutuskan untuk berbalik menuju arah pulang. Kami berencana mampir ke rumah kawan saya di Desa Canggu dan mampir lagi ke Pantai di sekitarnya. Tapi di perjalanan kami diteriaki oleh Bang Ari, pemilik perahu di Desa Kunjir. Ada dua orang yang pengin berangkat menyeberang ke Pulau Mengkudu. Dan akhirnya kami juga berangkat.



Menurut pengakuan Bang Ari, Pulau Mengkudu baru setahun ini banyak dikunjungi. Awalnya akses yang banyak ditempuh oleh pengunjung adalah akses darat melalui Kahai. Pengunjung harus tracking  dengan meda jalan setapak yang berdebu di musim kemarau atau becek di musim hujan. Setelah itu pengunjung harus menyusur tebing dan melewati pasir timbul untuk bisa sampai di Pulau Mengkudu. Tapi saat ini akses darat sudah ditutup. Hal itu karena jalan tersebutmerupakan jalan rintisan sebuah perusahaan tambang batu.

Sadly, perusahaan itulah yang telah berjasa memperkenalkan Pulau Mengkudu dan Batu Lapis ke khalayak luas. Perusahaan bernama Rajabasa Kedaton Makmur (RKM) masih terus melalukan aktivitas penambangan batu di bukit itu ketika kami berkunjung dan melihat aksi fork lift menaklukan batu-batuan tebing dan truk-truk mengangkutnya keluar.
 
Bang Ari dan juga pemilik perahu-perahu lainnya juga sebenarnya bersyukur dengan penutupan akses darat itu karena otomatis pengunjung membutuhkan jasa perahu. Syukur yang ironi. Dengan ditutupnya akses darat dan keabsenan pengunjung melewati jalanan itu tentu penambang akan lebih leluasa melakukan aktivitasnya.
 
Pulau Mengkudu
Pulau Mengkudu ini bukanlah milik negara, tapi milik seseorang di Kota Kalianda. Warga sekitar meminta kepada sang pemilik untuk tidak menyerahkan pulau tersebut kepada pengusaha walaupun pulau itu telah ditawar sampai empat milyar. Warga khawatir akan adanya pengusaha yang melakukan aktivitas bisnis di Pulau Mengkudu. Sudah banyak terbukti, dengan adanya campur tangan pengusaha warga sekitar dikorbankan. Bang Ari mencontohkan keberadaan Kahai Krakatau Resort yang saat ini dikelola oleh orang Jakarta. Karyawannya pun bahkan konon bukan warga sekitar kecuali sebagian sangat kecil yang sangat beruntung.

Warga di sekitar Pulau Mengkudu telah berencana melakukan pengembangan wisata yang tetap berkelanjutan dan tidak memasukan unsur modernitas di dalamnya. Pengembangan itu akan dilakukan bertahap termasuk membangun penginapan berupa rumah panggung dengan materal kayu dan menonjolkan unsur tradisionalnya. Kalau dalam bayangan saya mungkin akan terlihat seperti di Teluk Kiluan.


Kembali ke pengakuan Bang Ari pada judul tulisan ini, bukan mudah memang untuk mencapai Pulau Mengkudu. Dulu ada serombongan orang yang kehujanan di perjalanan sampai tiga kali tapi tetap meneruskan perjalanan dan meluruskan niat untuk pergi ke Pulau Mengkudu. Bahkan orang-orang dari luar Lampung pun banyak yang berkunjung ke sana.

“Mereka itu sebenarnya nyari apa, sih? Menurut saya ini biasa aja!”

Begitu juga dengan pendapat saya. Sama sekali nggak ada hal istimewa di pulau ini. Malahan saya dan HB hanya numpang makan di sana karena ... yaa nothing special. Bahkan menurut HB yang selalu menggilai pantai dan laut. Kalau saya memang tinggal nggak jauh dari pesisir dan sudah sangat terbiasa dengan kondisi pantai memang nggak salah kalau kurang menemukan apa sih asyiknya berada di Pulau Mengkudu.


Sebagai gambaran, ketika kita turun dari perahu, kita akan menginjak bongkahan-bongkahan batu karang dari yang teksturnya halus sampai tajam. Di atas tumpukan batu itu juga bertumpuk sampah-sampah. Itu hal yang paling membuat saya sebal. Sayangnya saya nggak bawa trash bag atau plastik apapun yang bisa menampung sampah-sampah itu untuk saya bawa pulang.

Lebih jauh ke dalam pulau kita akan menemukan pohon-pohon yang masih sangat alami. Nggak tersentuh apapun kecuali ulah kebobrokan mental (lagi-lagi) pengunjung yang melukai batang pohon demi meninggalkan kenangan mereka di sana.

Jangan membawa apapun kecuali kenangan,
Jangan mengambil apapun kecuali gambar,
Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.

Sebenarnya yang mulai “dijual” dari pulau ini adalah spot snorkelingnya. Pengunjung bisa menyewa alat sepuasnya dengan tarif Rp. 25.000. Pasir timbul si sini konon juga banyak dibicarakan di media sosial. Tapi menurut  HB, pasir timbulnya nggak seeksotis yang ada di Pantai Baron, Jogja. Ada juga pulau di seberangnya yang kelihatannnya lebih seru, Pulau Sekepal yang memang sangat kecil. 

Pulau Sekepal yang kecil di tengah


Untuk bisa bermalam di sana pengunjung harus membawa perlengkapan berkemah sendiri dengan biaya retrebusi yang berbeda dengan pengunjung yang tidak menginap yang hanya dimintai biaya kebersihan Rp. 5.000. Sekalipun ada retrebusi yang disebut uang kebersihan, sampah di sana memang sudah sangat keterlaluan.

Karena tidak menemukan kepuasan dari suguhan pulau yang sangat tenar itu, saya mencoba menarik sisi human interest dari kunjungan saya ke sana. Tentang orang-orang yang bertahan hidup dengan caranya masing-masing. Tentang warga yang berjuang untuk melakukan pengembangan wisata secara mandiri. Warga yang tidak ingin daerahnya tersentuh tangan pengusaha modern. Juga ironi perusahaan yang justru mengeksploitasi kawasan bukit yang semula hijau dan eksotik.

Cerita Senin Depan: Tentang Batu Lapis
Tips:
1.      Lebih baik pergi berkelompok
2.      Bawa jaket windbreaker
3.      Gunakan spatu tracking atau minimal sandal gunung
4.      Bawa trashbag untuk membantu membersihkan pantai
5.      Untuk menginap, komunikasikan dulu dengan warga setempat. Khawatirnya cuaca sedang tidak bagus dan mintalah ditemani warga.
6.      Bawa logistik sendiri

4 comments:

  1. aku tukang jalan-jalan
    dan bukan anak bakpeker ataupun PA.

    tapi suka kesel kalo denger: tempat A jadi mulai rusak gara-gara jadi tempat wisata, tempat B juga begitu dst

    kadang suka kepikir: mending tempat yang keren-keren itu gausah diketahui ajadeh sama banyak orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. tah eta!
      dan itu kebanyakan tempat wisata emang begitu. syedih.

      Delete
  2. Ya kesannya tempat ini menjadi tidak menarik ya. Mungkin penduduk lokal belum diajak membangun 'rumahnya'sebagai tempat wisata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin mereka masih gagap-kunjungan, visit-shock(semacam culture-shock)#apeu

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<