Monday, March 6, 2017

Percepatan Pembangunan Kampus Kami (juga) Gara-gara PINA



Gedung C Kampus ITERA


Sekarang ini saya lagi pengin dan butuh banget beli rumah. Tentunya yang strategis dan murah. Tapi yang banyak jadi pertimbangan adalah lokasi rumah yang dekat dengan kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA) tempat saya mengabdi. Sialnya, rumah murah di dekat ITERA nggak ada lagi kecuali yang di seberang tol. Beberapa kawan di luar Lampung suka ngakak kalo saya cerita soal tol. Manalah ada tol di Lampung, itu hanya mimpi pemerintah, katanya.


Sekarang udah keliatan banget progresnya. Bahkan pintu tol sudah mulai di bangun nggak jauh dari kampus ITERA. Seperti yang ada di site plan kampus, di dekat pintu tol itu nanti akan ada SPBU dan masjid raya yang sekarang juga tengah di bangun. Jadi kalau tol itu udah jadi, saya bisa mudik ke Kalianda cuma 30-45 menit aja. Sebelumnya dua jam melewati jalan lintas Sumatera yang kecil, padat dan rusak. Sedih. Jadi penyempitan jarak tempuh itulah yang turut berperan dalam peningkatan harga rumah di sekitar sini.


Mengabdi di sebuah kampus Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB) yang terletak di Pulau Sumatera, berlokasi di sebuah desa mungkin jadi pertimbangan orang lain ribuan kali. Tapi tidak bagi saya dan kawan-kawan yang telah memutuskan untuk mengabdi di sini di sisa hidup kami. Insyaa Allah. Kami semua adalah orang yang visioner dan percaya akan perkembangan jaman.



Wefie di atas tol Sumatera


Progres tol sumatera terbilang cepat. Kami nggak lupa juga mengabadikan selfie dan wefie di tol dan membuktikan bahwa di tol boleh berhenti, motor boleh masuk, dan ikut selfie. LOL.

Ternyata, tol ini dibiayai dengan skema PINA yang telah berhasil mendorong pembiayaan tahap awal sembilan ruas jalan tol senilai Rp70 triliun. Tol juga bukanlah satu-satunya yang difasilitasi melalui PINA karena selanjutnya telah ada beberapa calon investee yang sedang dalam proses fasilitasi oleh BAPPENAS.

Saya mendukung pentingnya peran pemerintah dalam mendorong partisipasi swasta, terutama dana-dana kelolaan jangka panjang seperti asuransi, dan dana pensiun untuk mencapai target-target pembangunan infrastruktur nasional. Ini bisa jadi salah satu alternatif investasi jangka panjang. Program PINA didesain untuk mengisi kekurangan pendanaan proyek-proyek infrastruktur prioritas yang membutuhkan modal besar, namun tetap dinilai baik secara komersial.

Bukan sembarangan lembaga yang bisa menjalankan proyek ini. Untuk dapat menjalankan proyek-proyek ini, BUMN dan swasta pengembang infrastruktur harus memiliki kecukupan modal minimum. Selama ini permodalan BUMN ditopang dan sangat tergantung kepada anggaran pemerintah melalui Penanaman Modal Negara (PMN).

Kita semua tahu bahwa ruang fiskal APBN saat ini semakin terbatas sehingga dibutuhkan sumber-sumber non-anggaran pemerintah dengan memanfaatkan dana kelolaan jangka panjang yang setengah menganggur seperti pada dana-dana pensiun dan asuransi baik dari dalam maupun luar negeri. Skema PINA ini melengkapi skema KPBU sebagai alternatif pembiayaan infrastruktur. Meskipun KPBU melibatkan swasta, tetapi tetap masih ada unsur pemerintah karena pemerintah tetap berkomitmen untuk menyediakan layanan yang pro-rakyat dengan memegang kendali atas tarif.

Sejak adanya Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 Tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur yang merupakan pengganti Perpres 67 tahun 2005 dan perubahannya, perkembangan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha atau KPBU sangat pesat. Hingga tahun 2016, proyek-proyek yang tadinya sempat terhenti pelaksanaannya, seperti PLTU Batang dan Sarana Penyediaan Air Minum Umbulan dapat terselesaikan.

pemerintah emang nampaknya serius banget menggarap cita-cita negara yang termaktub dalam nawacita. Pada 2017 ini, dalam rangka mendorong percepatan proyek KPBU, Bappenas telah menetapkan daftar rencana proyek infrastruktur atau PPP Book yang memuat satu proyek kerjasama pemerintah dan badan usaha kategori siap ditawarkan dengan nilai investasi Rp1,09 trilliun dan 21 proyek kategori dalam proses penyiapan dengan total nilai investasi Rp112,23 trilliun. WOW.

Tentu kita semua berharap agar daftar rencana proyek tersebut dapat mengundang minat investor untuk berpartisipasi dan memberikan kepastian kepada dunia usaha bahwa proyek-proyek pemerintah yang tercantum dalam daftar proyek tersebut akan dikerjasamakan dengan swasta.
Bappenas telah menjanjikan tingkat pengembalian saham atas investasi yang dilakukan oleh investor, atau rate of return untuk  swasta yang bersedia menanamkan investasi ke proyek infrastruktur berskema PINA.

