Sunday, August 21, 2016

MY ANOTHER AMAZING AUGUST



Hai 20 Agustus! Kita ketemu lagi untuk kesekian kali!


*Disclaimer: akan ada banyak sekali kata ‘Agustus’ di halaman ini*

Agustus kali ini mungkin sedikit berbeda kalau saya nggak mau lebay menyebutnya luar biasa. Nggak apa juga sih kalau saya bilang Agustus 2016  SANGAT LUAR BIASA! Begitu banyak berkah dari Tuhan yang Dia curahkan ke saya.


Mulai dari (tentunya) nikmat kehidupan bersama keluarga yang selalu mendukung apapun yang saya upayakan. Belum lagi HB yang semakin niat banget untuk mati-matian membantu saya keluar dari masalah dan menjemput masa depan yang lebih pasti. Sampai status saya yang berubah dari Nona Jobseeker jadi Ibu dosen! Whatta wonderful world of mine, kan?

Sebelumnya, banyak hal yang saya rencanakan jauh-jauh bulan untuk awal Agustus ini. Mulai dari dafta pelatihan Teknologi Pertanian di Bogor, apply project proposal untuk NGO, dealing some small project, sampai mulai masuk kampus pada 1 Agustus. Entah karena affirmasi-affirmasi saya atau apa, semua jadi terasa lebih mudah. Yang pasti sih campur tangan Tuhan, ya.Thank God!

Akhir Juli urusan saya di sebuah PTS belum selesai. Padahal HB udah semingguan nganter saya kalar-kilir rumah-kampus yang berjarak 3 jam naik motor setiap hari. Biar apa? Biar saya dikeluarin dari kampus itu. Alhamdulillah, tanggal 15 Juli 2016 surat pemberhentian saya keluar. Tapi urusan belum selesai karena saya masih harus mengurus NIDN di Kopertis yang mana itu ada di Palembang. Kemudian saya istirahat selama sekitar tiga hari dan menunggu Dikti untuk menonaktifkan NIDN saya. Tapi ternyata masih nihil. Sampai HB mengusulkan supaya saya datang langsung ke kantor Dikti di Jakarta. Saya tercengang. Harus sampe segitunya banget, ya, ngurusin hal kayak gini?

Saya ke Jakarta sendirian. Ngeteng bus. Sebagai anak yang pemilih selektif dalam hal makanan, saya memutuskan untuk nggak makan siang di Pelabuhan Merak. Saya pikir masih mending saya makan fast food daripada harus makan makanan basi kayak dulu. FYI, di Merak enggak ada restoran fast food. Ada juga Dunkin Donuts yang nggak ngebantu perut orang Indonesia banget kayak saya.

Long story short, urusan saya di Dikti kelar. HB bersorak sorai di seberang telepon setelah ngecek nama saya nggak lagi terdaftar di PTS whatever itu. Tapi, saya sakit infeksi lambung di seberang pulau sana. Sampai nyaris seminggu saya nggak bisa makan nasi biasa, nggak makan santan, kacang, susu, endebrew endebrew... dan parahnya lagi, sampai tiga hari sebelum 1 Agustus saya belum juga sembuh.

Saya pulang. Melanjutkan bedrest di rumah seharian. Besoknya saya pergi ke kota, pindah ke rumah kos dan bersiap memulai hidup baru di kampus baru. Saya masih belum bisa makan normally. Makanya Ibu suka khawatir. Tapi sebagai anak tangguh, saya mah bisa mengatasinya walau perih dan sakit hati.

Saya bisa melalui hari-hari sakit saya di masa-masa awal saya harus beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan yang menuntut semuanya serba cepat dan dinamis. Ini kampus loh, bukan industri surat kabar harian yang menuntut reporternya untuk selalu siaga anytime untuk pergi anywhere. Tapi saya tegar.

Dua minggu berturut-turut saya nggak ada hari libur. Ke kampus tiap hari. Bahkan kadang sampai malam. But, Thank God. Lagi-lagi berkah di Bulan Agustus, saya mendapatkan fasilitas wisma dari kampus. Memang bukan rumah besar idaman. Tapi setidaknya, saya bisa tinggal di rusunawa yang cuma berseberangan dengan kampus. Saya nggak perlu naik ojeg lagi atau nebeng teman.

Hari ini tepat seminggu saya berada di wisma ini. Tinggal bersama adik yang masih mahasiswa baru membuat saya terkadang miris. Kami sama-sama baru beradaptasi. Nggak mudah, tapi kami bisa. Bisa tinggal di sini aja saya udah bersyukur banget.

Saya tahu, saya yakin bahwa anugerah Tuhan kepada saya adalah yang terbaik bagi saya dan lingkungan. Hingga saya benar-benar memutuskan untuk mengabdi di sini. Meski dengan gaji gotong royong dan tugas yang luar biasa berat dan terus bertambah, saya bersyukur. Saya bersyukur bisa melaluinya.

