Monday, August 22, 2016

LAMPUNG, NEVER ENDING TREASURE OF SUMATERA



Bicara tentang Lampung tidak bisa lepas dari bahasan soal ‘harta karun’. Lampung sebagai Serambi Sumatera memang belum mampu dikatakan terpenuhi segala haknya. Sebagai pintu gerbang Sumatera, Lampung justru kadang dianggap sebagai pintu gerbang segala permasalahan di Sumatera. Sebut saja konflik sumber daya alam, apa yang ada di Sumatera pasti ada di Lampung. Konflik perkebunan, perhutanan sosial, energi, hingga reklamasi semua kasusnya ada di Lampung.


Sempat merantau sebagai mahasiswa membuat saya terkadang miris karena ternyata Lampung tak begitu banyak dikenal. Lha wong Bali saja lebih terkenal daripada Indonesia di beberapa belahan dunia. Kecuali beberapa tahun terakhir ketika kasus begal semakin santer terdengar. Lampung, sebagai daerah yang dianggap produsen begal justru jadi trending topic di sana sini.

Saya kerap bercerita tentang perjalanan-perjalanan kepada kawan-kawan dari daerah lain. Bahwa pelosok Lampung pun pesonanya tak kalah dengan daerah lainnya. Agar mereka tahu bahwa Lampung bukanlah kota begal. Lampung juga bukan daerah termiskin ketiga di Sumatera. Lampung bukanlah daerah tertinggal semata-mata. Image Lampung yang seperti inilah yang membuat beberapa orang juga enggan merantau ke Lampung. Terlebih bagi perempuan.
foto: wolipop.detik.com

Sebagai putra daerah Lampung yang pernah mengecap manis-getir kehidupan di daerah lain, tentu saya selalu ingin mempromosikan Lampung dengan segala kekayaan yang bahkan banyak yang belum terjamah. Mau wisata apa, semua ada di Lampung. Mau wisata alam, Lampung kaya dengan pantai-pantai berpasir putih dan berkarang eksotis. Mau wisata kuliner, beraneka jenis makanan lezat ada di sini. Untuk yang hobi bertualang, Lampung menyediakan gunung-gunung, air terjun, dan bukit-bukit yang tak kalah menarik. Wisata budaya lebih canggih lagi, search saja tentang pakaian adat Lampung yang mulai mendunia, tentang kearifan lokal masyarakatnya dalam mengelola hutan, juga tentang masyarakat adatnya yang tetap menjunjung tinggi budayanya. Masyarakat Lampung dengan nilai-nilai budaya dengan falsafah Piil Pasenggiri ( tentang harga diri, perilaku dan sikap hidup) mampu hidup berdampingan dengan masyarakat yang sangat heterogen.

Rumah di pinggir jalan lintas barat

Wisata pantai yang tak berujung

Tidak sedikit teman-teman dari daerah lain yang skeptis demi melihat foto saya sedang bermain pasir dan ombak di pantai bumi ruwa jurai ini. Padahal saya hanya memotretnya lewat kamera ala kadarnya dengan kemampuan fotografi yang tak bisa dibanggakan. Tapi memang dasarnya sudah indah, sudah kece dari sononya mau diapakan juga ya tetap saja indah.

Sebut saja pantai-pantai di kampung halaman saya Kalianda. Mulai dari Pelabuhan Bakauheni, kita sudah bisa menyaksikan pemandangan pantai berpasir putih dan laut biru jernih. Belum lagi kalau masuk ke Kota Kalianda lewat Jl. Kol. Makmun Rasyid simpang Masjid Kubah Intan menuju daerah pesisir. Ada pantai Batu Kapal, Pantai Wartawan, Pantai Canti, Pantai Desa Kunjir, dan sebagainya. Desa Kunjir adalah salah satu Desa yang sedang giat memromosikan potensi wisatanya secara swadaya. Banyak juga warga sekitar yang menghabiskan sorenya dengan menikmati senja di pelelangan ikan Dermaga Bom sembari berbelanja ikan segar dengan harga yang murah meriah.

