Sunday, January 29, 2017

1M1C #1: Jangan ke Lampung kalau Takut Begal!


“Eh, emang bener di Lampung ada yang namanya kampong begal?”
“Lo nggak takut naik motor sendirian di Lampung?”
“Emang orang Lampung begal semua ya?”


Sedih loh dapat pertanyaan-pertanyaan tentang kampang halaman tapi miris semua, tentang begal. Nyatanya memang beberapa kali yang ketangkap ngebegal di Pulau Jawa ya emang dari Lampung. Dan parahnya terkesan masalah begal ini jadi (suku) Lampung-sentris. Padahal yang ketangkap lagi ngebegal, yang ditembak di tempat sampe mati, nggak mesti keturunan warga pribumi.

Saya paling males kalo orang sukuisme banget. Pernah saya nyari alamat orang yang mau jual rumah, malah ditanya balik, “suku apa dia itu?” kan nyebelin. Nggak ada hubungannya jual rumah sama suku-sukuan. Saya juga paling sebel kalo orang udah ngomongin soal keturunan. Iya, apalagi yang keturunannya ningrat. Menurut saya itu non sense ya. Nggak memberikan efek apa-apa kecuali bisa mempermudah jalan hidup kamu lewat jalur nepotisme dan warisan yang awet tujuh turunan.

Oke, udah dulu misuh-misuhnya. Saya pengin memperkenalkan kampung halaman saya.

Saya lahir di Kota Bandar Lampung. Lalu besar di sebuah desa di Lampung Selatan. Ke kampung saya cuma butuh waktu sekitar satu jam dari Pelabuhan Bakauheni. Atau dua jam setengah dari Bandara Radin Inten. Tapi nanti kalau tol trans sumatera udah rampung, paling cuma 45 menit aja dari Bandara ke kampung saya.

Honestly, saya nggak pernah betah tinggal di desa. Kalau lagi liburan di sana, paling kerjaan saya cuma di rumah aja. Atau mentok-mentok nemenin Ibu ke pasar atau nganter sesuatu ke rumah sodara-sodaraan kami. Iya, kami nggak punya sodara sedarah di sana karena Bapak dan Ibu adalah perantau tapi akhirnya ya ketemu aja sama orang-orang baik yang pada akhirnya lekat seperti saudara. Kadang emang jalinan pemikiran bisa lebih lekat daripada kentalnya darah.

Saya nggak betah di sana karena yang pertama nggak ada tempat nongkrong. Saya biasa menyendiri di suatu kafe atau taman atau apalah, lalu ngerjain apapun yang jadi PR saya atau sekedar baca-baca. Tapi di sana adanya sawah. Dan saya sendiri baru beberapa kali ikut Bapak ke sawah. Bapak juga ke sawah belum tentu dua bulan sekali. LOL.

Nggak ada tempat nongrong itu berkorelasi sama nggak ada sinyal. Susah banget di sana kalo mau komunikasi. Saya sering bilang,”sorry gue lagi di the lost world, jadi nggak bisa fast response.” Ya karena emang susah sinyal. Buat nelpon aja susah, apalagi buat internetan. Mati gaya banget kaaaannn?

Di rumah

Beberapa kawan yang main ke rumah sih takjub sama pemandangan selama di perjalanan. FYI, untuk bisa sampai ke rumah saya butuh menjelajahi 15 km jalanan aspal yang masuk dari bibir gang Jalan Lintas Sumatera. Di sepanjang perjalanan itu masih ada beberapa petak sawah yang kadang menguarkan wangi bulir padi menguning atau wangi rumput yang segar. 



Sampai di rumah, mereka kebanyakan ngambil kelapa muda. Bapak dari dulu emang nanam kelapa muda hibrida. Pohonnya nggak terlalu tinggi. Saya aja waktu kecil bisa metik tanpa harus pakai galah atau tangga. Kelapa-kelapa ini di tanam di pojokan pekarangan. Kalau ada yang udah mulai tua, Bapak akan nanem anakannya lagi sebelum yang tua dan udah tinggi itu di tebang. Menanam sebelum menebang berlaku di pekarangan rumah kami.

