Sunday, January 22, 2017

Tips Memilih Perguruan Tinggi Bagi Calon Dosen


Selamat hari minggu! 

Nggak kerasa besok harus mulai masuk ke dunia nyata. Besok perkuliahan semester genap dimulai. Ya, walaupun pada kenyataannya sih mahasiswanya yang liburan, kalo dosen liburan kayaknya hanya mitos. LOL.
Baca juga: Menghapus NIDN dari Laman Forlap Dikti

Saya pengin memenuhi janji saya untuk cerita tentang pengalaman kejeblos saya lagi. Terima kasih buat yang sudah berkunjung ke blog saya. Saya juga makin sering dihujani email, PM, juga mention di sosmed. Tapi ada juga loh yang nyinyir, ngebego-begeoin saya. Ya saya sadar diri, tanpa dibego-begoin sama dia saya juga sadar saya salah. So, saya mengundurkan diri dan berjuang untuk bisa lepas dari PTS tersebut. Jadi, nggak usah liat masa lalu lah. Toh proses ini nggak sesimpel yang ada dibenak orang-orang. Kita loh yang tau perjalanan hidup kita sendiri, orang lain mau nge-judge seperti apa ya terserah. Kalau saya bisa move on, belajar dari kesalahan ya itu harus. Berbagi dan menyadarkan orang lain supaya nggak kejoblos juga, itu nilai lebihnya.

Jadi, gimana sih supaya kita nggak terjebak dengan Perguruan Tinggi (PT) yang nakal? Padahal kan kita butuh segera mengabdi, segera melakukan Tri Darma.

Berhati-hati memilih PT

Nggak salah kok kalau kita memilih untuk mengabdi di PT yang dekat dengan rumah, di kota, akses mudah, apalagi dekat dengan gebetan. Atau mau nyabang daftar kesana kesini cari peluang. Yang harus dilakukan pertama kali adalah tracking dulu si PT-nya. Sebanyak apa mahasiswanya, apakah aktif atau hanya mahasiswa bodong, seberapa banyak dosennya, siapa pimpinannya, siapa investornya, seperti apa track recordnya, pernah jual ijazah atau enggak. Ya, itu sih kalau kita tulus mengabdi untuk kebaikan, supaya ilmu dan aktivitas kita berkah, pastinya nggak mau dong mengabdi di PT yang suka ngobral ijazah?

Untuk melakukan tracking sekarang lebih mudah, cari aja di sosmed alumninya, atau mahasiswanya, atau bahkan dosennya. Setelah itu googling track record-nya di surat kabar. Kayaknya nggak ada kan PT yang sama sekali belum pernah nongol di surat kabar?
Kalau emang memungkinkan, coba aja tanya-tanya di kantin kampusnya, sama tukang ojeg, tukang sapu, mahasiswa yang lagi nongkrong di situ, sama dosennya. Blak-blakan aja. Nggak perlu juga terkesan kayak investigasi. Yang penting, sampaikan dengan cara yang sopan dan baik. Kita kan well educated ya... jadi ejawantahkan itu dalam prilaku. Toh niat kita baik kan?


Laman ini juga bisa untuk mengecek apakah nama kita tercatut atau tidak di sana. Juga sebagai pengajar apa. Setelah masuk dalam laman tersebut, pilih pencarian data dan klik profil PT. Nah buat yang kemarin sempet tanya gimana caranya ngecek status dosen, ada di lama ini juga. Pilihnya profil dosen. Kalau udah ada NIDN, tinggal masukin aja NIDN-nya. Just try aja!


Untuk memudahkan penyaringan, kita memilih provinsi tertentu atau data kampus di seluruh Indonesia. Dilengkapi dulu spesifikasi yang dicari, baru kemudian ketik CAPTCHA-nya. Dalam kolom ini, terdapat pilihan status perguruan tinggi yang aktif, nonaktif, hapus, alih bentuk atau alih kelola. Terus cari perguruan tinggi dan hasilnya langsung bisa terbaca.


Nah, dari laman itu bisa juga diliat kredibilitas kampusnya, sudah berapa banyak wisudawan, dosen-dosen di sana lulusan mana aja, dibeei amanah untuk ngajar apa. Dari laman tersebut, saya jadi tahu PTS tersebut mencatut nama saya dan diklaim mengajar lima mata kuliah. Sebenarnya keliatan sih, saya ini lukusan apa kok ngajar tentang kemaritiman. Kan nggak masuk akal.

Kalau mau lebih kepo lagi, setelah nemu nama dosen di situ, cari ada di media sosial. Kepoin nah. Abis itu kirim PM buat tanya-tanya. Tetap dengan cara yang sopan dongggg yaaaa.

Baca ulang persyaratan berkas aplikasi

Oke, jadi jaman dulu sewaktu saya ada di PTS itu syarat pengajuan NIDN emang gampil surampil. Kalo sekarang musti pakai surat keterangan bebas narkoba, surat sehat, dan lain-lain. Itu bisa juga dibaca di edaran Kemenristekdikti yang bisa didownload di sini: Pengajuan NIDN, NIDK, NUP.

Jadi kalau misalnya ada PT yang minta berkas selengkap itu padahal kita baru daftar, belum tentu diterima juga, patut diwaspadai. Lebih baik tanyakan dulu urgensinya. Biasanya, berkas-berkas tersebut bisa kita susulkan setelah kita diterima dan dealing dengan pihak PTN/S. 


