Sunday, August 28, 2016

STRATEGI SUKSES (DI KAMPUS) DENGAN DAMAI



Strategi Sukses Di Kampus (SSDK) merupakan upaya non akademis ITERA dalam membantu mahasiswa menjemput kesuksesan baik dalam hal softskill maupun hardskill. Kegiatan ini rencananya akan dilakukan selama satu tahun ketika mahasiswa sedang dalam Tahap Persiapan Bersama (TPB). Dalam masa peralihan dari siswa menjadi mahasiswa, pendampingan softskill ini dipandang sangat penting. Selain karena alasan psikologis dari remaja ke pra-dewasa yang banyak berubah, mahasiswa baru juga cenderung mengalami perubahan lingkungan sosialnya.


Di kampus ITERA misalnya. Mahasiswa berasal dari ujung Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Tidak seperti pengalaman saya yang pernah kuliah di Unila. Mahasiswa ITERA lebih beragam mulai dari suku, latar belakang keluarga. Bahkan sebagian besar mahasiswa baru adalah perantau. Maka dari itu, tugas Institut untuk mengemban tanggungjawab dari keluarga mahasiswa sangatlah besar.

Foto: Prio santoso

Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Mitra Jamal, salah satu permasalahan yang mengakibatkan tingginya angka mahasiswa yang tidak lulus TPB adalah karena psikologis mahasiswa baru yang kurang matang. Ditambah lagi mereka jauh dari pengawasan orangtua. Mungkin aja mereka suka galau. Saya pernah merasakan itu ketika saya kuliah di Yogyakarta. Jauh dari orangtua, capek ngerjain tugas, pulang ke kosan dalam keaadan lapar, cucian setumpuk, ditambah saldo rekening yang mulai menipis hari demi hari saya akui sangat berdampak pada mood saya dalam belajar. Juga hubungan sosial dengan teman sebaya yang terganggu akibat perbedaan culture.

SSDK ini tidak ada nilai SKS-nya tapi akan dilakukan pertemuan rutin setiap dua minggu sekali. Ini juga termasuk pendampingan di asrama kalau nanti asrama sudah siap huni. Saya pribadi sangat menyambut baik upaya ini karena saya juga mengemban amanah untuk bisa mendidik anak orang supaya jadi jauh lebih baik.

Kenapa harus saya?

Saya sendiri bingung kenapa saya bisa terpilih untuk menjadi mentor dalam kegiatan ini. saya bukan psikolog atau matang secara psikologis.  Saya sendiri sering galau, sering terpekur, dan sering bingung dengan arah hidup dan decision making. Saya juga bukan orang berprestasi atau dosen yang paling menonjol atau melejit. Saya biasa saja. Sangat bisa.


Baru kemudian saya sadar bahwa telah ada seleksi  yang prosesnya tidak saya ketahui pada kegiatan pelatihan softskill bagi dosen angkatan III yang digelar di awal Agustus lalu. Syukuri saja. Selama saya masih bisa berbagi motivasi meski terkadang saya tersungkur saya akan lakukan itu. Berbagi itu mengayakan. Itulah yang saya yakini. Dan benar saja dari beberapa pengalaman saya berbagi motivasi, saya justru merasa semakin bersyukur dan yakin bahwa saya bisa dan Tuhan memampukan saya dengan segala tugas yang saya emban sebagai manusia.


Yang saya syukuri adalah bahwa saya tidak harus seorang diri memberikan pelatihan kepada 80-an mahasiswa. Saya ditemani oleh Bu Werry, dosen Matematika yang sejauh ini sangat membantu saya dalam urusan mengajar Kalkulus I. Selain itu kami juga ditemani Mas Arfa, tenaga kependidikan yang mengurusi bidang kemahasiswaan. Agar kegiatan ini semakin komplit, ada juga Agust, mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota semester tiga yang membantu sekali dalam proses pembelajaran ini.

Kami mendapatkan tugas untuk membimbing mahasiswa di kelas 10. Just so you know, mahasiswa TPB adalah percampuran antara mahasiswa baru dari semua jurusan dan kelompok ini dibuat seheterogen mungkin. Tak lain agar mereka bisa saling mengenal dan belajar. Mereka akan bersama selama satu semester dan akan berubah lagi kelasnya di semester kedua.

