Sunday, February 12, 2017

#RGHBJourney 1: And The Process Begun...


Oke, saya emang berencana untuk melaunching menu baru di blog saya setelah saya resmi nggak jomblo lagi. Ciyeeee...jadi Nyonya Winata. Soalnya perjalanan kami ini cukup lahacia, jadi ngepostnya nanti-nanti aja.



Dari Ummu Salamah RA, "Rasulullah SAW bersabda: Kumandangkanlah pernikahan dan rahasiakanlah peminangan."

Nama menunya apa belum kepikiran sih, biarin aja yang penting ceritanya udah siap. Dan saya mulai menulis ini ketika saya dilanda serangan tomcat plus disminor di awal Maret 2017 karena saking selonya nggak pergi ke kampus.

Good things take time, but why should wait?

Saya dan HB memang udah sepakat untuk mengakhiri hubungan tidak sah kami. Iya, kalo HB sih niat awalnya kan emang udah mau nikahin saya kalo nggak salah maksimal enam bulan setelah 1 Desember 2012. Gila aja, waktu itu saya masih jadi mahasiswa baru (mahasiswa master, LOL) dan terlalu banyak ketakutan dalam diri saya.


Baca dulu: Nikah, Yay or Nay?

Pertama tentu aja saya takut nggak bahagia. Ya iyalah, saya belum kenal HB. Terus hidup saya masih dikelilingi dan dihantui bucket list seabrek dan life goals saya seperti terlalu sempit jika harus berakhir saat itu dengan dia. Honestly, saya masih ragu dengan HB. Apakah dia sama dengan laki-laki yang pernah saya kenal, teman-teman yang suka chit-chat sembunyi-sembunyi karena ketahuan guru ngaji, dan sebagainya.

Saya yang nggak pernah kenal laki-laki secara pribadi memang merasa takut kalau nanti saya dan dia berakhir enggak bahagia.

Kedua, saya takut hidup kekurangan. Saya pernah berjanji dengan diri sendiri kalau saya harus jadi orang sukses, berlimpah harta, dan bisa memberi ke orang lain sesuka hati. Saya pengin bangun yayasan, bangun sekolah, endebrew endebrew dan itu nggak mungkin terlaksana kalau hidup saya sendiri susah. Kalau nikah cepat-cepat, kebutuhannya banyak, kapan bisa mapan. Saya emang lebih logis meski saya nggak mengingkari nasehat bahwa rejeki orang yang sudah menikah pasti akan lebih banyak. Yaiyalah, kebutuhan bertambah otomatis tuntutan bertambah, jadi ya emang dipush untuk nyari uang lebih banyak dan lebih giat.

Ketiga, saya takut hubungan saya gagal. Saya meyakinkan HB bahwa saya akan belajar mencintai dia. Dan itu beneran terjadi. Saya sekarang kayak crazy about him gitu. Semua itu proses. HB juga sempat kepergok beberapa kali masih kontekan sama mantannya. Bahkan dia juga peenah ngeladenin satu perempuan tengil dan nggak merasa bersalah karena menurutnya yang tengil si perempuan, bukan dia. Thank God, nggak lama dari itu perempuan itu akhirnya menikah.

Selebihnya ya udah saya percaya aja sama HB. Kalo saya aja nggak cheated dari dia ya kenapa dia memperlakukan saya kayak gitu kan seharusnya sadar diri aja sih. Saling menghargai. Kepercayaan itu mahal. Apalagi kami udah lebih dari empat tahun LDR, ketemu paling enggak sebulan atau dua bulan sekali, tapi selalu keep in touch every single second. Komunikasi, dan itu yang saya yakini harus kami jaga sampai tua nanti, sampai ketemu lagi di surga juga dia nggak boleh genit-genit sama bidadari.

Sebelumnya saya sempat nggak pengin nikah seumur hidup saya. Sampai saya ketemu HB yang mengubah mindset dan dengan sabar ngemong dan selalu membuka pikiran saya yang ruwet. LOL.

Dan ya... Akhirnya saya yakin untuk memulai langkah baru sama HB setelah saya meyakinkan orangtua untuk menikah tanpa hajatan, tanpa tamu rame-rame, dan tanpa majang saya kayak dagangan. Bukan sebentar loh untuk akhirnya orang tua bilang iya meski mereka udah nyuruh-nyuruh saya nikah sama HB. Katanya HB itu tanggung jawab banget orangnya. Nah, darimana Ibu tau dan yakin banget coba? Mungkin kode dari Semesta.



Dua hari sebelum weekend, ada percakapan antara saya dan HB via whatsapp.

"A, weekend mau kemana?"


"Belum tau, kenapa gitu?"


"Ke Lampung aja!"

... dan nggak butuh waktu lama dia langsung bilang. Oke, aku berangkat ke Lampung lusa malam. Wow!

Sampe kata Devia, teman kerja saya di kampus , "enak banget punya pacar disuruh dateng, langsung dateng."

Dia belum tau kalau ada maksud yang luhur tersembunyi dari dalam hatinya HB.

Saya pulang bawa motor, jemput HB dan kami pulang bareng-bareng. Di rumah, abis makan siang dan sholat, HB langsung ngobrol sama Bapak, yang kemudian nggak lama Ibu nimbrung. Saya mah di luar sama adek.

Baru kali itu saya dengar mereka ngobrol asyik banget sampe ngakak-ngakak. Ssst... Sebelumnya HB selalu takut kalo mau ngobrol sama Bapak. Dan kali itu kayaknya beda, lepas banget. Sejak saat itu suasana di rumah saya jadi cair dan hangat.

... And our journey starts here (12 Februari 2017).

1 comment:

  1. ketakutan ketakuan pasti ada bu

    takut miskin

    belum siap punya anak

    ga bisa membiayai pendidikan anak hingga tak tahu harus makan apa hari ini

    tapi Allah maha segalanya yg bisa memberikan nikmat semua ini bu..

    hahaha... curhatnya diatas menarik bu.

    salam santai ya

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<