Sebelum ada yang datang, biasanya Bapak mancing ikan di kolam. Makanya kalau mau ke rumah saya suka pada ngabarin dulu. Biasanya ikan yang diambil adalah ikan patin atau gurame yang ukurannya sekitar satu kilo. Nggak terlalu besar, kadang juga yang lebih kecil dari itu. Biasanya Ibu buat pindang ikan, pepes dan sambal terasi. Nggak lupa juga kalau lagi musim ngambil daun-daunan dulu di pekarangan buat lalapan. Kalau lagi nggak ada ya gampang, tinggal panen aja di pasar. LOL.

Kondisi rumah yang serba ada mulai dari sayur, buah sampai lauk bikin saya juga udah ngerasa cukup tinggal di rumah. Nggak perlu jajan atau konkow. Selain itu juga karena saya nggak punya teman sebaya. Teman-teman saya sekarang udah pada berkeluarga atau merantau. Dari dulu emang saya kurang cocok dengan teman di kampung karena mereka lebih suka main yang cenderung berbahaya kayak main ke sawah, main api, main golok, main bamboo. Kalau nggak gitu ya kadang mereka Cuma nongrong di perempatan jalan yang menurut saya itu useless banget. Saya biasa memanfaatkan waktu di rumah. Dari kecil saya suka baca sambal denger music. Bapak juga memfasilitasi kami dengan taman bermain. Kami bisa main masak-masakan atau main tanah sekalipun tapi tetap dalam pengawasan di rumah.

Rumah kami jauh lebih sederhana dari pada para tetangga. Tapi kami selalu berkecukupan dalam hal sandang dan pangan apalagi pendidikan. Kami jauh lebih bersyukur untuk itu. Kecuali jalanan yang kadang rusak dan keabsenan sinyal, saya sangat senang berada di rumah. Di rumah, bukan di kampung saya.


Berwisata di Kalianda


Beberapa orang lebih mengenal kampung saya sebagai Kalianda. Padahal masih harus masuk lagi sekitar 15 kilo hehe.

Kalianda adalah sebuah kota pesisir, Ibu Kota Kabupaten Lampung Selatan. Kota kecil yang selalu galau dengan patung di tengah jalan. Iya, udh berapa kali aja patung di depan Masjid Kubah Intan di bumi hanguskan, terus dibangun lagi-dibongkar lagi. Galau. Masa remaja saya habiskan di sini. Semasa SMA, saya sering pulang malam karena ikut ekskul ini itu. Jadi waktu saya banyak di Kalianda dari pada di rumah. See, saya aja yang anak SMA nggak pernah takut begal. Adik-adik saya juga. Teman-teman saya juga.

 
Dari Bakau Heni, biasanya kawan-kawan mampir ke Masjid Kubah Intan. Masjid ini udah iconic banget. Sekarang fungsinya mirip rest area. Dulunya namanya Cuma Masjid Agung Kalianda. Sekarang dipugar dengan kubah yang serupa intan dan shine bright like a diamond gitu. Masjidnya jadi lebih besar dengan fasilitas AC dan free wifi yang lumayan ngebut. Di lantai dasara ada juga perpuseru yang sering jadi tempat anak-anak main computer. Haha.


Kalau misalnya badan pegel-pegel abis perjalanan jauh dan butuh kafein, tinggal ngesot aja ke Kedai Kopi Pacar Hitam. Kedai manual brew pertama di Lampung yang saya kenal dan menyeret saya untuk lebih jauh mengeksplorasi kedai-kedai lainnya di Lampung setelah pulang dari merantau. Sebagai lumbung kopi nasional, komoditas satu ini emang nggak bisa lepas dari keseharian masyarakatnya.




Dari kejauhan ada Gunung Rajabasa. Kita bisa sekedar mengitarinya, loh. Ada 22 desa di sekitar gunung yang bisa kita eksplorasi. Salah satunya kampung halaman Pak Zulkifli Hasan, mantan Menteri Kehutanan yang kampungnya sempat beberapa kali banjir. LOL.