Jangan Obral Cap Basah

Ini statement dari orang yang nyinyirin saya di twitter #mulaibaper. Haha. Iya, legalisir ijazah sebaiknya memang dijaga, jangan sampai nyebar kemana-mana nggak jelas. Ini juga kesalahan saya waktu itu. 

FYI, untuk mengajukan NIDN, NIDK, NUP itu semudah upload berkas scan-an. Jadi jangan salahin obral cap basah kalau kita kirim aplikasi lewat email atau web. Bahkan ada juga yang mention saya kalau dia apply, terus nggak dipanggil-panggil, ujug-ujung namanya udah dicatut. Itu kan sakit bangetttt rasanya, Bang?!

Bargain dulu, baru kasih kelengkapan berkas

FYI, mengurus kelengkapan berkas itu nggak mudah juga loh. Di PTN tempat saya mengabdi sekarang aja ngurus berkasnya minta ampun. Belum lagi biaya yang dikeluarkan nggak keitung. Apalagi kalau ada ASN di instansi suka minta uang jajan lebih. Energi yang keluar banyak banget.


So, sebelum itu semua terjadi, pastikan kita diterima dulu di PT tempat kita mendaftar. Setelah itu dealing kontrak kerja. Ini tentang sistem kerja, job description, penggajian, hak dan kewajiban endebrew endebrew. Nah, abis baru deh kita upayakan untuk melengkapi berkas. 

Menutup PT Nggak Semudah Menutup Lembaran Masa Lalu

Move on dari masa lalu aja susah, apalagi menutup sebuah PT. Banyak yang komentar,"laporkan aja ke Dikti kalo nemu kampus nakal!" Ya, itu sudah saya lakukan, tapi mereka bergeming. So, kita aja dulu yang harus menekan kejahatan akademik itu. Daripada semakin banyak orang nakal yang memanfaatkan bisnis nakal di bidang intelektual. Toh ujung-ujungnya menyalahkan pemerintah karena tidak melakukan upaya perlindungan masyarakat sebagai konsumen. Aksi penutupan besar-besaran PT bodong ini terjadi pada 2015 silam. Waktu itu saya lagi tesis, jadi nggak terlalu aware, cuma sedikit-sedikit baca aja.


Dilihat dari tabel data Kemenristekdikti di atas, PTN di Indonesia jauh lebih sedikit daripada PTS-nya. Mungkin ada banyak juga PTS yang nakal tapi 'rapi' secara administrasi jadi belum terkuak aksi mereka. Sementara itu, untuk menutup suatu PT harus ada tahapannya. Pertama izin prodi yang terbukti melakukan kesalahan atau menerbitkan ijazah dan gelar palsu dicabut dulu.  Nah kalau terjadi di beberapa prodi, baru izin operasional kampusnya yang dicabut.  Itu pun masih harus dilakukan pembinaan, nggak serta merta dicabut gitu aja.Padahal kan jelas aturannya, hukuman bagi pemegang ijazah palsu diatur dalam Undang Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pemegang ijazah palsu, akan terkena hukuman pidana, pada Pasal 44 ayat (4) adalah penjara selama 10 tahun atau denda Rp 1 miliar. Mantap.

Mau gimana juga tips yang saya jembrengkan di sini, intinya tetap pada satu kata: WASPADA. Lagi pula, dapat kampus bagus juga bukan berarti kita bebas merdeka dan terpenuhj semua haknya loh, bukan juga berarti kita hanya melaksanakan kewajiban sebagaimana tertulis di kertas. Dunia ini butuh improvisasi, kadang-kadang roller coasternya kehidupan emang tercipta biar kita nggak bosan dan cenderung lengah karena nyaman. 

Postingan ini berdasarkan pengalaman pribadi, jadi maaf aja kalau ada yang kurang pas atau kurang berkenan. Kalau ada pengalaman lain, boleh loh ditambahkan. Kamu punya tips supaya nggak lebih banyak lagi calon dosen terjebak di kampus bodong?

14 comments:

  1. makasih udah share kisah tentang NIDN dan memilih perguruan tinggi. Pengalaman memang guru terbaik, namun tak harus mengalami sendiri untuk jadi pelajaran. Semangat mbak!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat!!! Terima kasih kunjungan dan jejaknya, Mas

      Delete
  2. Ya ampun..kemana aja gue..nggak tau kl dirimu sempat mengalami pelik begini..jadi..sebar2 aplikasi juga kudu hati2 ya sekarang..dudududu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aslinya. Udah baca postingan sebelumnya belilum, Mbakcin?

      Delete
  3. yah , manfaat buat yang mebutuhkannya

    ReplyDelete
  4. Oh saya baru tau ada hal2 yang seperti itu, semoga selalu tetap semangat ya mba :)

    ReplyDelete
  5. tips ini benar-benar sangat dibutuhkan, saya mungkin belum jadi dosen sekarang, semoga mimpi segera terwujud. terimakasih infonya.

    agnesiarezita(dot)com

    ReplyDelete
  6. Kalau saya mau lemlanjutkan kuliah mikir, tempat tinggal desa kota kecil, perguruan tinggi yang bagus adanya dikota besar. akhirnya cita-cita jadi dosen ga jadi he...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga dari pelosok, lho. Makanya saya mau terus beejuang biar g kalah sama orang kota

      Delete
  7. Makasih informasinya yaa kak :)
    Bermanfaat nih, kebetulan temanku udah mau thesis dan ada keinginan buat jadi dosen. Aku sih baru cita-cita, semoga ada rezeki untuk ngelanjutin studi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaaattt! Mumpung bertabur beasiswa. Ayo sekolah! 😄

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<