Saturday, October 8, 2016

UPACARA BENDERA, ANTARA BENCI JUGA RINDU



Upacara bendera anak putus sekolah (Foto: Bobo)



Berdasarkan hasil survey kecil-kecilan yang saya lakukan via aplikasi whatsapp, ada 36 orang yang merespon terkait upacara bendera. Delapan orang menyatakan bahwa dia terkadang suka, kadang juga enggak untuk mengikuti upacara. Ada delapan orang juga yang mengaku bahwa dia senang dengan upacara bendera di sekolah. Sisanya, 20 responden menyatakan nggak suka upacara bendera. Lho, kok?

Dulu pernah ada thread tentang upacara bendera di Kaskus. Di sana diceritakan bahwa tata itu berarti mengatur, menata, atau menyusun; upa bisa diartikan rangkaian; dan cara merupakan tindakan, gerakan. Jadi bisa disimpulkan bahwa tata upacara bendera adalah tindakan yang ditata dengan tertib dan disiplin. Ini merupakan cerminan dari nilai-nilai budaya bangsa, hal ini merupakan ciri khas Bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain.


Sebenarnya niat dan maksud dilakukannya upacara bendera itu sangat luhur. Ini juga diungkapkan oleh beberapa responden. Ada yang mengakui bahwa upacara bendera membentuk pribadi yang disiplin, menumbuhkan nasionalisme, melatih ketahanan tubuh, berjemur di sinar matahari pagi, refresh setelah liburan demi mengawali pekan baru dengan semangat baru dan juga bisa hafal teks pembukaan UUD 1945, Pancasila, doa sampai lagu-lagu tanpa harus menghafal secara intens dengan waktu khusus.

Yaiyalah, kalau enggak ada gunanya juga nggak mungkin kan diamanatkan dalam Inpres No. 14 tahun 1981 dan dilakukan oleh hampir seluruh sekolah.

Upacara bendera bukan sekedar terkait nasionalisme

Selain untuk melatih nasionalisme dan (menurut saya) mendramatisasi jerih payah perjuangan para pahlawan kemerdekaan dan mensyukuri nikmat Tuhan, upacara bendera juga banyak manfaat lainnya. Manfaat ini ada yang bisa langsung dirasakan bagi siswa maupun kelak di kemudian hari ketika siswa tersebut sudah memasuki dunia nyata.

Foto: motivatweet

Upacara bendera melatih siswa untuk bisa menjadi pemimpin yang mengatur kelompoknya dalam tiap kelas, bahkan seluruh kelompok siswa jika dia adalah pemimpin upacara. Dalam kesempatan itu pula ada amanat Pembina upacara yang merupakan waktu bagi pihak sekolah untuk bisa berbicara langsung kepada para siswa dan semua stakeholder di sekolah itu. Biasanya juga di ajang upacara bendera ini ditampilkan prestasi-prestasi siswa sekolah itu yang baru diraih sehingga memunculkan optimisme dan rasa bangga dan saling memiliki. Selain itu, kegiatan upacara juga melatih para siswa untuk selalu merasa senasib sepenanggungan dan bekerjasama dalam tim karena ada giliran sebagai petugas upacara.

Lebih dari itu, upacara bendera bagi beberapa responden saya juga bermakna ajang curi-curi pandang. Di masa itu, kebanyakan orang baru merasakan yang namanya cinta monyet. Katanya, cuma dengan ngeliat topinya aja udah deg-deg ser. LOL. Di saat upacara kan juga nggak boleh rebut dan gerak-gerak, di situlah mungkin waktunya bisa lebih menghayati kekaguman terhadap gebetan. Soalnya, ada beberapa sekolah yang kantin sekolahnya terpisah. Jadi siswa laki-laki dan perempuan jarang ada interaksi ketika istirahat makan. Di waktu upacara itulah siswa laki-laki dan perempuan bisa saling curi-curi pandang. Setelah itu mungkin yang terjadi adalah saling titip salam, dan dilanjutkan dengan janjian di sudut sekolah  disaksikan oleh barisan semut merah.

