Wednesday, December 7, 2016

[REVIEW] Seberapa Berani Anda Membela Islam?



Judul                          : Seberapa Berani Anda Membela Islam?
No. ISBN                   : 9789792526431
Penulis                      : Na'im Yusuf
Penyunting               : Arie Mulya
Desain Cover            : Agi Sandyta
Penata Letak            : Rudi Permadi
Penerbit                    : Maghfirah Pustaka
Tanggal terbit           : Mei - 2016
Jumlah Halaman      : 288 halaman
Berat Buku                : 400 gram
Jenis Cover               : Soft Cover
Kategori                     : Islam
Harga Buku               : Rp. 66.000



… Kepada mereka yang enggan hidup kecuali hidup bebas dengan menengadahkan kepala mereka ke langit kemuliaan…

Buku ini dibuka dengan kata pengantar yang ditulis oleh Fuad al-Hajrasi, seorang ulama dari Mesir. Beliau mengatakan bahwa, “Aisyah adalah seorang yang seperti laki-laki dalam berpendapat.” Aisyah memang dikenal sebagai seorang wanita pemberani, dalam hal keilmuan, fikih dan berpendapat sehingga dia dipandang layak untuk ditulis dalam sebuah tema khusus dalam beberapa buku.

Di sisi lain, keberaniaan untuk membela agama bukan hanya bagi kaum laki-laki. Meski Islam sangat membutuhkan laki-laki yang dibentuk melalui Tangan Rasulullah SAW, yaitu yang berlomba memberi pertolongan, menjauhi sifat tamak, tidak terbujuk rayuan, tidak takut ancaman, tidak sombong, dan tidak menyerah jika kalah (halaman 14).

Di dalam buku ini, dipaparkan karakter seorang yang pemberani. Karakter itu adalah mencintai masjid, menyeru ke jalan Allah, bersungguh-sungguh dan tanggap, bersikap aktif dan bertanggungjawab, bercita-cita tinggi, mulia dan terhormat, berani di atas kebenaran, berani, berjihad dan berkorban, teguh di atas kebenaran, sabar dan membiasakan diri, memenuhi janji dan jujur pada Allah, serta tidak mudah putus asa.

Semua yang dipaparkan dalam buku ini adalah ciri-ciri yang harus kita miliki sebagai manusia, bukan sekedar sebagai muslim karena manusialah makhluk Tuhan di bumi yang paling tinggi derajatnya. Manusia dilengkapi akal untuk berpikir, kelengkapan raga untuk berbuat dan alam seisinya untuk bisa diberdayakan bagi kemaslahatan generasinya.

“Siapa yang hendak mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat, maka ia harus menaati Allah. Apa yang diinginkan pasti tercapat karena Allah adalah penguasa di dunia dan akhirat. Dialah pemilik semua kemuliaan yang ada” – Imam Ibnu katsir (Hal. 101)

Saya sendiri masih jauh daripada memberanikan diri membela agama melalui aksi sebagaimana yang dilakukan saudara-saudara saya ke Ibu Kota. Apalagi yang berjalan ratusan kilometer dari Ciamis untuk menggelar aksi damai bela Islam pada 2 Desember lalu. Saya hanya bisa menontoni berita, terpekur di depan timeline yang semrawut padahal aksinya sendiri damai luar biasa. Presiden yang juga muslim turun beserta rakyatnya, memegangi payung biru dan bercengkerama di bawah guyuran hujan. Tapi masih ada saja pihak yang katanya membela Islam namun menghujat pihak lain. Membela Islam dan tak mampu turun ke jalan tapi mengutuk dan berkata kasar. Alhamdulillah, setelah membaca buku ini saya mendapat pencerahan, bahwa banyak cara untuk bisa membela agama. Salah satunya dengan membela harga diri sendiri di jalan Allah.

Di dalam buku ini penulis mengatakan bahwa sikap mulia termasuk ke dalam salah satu ciri kedewasaan seseorang, artinya menghormati diri sendiri demi meraih kedewasaan dan menyadari kemampuan diri meski dunia membelakanginya, waktu dan keluarga tidak mengakui keberadaannya. Kondisi seperti ini sangat sering kuta jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang saya sendiri pun terkadang merasa dikucilkan, merasa termarginalkan dan tak dihargai. Tetapi yang harus diingat adalah bahwa orang yang memuliakan diri tidak berjiwa pengecut, dia sangat sopan dan sabar. Inilah yang harus senantiasa diulang-ulang dan dijadikan sebagai pengingat bagi diri ketika sedang merasa berada di titik terendah kehidupan. Siapa lagi yang akan menjaga kemuliaan kita kalau kita sendiri abai?

