Thursday, December 8, 2016

Cerahnya Masa Depan Kopi Lampung




Hujan-hujan semenjak siang membuat saya gelisah. Pasalnya saya udah janjian untuk ketemu dengan rekan-rekan Tapis Blogger di gelaran Lacofest, Lampung Coffee Festival. Agenda ini hanya digelar dua hari sejak tanggal 7 hingga 8 Desember 2016. Mungkin saya udah kayak cacing kepanasan di kampus, padahal hari hujan. Hingga akhirnya setelah jam kantor usai dan hujan mulai rintik-rintik deras (?) saya melaju ke Mall Boemi Kedaton dimana agenda tersebut berada.


Pertama kali yang saya lihat adalah Om Yopie, punggawanya @kelilinglampung yang konon tetap harus datang meski sedang sakit. Dia bukan panitia tapi sangat involved dengan kegiatan ini. Setelah itu saya baru ketemu dengan Mbak Naqiyyah syam, Mas Rangga dan Kak Fajrin. Tapi saya lupa selfie dengan mereka karena keburu excited menyambangi booth tukang kopi. Abis itu saya ketemu dengan kawan-kawan (agak) lama. Ketemu kak Pensi dari Kelas Inspirasi, sampai ketemu mahasiswa yang nggak lupa cium tangan. Hhhh.

“Kamu yang ikut liputan naik mobil dalmas itu, kan?” kata Kak Perdi tukang potonya Tribun Lampung. Alhamdulillah masih diingat. LOLOL.

Kak Perdi, Heru, Akyuw
Booth-booth yang ada di sini nggak cuma diisi oleh kawan-kawan KPKL (Komunitas Penikmat Kopi Lampung), tapi juga ada dari AIKBL (Asosiasi Industri Kopi Bubuk Lampung), Nescafe, sampe yang jualan alat mesin kopi pun ada. Yang nggak kalah rame juga booth kerajinan tapis dari Negeri Katon binaan Bank Indonesia. Ibunya antusias banget menjelaskan bahwa dia pengin usahanya lebih maju dan pemasarannya dikenal. Namanya Ibu Ila yang bawa serombongan anak sampe saudara.


Ada satu cerita yang dipaparkan oleh Ibu Siti Fatimah yang dulu menanam kopi di kebun sendiri seluas setengah hektar mengaku kurang profit menanam kopi jadi pindah ke sayuran. Sekarang ketika harga kopi mulai membaik, Bu Fatimah ingin menanam kopi lagi tapi takut terkendala di penjualan. As we know mereka jual ke pengepul yang harganya bisa sangat rendah dan sangat fluktuatif. Teknologi yang diterapkan petani juga belum bisa menjamin kontinuitas mutu dari kopi yang mereka hasilkan.

Buat kamu biar tau bentuknya ee' luwak

Menurut Ibu Fatimah, meski sudah nggak punya kebun tapi tetap bangun usaha bersama ibu-ibu KWT Mandiri di Liwa memproduksi kopi Tugu Khas Liwa. Anggotanya 10 orang di Produksi dan 15 anggota lainnya bertugas di kebun. Saat ini penjualannya paling jauh baru ke Bandung. Dia berharap bisa lebih masif lagi memasarkan produknya. Selain itu juga mereka menghasilkan produk gula aren. Duh, Bu jadi inget saya kan mau beli gula arennya! -____-

Lain cerita dengan Pak Husein yang sudah bisa mewakili Lampung sekaligus Indonesia ke Hongkong pada 2014 dengan membawa Kopi Durian pada Hongkong Food Expo bersama 4 UKM lainnya dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Makassar, dan Jawa Barat. Masing-masing dari mereka membawa produk khas masing-masing untuk dikenalkan di gelaran kece itu. 


