Thursday, January 26, 2017

[REVIEW] IQRO, MENGAJARKAN ILMU PENGETAHUAN DENGAN KASIH SAYANG



Foto: film-iqro.com


Judul Film    : Iqro
Sutradara      : Iqbal Al Fajri
Penulis          : Aisyah A. Nasution, Tatia
Produksi        : Masjid Salman ITB, Salman Film Academy


Sinopsis

Aqila, seorang siswi Sekolah Dasar pengin banget jadi astronot gara-gara sering dengar cerita kakeknya yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Seperti gayung bersambut, ia ditugaskan oleh gurunya, Bu Mona, untuk membuat laporan terkait penelitian ilmu pengetahuan. Aqila pengin melihat sendiri Pluto dari abservatorium Boscha. Kakek dan Neneknya nggak lantas mengabulkan keinginan Aqila yang menggebu-gebu untuk meneropong. Mereka membuat syarat, Aqila harus bisa membaca Al Quran baru Sang Kakek akan memperbolehkannya menggunakan teropong bintang di Boscha. 


Menyampaikan dengan Kasih Sayang

Di film ini saya sangat merasakan kehangatan dalam sebuah keluarga. Gimana mereka memeluk, berbicara dengan lembut, hingga memaafkan. Kasih sayang inilah yang perlu ditekankan pada saat sekarang ini. Ketika dimana-mana orang menebarkan kebencian, film ini justru mengajarkan kelembutan.

Profesor Wibowo yang diperankan oleh Cok Simbara sangat fasih memerankan figure seorang kakek yang agamis sekaligus pengagum ilmu pengetahuan garis keras. Beliau mengajarkan kepada mahasiswanya tentang keajaiban alam semesta yang ada dalam Al Quran. Begitu pula kepada Aqila. Keteladanan dari Sang Kakek ini yang menggugah hatinya untuk mau mengaji, meski awalnya itu dilakukannya karena terpaksa. Demi bisa pergi ke observatorium utama Boscha. 

Kebanyakan orangtua emang gitu kali ya. Anak diiming-imingi hadiah supaya mau melakukan sesuatu. Kayak Film Hafalan Sholat Delisa, itu sebenernya baik nggak sih? Dan orangtua selalu aja gitu. Suka menghalang-halangi keinginan yang udah deadline bahkan sampai ngasih tambahan syarat yang memberatkan sekaligus kadang mengecewakan. Bikin magel, gitu. Ssst... ini bab curhat. Boleh diskip. 

Kasih sayang juga sangat diperlihatkan oleh Sang Nenek, Neno Warisman yang selalu membesarkan hati Profesor Wibowo. Di tengah terancamnya nasib Boscha, Sang Nenek inilah yang selalu hadir, menenangkan Sang Kakek meski akhirnya Boscha nyaris benar-benar ditutup karena tidak efektif apalagi produktif dalam tiga bulan terakhir.
Bahkan seorang Bang Codet, yang awalnya jadi tangan kanan pengusaha properti akhirnya mengakui tindakannya meneror Profesor Wibowo. Dia justru berniat ngasih modal untuk usaha Bang Codet, usaha kerupuk Palembang. Dia sama sekali nggak marah, tapi justru berbaik hati.

film-iqro.com
Kasih sayang juga ditunjukan dalam jalinan pertemanan di film ini. Gimana seorang Rhaudah, Guru Ngaji Aqila melerai anak-anak yang bertengkar. Juga gimana cara dia membesarkan hati Aqila. Sampai akhirnya Aqila bisa berteman dengan Fauzi, anak Bang Codet yang awalnya selalu ngusilin dia. Hanya kehangatan yang ada di sana.

Sayangnya saya ketinggalan dengan cerita akhirnya. Jadi buat yang mau nonton, harus sampe diusir sama mbak-mbaknya yaaaa baru keluar teater. Biar greget. Saya nggak ada pas diceritain gimana akhirnya kisah Aqila dan temen sekelasnya yang bikin laporan tentang pengamatan di Taman Kupu-kupu Gita Persada. Padahal hubungan mereka sangat real kondisi kelas yang penuh dengan kompetisi. Menurut saya, anak nggak seharusnya dibiarkan berkompetisi kayak Aqila dan temennya. Biasanya temen yang kayak gitu suka caper sampe curan demi memenangkan pertandingan. Dan saya suka kebagian peran sebagai pecundang yang nggak bisa nerima kekalahan.

Tentang Observatorium Boscha

Film ini melempar saya ke masa kecil. Seorang Aqila yang ngotot dengan kemauannya. Juga Boscha yang sempat muncul di Petualangan Sherina jaman saya masih SD. Saya sempat pengin banget kesana sewaktu kerja praktek di LIPI. Waktu itu pergi ke Boscha adalah life goal banget disamping ketemu Mocca. Meski saya harus menelan kekecewaan. Waktu itu katanya kalau mau masuk sana harus rombongan. 