Nah, di kelas 10 ini saya pikir mahasiswanya sangat cerdas dan beberapa sudah terbiasa berbicara di depan kelas. Sehingga saya dan tim tidak perlu repot memaksa mereka untuk bisa sharing kepada teman-temannya.

Beberapa yang saya ingat berasal dari Sumatera Utara, sumatera Barat, Jakarta, Bandung dan Lampung. Mereka masuk ke ITERA lewat jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun dari jalur mandiri. Ada yang dibiayai orangtuanya, penerima beasiswa bidik misi dan bina lingkungan. Semuanya sama rata di kelas ini. Tidak dibeda-bedakan dan tidak ada yang mendapatkan perlakuan istimewa.

Mengundang Energi Positif

Selama dua hari, Jumat-sabtu (19-20 Agustus) hanya saya dan Werry yang menyampaikan materi. Sementara Mas Arfa hanya menemani kami pada hari Sabtu dan memasikan kami mendapatkan perlengkapan seperti proyektor dan mikrofon.

Foto: Prio Santoso

Saya memulai kegiatan hari pertama dengan ice breaking dan memberikan energi positif dengan mengundang perasaan bahagia dan keyakinan untuk sukses kepada seluruh mahasiswa. Sebelumnya saya memang belum mengirimkan energi positif kepada mahasiswa. Padahal menurut Pak Tri, mentor kami dari ITB, akan lebih baik lagi jika malam sebelum kegiatan para mentor sudah mengirimkan energi postif kepada para peserta. Sementara saya, malam sebelum kegiatan malah tidur larut dan bangun kesiangan.

Tapi alhamdulillah, dengan bahagia kami semua bisa memulai aktivitas pada pagi hari yang terik di ruang D102. Untuk bisa membuat mahasiswa tetap bersemangat, meamang harus sering-sering diberikan ice breaking dan senam otak agar pikirian mereka selalu siap menerima materi dan menanamkannya di alam bawah sadar.


Ayo semuanya berdiri! Ikuti saya, ikuti gerakan tangan saya! Malas-malas hilang...! Ngantuk-ngantuk kabur! Saya bahagia...! Saya siap belajar! ...” dan seterusnya...


Setelah itu mahasiswa disilakan duduk kembali dan sesi dimulai dengan perkenalan. Karena proyektor belum berfungsi, kami hanya berkenalan secara verbal. Saya pikir sebenarnya ini kurang diminati mahasiswa. Mereka banyak yang belum siap dan kurang aware dengan pembicara di depannya. Beda kalau ada presentasi CV yang menarik dari pembicara. Mahasiswa pasti lebih antusias.

Karena perlengkapan masih belum siap dan mahasiswa kegerahan akibat ruangan yang memang didesain tanpa AC dan kondisi lahan kampus yang lapang tanpa pepohonan besar, akhirnya kami berinisiatif mengajak para mahasiswa untuk saling berkenalan.


Saya memandu mereka untuk bermain lempar bola kertas. Saya yang sebelumnya memperkenalkan diri sampai dengan hobi dan lain sebagainya, kemudian melemparkan bola kepada seorang mahasiswa. Kebetulan yang mendapatkannya adalah seorang laki-laki. Dia mampu mencairkan suasana yang sudah saya bawa santai dengan teknik perkenalan saya ditambah dengan hobinya bermain game yang disambut derai tawa dan candaan dari teman-temannya. Pada akhirnya beberapa orang memperkenalkan diri bukan sebatasa nama dan jurusan, bahkan mereka juga mempromosikan daerah masing-masing. Pada sesi ini saya mulai merasa ‘menyatu’ dengan para mahasiswa dan saya pikir mereka siap menerima materi.

Untuk bisa menerima ilmu yang diberikan, mahasiswa harus dipastikan dalam keadaan bahagia dan ikhlas. Hal itu harus terus diingatkan kepada mahasiswa. Saya pikir ini juga perlu diaplikasikan pada saat perkuliahan. Itulah pentingnya ice breaking dan FGD yang juga akan membuat para mahasiswa saling kenal satu sama lain. Mahasiswa harus terus bahagia. Pastikan juga mereka ikhlas berada di kelas dan menerima materi untuk kebaikan mereka sendiri.