Untuk bisa mendaki Gunung Rajabasa, nggak perlu latihan khusus. Kita cuma butuh waktu sekitar enam jam aja kok, track-nya juga nggak terlalu ekstrim. Naiknya bisa dari Desa Sumur Kumbang yang sekaligus bisa ketemu dengan pemuda-pemuda pecinta alam Rimba Selatan (Risel) yang bisa menjadi guide biar para pendaki nggak nyasar. Mereka juga akan dengan senang hati memperkenalkan kampungnya, cerita leluhur hingga keberhasilan masyarakatnya mengelola hutan agar tetap lestari. Oh iya, di desa ini ada yang namanya acara Peperahan. Biasa digelar sekali dalam setahun di awal tahun hijriah.

Kalau mau datang ke sana, kalau nggak ada acara Peperahan, datang aja pas musim duren kayak sekarang. Siapa tau malah bisa ikut nunggu duren bareng warga sekitar. Seru, loh.

Turun dari Desa Sumur Kumbang, kita juga bisa nginap di Wisma Belerang. Seperti namanya,di penginapan ini emang ada sumber air panas belerang. Di sana tersedia kolam air tawar, ada juga air belerang yang bebas digunakan oleh tamu wisma. Ratenya murce, kok. Sekitar Rp. 300.000 per kamar plus sarapan dan fasilitas shower hot water, AC dan tivi.

Kalau nggak mau nginap di Wisma Belerang, bisa juga ke sumber air panasnya langsung. Minta panduan warga sekitar aja. Tiket masuknya Rp. 5000 doang. Tapi ingat ya, jangan lama-lama terpapar air belerang. Bisa juga cari hot spring di Pantai Wartawan. Di sana juga ada air panas belerang dan non belerang.

Setelah naik gunung, makan duren, terus merilekskan badan di air belerang, waktunya jalan-jalan ke pantai.

Kalianda emang terkenal banget dengan pantainya. Dimana-mana ada pantai. Seberang sekolah saya aja udah bibir pantai loh. Agak jalan sekitar 200 meter sih. Hihi.

Baca juga:



Banyak banget pantai di Kalianda. Nggak sanggup saya nyebutin dan ngejelasin satu persatu. Berawal dari pelabuhan Bakau Heni aja udah ada yang terkenal Pantai Tanjung Tuha, terus ada Pantai Laguna, Pantai Ketang, dan yang mengelilingi Gunung Rajabasa yang terkenal ada Pantai Canti dan Pantai Kahai. Di Pantai Kahai ini ada penginapan yang lucu-lucu juga, ratenya mulai sekitar Rp. 500.000. Dari pantai ini atau Pantai Canti atau Pantai Kunjir dan sekitarnya bisa nyebrang ke Batu Lapis dan Pulau Mengkudu yang lagi happening.

What to eat?

Saya nggak akan singgung soal BAkso Sony sekalipun dia punya milyaran fans garis keras di luar sana. Jadi saya kasih gambarnya aja. Kalau mau bakso Sony, sini main ke Lampung! Bisa juga dikirim loh, ada bakso, pempek, rolade yang frozen. Macak promosi.



Tadi saya sempat singgung soal duren. Iya, duren lokal sini emang nggak semantap duren medan. Tapi tetap nggak kalah mantap kok. Apalagi yang segar. Paling cocok dicampur sama kopi. Kopi duren apalagi sama ketan. Haha. Lampung banget katanya sih yang beginian.

Selain di Kedai Kopi Pacar Hitam, ada kedai Kopi Kalibata yang menyediakan manual brew. Dulu Kedai Kopi Kalibata pernah sangat mengecewakan saya, tapi akhirnya sekarang mereka bertrasformasi menjadi lebih baik lagi.

 
Kalau untuk oleh-oleh atau yang hobi kopi robusta, bisa berburu kopi WC. Kopi ini adanya di Pasar Inpres Kalianda. Nggak jauh dari Kedai Kalibata. Tanya aja kopi WC pasti tau semua karena jualannya emang di depan WC. Eh, jangan salah. Kopi ini udah nampang di beberapa majalah dan surat kabar. Di tivi juga. Keren banget.