Jadi kopi durian ini bukan ditanam di sekitar pohon durian sepertihalnya kopi mocca di Kulon Progo. Kopi durian merupakan kopi instan yang komposisinya terdiri dari kopi dan buah durian. FYI, orang Lampung biasa minum kopi dan memasukkan sebiji durian ke dalam gelas. Dan itu enak banget. Biasanya ditemani dengan nasi ketan. Saya makan kopi durian terakhir tahun 2014 kayaknya. LOL. Saat ini kopi durian sudah dipasarkan oleh 8 distributor di Indonesia dan rutin mengirim 1000 kotak kopi durian ke Hongkong. Thumbs Up!

Di sebelah booth AIKBL, ada Indocafco yang akrab di telinga saya sejak masih jadi mahasiswa S1. Indocafco adalah salah satu perusahaan pengekspor kopi dan juga kakao yang berasal dari Sumatera bagian selatan. Induknya sendiri namanya Ecom Trading. Kalo mau tau lebih banyak silakan ditelusuri sendiri. LOL. Di sini penjaga boothnya ngajakin becanda mulu, jadi nggak banyak info yang saya dapat. Kecurigaan saya sih salah satu dari mereka adalah senior saya waktu S1. Saya nggak begitu yakin.

 

Di sini dikenalkan mulai dari stek batang, bentuk pohon dan buah kopi, grading, hasil dari sortasi sampai produk petani binaan dari Way Tenong. Ada juga semacam alat untuk menangkap hama buah supaya kopi kita nggak pakai pestisida lagi. Indocafco adalah eksportir kopi kualitas asalan sampai yang paling baik mutunya. Kopi-kopi mereka sudah tersertifikasi nggak cuma kopi dari Lampung aja. Kopi ini telah tersertifikasi 4C (common code coffee community) dan RFA (Rainforest Alliance) dan aktif membina kelompok tani lebih dari 3000 petani di Lampung Barat.

Yang paling keren dari pencapaian saya hari ini adalah ketemu Om Karjo Matajat, seorang Q Grader kenamaan dari Lampung. Awalnya pengin ngobrol banyak dengan beliau, tapi kondisi nggak memungkinkan. Akhirnya ngobrol sambil lalu aja. 

Gue, Boy, Om Karjo... err... lupa lagi siapa ya? #failed

Jadi, kopi itu kan sangat subjektif sekali. Masing-masing orang bisa punya penilaian berbeda tentang satu jenis kopi yang sama dengan asal muasal yang sama juga. Untuk itu dibutuhkan seorang Q Grader yang bertanggungjawab melakukan penilaian yang kredibel terhadap kopi dengan Q system yang dikembangkan oleh Coffee Quality Institute (CQI). CQI ini adalah sebuah lembaga independen peneliti kopi yang berbasis di Kalifornia. Nah, seorang Q grader sendiri harus dikalibrasi setiap tiga tahun. Siapa tau aja lidahnya udah nggak sensitive lagi atau hidungnya sudah terlalu sering mengendus yang lain. Hehe.

Menurut Om Karjo, masa depan kopi Lampung pasti akan baik ke depannya. Meski sekarang yang banyak dikonsumsi orang-orang dikedai adalah kopi arabika, tapi robusta lampung tetap punya tempat tersendiri. Robusta lampung punya karakteristik yang khas yang nggak ada duanya, jadi nggak akan terganti. Masih menurut Om Karjo, kopi robusta harusnya lebih sehat karena kandungan gulanya lebih sedikit daripada kopi arabika. Iya, Om, robusta itu pait. Meski nggak sepait ujian hidup!
“Suatu saat pasti akan ada waktunya sendiri orang akan beralih ke robusta karena menyadari keunikan dari robusta dan ditinjau dari sisi kesehatan. Robusta lebih sehat daripada arabika,” katanya antusias sambil celingukan nunggu acara dimulai.
Rangkaian agenda Lacofest sebenarnya udah dimulai sejak bulan lalu. Ini mencakup kegiatan lomba kualitas kopi, lomba barista, poster sampai lomba kebanggaan saya, livetweet pun ada. Tak disangka tak dinyana, saya pun jadi juara dua lomba ngicau yang diikuti Mbak Naqi di tempat ketiga. Nggak sia-sia. LOL.

