Sunday, January 15, 2017

Menghapus NIDN dari Laman Forlap Dikti




Selamat tahun baru 2017! Hey, ini masih Januari, kan? So, saya belum telat ngucapin selamat tahun baru sekaligus mengingatkan kita semua bahwa ini masih bulan Januari, masih ada waktu untuk berbenah diri kalau kalian punya resolusi. Ini mah self reminder aja, sih.

Kali ini saya pengin cerita soal pengalaman saya yang pernah terjebak untuk menandatangani kontrak kerja dengan suatu Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Ini kenapa penting banget saya ceritakan? Tadinya sih mau saya keep seorang diri, biar aja jadi pengalaman dan pelajaran hidup aja gitu, tapi ternyata nggak sedikit orang yang mengalami kasus serupa. Mereka ngomong langsung ke saya karena kenal, atau nyasar ke postingan blog yang saya publish Agustus lalu.


Jadi saya lulus kuliah master saya pada Oktober 2015. Yang namanya baru lulus, pasti kayak merasa ada beban moral kalau ongkang-ongkang kaki aja di rumah. Nonton Pagi-pagi sampe Si Unyil, Bolang, Breakout hafal semua artisnya. Jadilah saya mengirim aplikasi ke beberapa kampus. Saya anaknya emang ngeyel, jadi walau pun beda jurusan, kalau dia agak nyerempet dikit dan buka lowongan ya saya masukin aja lamarannya ke sana. Bahkan yang nggak buka lowongan dosen secara terbuka pun saya datengin. Kurang apa lagi coba usaha saya?

Pada Desember 2015, saya mendapat panggilan untuk wawancara di sebuah kampus swasta. Kampus ini nggak terlalu jauh dari rumah, dekat kantor saya yang lama, dekat pusat kota, dekat mall, wah… strategislah pokoknya. Saya datang ke sana, ternyata bukan wawancara, tapi cuma semacam pemaparan kesepakatan kerja aja. bahwa saya digaji cuma sekian, tapi saya dijanjiin ini-itu dan sudah pasti dikasih jam ngajar dengan upah terpisah dari gaji pokok. Yang namanya masih idealis, masih belum butuh-butuh uang banget, akhirnya setelah bimbang dan minta restu orangtua, akhirnya saya tandatangan kontrak pada 23 Desember 2015.



Setelah itu, saya dipanggil lagi pada pertengahan Januari 2016 dan diberi kabar bahwa NIDN saya telah dikeluarkan oleh DIKTI. Maka saya pergi ke kampus dengan segala harapan bahwa saya akan segera sah menjadi seorang dosen.

Ternyata harapan saya terlalu jauh dari kenyataan. Ketika datang ke PTS tersebut justru kami (saya dan beberapa kawan yang senasib) diberikan jadwal microteaching yang tinggal beberapa hari lagi. Saya pun menyiapkan microteaching sebagaimana telah di paparkan oleh seorang jajaran pimpinan ketika kami diberikan pengarahan sebelum penandatanganan kontrak. Bahwa microteaching di sini bukan dimaksudkan untuk menghakimi kami, tapi justru kami akan diberikan masukan-masukan terkait teknik mengajar kami. No problem at all. Saya mah anaknya gitu, gampang terbuai janji manis.

Long story short, saya tidak mendapatkan apa-apa seperti perjanjian di awal kecuali gaji bulanan yang hanya gaji pokok. FYI, ini semacam modus yang terjadi di beberapa kampus. Bahkan, di Jawa Tengah, teman saya diberi uang Rp. 3 juta agar namanya bisa dipasang di borang pengusulan prodi baru. Di twitter saya baca banyak kasus serupa. 

Baca juga: Tips Memilih Perguruan Tinggi Bagi Calon Dosen

Nah, kalau yang terjadi sama saya, di kampus itu memang ada mahasiswanya. Lumayanlah, nggak banyak. Jadi nama kami, dosen-dosen fresh graduate itu kayaknya dicatut untuk kepentingan administrasi atau sekedar supaya kampus tersebut bisa bertahan. Ini lantaran dosen S1 minimal harus berpendidikan S2, sementara mereka tetap menggunakan tenaga kerja dosen-dosen lulusan S1 yang sudah senior, tapi nama yang muda-muda yang sudah S2 dan masih polos-suci-tak-ternoda yang diajukan ke Dikti. Nggak heran, di sana tertulis bahwa saya mengajar lima mata kuliah yang sama sekali jauh dari keilmuan saya kecuali Mata Kuliah Manajemen Strategi.