Kalau oleh-oleh lainnya tentu aja karena daerah pesisir jadi penganannya nggak jaih-jauh dari seafood based product. Sebut aja pempek, otak-otak, bakso ikan. Ngetik ini saya jadi ngiler dan pengin banget ngeburu otak-otak plus saus kacangnya. Glek.


Kalau lapar, jangan khawatir. Setiap kota emang punya ciri khasnya. Kalau di Kalianda ini ada olahan ikan di Warung Makan Simpur Kuring. Letaknya nggak jauh dari Masjid Agung Kubah Intan. Tepatnya di samping Samsat Lampung Selatan di seberang Kodim. Nggak bakalan nyasar, soalnya ada di kiri jalan Lintas Sumatera.
 
Selain itu bagi yang suka ayam bakar sambal agak gurih manis-manis manja gitu, bisa cobain Ayam Bakar Sartika. Atau kalau yang vegetarian harus banget cobain Pecel Sudi Mampir.


Ah, bicara makanan di kampung halaman saat di kosan dengan tagihan deadline seabreg gini bikin baper maksimal deh. Should I blame si admin 1 Minggu 1 Cerita yang udah bikin tema segini bikin bapernya? -_____-

Baiknya saya sudahi aja. Eh, ini baru cerita seujung kukunya Lampung loh. Baru ngesot dari Pelabuhan Bakauheni. Di tempat lainnya banyak hal yang lebih seru lagi bahkan yang belum sempat saya ceritain di sini. Kadang emang keindahan dan kenikmatan itu bukan untuk diceritakan, tapi untuk disimpan sebagai kenangan. Halah, kenikmatan.

So, kalau yang mau datang ke Lampung nggak usah peduli begal. Dimana-mana juga ada. Bahkan kekejaman begal lampung sekarang udah kalah dibandingkan dengan pelaku psiko yang bikin mencekam suasana Pulo Mas. Waspada itu harus, tapi takut mah jangan. Kan kita masih punya Tuhan, masih punya teman yang cute kayak aku yang bersedia ditanya-tanya apalagi jadi guide asalkan segalnya ditraktir. Eh, maaf ya saya anaknya penuh pamrih.

Begal yang ditakuti, Begal Cinta #PromoBukuKawan

28 comments:

  1. Review kampung halamannya lengkap banget....

    Pengen ke sanaa..... Tapi kalau ke sana aku harus ditraktir.
    Maaf, saya suka caper sama temen. Mau kan temenan...? :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...yaudah, kita saling nraktir aja yaaa. Ditunggu di Lampung loohhhh

      Delete
  2. Duh, pengen keliling Indonesia deh, Asli :3

    Salam,
    Oca

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikuuuttttttt! Apalagi klo ada sponsor hihi

      Delete
  3. saya baru loh, kalo kebanyakan begal itu asalnya dari lampung #ketahuannihanaknyamalasnontonberita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, cukup terkenal begal Lampung mah sampe berlebihan

      Delete
  4. Wahh.. baru tahu duren bisa dicampur kopi *udah kebayang aja saya meracik sendiri.LOL

    Seru ya kampungnya.. Kami di Sultra juga banyak pantainya.

    Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga. Wah saya penvin nyelam2 di lautnya Sultra, kemudian nyari rumput laut merah

      Delete
  5. Saya sih tertariknya sama duren kopi nya gmna ya rasanya kalo dicampur ketan?? Kopi duren itu kopi dari duren ato cm kopi dgn cemilan duren?? Hehe
    Salam kenal sy jg member #1m1c dari Lombok!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada jg yaaa yg dr Lombok. Salam kenal juga! Ada kopi yg dicampur duren instan, ada juga yg emang kopi diublek2 campur duren

      Delete
  6. hahaha, sama kayak saya juga, kalo pulang ke kampung halaman cuma di rmh aja. slx anak rumahan
    Sy stay di Makassar. Disni juga sering dgr cerita ttg begal. Tp smoga aja gak prnh ketemu sm yang nama nya pembegal.
    Btw itu buku begal cinta seru tuh... Abis ketemu pembegal trus jatuh cinta, slx yg begal mirip lee mih ho hihihi ^_^s salam kenal. Btw buku begal cinta nya bs di dpt kan dimana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhh di makasar ada juga toh? Heuheu. Bukunya PM saya aja kak. Nanti dipesenin ke temen

      Delete
  7. Wah, gua justru baru tau loh kalau begal itu seringnya dari lampung. Kayanya gua anak kosan yang anti tv banget ya, walaupun ada tv dikosan juga.