5 – 25 November 2016: Lomba Citarasakopi
5 – 30 November 2016: Lomba Kopigrafika
7 – 8 Des. 2016: Lomba Tweet dan Foto Instagram
7 – 8 Des. 2016: Eksebisi Cafe, Ngopi Percuma, Hujan Doorprize, Musikopi.

Kawan-kawan KPKL menyabet habis seluruh gelar juara pada lomba barista. Bangganya dengan pegiat kedai kopi di Lampung itu ya gini, mereka selalu bersatu padu, kompak. Meski yang namanya usaha pasti selalu berkompetisi untuk jadi yang terbaik, tapi ya nggak pake acara sikut-sikutan. Padahal komunitas ini sendiri baru mau berusia setahun, ibarat bayi aja baru dapet MP-ASI dan masih belajar mau jalan atau tumbuh gigi, tapi KPKL prestasinya udah luar biasa.


Dengan segala keseruan dan kesan yang saya dapatkan dari gelaran Lacofest ini, nggak salah dong kalo saya bilang dunia perkopian Lampung punya masa depan? Yang penting selalu jaga kekompakan, lebih produktif lagi dan selalu berkompetisi dalam kebaikan. Sampai jumpa di Lacofest selanjutnya! Errr… kelamaan, sampai jumpa di event apapun selanjutnya!

21 comments:

  1. Lengkap ulasannya. Membacanya seperti sedang menyesap secangkir kopi robusta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tsaaahhh... Bisaan pagi-pagi. Kemana semalem Bang?

      Delete
  2. Aaiih.. tulisannya ketjeh badai. Infonya keren. Enggak sia2 tadi malam wara wiri mencari informasi. Two thumbs up!

    Selamat juga dapat juara 2 livetweet ya. Kamu memang luarr biaasyah... ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeaayyy Alhamdulillah, terima kasih uniiiii :*

      Delete
  3. aiihhh... Saya aja yg ada di lokasi kayaknya nggak dapet info selengkap ini. kereen liputannya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gimana, mas rangga mah moto terus, tapi nggak motoin cinta :(

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Cocok ini buat penikmat kopi. boleh lah mbak bagi bagi kopinya hehehe

    ReplyDelete
  6. Hai mba Rinda. Asyik ya bisa menikmati festival kopi. Jadi banyak tau nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru banget! Semoga bisa berbagi lebih banyak lagi :)

      Delete
  7. Hola Mbak Rinda,
    salam kenal...
    Aku malah jarang banget minum kopi. Etapi klo ada festival cem gini emang seru nihh yaa.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru kumpulkumpulnya, sama menangin hadiahnyaaaa yeaaayyy

      Delete
  8. Duh, pengalamannya berharga banget deh, thanks udah sharing ya mbak

    salam
    gabrilla

    ReplyDelete
  9. suka banget sama acara yg berbaur kopi, tapi baru tau ada acara festival kopinya :v

    ReplyDelete
  10. Aku pingin banget coba kopi khas lampung, kata saudaraku sih enak, tapi belom ada kesempatan, huhuhu.

    Salam,
    Shera.

    ReplyDelete
  11. Baca ini jadi ngebayangin pengen icip kopi duren pakai nasi ketan. Btw, aku juga pernah sharing tentang kopi di blogku :) Memang menarik banget dibahas soal kopi ini, apalagi di Indonesia jenis kopinya banyak banget!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kapan2 harus ngubek-ngubek heydeerahma nih. Btw, di Lampung duren udah gocengan loh. Sini main!

      Delete
  12. sedapnya ... secangkir kopi robusta yg hangat

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<