Saya sendiri merasakan pentingnya tubuh dilatih setidaknya untuk berdiri selama setengah jam di bawah terik matahari. Ketika latihan dasar di PMR aja itu udah sangat bermanfaat. Apalagi waktu kuliah, jadi mahasiswa baru dan kenal dengan yang namanya ‘Sabtu Bersih’ dan harus udah ada di kampus jam enam waktu pertanian. Ini berarti mundur satu jam, alias harus udah ada di kampus jam lima. Setelah itu lari-lari dan disuruh baris sama senior. Belum lagi ada Program Pengenalan Wawasan Keorganisasian Kampus (PPWKK) yang ada materi ruang dan materi lapang. Dan itu udah kebayanglah seperti apa kegiatannya. Dan puncaknya adalah Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) yang merupakan akhir dari penderitaan fisik dan mental selama setahun.


Ketahanan untuk mengikuti rangkaian proses sebagai mahasiswa baru itu nggak bisa lepas dari peran luhur si upacara bendera yang udah melatih kita at least setengah jam setiap awal peKan.

Saya sendiri waktu kecil suka banget kalo upacara bendera. Di situlah ajang saya tampil dengan penuh percaya diri. Jadi langganan sebagai petugas upacara pun nggak masalah. Toh saya juga emang udah hafal teks preambule UUD, bisa juga jadi dirijen (director), tapi yang paling jarang adalah jadi pemimpin upacara -____-

Memasuki masa SMP dan SMA, nampaknya upacara bendera digelar dengan durasi yang lebih lama. Kalau nggak salah sampai jam 08.50 WIB baru masuk kelas. Nah, di situ saya mulai bosan. Hingga akhirnya waktu SMA dikasih mandat jadi pejabat PMR akhirnya bisa jaga ruang UKS. Di sana bisa sambil ngerjain tugas, baca buku, atau sekedar ngadem dan kalau ada temannya paling juga berghibah.

Ternyata dari responden survey saya ada juga dua orang yang suka jadi petugas kesehatan. Ada yang jaga ruang UKS, ada juga yang jaga di tempat teduh di belakang barisan pasukan upacara. Jadi ternyata dimana-mana juga sama, ya.


Kenapa nggak suka upacara bendera?

Dari 36 responden yang terdiri dari berbagai kalangan profesi dan usia, yang suka dengan kegiatan upacara bendera hanya delapan orang. Mereka semua adalah golongan ibu-ibu. Mereka mungkin juga bisa menumbuhkan mindset bahwa upacara bendera itu penting kepada keluarganya.

Nah, yang jadi masalah adalah lebih dari 50% responden nggak suka upacara. Alasannya klasik, cuma karena capek dan panas kebanyakan. Belum lagi 75% dari mereka adalah laki-laki. Laki-laki takut capek dan panas itu laki-laki macam apa ya? Mungkinkah ini juga yang berdampak pada kinerja orang-orang Indonesia yang dalam usia produktifnya jadi kurang produktif sebagaimana seharusnya? Hmm.

Secara fisik, berdiri dalam barisan upacara bendera memang mampu melatih ketahanan beberapa orang. Terlebih anak jaman sekarang yang mainnya udah bukan lagi gobag sodor atau teplek, tapi lebih banyak indoor dan sedikit pergerakan. Ada juga manfaat bagi kulit agar terpapar sinar matahari pagi yang banyak menfaatnya bagi kesehatan. Tapi ternyata ketika survey, saya mendapati ada responden yang menderita alergi ketika dia sudah terpapar sinar matahari selama 15 menit. Kulitnya akan memerah, gatal, sakit dan baru sembuh setelah tiga hari. Poor her karena dia jadi objek bullying dan dianggap sok-sokan nggak mau panas-panasan. Duh, dek kita hidup di dunia yang diversitinya sangat tinggi, lho.