    Iya, setuju banget, paling gk suka sama orang yang rasis. Gua sendiri asal dari Palangka Raya, keturunan dayak. Tapi bukan orang dayak asli, karna disana gua numpang tinggal doang. Tapi, setiap yang ngajak ngobrol pasti nanyain soal kerusuhan dayak dulu, ya gua jelasin setaunya gua aja. Padahal nggak semua orang yang berasal dari suku itu, bakal berlaku seperti kebanyakan orang yang dari suku tersebut. Ya ibarat seorang oknum jahat yang berada di sebuah organisasi yang baik lah, kan organisasinya kebawa jelek juga. Ya, ibarat pepatah "Karna nila setitik, rusak susu se-balanga(wadah seperti guci)."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya, di sini jg pernah ada kerusuhan dan diungkit2 terus. Jadi cedi.

      Delete
  8. Pernah ke lampung sekali sewaktu pembukaan lahan untuk kampus ITERA sekitar tahun 2012-an,menginap di Hotel Novotel..cuma merasakan kuliner seafood dan durian...pulangnya beli oleh2 pisang epek ya..kl gak salah namanya hehehe..salam kenal mbak vita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo teh, teteh pasti sekantor ama buajeng yaaaa? Heuheu. Jauh jg dari Itera ke novotel. Heu

      Delete
  9. Sama kaya yg diceitain temen ku yg stay di Natar. Apalagi sekelilingnya hutan tebu. Kalo udah maghrib, anti bgt momotoran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaahhhh punya teman org hutan tebu ternyata

      Delete
  10. Wah...jadi ingin ke Lampung. Makasih kisahnya lengkap...

    ReplyDelete
  11. Wew, sama dong. Lumajang juga terkenal dengan begalnya 😝 Apa mungkin kota kita masih saudaraan ya??? 😆

    Wew, kopi duren gimana rasanya? Duh aduuuuh

    Kak Rind, ig bisa dipampang di post blog loooh, jadi gak oake skrinsyutan. Ada caranya, tapi saya gak pandai bertutorial, hehe. Ntar, kalo di postnya ada gambar dari ig, jika diklik akan ngarah langsung ke blog. Coba deh cari tau

    Salam kenal kak rinda

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakkkk gimana caranyaaaaa? Aku gaptek maksimal

      Delete
  12. Sy punya kesan ttg lampung wkt PKL tahun 95-an.way kambas dg gajahnya adalah sesuatu banget dan kisah lucu waktu pulang dari mall naik angkot.. Eh si sopir ga mau brenti padahal kita dah bilang berkali-kali... Kareeeennnaaaa..
    Kita bilangnya: "kiriiii... " harusnya"minggir!!" akhirnya penginapan kelewat jauh dan sebagai bonusnya difoto di taman kota yang banyak lampunya wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya setoopppp bang setoopppp wkwkwkw

      Delete
  13. waa.. rinda lengkap banget ulasannya �� jadi pengen pulang xD kapan2 main ke metro ya~~

    btw, kopi hitam+duren itu enak, ketan+duren itu enak, duren yg udah jadi tempoyak juga enak �� tempoyak bisa dimakan mentah, dicocol sambel terasi, dimakan pake nasi panas, dibuat pindang patin, dibuat pepes, dibuat sambel, akk~ enak semua! lapaarr~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu sayangnya aku tak suka tempoyak teeehhh. Hayuk kita berburu duren!

      Delete
  14. Waaah, dureeen nyaa. Bikin galfok. Secara favorit banget.. hihihi. Kopi aceh enang terkenal bget ya. Kopi durennya yg bkin penasaran..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ini kopi lampung loh, robusta. Jadi tambah duren legit, g pahit lg

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<