Friday, September 9, 2016

SEKOLAH ADALAH MASA LALU, PERUBAHAN ADALAH MASA DEPAN



www.conejousd.org

Cerita tentang pengalaman saya jaman sekolah dulu mungkin udah nggak perlu dibahas-bahas lagi. Namanya juga masa lalu. Meskipun katanya mentor softskill training di kampus saya bilang kalau masa lalu itu masih ada dan masa depan sudah ada. Tapi saya anaknya (berusaha) untuk gampang move on.

Dan entah kenapa para admin #1Minggu1Cerita mengangkat tema Aku dan Sekolahku. Padahal trending topic sekolah fullday udah lewat. Pak Anies Baswedan yang meneduhkan itu juga sudah tamat. Kasus kekerasan di sekolah juga nggak pernah dengar lagi beberapa hari ini. Dan yang paling membuat saya agak sedikit menyesal adalah hilangnya ospek dari perguruan tinggi.

Ah, mungkin admin keingetan dengan mantannya waktu SMA. Atau gebetannya cinta monyet waktu SD. Yasudahlah, namanya juga masa lalu. Kita ingat aja yang seru-seru.


Kekerasan di Sekolah

Di masa sekolah, saya tentunya pernah mengalami masa-masa paling nggak enak sampai menyakitkan. Di-bully sampai ‘dipaksa’ untuk selalu jadi juara itu sudah biasa. Dampaknya ya kayak sekarang ini, saya juga jadi selalu menuntut oranglain untuk bisa lebih dari segala-galanya. Tanpa saya sadari, pengalaman masa kecil itulah yang menempa kepribadian saya. Saya jadi mudah marah karena dulu sering dimarahi. Saya jadi ambisius karena dulu selalu harus jadi jawara. Meski pada kenyataannya saya anaknya suka ogah-ogahan. Dan sekarang saya cenderung lebih santai kayak di pantai. Damai, biar bisa cepat sukses.

Ini saya sadari sekitar sebulan lalu ketika mengikuti pelatihan softskill dan saya harus mengikuti sesi yang mirip hipnoterapi. Ternyata saya harus membuang semua kenangan buruk di masa lalu supaya bisa damai hingga dengan mudah meraih kesuksesan.

Baca juga: Strategi Sukses di Kampus dengan Damai

Di masa saya sekolah dulu, katanya Bapak adalah guru paling killer dan ‘ringan tangan’. Di sisi lain, beliau juga dekat dengan siswanya. Mungkin itu semacam alterego, tapi nyata adanya.

Kalau Bapak sampai sekarang masih kasar sama siswanya, mungkin sudah berkali-kali bersinggungan dengan urusan hukum. Ya emang bukan yang ngeroyok siswa karena dia ketauan merokok di kelas. Bukan juga mencubit sampai kulit tubuh siswanya potel. Tapi bukankah sekarang ini cuma sekedar ngasih cubitan sayang aja berujung di pengadilan?

Ada yang tau nasib Pak Samhudi, seorang guru di Sidoarjo yang mencubit siswanya dan divonis tiga bulan penjara juga dipidana denda Rp 250 ribu? Terus gimana dengan Pak Dasrul yang dipukuli siswa dan orangtuanya karena nggak terima dengan tamparan sayang gara-gara sang siswa yang perkasa itu berkata kasar dan melawan?

Orangtua sudah kehilangan kepercayaan terhadap guru di sekolah. Dipikirnya mereka nggak mampu mendidik anak-anak. Dipikirnya orangtualah yang paling pintar segala-gala. Kalau emang niat untuk menitipkan anak ke sekolah, ya kasih kepercayaan. Mau ikut mantau aktivitas guru dan kegiatan sekolah takut ada penyelewengan, bentuk ikatan orangtua murid! Gitu aja kok repot. Kalo emang ada kasus kekerasan, lapor aja ke website sekolahaman.kemdikbud.go.id.

Cerita Ibu beda lagi. Beberapa orangtua siswa nungguin anaknya di sekolah. Bukan lagi di luar gerbang, tapi ikut duduk bareng anaknya. Kalau anaknya nggak bisa nulis seperti yang diajarkan gurunya, orangtuanya yang bantu. Bukan, bukan ngajarin tapi malah orangtuanya yang nulisin. Apa banget kan? Alas an mereka hanya karena kalau ditinggal anaknya bakal nangis, kasian masih kecil, endebrew endebrew. Orang-orang di kampung saya emang aneh, Guys!