Batu Lapis
Saat ini yang sedang happening di semua kalangan adalah eksotisme Pulau Mengkudu dan Batu Lapis di Desa Batu Balak Kecamatan Rajabasa. Banyak orang berjuang untuk bisa berkunjung ke sana. Saya akui, pantainya memang masih sangat alami dengan air laut yang jernih cocok untuk snorkeling.


Menuju ke arah Kota Bandar Lampung, kita bisa mampir ke kawasan pantai di Desa Merak Belantung yang memang sudah terkenal dengan potensi pantainya. Tinggal pilih lokasi pantai sesuai budget di sana. Pantai Embe, Pantai Marina, Pantai Beo, dan lain sebagainya.

Pesona pantai di Lampung bagian selatan belum habis. Sambil menikmati perjalanan dengan hijaunya pemandagan di kanan-kiri jalan Lintas Sumatera, kita bisa melihat laut di depan mata ketika melewati jalan menurun dan berkelok di kawasan Tarahan. Di sana kita bisa mampir ke Pantai Selaki atau ke Pantai Pasir Putih sambil berbelanja ikan asin dan mengamati aktivitas warga nelayan.

Memasuki Kota Bandar Lampung, pesona pantainya  bukannya surut, tapi justru bertambah-tambah karena kota ini adalah Kota Pesisir yang menyimpan potensi kekayaan sekaligus ancaman. Dengan garis pantai di sepanjang tiga kecamatan, Bandar Lampung tentu menghadapi risiko bencana yang tak bisa dianggap remeh. Tapi pesona pantainya tak boleh diabaikan begitu saja. Sebut saja pantai Sari Ringgung yang mulai naik daun atau Klara dan Mutun yang memang sudah tenar sejak zaman dahulu kala.

Pesona Pesisir Barat
Ah, bicara potensi pantai di Lampung memang terasa tak ada habisnya. Meski yang kebanyakan orang tahu hanyalah Teluk Kiluan, tapi sejujurnya masih sangat banyak pantai yang belum tereksplorasi. Pantai di Pulau Pisang dan Tanjung Setia di Kabupaten Pesisir Barat misalnya, justru malah lebih dikenal oleh orang asing karena potensi ombaknya untuk aktivitas surfing. Saya senang dengan pantai yang masih alami karena lebih eksotis dan tidak ternodai oleh kebobrokan ulah pengunjung yang hanya sekedar menikmati, tanpa mau bertanggungjawab untuk menjaganya tetap lestari.

Adventurism di Lampung Asyik Juga!

Gunung Seminung di ujung barat Lampung mungkin bisa jadi tujuan wisata yang elok bagi siapapun. Apalagi jika perjalanan kamu diteruskan sampai ke Danau Ranau. Kemudian wisata petik kopi di Liwa, dan turun mengitari Bukit Rigis yang dulunya meranggas namun kini kokoh hijau menjulang meski di dalamnya banyak ditanami kopi.

Penjemuran kopi secara tradisional di Gunung Betung


Baca juga: Di Balik Secangkir Kopi, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera

Bicara tentang kopi, tentu saja Lampung tak diragukan lagi potensinya. Kalau Tidak, kenapa perusahaan multinasional bisa bercokol di sini? Bukan hanya robusta, kini kalian juga bisa mencicipi kopi arabika dari berbagai tempat di Lampung. Butuh guide? Catch me up!

Air terjun lembah pelangi Ulu Belu (Foto: Kak Supriyanto)

Menaklukan gunung dengan bonus kopi sebagai hiburan tentu saja menyenangkan. Itu bisa saja dilakukan di Gunung Betung atau Gunung Rajabasa. Belum lagi melihat panorama air terjun di ketiak gunung yang seperti mencuat manja. Sebut saja air terjun Way Guyuran dan Way Kalam di Kalianda yang pernah nongol di beberapa program tivi. Dulu sewaktu SMA saya sering mengadakan kegiatan di sana. Lalu yang sekarang lagi hits adalah air terjun pelangi di Tanggamus dan di Pesawaran. Semuanya memesona! Kalau malas tracking, bisa naik ojek motor gunung yang juga menantang adrenalin.