Oke, to the point aja. berikut pengalaman saya sewaktu mengupayakan penghapusan nama saya dari forlap Dikti.

Mengajukan Surat Pengunduran diri

Mengundurkan diri dari suatu instansi adalah hak segala bangsa. So, kalau misalnya merasa nggak cocok lagi dengan lingkungan kerja atau sistemnya yang mundur aja. saya mundur sebelum saya mendapat kerja di tempat lain. Saya berani karena saya sadar, adanya NIDN saya yang ber-homebase di PTS swasta itu kelak akan mempersulit saya untuk mendapatkan karir yang saya impikan. Bahkan ada yang cerita ke saya, dia sudah diterima PNS sejak 2009 tapi namanya masih nyangkut di sebuah PTS. Dan itu menyulitkan administrasi. Bahkan sebetulnya kalau punya NIDN nggak boleh ikut tes PNS, lho.

Saya mengirimkan surat dan meminta untuk mundur pertama kali mulai tanggal 17 Mei 2016. 19 Mei saya mendapat jawaban dari HRD bahwa pengunduran diri saya sedang di proses. Berkali-kali saya tracking surat tersebut jawabannya masih on procces terus. Malahan ketika saya ke sana, malah disuruh microteaching ulang. Deim banget kan?


A: Jadi gini Bu, pengunduran diri Ibu ditolak.
Rinda: Siapa yang berwenang atas ini?
A: Pak Direktur, Bu.
Rinda: Oh jadi hanya direktur ya yang berwenang, gimana ya biar saya bisa mundur soalnya saya nggak bisa lagi.
A: tapi ibu bakal kena pinalti
Rinda: (saya mulai kaget karena tidak ada tentang ini di surat kontrak) Berapa pinaltinya? (saya penasaran)
A: Kalau karyawan sekitar Rp. 15 juta, kalau dosen... (dia tanya temannya) Rp. 25 juta.
Rinda: Oke


Di awal dan di kertas kontrak kerjanya sama sekali nggak ada klausul tentang pinalti atau apalah nama lainnya. Jadi saya pede aja seolah saya mau bayar, padahal saya udah nyiapin bala bantuan untuk ini. sewaktu bicara dengan Kepala Bagian Akademiknya, saya malah ditawari jadi dosen magang di kampus-kampus terakreditasi A kayak UGM, ITB gitu. Dengan segala janji manis lagi. Ya, karena saya udah bulat tekatnya mau mundur, dikasih janji manis melulu tambah muak saya. Intinya, mereka tetap keukeuh ingin menahan saya.

Ps. Ketika memberikan surat pengunduran diri, pastikan kalian membuat tanda terima yang ditandatangani dan distempel oleh pihak kampus yang bersangkutan. Kalau baru sekali mengajukan dan nggak direspon, jangan patah arang, saya sampai tiga kali, lho!

Oh iya, saran saya sih lebih baik jangan dihapus, pindah homebase aja kalau memang sudah diterima di kampus lain. Jadi yang penting keluar dulu dari kampus tersebut, terus pastikan diterima di kampus lain, baru deh urus pindah home base. Takutnya kayak saya, sampai sekarang belum punya NIDN. Baca dulu penjelasannya di sini, dan buat surat pernyataan yang bisa kamu download di sini.

Kembalikan gaji yang pernah kalian terima, sesungguhnya itu nggak berharga

Siang hari saya datang lagi, ketemu dengan orang berbeda. Saya lagi-lagi bargain atau lebih tepatnya debat agar saya bisa mundur dan mereka nggak lagi menahan saya. Akhirnya sore hari saya bisa ketemu dengan pimpinan dan saya bisa mundur dengan mengembalikan semua gaji yang pernah saya terima.