Sampai akhirnya karena udah nggak bisa dibilangin lagi jadi Ibu marah. Beliau bilang kalo emang nggak percaya anaknya dititip ke sekolah, silakan bawa pulang anaknya dan jangan pernah datang lagi! Ibuku gitu loh!

Di masa sekolah dulu, saya juga sering di-bully. Salah satunya karena Bapak saya Katolik waktu saya masih SD. Bapak saya nggak pernah ke masjid walau rumah kami di depan masjid. Bapak saya suka merokok dan rambutnya sering gondrong. Mungkin menurut mereka, yang paling sempurna adalah keluarga mereka. Yang paling benar juga mereka walaupun entah apa yang sebenarnya diperbuat oleh orangtuanya. Mereka berhak mem-bully karena mereka muslim dari lahir.

Di sisi lain, Bapak saya orang yang paling cepat bergerak kalau ada orang yang sakit dan butuh bantuan. Dan mengaku sebagai anak Bapak kepada tukang ojeg di depan jalan lintas membuat saya merasa aman ketika pulang malam dari sekolah yang jaraknya dua puluhan kilometer karena pengawalan mereka.

Waktu SD saya diantar-jemput tetangga ke sekolah karena motor Bapak udah nggak muat lagi dan saya sekolah siang. Sampai akhirnya saya malu karena diejek terus, akhirnya minta dibeliin sepeda. Sewaktu SMP juga saya masih naik sepeda dengan jarak rumah-sekolah lima kilometer. Mirip Ikal CS di Laskar Pelangi gitu deh.

Karena saya anak guru dan nggak kayak anak-anak yang lain. Kalo nilai saya bagus, mereka akan curiga. Kalo nilai saya anjlok, mereka bilang, “kebangetan anak guru kok bego!” Hayati selalu salah.

Sampai sekarang pun, kalau apa-apa saya selalu dikira ‘lewat jalan belakang’. Masuk SMA favorit, masuk kampus negeri favorit, sampe bisa kerja di kampus negeri juga dikira pakai nepotisme dan kroni-kroninya. Adik saya yang kemarin lulus SNMPTN alias masuk PTN lewat jalur undangan juga dicurigai gitu. Oh, andai mereka tau…

That’s why saya nggak pernah suka cerita tentang aktivitas saya dengan orang-orang di kampung. Mereka kan beda, mereka nggak paham dengan pola hidup yang menempa saya sedari kecil. Tapi entah, selalu aja ada yang tau secuil-cuilnya cerita keberhasilan saya ini-itu. Anteupkeun weh.

Stigma itu…

Honestly, di awal saya menaruh harapan besar kepada Bapak Anies Baswedan. Itu kenapa saya sampai ikut jadi relawan. Tapi kesini-kesini kok yang susah malah guru-guru ya. Utamanya guru di kampung yang emang udah terlanjur left behind. 

Baca juga: Tertindas, Berharap dan Selalu Menunggu

Waktu TK saya pernah mogok sekolah. Saya nggak mau lagi sekolah karena aktivitasnya Cuma nyanyi-nyanyi setiap hari. Seingat saya emang nggak diajari nggambar. Saya juga nggak diajari aktivitas kayak dance kecuali Senam Kesegaran Jasmani. Saya bilang saya bosan. Tapi saya harus menunggu sampai tahun depannya lagi supaya umur saya pas untuk masuk SD. Dan sepertinya menunggu untuk bisa sekolah SD itu sangat melelahkan.

Saya nggak bisa membayangkan anak-anak sekarang yang sekolah dari jaman PAUD. Abis itu masuk TK. Baru kemudian SD. Selain sekolah mereka juga udah les ini-itu. Haduh, tua mendadak kali yah. Ada lagi yang seumuran saya udah post doc. Iya, saya cuma sampe S2 aja pilek. Kasian sih. Karena saya yang sekolahnya lempeng-lempeng aja bosan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah si anak nggak sempat mengenyam pendidikan kehidupan. Tsaaah.

Ceritnya saya waktu itu udah bosan juga sekolah SD. Saya nggak sabaran pengin cepat-cepat ganti seragam. Enam tahun itu lama banget. Sampai akhirnya waktu saya kelas empat saya ikut Bapak ngawas ujian akhir di sekolahnya. Saya bisa ngerjain soal-soalnya. Di kelas lima saya disuruh ikut ujian akhir sama kepala sekolahnya Bapak, tapi Bapak menolak. Khawatir dikira ada nepotisme. Mentang-mentang anak guru diluluskan. Pasti dikasih bocoran soal. Dan sebagainya.