Anggota DPR aja naik ojeg

Wisata Kuliner yang Membuat Gagal Diet

Banyak yang wondering apa sih sebenarnya makanan khas dari Lampung? Banyak. Begitu saja jawabnya. Karena Lampung memiliki ikatan geografis dan budaya yang kental dengan Sumatera Selatan, maka karakteristik makanannya juga tak jauh beda. Sebut saja pempek yang sekarang sudah go international karena bisa dikirim kemana saja dengan penerapan teknologi pengemasan yang mumpuni. Adalagi Bakso Sony yang konon juga sudah buka cabang di Bogor. Dan yang paling sedap tentu saja pindang ikan dan seruit. Dua penganan berat ini tak tergantikan pokoknya. Kesegaran kuah pindang yang terdiri dari rempah-rempah yang tidak terlalu menyengat dan juicy taste dari ikan segar yang diolah membuat penikmatnya selalu pengin mencoba lagi. Kalau favorit saya sebenarnya seruit, karena ini adalah perpaduan antara ikan dan sambal yang luar biasa mantap. 

Kalau kata orang Lampung, menikmati makanan tanpa berkeringat tidaklah nikmat. Nah, makan seruit ini selain bikin berkeringat juga bisa bikin segar karena sudut-sudut badan seperti aktif kembali lantaran efek kenikmatan sambal ini. Meski saya tak terlalu suka makan tempoyak, bolehlah sekali-sekali kalian mencoba sambal tempoyak yang nampol banget di lidah.

Foto: dpalmculinary.blogspot.com
Bicara tempoyak, tentu artinya di Lampung banyak terdapat durian. Meski bukan musimnya, ada aja durian yang di jual di pinggir jalan. Kalau sedang musim panen raya, harga sebuah durian dengan ukuran besar bisa-bisa hanya Rp. 5000. Iya, seharga es cappucino cincau.

Mengenai oleh-oleh, semua juga sudah tahu kalau Lampung adalah gudangnya keripik pisang. Wajar saja, kan ada pusat industri keripik di Gang PU. Belum lagi yang bisa dibeli di pusat-pusat perbelanjaan dan warung oleh-oleh pinggir jalan. Selain itu oleh-oleh yang tak boleh ketinggalan adalah kemplang dan pletekan. Kemplang mungkin banyak yang tahu ya, kerupuk ikan yang dimasak dengan cara dibakar dipadukan dengan sambal pedas manis. Glek. Kalau pletekan bisa ditemui di Kalianda, mirip amplang dari Banjarmasin. Hanya saja kalau amplang manis, pletekan gurih dan ikannya nikmat taraso.

Oh iya, sekarang juga ada pie pisang yang rasanya enak banget. Boleh dicoba untuk oleh-oleh kakek atau nenek yang sudah tidak mampu menggigit pempek atau keripik. Pokoknya lupakan dulu urusan diet, nikmati dulu kuliner yang enak-enak di Lampung.

Wisata Heritage Multikultural

Sebagai daerah tujuan transmigrasi, tentunya Lampung memang terdiri atas banyak suku-suku yang menjadikan budaya dan kehidupan sosialnya menajdi kaya. Sejak tahun 1905, Lampung sudah didatangi oleh warga dari Pulau Jawa secara besar-besaran. Mereka bermukim di Gedung Tataan (sekarang masuk Kabupaten Pesawaran)hingg kini. Akulturasi budaya antara suku pribumi Lampung, Jawa, Sunda, Bali, Minang hingga Tionghoa terlihat jelas dalam kehidupan bermasyarakat di Lampung.

Demi mengingat dan mendokumentasikan tentang aktivitas transmigrasi bertahun silam, kini ada Museum Transmigrasi yang sudah dibuka untuk umum. Letaknya di Desa Bagelen, kecamatan Gedung Tataan, tak jauh dari rumah Nenek dari Ibu saya. Akses menuju kesana sangat mudah karena memang hanya berjarak sekitar tiga puluh menit dari pusat kota Bandar Lampung.