Sharing is caring

Setelah Werry menyampaikan materi tentang Mengenal Spiritual Management: Paradigma Spiritual Management dan Penyadaran kembali potensi diri saya mengajak para mahasiswa untuk sharing. Diawali dengan saya yang bercerita tentang pengalaman istimewa yang bisa dibilang justru jadi pemaparan CV saya.

Saya tekankan kepada para mahasiswa bahwa tidak ada kebetulan dalam dunia ini.
Bahwa saya waktu itu gagal masuk ke jurusan impian saya juga karena ulah saya sendiri. Saya gagal mengikuti clue yang diberikan Tuhan kepada saya. Hingga akhirnya saya memasuki skenario kedua dari hidup saya. Menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK hanya tiga lebih sedikit juga bukan kebetulan. Saya yang sudah terpuruk dari awal kuliah justru mendapatkan endurance untuk bisa ‘lebih’ meskipun saya terkadang malas pergi kuliah.


Saya bercerita demikian bukan untuk dicontoh kemalasannya. Tapi hal ini dikarenakan banyaknya mahasiswa yang juga mengalami ‘kecelakaan dalam memilih jurusan’. Ada juga yang terpaksa kuliah di jurusan yang sekarang. Ada lagi yang ingin ikut tes lagi tahun depan. Persis seperti saya. Maka saya bercerita dan membuat mereka mengangguk-angguk mengamini petuah-petuah saya.

Mahasiswa juga harus disadarkan bahwa mereka mengemban amanah dari keluarga dan lingkungannya. Makanya mereka harus serius dalam belajar. Mereka harus menajdi mahasiswa sukses. Bercermin dari beberapa penerima beasiswa yang bisa kuliah setelah mngikuti proses ini-itu dan haru biru yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya karena pada akhirnya mereka bisa kuliah. Ini menyadarkan mahasiswa yang lain bahwa mereka beruntung tidak harus bersusah payah apply beasiswa. Tidak harus berhemat dan mencari kontrakan yang murah. Semua karena adanya beasiswa dari orangtua yang sudah memfasilitasi mereka selengkap-lengkapnya. Bentuk terimakasih kepada pemberi beasiswa baik orangtua maupun pemerintah adalah salah satunya dengan menjaga attitude dan memiliki prestasi baik di kampus.

Pada sesi ini, sebagian besar mahasiswa menangis haru atas cerita teman-temannya juga Agust, sang teman sebaya. Semoga ini bisa menyadarkan bahwa mereka memang harus serius dan tidak pernah lalai dalam belajar.

Mumpung suasananya sedang cocok, setelah menyampaikan materi tentang who am I? Yang lebih kepada konsep bahwa setiap kita adalah pemenang, maka saya melanjutkannya dengan saling mendoakan dan memberi selamat.

Mahasiswa saling berpasangan, laki-laki dengan laki-laki, dan perempuan berhadapan dengan perempuan. Mereka bergantian mengikuti instruksi dari saya. Dimulai dari salah satunya memegang pundak temannya dan mengucapkan selamat dan mendoakan. Selanjutnya diakhiri dengan saling memeluk dengan erat dan ikhlas.


“Sahabatku sayang, selamat ya kamu sudah diterima di ITERA. Kamu mahasiswa yang sangat sukses. Prestasimu meningkat setiap semester. Kamu jadi kebanggan orangtuamu... dan seterusnya.”


Spiritual Goal Setting

Menjelang sore, mahasiswa diajarkan oleh Werry untuk membuat goal setting dengan vision board. Sebelumnya mereka sudah berdiskusi dalam kelompok, membentuk jargon dan yel kelompoknya dan membahas tentang target selama lima tahun ke depan. Nah, target-target itu akan lebih mudah dipahami jika dibuat dalam bentuk vision board. Ini karena alam semesta akan lebih bisa menerima ‘kode’dari kita melalui gambar. Bukan lewat kata-kata.