Baca juga: Me and My Mocca

Observatorium yang konon terbesar di Asia Tenggara ini dikelola oleh ITB. Statusnya jadi Cagar Budaya pada 2004, dan pada 2008 Boscha ditetapkan sebagai salah satu objek vital nasional yang harus dilindungi. Kalau Boscha statusnya selalu ‘naik’ kenapa hutan dan Gunung Anak Krakatau justru statusnya malah mau ‘diturunin’? lagi-lagi karena iming-iming PAD di bidang pariwisata dan potensi alam yang bisa mengundang investor.

Gitu juga dengan yang terjadi di Boscha. Kalau kata Profesor Wibowo di film ini, sejak 2005 aktivitas Boscha terganggu oleh polusi cahaya. Bandung kan berkembang luar biasa cepat, belum lagi kalo ada konser besar yang cahaya lampunya berpendar langsung ke langit. Dengan adanya cahaya itu, aktivitas pengamatan di Boscha jadi nggak efektif lagi. That’s why di Lampung mau dibangun observatorium serupa di Gunung Betung. Eh tapi itu kayaknya di arah teluk udah ada tower tinggi banget. Bakalan polusi juga nggak kira-kira?

Tentang Pluto yang ‘diusir’ dari jajaran para planet, ini juga udah lama isunya. Tapi di buku pelajaran Aqila di sekolah Plutonya masih terhitung sebagai planet. Jadi gimana, tuh? Tukang bukunya nggak update kali, yah? Ini juga udah dijelaskan sama mas-mas yang menjelaskan tentang astronomi di Planetarium Jakarta. Ceritanya besok-besok deh tentang Planetarium ini.

Film yang Nanggung

Menurut saya nonton film ini rasanya kayak udah tiga hari nggak bisa pup, pas mau pup gagal lagi. Nggak lega. LOL. Dari awal alurnya lompat-lompat, terus ke belakang konsisten settingnya di Boscha dan sekali di Bandung pas Festival Iqro. Konfliknya nggak kerasa karena semuanya berjalan dengan smooth. Bahkan trailernya aja udah spoiler, jadi jangan salahin blogpost ini yang spoiler. Di trailer itu diceritain banget bakal gimana ceritanya. Jadi penonton kayak nunggu kapan nih dialog yang gini, gitu.

Tonton trailernya di sini:


Sewaktu Bang Codet diperintahkan suruh neror Profesor Wibowo juga ketebak banget. Ini pasti akhirnya damai. Nggak ada konflik. Padahal pasti seru kalo Profesor Wibowo berupaya mempertahankan Boscha terus sang pengusaha property keukeuh menempuh cara-cara licik. Baru deh sampai pada kabar baik bahwa Boscha bisa aktif lagi dan pembangunan hotel di hentikan. Yaiyalah, 200 meter dari Boscha kan masuk tanah negara. Meski dimana-mana hal kayak gitu udah bukan lagi rahasia.

Tentang acting para cast-nya sih saya acungi jempol banget. Apalagi yang main udah actor kawakan kayak Neno Warisman, Cok Simbara, apalagi Meriam Belina. Eh, kok saya pas nonton jadi kebayang-bayang Noktah Merah Perkawinan? LOL. Bahkan acting Si Aqila yang cute banget juga kayak total gitu. Jadi yang agak wagu buat saya adalah acting si asisten sama mahasiswanya Profesor Wibowo yang namanya Thomas and friends itu.

Nah, sayangnya waktu mau udahan itu kayak dipaksakan dan terkesan buru-buru. Tiba-tiba ada berita baik, terus pembangunan hotel dihentikan, terus akhirnya Aqila bisa pengamatan di Boscha tanpa dikasih tau hasilnya gimana. Udah gitu aja, dan berlangsung sangat cepat.

Resiko nonton film segala umur dan berkorelasi dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah ribut. Banyak banget bocah yang bahkan belum ngerti apa-apa diajak nonton. Terus merengek-rengek, goyang-goyang. Dan mereka kan dalam usia yang sangat mudah terinspirasi gitu. Jadi sekalinya ada yang lari-lari bahkan sampe guling-gulingan di depan layar ya yang lain pada ikutan. Dan anehnya orangtuanya asik aja nonton. Annoying banget dah bab ini.

Shortly, yang paling berkesan bagi saya dari film ini adalah gimana orangtua mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak dengan kasih sayang. Gimana cara memancing anak supaya seimbang dalam kehidupannya. Antara passion terhadap ilmu semesta, juga mendalami agama yang bahkan telah memuat semua clue rahasia semesta.

Ada yang udah nonton juga? Share dong pengalamannya.

6 comments:

  1. Wuiiiih,cepet banget updatenya, padahal baru launching 😅

    Saya juga pengen nonton, tapi di jember maaah.... Tayangnya belakangan 😅😅😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, Iyakah? Kapan di Jember? Selamat nonton.

      Delete
  2. Baru mau nonton nii ajak bocaah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayu nonton buat anak, biar mencontoh semangat Aqila

      Delete
  3. waah... film yg bagus utk anak2 dan org tua ini, jadi pengen nonton juga :)

    ReplyDelete
  4. Iihh...Boscha + Mocca = lifegoals. Toss!
    Baca ini spoiler banget wkwkkw...tapi tetep pinisiri laaahh

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<