Kata Pak Menteri Bappenas, daftar proyek PINA itu akan masuk dalam revisi Peraturan Presiden (Perpres) nomor 3 tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Pada lampiran Perpres tersebut, proyek itu juga akan dikelompokkan berdasarkan skema pembangunannya, seperti PINA dan Kerja Sama Pemerintah-Badan Usaha (KPBU). Pada tahun ini saja, akan ada setidaknya tiga proyek yang ditargetkan urusan pembiayaannya rampung, atau financial closing. Proyek itu meliputi infrastruktur jalan tol, pembangkit listrik, dan pelabuhan.

(Masih) di tol. LOL.

Oh iya, dari tadi saya ngoceh tentang PINA. Sebenarnya apa sih PINA? PINA atau Pembiayaan Investasi Non Anggaran adalah salah satu skema pembiayaan proyek infrastruktur baru yang tidak akan menggunakan dana APBN, dalam pembiayaannya karena bersumber dari dana investasi perusahaan.

Melalui skema ini Pemerintah bisa mengatasi proyek infrastruktur yang mangkrak. Misalnya, proyek pembangunan jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), padahal jika proyek tersebut jadi akan memiliki keuntungan yang besar. Dengan PINA ini diharapkan juga menjadi solusi untuk pembangunan tol sekitar 20 kilometer itu.

Katanya, di Jakarta aja ada tol yang mangkrak. Logikanya sih apapun nggak masuk akal kenapa mangkrak, karena ini proyek sudah pasti return tingi. Nah, diharapkan dengan adanya skema ini tidak ada lagi pembangunan infrastruktur yang berhenti di tengah pembangunan, karena kurang mendapatkan dana dari APBN.

Banyak banget pembangunan mangkrak selama ini. Contoh yang paling terkenal adalah wima atlit, terus jalur MRT di Jakarta yang baru dimulai lagi beberapa waktu terakhir. Kalau di sekitar saya banyak juga gedung-gedung yang magkrak karena dananya macet. Ya gimana nggak macet, pengelolanya juga nggak bener dalam melakukan pertanggungjawaban. Jadi, pemberi uang juga melihat ada sesuatu yang nggak beres deh. 

Kalau yang ngerjain proyek itu swasta, pakai uang mereka, tentunya mereka pengin cepet-cepet untuk kelar dengan standar mutu yang ditentukan, lalu balik modal. Proyek lancar, dan semoga aja kualitas bagus. Jadi nggak ribet lagi dengan tetek bengek pengusulan ini-itu, terus tender sana-sini, ujung-ujungnya katanya penarikan dananya distop. 



Setidaknya, dengan adanya PINA akan mempercepat pembangunan infrastruktur di Sumatera. Kalau tol Sumatera udah  bisa cepet rampung, setidaknya fly over juga bisa cepet dibangun. Jarak dari bandara ke kampus cuma 30 menit dengan kondisi jalan yang lancar jaya. Jarak dari pelabuhan Bakauheni paling cuma satu jam. Akses kemana-mana jadi lebih mudah. Jalan lintas Sumatera nggak lagi dipenuhi kendaraan besar lintas pulau karena mereka akan lewat tol. Saya bisa naik motor juga pulang ke kampung. 

Tentunya ini membawa dampak baik bagi percepatan pembangunan kampus kami juga dengan memudahkan akses menuju kampus kami. Proyek percepatan ini diharapkan dapat mendukung kemajuan dan pencapaian ITERA menjadi center of excellence di Sumatera, yang ditargetkan dapat menghasilkan SDM yang memiliki keahlian di bidang sains dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan Indonesia akan insinyur dalam beberapa tahun yang akan datang, juga penelitian berskala internasional yang bermanfaat bagi pembangunan Pulau Sumatera dan juga Indonesia. Saya juga jadi nggak ragu kalau mau beli rumah di seberang tol karena infrastrukturnya segera tersedia. Ah, terima kasih PINA. Terima kasih Bapak Menteri dan Bapak Presiden kami.



Referensi:
https://ekbis.sindonews.com/read/1165508/34/langkah-kepala-bappenas-akan-menggenjot-pina-kantongi-pujian-1482557631

8 comments:

  1. Kampusnya bagus ya, jalan ke sana udah bagus juga. Kapan-kapan mau maen deh ke kampusnya. Hebat dan salut pilihan Rinda mengabdi di sini, semoga sukses!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itera banyak dipakai untuk foto prewedding juga mbak. Makanga, ayolah main ke sini 😁

      Delete
  2. ITERA satu jalan kan ke arag Kota Baru, dulu inget sekitar tahun 2011-an (kalau gak salah) dimana pembukaan lahan kebun karet ratusan ha. Terakhir pas pulang ke Lampung dan main ke ITERA dan Kota Baru sekitar tahun 2014 masih banyak lahan kosong. Gimna ya sekarang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarwng jg banyak lahan kosong mas. Dari 285 Ha baru nggak nyampe 10% yg sudah dibangun hehehe

      Delete
  3. "Kami semua adalah orang yang visioner dan percaya akan perkembangan jaman."
    Salut dengan orang yang beginian!!!
    Keep working GUYS!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ofkorsssss...kalo nggak visioner dan optimis mah udh pasti nyerah

      Delete
  4. Replies
    1. Sudah makan korban dua nyawa itu. Polisi yg bikin.

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<