Hidup saya sebagai seorang anak guru emang udah rumit dari sononya. Saya akui ini karena saya hidup di kampung dengan masyarakat yang kebanyakan kurang terdidik. Di sana juga nggak ada kelas akselerasi. Jadi emang saya harus malas-malasan meneruskan sekolah sampai enam tahun.

Catatan saya yang lain adalah tentang penilaian fisik orang terhadap saya. Dulu saya emang kurus tinggi dan rambut legam terurai panjang. Saya suka banget nari karena emang udah diajari dari kecil. Sewaktu ada lomba nari di kecamatan, saya digantikan oleh seorang teman. Guru saya bilang, “nanti kamu kecapekan, terus sakit.” Sh*t.

Jadi dari dulu emang telapak tangan dan kaki saya selalu berkeringat. Orang bilang saya sakit jantung, jantung bocor, dan entah apa yang serem-serem gitu. Orangtua saya udah berusaha ngobati saya kesana dan kemari, tapi ya dasarnya emang nggak penyakitan ya nggak ada vonis apapun terhadap diri saya. Bahkan sampai sekarang juga telapak tangan dan kaki saya masih keringetan, kok. Naik gunung aja aman, bisa selamat turun lagi. Turun lapang berhari-hari juga sehat kok meski cuma makan nasi sama bawang goreng. Dan kayaknya dulu kalo Cuma sampe level kecamatan saya pasti nggak bakal kenapa-kenapa, kok. Bahkan mungkin saya juga bisa kok sampai ke nasional. Saya benar-benar sakit hati waktu itu.

Long story short, masa-masa sekolah saya, nggak bisa lepas dari stigma.

Sistem pendidikan idaman

Agak ironi sebenarnya kalo ngomongin system pendidikan idaman. Faktanya sekarang saya justru terjun di dalamnya dan belum bisa memberikan perubahan berarti. Saya pendidik, but sorry seriously I can’t teach.

Terus kalo nggak bisa ngajar, kenapa jadi dosen?

Saya nggak pengin kerja di industry as my educational background said. Kerja di industry itu monoton dengan rutinitas mengejar target perusahaan, bukan target pribadi atau Negara (?). belum lagi perusahaan-perusaan raksasa itu mengerikan. Dengan jadi dosen, saya ikut serta mencerdaskan bangsa, saya tetap bisa melakukan pengabdian masyarakat, dan tentunya saya harus meneliti dan harus sekolah lagi. Saya suka sekolah di perguruan tinggi, apalagi kalau dibiayai. LOL.

 Baca juga: Liku Kehidupan yang Hanya Bisa Dipahami Oleh Mereka yang Kuliah di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Saya bisa aja mengajar sesuai dengan bidang keilmuan saya. Kemampuan pedagogis saya yakin bisa sangat mungkin dipelajari. Tapi sayangnya pendidikan kita mungkin masih sangat mengejar prestasi dan pamrih. Jadi nggak penting lagi pembangunan dan pengembangan karakter yang malah jadi topic inferior di beberapa institusi pendidikan.

Di kampus saya aja masih banyak banget PR-nya. Sebagai PTNB, tentunya ini waktu yang tepat bagi kami untuk membangun karakter dari awal. Sebelum terlanjur karena udah susah banget kalo mau mengubah karakter yang udah mendarah daging.

Saya mengajar matematika, bukan bidang keahlian saya tapi saya ‘dipaksa’ untuk bisa. Well, saya berusaha. Sementara mahasiswa Tahap Persiapan Bersama (TPB) ada yang berasal dari SMA IPA, IPS, Madrasah, bahkan SMA. Dalam satu kelas, sebaran latar belakang siswa sangat heterogen. Bagus sih, secara pemerataan dan untuk perkembangan social mahasiswa. Tapi pada kenyataannya, di kelas, beberapa mahasiswa saya sangat menonjol, bahkan bisa mengritisi kalau saya salah. Beberapa lainnya bahkan nggak tau gimana cara memfaktorkan suatu persamaan atau pertidaksamaan.

