Friday, September 30, 2016

KUBUR MIMPI S3 DI AMERIKA JIKA WAKTUMU HANYA TIGA TAHUN!


Foto: Dian Fajarika

Aha, maafkan kalau judul ini bernada hopeless dan mengandung curhat, sodara-sodara. Tak lain dan tak bukan ini adalah case yang saya alami sendiri. Rektor Itera hanya memberikan waktu tiga tahun bagi dosennya untuk kuliah S3. Dan beberapa fakta membenarkan bahwa hampir mustahil kuliah doctor di Amerika ditempuh hanya dalam tiga tahun.

***

Kedatangan Pak Deden Rukmana ke Itera langsung disambut hangat dengan agenda bla-bla-bla. Mulai dari didaulat sebagai keynote speaker pada international conference (dan memang karena ini beliau datang), kuliah dosen tamu di kampus Universitas Bandar Lampung, sharing session dengan para dosen di Itera, dan nggak ketinggalan kuliah di jurusan Urban Planning Itera (28-29/9). Beliau adalah alumni ITB yang sudah tinggal di Amerika selama enam belas tahun. Yeay, enam belas tahun lalu saya masih berseragam unyu dan masih bermimpi jadi duta besar, eh beliau sudah duluan ke Amerika untuk kuliah S2. Saat ini beliau mengajar di Savanah State University.



Apa yang ada di benak Anda jika mendengar atau membaca kata A-M-E-R-I-K-A?



Membaca buku “Kopi Sumatera di Amerika” Yusran Darmawan dan juga tulisan-tulisannya di Kompasiana mungkin membuat ngiler sebagian orang. Negara adidaya gitu looohh! Honestly, menulis catatan sharing session dengan Pak Deden ini membuat saya merasa seperti punya niche tersendiri di blog saya: BEASISWA. LOL. Actually ekspektasi awal saya adalah bahwa ini sharing session tentang bagaimana menembus jurnal internasional seperti diumumkan oleh Pak Bobby. Ternyata, berubah seketika. Tak apalah, yang penting bahagia dan tepat guna.

Sesekali Amerika memang mengundang dan membius saya dengan segala pesonanya. Menjadi setting novel yang hanya diceritakan lewat pilihan diksi-visual hingga film-film dengan sinematografi luar biasa berlatar Amerika. Terlebih setelah membaca The Architecture of Love-nya Ika Natassa yang ‘New-York-banget’ –btw, NY itu Amerika kan?- dengan sisipan bumbu asmara dan romantika tentunya membuat napas Amerika lebih lekat di dada saya. But, I’m still on my track, kok. Santei.

Sebenarnya cita-cita saya memang bukan kuliah di Amerika meski dulu pernah apply beasiswa ke sana, tapi itu kan dulu waktu saya pengin murtad dari dunia engineering. LOL.  Meski ke Amerika buat saya lebih kepada jalan-jalan menghabiskan libur tiga bulan dan deposito yang emang udah jamuran, tapi rejeki siapa yang tahu, kan?! Tinggal di sana sementara untuk tujuan tertentu mungkin akan menarik, but not for study. Nah, yang penting sekarang adalah mempersiapkan segala kemungkinan. Terlebih setelah terungkap fakta bahwa kuliah doctor di Amerika nggak mungkin hanya tiga tahun lamanya. Kok bisa?

Tersangkanya adalah matrikulasi

Jadi, system kuliah doctor di sana akan diawali dengan semacam matrikulasi selama empat semester, kadang juga bisa diselesaikan hanya dalam tiga semester kalau mata kuliah yang kita ambil di jenjang sebelumnya masih related. Contoh nyatanya ya Pak Deden sendiri yang bisa nggak ngambil kuliah statistika karena sudah belajar di S2.

Setelah lulus kuliah itu, ada lagi semacam ujian kualifikasi dan ini jadi pembuktian kalau kita benar-benar master di bidang yang kita pelajari itu. If you aren’t qualified enough pulang aja ke rumah orangtuamu! *cryyyy*

Untuk ikut ujian ini ada dua kali kesempatan. Kayak mahasiswa TPB yang  cuma punya kesempatan mengulang satu kali. Tapi jangan sedih karena ada juga program yang bisa ngasih kita gelar master walau kita nggak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. So, be aware dengan term and condition di kampus tujuan aja.

System kuliah di Amerika udah maju, Dude!