Prinsipnya adalah memvisualisasikan keinginan dan harapan kita dalam gambar-gambar. Baik hasil print, guntingan dari majalah, atau bahkan lukisan tangan. Gambar-gambar itu disusun dan ditempel dalam media karton atau sejenisnya. Gambar itu kelak harus ditempel di dinding kamar dimana setiap pagi setelah bangun tidur mereka bisa melihat gambar itu dan berupaya melangkah untuk meraihnya. Jadi, gambar jangan diletakkan di atas tempat tidur atau di samping kursi atau meja belajar. Hal ini dimaksudkan agar ada usaha untuk sekedar melihat gambar untuk kemudian mencapai apa yang terlukis di gambar.

Project ini menjadi tugas rumah para mahasiswa. Keesokan harinya mereka diharuskan bercerita dalam kelompoknya. Selanjutnya para volunteer akan mempresentasikan vision board-nya di depan kelas. Oh iya, dalam membuat vision board diharapkan tidak menggunakan kata-kata ‘menang’, ‘terbaik’, ‘juara’, dan sejenisnya. Hal ini dikhawatirkan akan menciptakan iklim kompetisi yang justru menanamkan keinginan untuk mengalahkan temannya sendiri. Sebaiknya diganti dengan kata-kata ‘prestasi yang terus melejit’ atau ‘IPK yang terus meningkat’ dan sebagainya.


Mahasiswa juga diharapkan aktif di dalam kelompok. Termasuk juga saat mendiskusikan pengalaman istimewa yang terkadang tidak masuk akal. Mereka harus menganalisis, sebenarnya apa rencana Tuhan, apa clue yang telah diberikan oleh Tuhan, dan sebagainya. Dengan demikian mereka akan sadar bahwa kesuksesan tidak akan pernah luput dari rencana Tuhan dan dengan demikian mereka akan lebih aware dan melatih kepekaan untuk membaca rencana Tuhan.

Meraih Sukses dengan Damai

Untuk bisa mencapai kesuksesan, caranya adalah dengan bahagia. Sumber dari kebahagiaan adalah kedamaian hati. Untuk bisa mencapai kedamaian, banyak teknik yang bisa diterapkan. Misalnya dengan sholat, dzikir, berdoa, syukur, sedekah,memaafkan, dengarkan musik alphamatic khususnya brainwave, ikhlaskan emosi dan nafsu, ‘hadirkan’ sesuatu yang membahagiakan. 


Untuk bisa menghadirkan kedamaian , seseorang mengelola perasaannya (emosi/marah) melalui beberapa cara yaitu dengan dilampiaskan, ditekan, atau diikhlaskan. Sering kali kalau kita marah mengepalkan tangan, melempar sesuatu, atau bahkan merusak sesuatu. Itu ternyata tidak menghapuskan kemarahan tapi justru menimbunnya dan akan menjadi gunung es. Pengelolaan perasaan yang terbaik adalah denga mengikhlaskan.

Bukti ilmiah tentang level emosi yang menentukan sukses telah diteliti oleh Prof.DR.DAVID HAWKINS dengan mengurutkan SCALE OF CONSCIOUSNESS (0-1000). Tingkatan sukses manusia diantaranya: tidak bisa sukses, tidak bisa sukses sejati karena selalu diliputi kegelisahan, dan mudah sukses. Indikator pada setiap tingkatan sukses itu berbeda-beda.

Langkah/pembersihan untuk sukses sejati komando penghambat sukses harus dibersihkan. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di sini, bahwa masing-masing komando penghambat sukses harus dibersihkan. Bisa lewat afirmasi  dan aformasi, mendengarkan musical alphamatik dan pembersihan.

Emotional freedom technique (EFT)

Salah satu tekniknya adalah dengan melalui EFT. Tekniknya dengan menepuk atau mengetuk beberapa titik di tubuh dan wajah berdasarkan prinsip akupuntur dan akupresur, tapi ini lebih aman dibandingkan akupuntur karena tidak menggunakan jarum. Penyebab segala macam emosi negatif adalah terganggunya sistim energi tubuh.

Emosi-emosi negatif yang tak terselesaikan, menjadi penyebab utama pada hampir semua penyakit fisik. Emosi negatif ini menganggu kelancaran sirkulasi energi dalam tubuh, dan mengakibatkan gangguan fisik seperti gelisah, dihantui memori yang tidak enak yang mempengaruhi cara pandang yang bisa menyebabkan kesal, marah, putus asa. EFT dengan cepat dapat menyelaraskan energi meridian yang erat hubungannya dengan masalah emosi, gangguan fisik dan juga menghilangkan simptom penyakit.