Akhir-akhir ini saya mulai bisa lagi memaknai sebentuk upacara (entah bendera maupun wisuda) bagi diri saya pribadi. Seperti juga beberapa responden yang menyatakan kalau dia merasa ada ‘gemuruh di dadanya’ ketika sang merah putih dikibarkan diiringi lagu Indonesia Raya. Belum lagi khusyuknya mengheningkan cipta yang juga bikin baper. Itu semua saya rasakan lagi ketika saya bertahun-tahun enggak pernah ikut upacara bendera selama jadi mahasiswa. Waktu itu upacara bendera 17 Agustusan, saya terlambat dan saya merasa berdosa. Saya melihat kekhusyukan barisan-barisan berjas almamater hitam dengan kemeja purih yang sedikit menyembul. Kerudung-kerudung merah juga menjadi saksi saya yang telat masuk ke dalam barisan. Saya merasakan hikmatnya (sekedar) mendengarkan lantunan lagu-lagu wajib dengan desir angin di tengah terik panas matahari.

Keakraban rektor, beberapa dosen dan mahasiswa selepas upacara (Foto: Itera)

Jumat kemarin saya juga mengikuti prosesi wisuda pertama di kampus tempat saya mengajar. Ketika kami bersama-sama berdiri dan melantunkan Indonesia Raya saya merasakan gemuruh itu di dalam dada. Lalu ketika kami diam dengan iringan lagi dari paduan suara untuk mengheningkan cipta saya juga merasakan suatu keharuan yang dalam.

Saya pikir, ada yang salah dengan penyampaian makna upacara bendera selama ini. Ada yang sepertinya belum bisa dipahami, mungkin karena baru secara implisit saja makna itu disampaikan. Dari 20 responden yang menyatakan tidak suka upacara bendera, 10 orang merupakan mahasiswa baru yang nyatanya baru sekitar lima bulan nggak ikut kegiatan upacara bendera. Ada semacam pelunturan hakikat upacara bendera yang mungkin nggak tepat sasaran atau bahkan nggak tersampaikan kepada para siswa dan pemuda. Tentang upacara bendera yang diingat hanya capek dan panasnya, ada juga yang rindu upacara bendera dan ketika debar asmara menggelora.

So, reformasi dan revolusi mental is a must, tapi aplikasinya di lapangan untuk bisa kembali menanamkan nilai-nilai luhur upacara itu sendiri bisakah dilaksanakan?

14 comments:

  1. Saya sudah lama tidak mengikuti upacara. Terhitung sejak lulus SD sampai saat ini memang tidak hal yang mengharuskan saya mengikuti upacara. Tapi entah mengapa hati saya terenyuh dan mata berkunang tiap kali mendengar lagu kemerdekaan dilantunkan.

    Salam kenal ya mbak Rinda :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang sekolahnya dimana? Iya, apalagi kalo denger lagunya sambil hening huhu

      Delete
  2. Beneran bikin survey dulu buat bikin tulisan.ini? Hebattt..... Menurut aku perubahan upacara bendera itu minimal dilakukan di indoor dan sambil duduk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, aku survey karena penasaran. LOL. Tapi tetap harus ada ya Teh? Yap!

      Delete
    2. Salam kenal, Rinda...

      Keren banget ih, bikin riset dulu untuk bikin tulisan ini...

      Agak-agak geli gimana gitu baca komen Chika... kalo sambil duduk, kayanya bukan upacara lagi kali ya namanya, tapi rapat hehe

      Btw di sini nggak bisa komen pake id wordpress ya?

      Delete
    3. riset ala ala. karena ini blogspot sepertinya, teh

      Delete
  3. Perasaan di group intinya cuma lihat gebetan wkwkwkk... Group yg tidak nasionalis tu ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma Mak Lusi yang emang keren sejak masa lalunya. LOL

      Delete
  4. edun-sampe-bikin-survey-dulukak

    warrbyasak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum pernah masuk nominee tapinya. #cry

      Delete
  5. ngacung, sebagai salah satu yg di survey dan menyatakan tidak senang upacara bendera :D

    ReplyDelete
  6. Saya malah kangen upacara bendera, karena dengan mengikuti upacara bendera saya merasa Indonesia banget. Sering jadi petugass upacara juga. Jadinya masuk paskibraka saat ssekolah.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<