Diakui Pak Deden bahwa siapapun yang tinggal dimanapun pasti akan ‘jualan’ Negara tersebut. Contoh realistis aja, saya lahir dan besar di Lampung, pastinya saya nggak akan bilang-bilang kalo Lampung nggak aman dan isinya begal semua. Karena emang realitanya nggak sepahit itu hidup di Lampung. Dan itu yang emang harus dikampanyekan. Beda dengan di salah satu video curhatan anak Indonesia yang kuliah engineering di Jerman yang dibiayai orangtuanya dan memang sudah disiapkan sejak dia masih sekolah untuk kuliah di sana. Dia cerita tentang pahit-pahitnya aja, dan mungkin itu memang benar. Namun sepahit-pahitnya hidup di perantauan sudah selayaknya kita perjuangkan dan yang dibutuhkan adalah trik untuk bertahan di perantauan. Menurut Pak Deden itu mah bergantung gimana kitanya aja.

Banyak orang kagum dengan system pendidikan di Finlandia, tapi ternyata Amerika juga nggak kalah luar biasa.  Pak Deden sendiri mengajar dengan platform e-learning yang juga terintegrasi dengan ‘turn it in’, semacam tools untuk mengecek plagiarism. Bahkan presensi mahasiswa pun terintegrasi dengan email sang dosen sehingga bisa langsung tahu siapa yang nggak masuk tanpa ada yang titip presensi. *our problem banget*.

Jadi education in Amerika is about how to build your character. Mahasiswa dituntut mempunyai integritas. Integritas adalah hal yang sangat penting di Amerika. So you have to tell to your professor anything happened to you. Nggak ada cheating-cheating gitu di sana.  Sedangkan mahasiswa baru di sini aja udah pada pinter bersandiwara.

Untuk tutorial sendiri ada yang namanya ‘smart thinking’ jadi kita bisa belajar online selama 24/7 alias anytime we need. Platform ini juga berguna dalam membantu kita terkait bahasa. Dengan adanya writing center, kita bisa belajar menulis dan menuangkan ide tanpa perlu takut kehabisan diksi atau sekedar vocabulary.

Tentang TOEFL dan GRE

Nah, Pak Deden juga berpesan supaya kita nggak takut dengan yang namanya kendala bahasa. Di dalam short CV-nya yang bahkan setebal 14 halaman, saya menemukan fakta bahwa Pak Deden rajin menulis. Selain menulis jurnal penelitian, beliau juga menulis buku, antologi, ensiklopedia dan juga publikasi di media massa.

“Jangan menjadikan Bahasa Inggris sebagai obstacle!” katanya.

Kuncinya adalah sering-sering membaca dan mengingat kata-kata, khususnya bagi para engineer yang memang sedikit menggunakan verbal. Sangat benar bahwa sekolahnya penulis adalah dengan membaca. Saya jadi ingat ketika SSDK dan pada slide muncul tentang orang-orang yang tetap berkarya di pengasingan. Mahasiswa tidak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer, kalau pun ada yang pernah dengar, mereka   nggak tau beliau itu siapa dan apa yang ditulisnya. Pun ketika saya bedah buku di Unila, mahasiswa bahkan tidak membaca at least tiga buku dalam setahun. Sad but true.

Salah seorang peserta conference dari Palembang, Pak Darius bahkan bercerita tentang up and down usahanya dalam meningkatkan nilai TOEFL/IELTS-nya. Beliau yang kuliah sarjana dan master di kampus ‘unknown’ bahkan di-inferior-kan oleh advisornya sendiri. Hingga akhirnya beliau menghabiskan uang 130 juta demi bisa mendapat skor Bahasa Inggris yang layak untuk kuliah di Australia. Menurutnya pengorbanan itu sangat worth karena dengan mengeluarkan biaya yang bahkan lebih mahal dari rumah subsidi itu beliau bisa mendapat beasiswa S3, bisa menyekolahkan ketiga anaknya gratis di sana dan tentunya mencapai impiannya. No pain no gain, kan?

Meski Bahasa Inggris penting untuk kuliah di Amerika, jangan lupa tentang GRE yang menjadi kunci untuk kuliah di sana. GRE yang merupakan TPA dalam Bahasa Inggris menurut Pak Deden bukan sesuatu yang sulit dan sangat bisa disiapkan. Beliau bercerita tentang seorang suami yang menemani istrinya kuliah di Florida ikut menyiapkan GRE untuk studinya sendiri selama tiga bulan, hasilnya dia lulus 90%. Amazing!