Tadinya mau saya transfer sore itu juga, tapi kata HB (yang selalu nemenin saya dan menguatkan sekaligus jadi sopir) nanti nggak ada bukti kalau cuma transfer via rekening. So, dia menyarankan saya transfer besoknya di bank.

Kepala bagian akademiknya janji kalau saya sudah transfer, di hari yang saya saya bisa dapat surat pemberhentian. Tapi nyatanya saya cuma dapat janji manis aja. hingga saya desak lagi, mereka cuma bisa ngasih scan surat pemberhentian. Nggak ada surat asli, adanya hanya scan setelah beberapa hari kemudian. Daim lagi, kan?

Koordinasi dengan Kopertis

Saya di Lampung, kantor Kopertis ada di Palembang. Ini nggak menyiutkan nyali saya untuk memperjuangkan hak saya. Saya telah berkoordinasi dengan Kopertis sejak surat saya yang pertama tidak direspon. Kopertis memang telah mengendus bahwa PTS tersebut nggak bener, tapi nyatanya mereka nggak bisa berbuat apa-apa. Toh, sewaktu saya curhat ke Dikti pun mereka bilang nggak bisa melakukan apa-apa. Jadi ya udah, yang penting kita bisa lolos dari PTS itu aja udah life goals banget. Kalau bisa menjebloskan instansi itu sih bonus aja.

Kawal proses upload data PTS ke Dikti

Proses selanjutnya adalah upload data oleh PTS ke Dikti. Tapi saya harus mengurus sendiri proses ini ke Kopertis. Kewajiban PTS menurut kepala bagian akademik di PTS itu sudah gugur.

Setelah saya datang ke PTS itu, saya hanya mendapatkan print out screen shoot halaman operator yang menyatakan bahwa saya sudah di keluarkan dari PTS itu. saya tidak mendapatkan SK Pemberhentian saya, dan setelah saya tagih,saya hanya mendapatkan print out scannya saja. Saya harus mengurus sendiri proses saya di Kopertis dan DIKTI.

Minta dukungan keluarga

Semua proses harus dikawal dan harus super ngeyel kalau mau berhasil. Kalau enggak ya proses kita nggak akan jadi prioritas mereka. Kan nambah-nambahi kerjaan, ngerepotin. Dan semua proses ini sangat melelahkan. Entah berapa liter air mata yang keluar gara-gara ini. entah berepa biaya yang tersia-sia untuk mondar-mandir. Entah berapa paket internet yang kepake untuk ngepoin pimpinan yayasan. Iya, saya sampe kirim privat message ke istrinya pimpinan yayasan, karena si Bapaknya nggak punya Facebook. Eh, lupa lagi, nggak punya atau nggak ngerespon pesan saya gitu lupa. Mereka ini tinggalnya di Jakarta, hanya sesekali datang ke Lampung.

Semua energy dan emosi yang saya luapkan untuk proses ini priceless banget. Kalau nggak karena dukungan moral dan materi dan keluarga pun saya nggak mungkin bisa. Beruntungnya mereka rela mengeluarkan uang untuk saya ke sana kemari bahkan untuk mengembalikan gaji saya yang nggak seberapa itu.

Bahkan saya juga minta dukungan teman-teman, anggota DPR, aktivis, dan nyaris saya melibatkan LBH untuk bisa membantu saya keluar dari jebakan mereka.

Yang nggak kalah penting adalah bantuan dari Mr. Wahyu. Mister ini saya kenal sewaktu saya mengikuti kompetisi Mahasiswa Berprestasi. Dia yang banyak menunjukkan jalan kepada saya. Sayangnya, beliau sekarang nggak lagi berkutat di lantai lima kantor Dikti. Eh, saya lupa, dimana ya mister kantornya? Terima kasih banyak anyway.

Saya bahkan melibatkan HB yang belum jadi siapa-siapa saya meski pun dia half life saya (tjieee). Dia yang ngantar saya ke sana ke sini sampe berkali-kali masuk angin. Rela datang ke Lampung dan berpanas-panasan sampe gosong kulitnya.

