Saturday, September 17, 2016

BEHIND THE SCENE: RISE YOU GLASS!



Masih ingat Abellia Anggi Wardani? Seorang kandidat doctor yang telah meraih sepuluh beasiswa. IYA SEPULUH. LOL. Gue satu beasiswa yang membiayai kuliah, satu lagi membiayai riset aja udah congkaknya minta ampun, gimana Dia? Dan ternyata Abel itu nice banget loh. Berawal dari Mak Carra yang mengirimkan buku “Meraih Mimpi dengan Beasiswa” untuk saya review dan jadi host giveaway di blog saya, akhirnya saya bisa kenal dengan seorang Amazing Abellia.


Nggak sedikit yang penasaran, gimana sih kok saya bisa kenal dengan Abel?

Ya emang kenapa sih, emangnya saya nggak pantas ya kenal dengan orang kayak Abel? Sepertinya dunia sangat meragukan saya. LOL.

Kami saling follow di media social hingga akhirnya Abel menawari saya untuk menggelar bedah bukunya di Lampung. Yap! Pastinya saya langsung excited banget dan meng-iyakan tawarannya untuk membedah buku tersebut di Lampung. Dia bilang akan lebih mudah kalau bekerjasama dengan BEM kampus tertentu di Lampung. Dia juga menawarkan untuk menggelarnya di kampus Itera, tapi saya langsung menolaknya. Alasannya klise, kampusnya jauh jadi takut audience dari tempat lain merasa enggan untuk datang.

Saya sih penginnya berhajatan di kafe biar santai gitu. Tapi di kafe butuh dana untuk booking tempat. Kalau pun tempatnya free, butuh pesan menu supaya bisa jadi alasan nongkrong. Saya sudah survey ke beberapa kafe tapi semuanya pakai dana yang nggak sedikit. Padahal saya juga telah bersiap untuk mengontak kawan yang anak band banget gitu. Apalagi alirannya swingin jazz dan akustik yang cocok dengan suasana kafe yang syahdu. Ah.

Kemudian saya mengajak Gramedia bekerjasama. Gramedia Raden Intan malah meminta para peserta untuk beli bukunya dengan diskon CUMA 10%. Saya langsung mundur. Gramedia Mall Boemi Kedaton sangat excited tapi sayangnya di waktu yang kami tentukan, masa sewa panggung atrium mall oleh Gramedia telah berakhir dan nggak mungkin untuk menggelar kegiatan di dalam toko karena tokonya kecil banget. Bahkan toko ini sebenarnya sudah menyiapkan grup akustikan a la a la mereka tapi yam au gimana lagi. Harapannya ke depan saya masih bisa mengajak mereka bekerjasama. Semoga.

Kemudian saya akhirnya mengajak adik-adik dari BEM Unila. Walau kesannya lambat merespon pertanyaan-pertanyaan saya tentang persiapan kegiatan, akhirnya semua informasi menjadi jelas dan gambling ketika H-sekian. Mendadak, iya. Tapi mereka meyakinkan bahwa mereka bisa. Fine, akhirnya saya meng-approve RAB yang mereka ajukan dengan asumsi semuanya under control oleh mereka meski agak sulit saya terima karena toh ini hanya kegiatan bedah buku.

Sampai hari H yang ternyata agak meleset dari prediksi saya. Kegiatan yang semula direncanakan jam sembilan pagi ternyata harus mundur sampai jam sepuluh lewat sekian. Hal ini karena adanya kegiatan BEM yang sebelumnya nggak dikomunikasikan dengan saya. Parahnya pemateri kegiatan mereka yang pertama ini sempat ngaret hampir satu jam. Dan ternyata ketika saya bertemu beberapa hari sebelumnya menjelaskan bahwa bedah buku akan berlangsung maksimal dalam dua jam, mereka menangkapnya hanya satu jam. Dan ketika di awal saya tanyakan tentang kepastian pengisi hiburan, mereka menjawab akan ada musikalisasi puisi meski pun ternyata tidak ada. Mungkin mereka terlalu banyak meng-handle kegiatan jadi kurang focus. Saya sangat maklum karena mereka sudah sangat baik dan mengupayakan ini di sela-sela kesibukan mereka. Terimakasih banyak Adik-adik! You made my day!