Ada juga Museum Lampung yang juga dikenal dengan Museum ruwa Jurai. Museum ini selalu jadi tujuan wisata bagi murid-murid di Lampung. Lewat museum inilah generasi muda bisa melihat secara langsung kekayaan budaya daerahnya yang mungkin belum pernah mereka lihat di kehidupan nyata. Museum ini terletak bersebelahan dengan Universitas Lampung dan bisa diakses dengan berjalan kaki saja dari Terminal rajabasa.
Lampung memang sudah kaya akan budaya bahkan sejak zaman pra sejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya Taman Purbakala Pugung Raharjo Lampung Timur. Saya mengunjunginya sekitar lima tahun silam ketika saya melakukan aktivitas pendampingan masyarakat di sana.

Di Taman Purbakala Pugung Raharjo

Wisata heritage di Lampung bisa juga dilakukan dengan mengunjungi desa-desa adat yang tersebar di beberapa wilayah. Di Way Kanan misalnya, ada rumah adat yang sudah berusia lebih dari 300 tahun dan masih eksis hingga kini. Ada 16 marga yang dipimpin oleh Saibatin. Marga inilah yang mengatir kehidupan masyarakat adat di Lampung agar tetap konsisten menjaga kearifan lokal di daerah ini.

Kerajinan tangan Suku Semende di Ulu Belu

Ada juga Menara Siger di Pelabuhan Bakauheni yang terkadang menjadi penanda bagi saya (mungkin juga penumpang kapal lainnya) bahwa aroma Lampung mulai tercium. Land Mark Menara Siger juga merupakan tujuan wisata di ujung selatan Lampung yang sangat iconic dan lekat di benak para pengunjung maupun warga Lampung itu sendiri.

Kekayaan Sumber Daya Alam sebagai Tulang Punggung Bangsa

Tidak berlebihan jika saya katakan demikian karena nyatanya daerah Lampung menyimpan banyak potensi. Di bidang energi saja misalnya, Lampung merupakan salah satu daerah yang memiliki banyak sumber energi Geothermal (panas bumi). Sekitar 15 lokasi di Lampung memiliki potensi energi panas bumi, tersebar di beberapa kabupaten, seperti Tanggamus, Lampung Selatan, Lampung Barat, Pesawaran, dan Way Kanan.

Gunung Tanggamus (Foto: Kak Supriyanto)

Dikutip dari Antaralampung.com, menurut data Kementerian ESDM bahwa gas bumi yang terdapat di Indonesia kelak hanya mampu bertahan untuk 60 tahun ke depan, sedangkan cadangan batubara diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan 150 tahun lagi dan minyak bumi hanya 20 tahun lagi. Potensi besar geothermal di Lampung ada di Ulubelu dan Way Panas tanggamus, Suoh Sekincau Lampung Barat dan Gunung Rajabasa Kalianda. Jika potensi tersebut dimanfaatkan, maka Lampung akan mencapai swasembada energi dan bahkan mampu mencukupi kebutuhan energi bagi daerah lain. Belum lagi jika bicara tentang pertumbuhan industri di Lampung dan potensi energi dari biomass yang sangat luar biasa jika dimanfaatkan secara arif dan bijaksana.

Hutan sebagai Sumber Kehidupan

Seperti saya katakan di awal bahwa sebagai Serambi Sumatera, Lampung memang menyimpan potensi alam yang luar biasa dan tak jarang menimbulkan konflik kepentingan. Dengan luas ± 3.528.835 hektar, Lampung memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah dan berpotensi untuk menyejahterakan warganya. Mulai dari bentang lahan pertanian tadah hujan, perkebunan, perikanan tangkap baik tambak ataupun ikan air tawar, peternakan dan feedloter, pertambangan, wisata hingga sektor kehutanan dan energi.