Untuk urusan seperti ini, saya keukeuh. Saya libatkan semua orang dan pastinya Tuhan. Jangan lupakan campur tangan Tuhan

Jangan lupa makan

Salah satu ciri makhluk hidup kan makan. Jadi jangan sampe gara-gara ngurus ini terus nggak makan-makan deh. Proses saya ini tergolong cepat karena saya kawal terus. Saya mulai mengajukan pengunduran diri pada bulan Mei, lalu pada 22 Juli saya ke kantor Dikti dan seketika itu juga nama saya dihapus. Semudah menjetikkan jari pada keyboard lho menghapus nama dari laman forlap itu. Ya, As simple as that.

Tapi saya jadi menderita infeksi saluran pencernaan. Mungkin selama mondar-mandir, dan utamanya sewaktu ke Jakarta saya mengabaikan urusan makanan ini. saya rela nungguin orang dan enggan beranjak biar nggak selip orangnya kabur terus Cuma makan somay. Dan entah somay itu terbuat dari campuran apa dan udah dihinggapi berapa ekor lalat endebrew endebrew.

So, tetap jaga pola makan tetap sehat!

Miris banget dengan kondisi pendidikan kita yang kayak gini. Semoga manajemen PTS yang semrawut seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi atau akan banyak orang-orang seperti saya yang akan dirugikan lagi. Rugi secara status karena kami tidak bisa mendaftar sebagai dosen di kampus lain.

Pengalaman pernah terjerumus kayak gini biar aja jadi sejarah kelam di hidup kita, nambah-nambah CV dan kekebalan jiwa raga. Selebihnya, jangan pernah korbankan orang lain untuk mencapai obsesi, ati-ati kena batunya di kemudian hari.

51 comments:

  1. Kita senasib , sy lbh parah,,ga pernah dipanggil wawancara tp tiba2 nama sy ada di forlap dikti udah punya nidn ,,,derita bngt ngurus pindahnya,,sampai skrng belom selesai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, parah bener ini mah. Semangat, Mbak. Semoga cepet kelar :)

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Tapi bukan di kampus sekarang kan Bu Dosen? Alhamdulillah urusannya lancar ya.

    ReplyDelete
  3. Ngebaca cerita si Mbak... Saya bersyukur banget... Thanks for sharing mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bersyukur nggak pernah terjebak ya Mbak? :)

      Delete
  4. saya fresh graduate mbk.. yg sama ngeyelnya juga sperti mbk. makasih mbk sharingnya.. nambah informasi. Semoga sehat dan sukses slalu mbk.. di tempat yg baru.. aamin aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa rabb, terima kasih. Semoga tercerahkan :)

      Delete
  5. terima kasih atas sharingnya, semoga bermanfaat bagi saya khususnya yang belum dapat panggilan untuk dosen. jadi lebih hati2 nih hehe. :)

    ReplyDelete
  6. Wah gigih jg ya mb rinda... saya jg pnya saya bedanya saya tinggal di jateng dan NIDN saya di medan. Jd klo mau urus jauh. Msalnya saya msh ttp pny NIDN brarti saya tdk bsa ikut tes CPNS? Mnrt mb rinda sbaiknya saya urus penghapusan NIDN ato tdk ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diurus aja mas cepat-cepat, sebelum disalahgunakan dan nanti ribet di homebase barunya #IMHO

      Delete
  7. Mba Rinda, akhirnya mengembalikan gaji yg sudah diterima? Sedangkan di kontraknya nggak ada ketentuan seperti itu? Padahal kan selama bekerja kita udah kasih kontribusi ya..menurut sy gaji itu harusnya ya tetep hak yg harus diterima -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencoba ikhlas Mbak, anggap sedekah buat pembangunan kampus mereka wkkwkwkwk. Soalnya kalo nggak dituruti makin ribet :(

      Delete
  8. Terima kasih sudh mau berbagi, Mbak Rinda... Semoga para calon dosen lebih berhati-hati lagi dalam memilih kampus. Memang harus gigih mengejar cita-cita dan berani ngeyel kalau ada yang tidak beres dengan tempat kerja kita. Tetap semangat berkarya, Mbak Rinda! Semoga sukses selalu menyertai...