Awalnya saya super duper baper karena ternyata saya kedatangan tamu agung bulanan yang maju lima hari. Gosh, ini pasti gara-gara ke-hectic-an saya selama beberapa hari terakhir. But, its ok karena walau sambil menahan sakit perut dan kepala yang luar biasa (katanya) omongan saya masih bisa diterima oleh nalar dan nggak ngaco sama sekali. Padahal sebenarnya apa yang sudah saya siapkan banyak yang nggak terucap. Duh, berarti seharusnya saya bisa lebih sakses lagi dong ya perform tadi siang? Apalagi setelah ngeliat hasil foto saya, keliatan banget lagi nahan sesuatu dan nggak ‘kobe’ sama sekali. Duh, gagal pencitraan.

Saya yang nggak enak hati dengan Abelia akhirnya harus terharu dengan respon para peserta. Ada Irfan dan Tom, adik-adik yang pengin belajar lebih dan terus sekolah. Ada juga dari jurusan THP dan jurusan-jurusan lain. Bahkan Mbak Heni dan Mbak Naqi bela-belain datang lho. Saya super terharu dengan dedikasi mereka. *peluksatusatu*

Seperti dugaan saya, mereka sangat pengin tau tentang beasiswa. Mereka sangat ingin mendapatkan beasiswa. Tapi ya, meski pun Lampung dekat dengan Ibu Kota Negara tapi masih banyak ketertinggalan yang kami rasakan. Semangat adik-adik ini ternyata cukup bisa menjadi endurance saya untuk berpuas hati bahwa ternyata rasa penasaran mereka dan keinginan mereka semakin membuncah untuk bisa mendapatkan beasiswa dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Saya sempat sedih banget pas Abel tanya tentang Paulo Celho dan ternyata nggak ada yang tau. Abel tanya apakah ada yang baca lima buku dalam satu tahun nggak ada yang angkat tangan. Pun empat buku. Saya pikir ini sangat menyedihkan karena yang ditanya adalah dalam kurun waktu satu tahun, bukan satu bulan.

Tapi ternyata antusiasme mereka akan beasiswa sangat besar. Apalagi buku yang ada sampai sold out dan bahkan ada yang waiting list untuk dikirim bukunya oleh abel dari Stiletto. Mohon kerjasamanya yaaa, Stillo. Kirimkan buku-buku itu untuk kami di sini.

Abelia ternyata humble banget dan ‘nrimo’, haha. Duh, saya sampai nggak enak hati terus dengan pelayanan yang saya berikan kepada tamu saya ini. Apalagi saya udah dibawain lapis Bogor Sangkuriang yang super enak banget. Ternyata dia masih ingat bawain saya oleh-oleh, saya mah apa atuh… bisa keluar kampus tepat sebelum maghrib juga udah Alhamdulillah.

Saya sangat berharap bahwa ini bukan buku terakhir yang saya bedah. Saya masih pengin banget kerjasama sama Abel, sama Stiletto, sama semua pihak. Saya juga sangat ingin ketemu Abel di Belanda kelak. Saya masih dengan mimpi-mimpi saya yang masih menggantung yang hanya tinggal digapai saja menunggu takdirnya.

Terimakasih juga untuk Bu Dosen Nadia dan Her-Husband-To-Be (aamiin-in yaaaaa) yang udah nganterin dan menyelamatkan Abel dari deraan sinar ultraviolet dan terpaan emisi kendaraan yang semakin nggak karuan. Terimakasih udah mau kenal juga dengan saya. Kalian semua sangat baik. *pelukinlagisatusatu*

Hari ini sangat amazing bagi saya. Sedikit melupakan matematika dan sadar bahwa masa depan saya pasti sangat indah dan luar biasa, walau pada akhirnya setelah sampai di wisma justru ingat bahwa setelah Minggu ada Senin yang menanti dengan tugas-tugas dan tuntutan untuk belajar matematika lagi dan lagi.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<