“If you are not smart enough for GRE, you need to practice,” said Mr. Deden.

Yang membedakan kuliah S3 di Amerika dengan di tempat lainnya adalah bahwa di Amerika tidak disyaratkan membuat proposal riset. Tapi ya setidaknya udah taulah ya kita mau meneliti apa. Nggak buta-buta amat. Untuk kuliah di Amerika kita hanya perlu apply dengan CV, letter of reference dari professor (baca: Rahasia tentang Beasiswa yang perlu Kamu Tahu), skor GRE dan TOEFL no matter what’s the color of your skin. So jangan pernah merasa inferior.

Pak Deden sendiri selain aktif sebagai pengajar di sana juga aktif di berbagai organisasi. Bahkan beliau juga atlet olahraga tenis dan terlihat sekali passionnya di bidang ini. Beliau memimpin banyak tim hingga organisasi meski rasnya berbeda dan warna kulitnya yang nggak blonde dan enggak juga negroid. Oh, thanks Nelson Mandela!

Di samping beasiswa untuk orang Indonesia seperti LPDP, Fullbright, Prestasi dari USAID ada juga financial aid di setiap program doctoral. Ini bisa kita dapatkan kalau kita bekerja sebagai asisten professor.

Saya bisa simpulkan bahwa sekolah di Amerika nggak semengerikan yang ada di benak orang-orang. Kecuali tentang masa studi yang tidak bisa ditawar lagi, ya. Lha wong Pak Deden aja lulus 4 tahun 3 bulan kok. LOL.


Tetap semangat sekolah (gratis) lagi!

16 comments:

  1. Semangat ya, semoga tercapai rencana S3-nya. Aku juga deg-dengan mendampingi suami mau lanjut langsung S3 atau berhenti dulu dan balik ke kantor hihi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabb... kegalauan ibu2 yaaa :)

      Delete
  2. Semangattt. Tetap semangat. Daku juga ingin sekali sekolah lagi. Teman teman sepermainan malah udah pada S2. Lah disini udah ngomongin S3.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangaatttt kang phaddddd! jadi juragan teri kece di Amriki oke juga sambil kuliah

      Delete
  3. Replies
    1. semangattttt teh biar bisa ke luar negeri *ogah kalah* :p

      Delete
  4. Makasih sharingnya...pas banget aku lagi mempelajari pola2 S3 di bbrp negara :).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bagus juga kalo Teh Tatat bersedia nulis hasil belajarnya yang dirangkum dari sini dan sana

      Delete
    2. Kapan-kapan mungkin...kalo thesisku udah selesai...huhu..

      Delete
    3. Aku dulu gitu Teh, nanti kalo tesisku udah selesai mau gini-gitu... realitasnya? Itu hanya wacana wkwkwkw. Semangat, Teh!

      Delete
  5. Ayoo semangat, Mba. Etapi aku ga berani merantau, belum apa2 dah takut duluan. Ya gini deh, ga pernah jauh dari rumah.
    Tapi skr lagi naksir Wellington sih, Mba. Mudah2an bisa sampai sana, biar pun ga sekolah yah piknik2 bentar gapapa kali yah.

    Sukses ya buat pendidikannya, Mba Rinda

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayu merantau, biar bisa menelisik sepersekian ribu sudut bumi

      Delete
  6. Wow! Tapi kalau waktunya mepet mending ke negara lain aja yak? Nggak tahu deh ini kasusnya sama atau nggak, tapi temen saya yang kuliah master di Leeds (Inggris) bisa selesai dalam waktu satu tahun aja mbak. Ayo semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Master ya? Ummm.. saya aja dua tahun lebih. LOL. S3 juga ada yg cuma beberapa bulan bisa kelar

      Delete
  7. Mbak rinda mau s3 ke amerika wow keren?dulu aku juga mimpi ingin kuliah s2 ke australia tapi mikir naik pesawatnya #pemabok kelas beratm belum lagi kalau kangen ortu,

    ReplyDelete
    Replies
    1. HUwaaaa... aku nggak kepikiran perjalanan jauhnya. LOL. Bukan ke Amrik sih cita-citanya, tapi dimana aja yang terbaik bagi semua

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<