Kehinaan dan kerendahan memang tidak akan pernah bersatu dengan fitrah manusia. Seringkali yang kita temui adalah manusia menilai kemuliaan manusia lainnya berdasarkan warna kulit, harta dan keturunan. Saya ingat perkataan Dr. Deden Rukmana bahwa untuk bisa membuktikan ‘kemuliaannya’ di hadapan bangsa lain adalah melalui karya dan prestasi. Beliau yang tinggal di Amerika sebagai muslim apalagi berkulit hitam dan datang dari sebuah negara berkembang tidak akan pernah bisa dianggap jika tidak bisa membuktikan kemuliaannya lewat karya. Maka berkaryalah dengan niat untuk beribadah dan bukan untuk mengejar kesombongan.

Buku ini sangat enak dibaca, tapi tidak dengan sekali duduk. Butuh diresapi dan dihayati betul makna dari setiap kaliamatnya. Setelah itu pembaca akan merasa ditampar-tampar. Sekali waktu juga seperti disiram air seember ketika masih tidur. Ya, buku ini membangkitkan pembaca dari keterlenaan. Dari halusinasi duniawi yang cenderung menutupi tabir kebenaran hakiki.

Saya  sendiri tidak mampu selesai membaca buku ini dalam waktu seminggu. Saya butuh waktu lebih lama lagi. Saya membacanya ketika dunia hening, atau malah dalam buaian musik alfamatik. Dengan begitu saya bisa meresapi makna ‘berani’ yang sesungguhnya. Dengan begitu saya tersadar bahwa saya adalah manusia, saya adalah muslim yan dijamin kemuliaannya hanya jika saya sendiri mau memperjuangkannya. 

Manusia terlalu cepat putus asa, padahal Tuhannya telah menjamin kemuliaannya jika dia mau berusaha.

“Dan Allah member rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” – Annur:36-38

Saya tidak menemui typo yang berarti selama membaca buku ini. Jika ada kekurangan menurut saya adalah terlalu banyaknya sub bab yang membuat saya sedikit pusing. Mungkin ini karena saya terbiasa asyik membaca buku semacam novel yang alurnya nyaman dan cukup ringan untuk bisa dipahami walau juga mampu mengaduk-aduk emosi. Tapi buku ini terdiri atas istilah-istilah dalam Bahasa Arab dan sub bab atau sub judul yang membuat batang tubuh emosi saya seperti terpenggal-penggal. Meski begitu, gaya bahasa penulis yang asyik mampu membuat saya bercermin dan mulai berazam untuk menumbuhkan keberanian untuk mencari ridho Illahi.



Buku ini membawa kita menziarahi keteladanan nabi dan rasul, utamanya Rasulullah dan para sahabatnya dalam memperjuangkan Islam dengan penuh keberanian. Dengan membaca buku ini kita belajar untuk berani menghadapi segala tantangan. Menjadi pemberani yang membela agama tak harus selalu identik dengan aksi turun ke jalan. Menjelang akhir, penulis mengingatkan pembaca bahwa jika masalah semakin rumit, itu menunjukkan semakin dekatnya jalan keluar. Habis gelap terbitlah terang (Hal. 261).

So, dari berbagai definisi 'berani' di buku ini, yang mana yang paling kamu banget dalam membela dienmu? Kalau saya, berani bela islam dengan menegakkannya di dalam diri saya, menyebarkan ke keluarga saya, tidak mengganggu tetangga, tidak menyakiti teman, tidak bohong, tidak berkata kasar, dan semudah tidak membuang-buang makanan.
“Orang yang optimis tidak akan tertekan dengan berbagai cobaan yang dihadapi dan tidak pernah mau menyerah meski musuh sangat keras dan banyak. Dia selalu merasakan kebersamaan dengan Allah yang maha perkasa dan Maha Kuat. Dia bergerak sesuai dengan perintah-Nya. Jika tangannya menyerang, ada kekuatan Sang Khalik bersamanya. Jika berjalan melaksanakan perintah, Allah akan bersamanya.

4 comments:

  1. Berani menurut saya adalah teguh menegakkan Ialam. Menjalankan perintah habluminallah dan habluminannas. Berani berbuat banyak kebaikan. Berani melawan jika ada yang menzalimi dan menista. Berani berkata tidak jika harus tidak, iya jika harus iya. Berani merangkul saudara yang membela agama. Berani membongkar konspirasi2 yang memecah belah persatuan umat dan bangsa. Berani bersikap dan jelas memihak pada apa dan siapa. Karena, dimana kaki kita berpijak sekarang, akan menentukan di golongan mana kita akan disertakan Allah. Di golongan orang yang menikam saudaranya demi membela teman? Orang yang bersikukuh pada ikatan Nabi Muhammad sang imam? Atau golongan orang2 yang lalai dan abai terhadap firman-Nya? Demikian. Salam 😊

    ReplyDelete
  2. Selamat mbak. Resensinya mendapat juara 2 dari penyelenggara :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<