Yang sudah terbiasa, bisa sangat cepat. Sementara yang belum pernah mendapat matematika merasa sangat stress dan tertinggal. Ini berdampak pada psikologis saya. Saya jadi bingung gimana cara menyampaikan materi kepada mahasiswa. Kadang saya takut kecepetan, tapi di sisi lain beberapa mahasiswa nggak dapat apa-apa. Saya bahkan sering nggak nyambung di kelas. Saya akui itu. Saya sendiri stress menghadapi tuntutan kampus.Saya sendiri dulu sempat trauma matematika karena cara mengajar guru saya dari kelas satu sampai kelas tiga sama. Rebutan banyak-banyakan menjawab soal dengan benar, atau dibilang "tidak lulus SD!" sambil jari telunjuknya mengarah ke hidung kita. Sejak saat itu saya menjadi lambat, sampai sekarang pun ketika menyiapkan bahan untuk diajarkan.

Foto milik sebuah web (lupa)

Sementara bicara tentang pendidikan karakter, mungkin saya bisa bilang ini adalah dampak dari pendidikan yang mereka terima di masa emas periode pertumbuhannya. Dari kecil orangtua mereka udah sibuk kerja. Anak kurang perhatian. Kemudian cepat-cepat disekolahkan. Guru di sekolahannya produk pendidikan keguruan asal-asalan. Ya, karakter yang seharusnya nggak akan nempel di kehidupan selanjutnya. Anak belum sempat belajar untuk menempatkan peran sebagai makhluk sosial, sudah dijejali ilmu yang tinggi-tinggi sehingga mereka merasa yang paling di atas awan.

Contoh kecil aja, di kantin kampus kami ada aturan untuk meletakkan piring dan gelas kotor ke tempat cucian atau tempat pengumpulan. Sampah-sampah juga harus dibersihkan. Tempat untuk meng-collect alat makan yang kotor juga di sebar di beberapa penjuru kantin yang bentuknya mirip food court dan aturan itu tertulis di meja makan. Masih ada aja piring-piring dan sampah kotor bertebaran di meja-meja. Dihinggapi lalat dan menyusahkan pengunjung selanjutnya karena keterbatasan pramu. Bukan hanya mahasasiswa, bahkan dosen juga begitu.

Contoh lainnya di toilet. Tisu bertebaran dimana-mana. Bahkan kadang dimasukkan ke dalam kloset. Saya nggak habis pikir, itu letak otaknya dimana? Mahasiswa itu bukan lagi anak TK. Dosen kan paling enggak udah makan bangku sekolahan sampai S2, tapi kelakuannya melebihi masyarakat dampingan saya yang berinovasi demi kelestarian alam padahal nggak pernah sekolah.

Sekolah adalah masa lalu. Senang, sedih, salah kaprah semuanya adalah produk dari keterlanjuran. Yang saya pikirkan sekarang adalah nasib para mahasiswa saya. Sebisa mungkin saya menanamkan pendidikan karakter pada diri mereka. Sekecil mungkin setidaknya biar ada perubahan. Maka dari itu selalu saya sisipkan pesan-pesan untuk selalu sayang terhadap lingkungan sekitar. Menyapa office boy, satpam, sampai penjaga kantin. Bertutur sopan sampai menjaga perasaan dosen yang sudah susah payah belajar untuk bisa mengajar mereka dengan segala keterbatasan.

10 comments:

  1. Sistem pendidikan di Indonesia, memang masih baaaanyaaaaaak pe-ernya ya Mba... It takes a long long looooong time to change. Kayak benang kusut, mbundeli. Gak jelas mana ujung mana pangkal. Tapiii., tetaplah optimis. Harapan perbaikan itu masih ad, insyaaAllah..
    Btw, blognya cakep. Saya suka. Salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Aq gemes deh waktu baca bagian yg ada ibu2 ikut sekolah anaknya. Aq setuju bgt tuh ibu mu akhirnya marah ke ortu yg begitu.

    Terus utk yg bagian usia muda uda post doc, menurutku malah bagus bgt, setidaknya biar org2 berpendidikan tinggi di Indonesia makin bertambah meski baru di lihat dari sisi quantity.

    ReplyDelete
    Replies
    1. LOL. betchullll. tapi yg di sekelilingku bener2 kuantitas bgt yg dikejar :D

      Delete
  3. Saya setuju mbak, pendidikan karakter sebaiknya diutamakan...

    ReplyDelete
  4. Nice post teh :)
    Share tentang pelatihan soft skill yang pake hypnotherapy nya dong teh ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di 2 link di atas teh, cuma emang sekilas2 gitu :D

      Delete
  5. Setuju dengan seluruh postingannya mbak...
    *give applause..

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<