Ngedit borang sampe boring

Mulai dari tugas penyusunan perbaikan aplikasi program studi baru, hingga tugas sebagai mentor pelatihan softskill bagi mahasiswa baru. Siapalah saya ini hingga bisa tanpa saya sadari telah ada seleksi, saya terpilih sebagai salah satu mentor. Saya dan rekan-rekan dosen lainnya, tenaga kependidikan dan teman sebaya (mahasiswa senior) bertugas mendampingi mahasiswa baru di tahun pertamanya. Kami harus mematiskan bahwa mereka bahagia dalam menjalani hari-hari di kampus yang masih dalam tahap persiapan ini. Kami berkewajiban membawa mereka kepada kesuksesan softskill dan hardskill di kampus ini.

Baca juga: Spiritual Management Meraih Sukses Dengan Damai.

Belum lagi tugas sebagai wali dari 22 mahasiswa yang saya emban. Saya sendiri pernah ada di posisi mereka. Sehingga saya tahu betul bahwa tugas dosen wali tidaklah ringan. Ini seperti perantara orangtua dan kampus. Saya harus memastikan kesuksesan mereka.

Kemudian besok adalah hari pertama saya mengajar. Nggak tanggung-tanggung. Saya mengajar mata kuliah matematika. Oh Gosh! Awalnya saya cranky banget. Saya minta ke sana-ke sini supaya ada dosen yang mau menggantikan saya. Honestly, saya trauma matematika.

Apalagi saya harus berhadapan dengan 80 orang mahasiswa untuk 4 SKS. Artinya, dalam seminggu saya akan bertemu dengan mahasiswa sebanyak 3 kali di kelas. Dua pertemuan untuk kuliah, dan satu untuk tutorial. Dan sehari lainnya saya harus mentoring dengan profesor yang mengampu mata kuliah ini.

Amazing! Hidup saya jadi berubah drastis hanya dalam waktu tiga minggu. Iya, baru tiga minggu saya kerja dan sudah mendapatkan tugas-tugas ajaib itu. Satu lagi, tugas sebagai panitia di acara international seminar yang akan digelar September nanti.

Agustus yang sangat luar biasa bagi saya. Kalau kata Ariel mah, kaki di kepala kepala di kaki. Alhamdulillah saya bisa.

Saya sampai lupa dengan hari spesial saya. Sampai sebelum subuh, saya terhenyak dengan wake up call Ibu yang lebih pagi dari biasanya.

“Selamat ulang tahun, Nak!”

Huwaaaaa... saya nambah tua. Sedih sih. Banyak target yang terlewat. Tapi tetap bersyukur karena Agustus ini sangat luar biasa

Kemudian sore Mas Angga telpon,"Kamu udah pulang? Aku mau nganter kompor. Eh, enggak sih. Cuma pengin ngerayain ultah kamu aja!"
Ah, begitu banyak orang yang sangat care terhadap saya ternyata. Tuhan mengaminidoa kalian, yaaaa. Doa yang sama untuk kalian.

Kalau biasanya orang-orang membuat resolusi di awal tahun, saya mah di bulan Agustus. Karena bagi saya, dari waktu inilah saya bermula. Dan memang kebanyakan fase-fase dalam hidup saya berawal di Agustus.

Fase hidup sebagai mahasiswa baru, Bulan Agustus. Sakit Agustus. Jadi pengangguran, Agustus. Hingga mulai kerja juga bulan Agustus.

Nah, di awal fase hidup yang berbeda itulah saya harus menyusun goal setting.  Termasuk di Agustus ini. Dengan banyaknya iringan doa di media sosial, telpon dan secara langsung dikampus yang disampaikan kepada alam semesta di hari lahir saya mengucapkan

ü  Terimakasih untuk keluarga saya untu cinta yang selalu ada.
ü  Terimakasih Pakde dan Bude juga Mas Angga yang ngater seperangkat alat dapur dan stok logistiknya ke wisma tepat di hari lahir saya.
ü  Terimakasih kawan-kawan di kampus yang sangat memahami kekurangan saya dan bersedia menerima dan membantu saya untuk lebih melesat lagi.
ü  Terimakasih HB untuk semuanya, untuk waktu dan kesediannya jadi objek daily PMS dan untuk flash movienya. Super touchy!I love it!

Terimakasih Tuhan untuk berkah yang senantiasa tercurah. Mudahkan dan lapangkan segala urusan.

9 comments:

  1. Tante Rindaaaa. Sekarang di ITERA ya? Alhamdulillah ^_^ Awal tahun depan aku ada rencana pindah ke dekat sana niiiih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asiiiikkkk... bakalan jadi tetangga. Ada tempat minta makan :p

      Delete
  2. Congratulation Ndaaaaaa, mg berkah ya :*

    ReplyDelete
  3. congrats yaaaa....Agustus juga bulan favoritku mbaa..penuhberkah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks, Mbak Indah. Yeaaayy... semoga Mbak Indah juga diberkahi :)

      Delete
  4. Seems you enjoy every phase on your life. Senangnya punya temen blogger yg juga konsisten menularkan semangat positif :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Part of afirmasi positif adalah dengan menebarkan affirmasi itu sendiri, Mbak Dee:)

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<