Tujuan utama EFT ini adalah mengubah Emotional State dari kadar negatif yang tinggi menjadi turun/berkurang, hingga hilang. Kecemasan, kemarahan, compulsive behavior, panic disorder, Kecanduan (rokok atau obat- obatan), stress dan depresi, Trauma, Ketakutan dan Phobia (ketinggian, binatang, atau benda tertentu), Kecemasan di tempat umum, Ketakutan berbicara di depan umum, Sakit Kepala / Migren, Menghilangkan keyakinan negatif, Perasaan malu / bersalah, Insomnia, Kekecewaan atau sakit hati.

Untuk metode pembersihan saya pikir mirip dengan hypnotheraphy. Dimana kita harus mengingat kembali hal-hal negatif yang terjadi, mengumpatnya, lalu menyukurinya hingga akhirnya mengikhlaskannya.



Prinsip dari EFT adalah Tapping, mindsetting dan ikhlas.
1.   Pertama anda pikirkan mental block atau program negatif apa yang ingin dihilangkan.
2.  Lakukan ketukan ringan(tapping) dengan 2 jari pada pada titik-titik jalur meridian sebanyak 7-9 kali dengan lembut saja, yang penting dapat merasakan sensasi ketukan pada titik-titik tersebut. Lakukan bertahap dari titik paling atas sampai kebawah. 
3.  Lakukan afirmasi (Ucapan yang diulang terus menerus) emosi positif yang diinginkan. Misalnya "Semakin hari dalam hidupku saya semakin percaya diri dan percaya diri" sambil terus melakukan tapping.

Penanaman Nilai-nilai ITERA

Yang paling berat adalah ketika saya harus menanamkan nilai-nilai ITERA dalam diri mahasiswa. Nilai itu antara lain:
               Honesty (Kejujuran)
Setiap mereka melakukan kesalahan, saya tidak harus langsung menghukumnya. Saya cukup percaya pada kejujuran mereka. Siapa yang tidak mengerjakan tugas, adakah yang titip presensi, dan sebagainya.
               Trust (Kepercayaan)
Ini sangat erat kaitannya dengan proses belajar-mengajar. Dimana mahasiswa, dosen dan tenaga kependidikan harus sinergi dalam menjalankan tugasnya masing-masing di kampus.
               Fairness (Keadilan)
Semua mahasiswa bagaimanapun latar belakangnya adalah sama.
               Respect (Saling Menghargai)
Ada kejadian mahasiswa ber-attitude buruk kepada tenaga kebersihan bahkan dosen. Ini adalah nilai terberat yang saya pikir harus ditanamkan.
               Responsibility (Tanggung jawab)
Kembali lagi bahwa setiap civitas akademika adalah wali, pengemban tugas baik dari orangtua hingga seluruh rakyat Indonesia.

Pada akhirnya, saya bahagia bisa berbagi dan menjembatani para mahasiswa agar bisa sukses di kampus ini. Proses sampai bisa terkabulnya doa yang senantiasa kita panjatkan ada yang instan, ada juga yang disimpan hingga kelak di akhirat. Yang paling penting adalah proses pemantasan diri untuk sampai doa itu terkabul.

10 comments:

  1. whoaaaa iteraaaa.
    terakhir kesini pas listriknya masih pake genset.. :D

    luasssssssssss banget <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. untung pas aku dateng udah ada listrik.LOL

      Delete
  2. Alternatip2 ospek perlu dikuatkan bu Rinda
    Biar terlahir banyak generasi baru yang semangatnya positip!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuulll Buanil, tapi kangen juga nggak ada ospek yg 'seru' jadi anaknya pd melempem

      Delete
  3. Huaaah, jadi pingin kuliah lagi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuliah sih mbak, jangan sampe enggak, kan udah jadi penulis bestseller :p

      Delete
  4. Waw,, luar biasa, ternyata seorang blogger yg memiliki talenta seorang motivator yang handal..

    ReplyDelete
  5. Aku bakalan ubah bucket listku jadi vision board ah~ :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bucket list itu gimana? ngruwel2 dalam keranjang gitukah?

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<