Banyak skema-skema perhutanan sosial yang dimanfaatkan oleh masyarakat Lampung sebagai sumber penghidupan. Selain berusaha di hutan produksi, masyarakat pengelola juga membantu menghijaukan hutan kembali dengan melakukan reboisasi dan pengelolaan agroforestri. Hutan di Lampung selain dimanfaatkan sebagai kawasan perhutanan sosial juga sebagai kawasan lindung yang mengatur keseimbangan dalam ekosistem ini.

Gunung Rajabasa (Foto: A' Eman)
Pemerintah telah sejak lama menggulirkan beberapa program yang pada hakikatnya adalah memberikan hak akses bagi masyarakat untuk mengelola hutan negara, sebut saja tumpangsari, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Hutan Kemasyarakatan (HKm) hingga Hutan Tanaman Rakyat (HTR) pada tahun 2007. Di Kabupaten Pesisir Barat, yang telah merupakan repong damar dan diusahakan oleh Masyarakat Hukum Adat, sebagai KDTI (Kawasan dengan Tujuan Istimewa). Hak Pengusahaan Repong Damar dalam KDTI, diberikan kepada masyarakat hukum adat. Repong damar tersebut hingga kini masih menjadi ciri khas dan kekayaan kearifan lokal setempat.

Selain itu, kebanyakan orang mengenal Lampung identik dengan gajah. Tidak salah karena memang sejak 1985 silam ada Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur yang merupakan sekolah gajah dan suaka alam yang memang cukup terkenal. Bahkan saat ini telah dinobatkan sebagai ASEAN Heritage Parks pada 27 Juli 2016 lalu. My pride!

Padahal masih ada Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang berada di wilayah Kabupaten Tanggamus dan Pesisir Barat yang juga menyimpan pesona flora dan fauna langka. Bahkan gajah yang mati tanpa gading beberapa waktu lalu juga tinggal di sana. Seorang Tulus, penyanyi yang pernah mendaulat Yongki, nama gajah itu, sebagai bintang dalam video klipnya melakukan aksi penyelamatan gajah bersama dengan Wild World Fund (WWF) agar tidak terjadi lagi pembunuhan gajah seperti sebelum-sebelumnya.

Sepertinya tulisan ini tidak akan pernah berujung jika saya terus menginventarisasi kekayaan yang dimiliki oleh daerah Lampung. Wajar saja kalau saya turut menjulukinya sebagai The Treasure of Sumatera. Sebagai putra daerah saya merasa durhaka terhadap Lampung karena saya belum pernah menghadiri kegiatan-kegiatan yang digelar sebagai ajang promosi wisata dan pembangunan di lampung kecuali pada kegiatan Lampung Fair. Poor I am! Padahal di Lampung sangat sering diadakan festival. Sebut saja Festifal Krakatau, Festival Teluk Semaka, Festival Sekura, dan agenda-agenda lokal yang tak kalah menarik dan menunjukkan betapa kayaknya daerah saya dengan segala yang ada.

Saya sangat berharap untuk dapat mengikuti Festival Krakatau tahun ini yang digelar 21-28 Agustus. Saya sudah stay di Lampung dan mengabdi di sini sebagai pendidik yang tentu saja sudah waktunya bagi saya untuk memperkaya wawasan serta pemahaman dan kecintaan terhadap daerah saya sendiri. Sudah waktunya saya menjelajah dan menikmati setiap lekuk tubuh daerah yang telah membesarkan saya. Festival ini meliputi agenda Jelajah Pasar Seni, Jelajah Layang-layang, Jelajah Rasa, Jelajah Krakatau, Jelajah Semarak Budaya yang tentu saja akan sangat keren sekali jika saya mampu turut mempromosikannya. 

Foto: www.pariwisatalampung.com

Jelajah Pasar Seni dimeriahkan dengan kegiatan Pameran Fotografi (Umum dan Bawah Laut), Pameran Desain Poster, Handicraft Expo dengan peserta UKM dari Lokal dan Nasional (berbagai jenis usaha kerajinan), serta acara Talkshow yang setiap harinya dengan durasi 30 menit hingga 1 jam, akan diisi oleh Narasumber terkait dengan tema kegiatan tersebut.