    ReplyDelete
  9. mba saya juga ingin keluar dari kampus saat ini bagaimana caranya untuk NIDN Kita mudah untuk diurus, namun saya belum dapat kampus yang akan menerima saya, apakah bisa konsul atau ngobrol ngobrol hehee
    boleh kah saya minta kontak mba, ini no saya jika berkanan ,mohon direspons ya mba hehe 085291616343/085658779967

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di atas ada attachment yang bisa didownload untuk penjelasannya, Mas. Kalau belum dapat kampus, kayak saya dulu. NAnti kampus baru yg akan mengajukan ulang. Punya saya sekarang lg diproses, semoga cepat selesai NIDN-nya

      Delete
  10. Makasi uda berbagi pengalamannya mb rinda..

    ReplyDelete
  11. Terima kasih untuk informasinya mba.. Sangat membantu
    Btw saya minta saran,bagaimana cara mengantisipasi agar tidak terjebak dgn pts abal2 tersebut?
    Kalau boleh mba saya ingin tanya2,, ini no WA/line sya 081350440255,, mohon direspon ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada di blogpost yg baru saya publish siang tadi. Silakan meluncur ke sana yaaaa. Dinanti diskusinya :)

      Delete
    2. Di atas ada link-nya. Diklik aja "Tips Memilih Perguruan Tinggi Bagi Calon Dosen"

      Delete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Gara-gara masalah ini juga saya akhirnya keluar dari institusi akademis tempat saya kerja dan cabut jadi professional Hahhahaha. Ribet euy ngurusnya, makan ati. Tapi skr udah tau seluk beluknya, jd bisa jd mentor bwt keluarga klo ada yg mw jadi dosen. Anyway, nice share mbak nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh sekarang jadi penasehat dong. LOL

      Delete
  14. Terima kasih atas informasinya mbak, mau bertanya kalau misalkan Saya belum diterima di kampus lain. Saya pertama minta SK pemberhentian dan surat lolos butuh. Setelah mendapatkan dua surat tersebut apakah bisa saya tidak mengurus penghapusan dulu? Saya endap dokument tersebut sampai mendapatkan kampus baru yang menerima lalu mengurus pindah homebase atau sebaiknya dihapus dulu ke kantor dikit? terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hallo Mbak Ulfah. Sepengalaman saya kemarin, utk busa menghapus susah. Apalagi utk pindah home base. Teman saya yg mau pindah homebase ada yg blm selesai sampai sekarang. Lagi pula kalau mau daftar ke PT lain kadang ada syarat g terikat di instansi lain atau g pny NIDN. Karena emang ribet nanti ngurusnya kalo namanya masih ada di forlap utk PT sebelumnya. Gitu sih. Tapi nggak tau kalau udah ada peraturan terbaru lagi.

      Delete
    2. Terima kasih atas jawabannya. Berarti klo begitu sebaiknya saya proses dulu untuk menghapus NIDN dulu mbak? Trus dokument yang dibutuhkan dari PT lama selain SK Pemberhentian dan Surat lolos butuh ada lg tidak? Terima kasih

      Delete
    3. Sepertinya itu saja, atau ditambah surat dari PT baru kalau emang udah ada di PT lain

      Delete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. Assalamualaikum mbak mau tanya apa ya akibat jika nidn itu di hapuskan? Karena kejadian mbak juga sama dg suami saya... Di PTS suami saya tdk mau mengeluarkan surat lolos butuh maunya delete nidn aja...
    Mohon pencerahannya mbak... Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti PT yang baru harus mengklaim suami mbak sbg dosennya. Jadi homebasenya bisa pindah

      Delete
  18. Asslamualaikum wr wb. sebelumnya trima kasih atas infonya mbak. mbak bisa minta no. hp nya?
    soalny nasib saya sama kya mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumusaalam. Bisa ke email mbak. Terima kasih

      Delete
  19. bener2 gila memang indonesia, pts2 gak jelas berserakan , lulusanya jadi pengangguran, miris buat yg mau jadi dosen sekarang,
    bobrok sistem pendidikan sm birokrasinya, pecat mentrinya sm petinggi2 diktinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini ada hubungannya juga dg supply-demand 😋

