Saturday, March 11, 2017

RGHBJourney #6: Tentang Rukun dan Tradisi





HB sejak beberapa hari dipusingkan dengan istilah uang pengikat. Ya kami berdua sih sepakat kalau uang pengikat atau apapun istilahnya yang dipakai untuk nge-DP seorang bride to be itu sebenarnya emang nggak kudu ada. HB udah khatam baca buku "Nikah A-Z" nggak tau udah berapa kali, selalu bilang kalo ngecupnya ya cuma pake janji manis doang. Tapi entah kenapa orang suka nambah-nambahin. Tapi dia sendiri nggak enak sama Bapak dan Ibu, jadinya dia berinisiatif untuk beli cincin buat lamaran. Padahal rencana awal, cincin itu untuk pas nikah aja. Karena kalau ngasih uang, pasti keliatan banget kalau sedikit.



Sampai H-1 sebelum berangkat ke Lampung HB masih penasaran dan minta saya untuk tanya ke Ibu perihal uang pengikat. Kata Ibu sih nggak ada yang namanya uang pengikat. Jadi nggak perlu. Alhamdulillah.

Tadinya juga Ibu sempat tanya, apakah HB mau langsung ngasih seserahan atau enggak. Waaaaaa...HB kan belum nyiapin seserahan. Wkwkkwkwkw. Kata HB,"kalo seserahan kan butuh banyak orangnya, Bu." Alasyan. LOL. Tapi saya juga sepakat sih karena seserahan itu bagi saya terlalu dini. Selain saya meyakini bahwa seserahan itu nggak perlu ada secara rukun nikahnya, saya masih belum jadi siapa-siapanya HB jadi ya belum berhak untuk menerima hal-hal seperti itu.

Oke, sampai di hari lamaran dan membahas tentang tanggal akad nikah terjadi lagi hal melegakan (setidaknya) bagi saya dan HB. Kami semua sepakat bahwa yang namanya hitungan hari baik itu nggak ada karena semua hari itu baik, bergantung gimana kita menyikapinya. Kedua, mereka sepakat untuk hanya menggelar akad nikah dan syukuran. Pas ditanya soal organ tunggal, HB langsung menolak mentah-mentah. Hihi. Ya kalo emang niatnya syukuran mah syukuran aja, sedekah juga lebih baik sebagai bentuk syukur. Bukan dengan pesta-pesta apalagi joget-joget. Ih, cinta loh sama keluarga model begini
❤


Bahkan Pakde yang jadi Jubir dari keluarga saya sampe berkali-kali bilang bahwa apa yang dibicarakan antara dia dan Pak Ustadz yang dibawa HB selalu nyambung. Jadi Pakde ini semacam mengaku punya ikatan emosi yang kuat. Ya entah juga sih yaaa kebenarannya seperti apa, yang jelas saya bersyukur aja kalau mereka klop. Ini memudahkan dan melegakan saya dan HB (utamanya saya) yang selalu takut kesulitan menyatukan keluarga kami.


Bapak punya rencana untuk menarik arisan keluarga ke sini. Arisan keluarga besar Ibu memang biasa diadakan pada hari lebaran keempat atau kelima. Nah, karena kami merencanakan akan menggelar akad nikah selepas Idul Fitri, jadi pas banget waktunya. Saya dan HB juga punya tanggal cantik, jadi seperti diamini oleh Semesta bahwa seluruh keluarga yang hadir sepakat untuk menggelar akad nikah saya dan HB pada tanggal 1 Juli 2017. Yeiy, angka cantik, kan? Semoga lancar jaya dan diberkahi. Aamiin.

Alhamdulillah keluarga saya maupun keluarga HB nggak repot soal tradisi. Semua yang penting sesuai dengan tuntunan Tuhan, bukan tuntutan manusia. Meski ada hal-hal yang nggak masuk ke rukun pernikahan, tapi sekiranya itu bisa membahagiakan kedua keluarga yang nggak lama lagi akan jadi satu ya akan kami lakukan. Misalnya memberikan hadiah. HB juga berniat memberikan sejumlah uang, hitungannya adalah untuk membantu persiapan akad dan syukuran di sini meski saya juga tahu pasti kalau HB juga butuh uang yang nggak sedikit, terlebih untuk transportasi. Jadi mungkin nanti akan dipertimbangkan lagi. RAB juga mesti disusun ulang karena akad nikahnya pas lebaran, kena tuslah booooo. Heuheu. Mengenai hadiah, itu kan semacam penghormatan dan berusaha untuk saling membahagiakan. No problemo, selama nggak memberatkan.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<