Jelajah Layang-Layang akan diselenggarakan pada tanggal 25-26 Agustus 2016 di Stadiun Sumpah Pemuda (PKOR Way Halim). Acara ini mempunyai serangkaian acara menerbangkan layang-layang hias dari 3 negara dan 5 kota nasional di Indonesia. Selain itu, acara ini akan dimeriahkan pula dengan penerbangan layang-layang hias LED yang dapat dilihat dengan indah pada malam hari.

Jelajah Rasa merupakan rangkaian kegiatan ke-3 dalam perhelatan akbar LAMPUNG KRAKATAU FESTIVAL 2016 (LKF2016). Acara ini dimulai pada tanggal 26 hingga 28 Agustus 2016.

Pada acara ini akan ditampilkan 10 Food Truck yang akan diikuti dari peserta lokal maupun nasional, Bazaar Artis dan Distro, Arena Bermain Anak (Trampolin, Inflatable Kids, Mobil Remote Anak), iringan musik band lokal Lampung serta Special Performance dari Band Wali pada tanggal 27 Agustus 2016.

10 Merchant Food Truck yang akan berpartisipasi pada acara Jelajah Rasa yaitu Road Chef, Food Stop, Luvi Caffe, Sahara, Bang!, Kustom Food, Hotdog, Dozo dan 2 Food Truck lainnya akan diisi oleh Dinas Pariwisata Lampung.

Pada acara Jelajah Rasa yang bertempat di Enggal, juga akan diisi dengan kegiatan sosial dengan mendatangkan 1000 anak yatim piatu dari berbagai kabupaten yang ada di Lampung dan kemudian pada malam harinya akan dimeriahkan dengan acara kembang api pada tanggal 27 Agustus 2016.
  
Jelajah Krakatau akan diselenggarakan pada tanggal 27 Agustus 2016. Acara ini melibatkan puluhan peserta media nasional dan blogger yang diundang, baik dari media cetak, elektronik dan online. Pada berlangsungnya acara, juga akan dimeriahkan dengan puluhan perahu hias nelayan yang akan berada disekitar pantai.

Jelajah Semarak Budaya merupakan puncak acara LAMPUNG KRAKATAU FESTIVAL 2016 (LKF2016) yang diselenggarakan di 2 (dua) tempat yang berbeda pada tanggal 28 Agustus 2016. 

Lokasi pertama akan dimulai pada siang hari dengan konsep outdoor dengan menutup jalan di Jl. Raden Inten yang akan dimeriahkan dengan Atraksi Gajah dan Bola, Flag Dance dan Marching Band, Hendra Percussion, 15 Kabupaten Berkolaborasi, Parade 15 Kabupaten, dan Mobil Hias SKPD.

Pada acara Parade di Jelajah Semarak Budaya ini, akan dilepas pula balon udara sebanyak 1883 balon sebagai bentuk peringatan tragedi Gunung Krakatau di tahun 1883. Pelepasan balon tersebut akan dilakukan di tugu Gajah kota Lampung.

Kemudian pada malam harinya, akan diselenggarakan Gala Dinner di Hotel Novotel dengan mengundang 300 tamu undangan dari kalangan pengusaha, pejabat daerah, duta besar, sekaligus sebagai peluncuran video pariwisata Lampung, The Treasure of Sumatera.
Agenda lengkapnya bisa dilihat di sini: http://lampungkrakataufest.com/

Sounds great, ya! Kalau kamu, mau datang di agenda yang mana? Baiknya kita janjian dan kopdar di sana! 

4 comments:

  1. I miss Lampung terribly :). Semoga makin banyak kemajuan yang bisa dicapai ya. Potensi Lampung besar sekali :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Indaaaaahhh... sini pulang. aku sudah menetap nih, kabari ya Mbaaaak kalo pulang :)

      Delete
  2. Baru tau Batu Lapis dari postingan ini. Jadi pengen maen ke Lampung.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Main dooong. Butuh guide? kontak aja :D nggak jauh juga itu

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<