      Delete
  20. Assalamualaikum mbk rinda,
    Mau nanya ni mbk.
    Saya barusan ngelamar jd dosen di sebuah Sekolah Tinggi.
    Saya kira saya bakalan jd dosen tetap blm ber NIDN. Karena kita tau jika mau mengurus NIDN kita haru jd dosen yg produktif dan menjalankan tridarma perguruan tinggi. Namun ternyata tanpa pemberitahuan kepada saya institusi tersebut sudah memproses NIDN saya mbk.
    Katanya dalam waktu 2 minggu atau maximal 1 bulan lagi NIDN saya akan keluar.
    Saya tanya mengapa demikian mudahnya mengurus NIDN? Beliau menjawab krna kmpus dan prodi nya baru jd dipermudah oleh pihak dikti.
    Selain itu, saya mendengar bahwa peraturan baru, bila ingin mengurus NIDN maka salah satu syaratnya kita harus tes TOEFL. dan TPA.
    Saya mohon pencerahan dari mbk, apakah saya harus melakukan penolakan kpda institusi tersebut atau diamkan saja karena NIDN tidak bakal keluar kalau saya belum tes TOEFL dan TPA?
    Terima kasih banyak sebelumnya mbk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bergantung keyakinan mbak thd PT itu, kalau memang PTnya bagus, hak dan kewajiban jelas. Why not? Ya nggak sih?

      Delete
  21. Salam mbak.

    Miris ya dunia pendidikan kita
    Seolah2 ijazah kita tidak berharga

    Di provinsi saya ada jg salab satu PTS besar yang banyak dosennya cuma di bayar 500rb-1jt perbln yang statusnya di dikti sebagai dosen tetap tp antar kita dengan kampus hanya dosen pinjam ijazah. Hahaha.

    Mereka mengejar akreditasi dan menyesuaikan rasio dosen n mahasiswa dengan cara begitu.

    Kasian para-para lulusan S2-S3 yang hanya digaji 500rb-1jt di pinjam ijazah untuk pengurusan nidn dg tujuan akreditasi kampus la, rasio dosen n mahasiswa la.

    Mudah2an semua bisa belajar dr pegalaman2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Utk swasta memang 'kesannya' mudah sekali mengurus akreditasi. Entah juga sih

      Delete
  22. jadi total utk penghapusan nidn berapa lama mbk? saya baca di atas pengunduran diri tgl 22 mei dan juli penghapusan? apa mesti harus ikut sampai ke kopertis dan dikti mbk?

    ReplyDelete
  23. Wah, mbak.. perjuangan sekali ya.. saya senasib nih dengan mbak.. hiks.. Sy baru mau mulai proses pencabutan.. :(

    ReplyDelete
  24. Mba saya mau tanya,2 bulan yg lalu saya melamar jd dosen di pts. Trus saya dipanggil utk disuruh melengkapi berkas utk dftar nidn, baru jika nidn keluar saya dipanggil lagi untuk microteaching .. itu kira2 kampus bisa dipercaya tdk ya? Lalu proses nidn brp lama ya?

    ReplyDelete
  25. Mba mau tanya. Saya 2 bulan yg lalu melamar jd dosen trus disuruh siapin surat2 buat daftar nidn, klo nidn nya udh jadi baru diundang untuk microteaching. Kira2 itu kampus dpt dipercaya tdk ya? Trus proses mmbut nidn seberapa lama ya?

    ReplyDelete
  26. Sebutkan nama kampusnya mbk..biar semuabtahu dan menjadi pelajran

    ReplyDelete
  27. Terimakasih atas infonya mbak, saya juga mengalami itu mbak. Bahkan saat liburan saya hampir saja tdk digaji dgn alasan klo kampus libur semua dosen tdk menerima gaji dan tunjangan. Padahal saya dosen yg berNIDN, akhirnya saya protes dan langsung menemui pimpinannya, setelah debat akhirnya saya hanya diberikan tunjangan saja sebesar 500rb. Selain itu saya juga meminta untuk mencabut NIDN saya, karena status saya di dikti sebagai dosen tetap, tp status saya di kampus tsb sebagai dosen luar.
    Benar-benar miris dengan dunia pendidikan sekarang mbak.
    Oiya mbak, klo NIDN dicabut, trus besoknya jika saya mendapatkan kampus baru dan mengajukan NIDN lagi apakah sulit mbak?

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<