Tuesday, March 28, 2017

RGHBJourney #7: Kenapa Nggak LDR Pasca Menikah?


Awalnya saya berpikir, toh setelah nikah semuanya akan sama kecuali saya dan HB jadi tanpa sekat. Setelah sisi realistis saya jalan -dan emang saya kan sangat lemot- ternyata banyak hal yang harus dipikirkan sebelum menikah.


Dulu HB keukeuh nganterin saya ngelamar kerja kesana-kesini supaya saya bisa tinggal di Bandung atau di Serang minimalnya. Kami mau pindah ke Serang (di tengah-tengah Bandung-Lampung) atau saya yang pindah ke Bandung. Tapi ternyata saya justru dapat kerja di Lampung dan sudah hampir dipastikan saya akan bertahan di Lampung. Jadi, HB yang harus pindah dan emang ini mau dia sih. Pindah dan pergi dari Bandung. Bandung is too suck, maybe. Panas, macet... ya gitu.

Kenapa harus ribet banget sih ngurus tempat tinggal doang? Yajelas ini demi masa depan bersama. Saya dan HB emang nggak mau berjauhan dengan berbagai pertimbangan.

Pengalaman pahit LDR

Kami sudah lebih dari empat tahun menjalani kehidupan dan drama long distance relationsick. Kami udah khatam banget gimana alur dan liku perjalanannya. Selama ini cuma tentang saya dan HB. Sekedar menye-menye bilang kangen banget padahal baru 4000 detik yang lalu melepas kepergian HB di stasiun. Dan drama terakhir yang terjadi adalah saya stay di Indomaret pinggir Jalan Lintas Sumatera sampe hampir sejam karena mata sembab menangisi kepulangan HB. 

Iya saya emang lebay. Makanya saya dan HB pernah nyoba berpisah 'secara nggak wajar'. Waktu itu kami abis naik Trans Jogja dari mana yaaaa lupa, terus HB transit di shelter Terminal Condong Catur dan saya melanjutkan perjalanan dengan bus yang sama. HB ke stasiun, saya ke kosan. Hanya sedikit drama dalam dada kami masing-masing. Nggak sampe nangis-nangis.

HB lebih suka perpisahan yang kayak gitu. Meski aslinya kami nggak ada yang suka dengan perpisahan untuk menunggu ketemu lagi at least sebulan kemudian.
Nah, kalo yang begitu masih harus lanjut sampai setelah menikah, bakal kayak apalagi dramanya? 

Hidup ini bukan cuma tentang kita dan pasangan

Kalau HB ke Lampung, sudah pasti dia akan stay di rumah saya. Begitu juga kalau saya ke Bandung, pasti akan tinggal di rumah dia. Kami menepis segala ketidakpantasan bahwa kami bukan suami-istri so nggak enaklah tinggal di tempat pacar. Ya, menurut kami itu lebih baik karena artinya kami akan semakin dekat dengan keluarga pasangan dan tentunya lebih 'aman' (if you know what I mean).

Dari kejadian itu keliatan kalau keluarga juga punya andil di kehidupan pasangan kita. So, nggak boleh egois bahwa setelah menikah kita akan lepas dari keluarga. Kan katanya hubungan darah lebih kental daripada air. 

HB emang selalu mewanti-wanti saya untuk nggak baperan. Dia kerja, saya kerja. Akan ada masa dimana kami sibuk sehingga nggak bisa saling berkabar. Jadi, perbanyak stok sabar.

Belum lagi kalau udah punya anak. Saya sedih membayangkan saya di Lampung bareng anak-anak sementara HB di Bandung sendirian. Saya kerja, anak-anak di daycare. Malam hari udah capek, belum lagi kalau ada tugas kantor atau tugas lembaga. Komunikasi sama HB sekedar WA atau facetime sebentar-sebentar di sela pekerjaan, atau malam dengan menahan kantuk. 

Anak-anak butuh abahnya, eh ambunya juga butuh abahnya. Kapan sayang-sayangan dan saling memberi perhatian? #kraiiiiiii

Saya salut banget sama pasangan yang memutuskan untuk LDM demi kondisi yang lebih baik. Apalagi kalo istri kerja dari rumah. Dia bisa sambil main sama anak-anaknya meski sesekali ada masanya me time, atau aktivitas lain di luar rumah. Tapi setidaknya dia masih bakal lebih banyak waktu dengan anak-anaknya. Meski sedihnya adalah Bapaknya anak-anak jadi nggak tega membiarkan sang istri mengurus anak sendirian.

Artinya, ada beban di dalam dada kan? Dan saya nggak akan bisa setegar mereka. Ya, semua orang punya pilihan dalam hidupnya. Saya, kondisi pekerjaan dan kompleksitas perasaan saya nggak memungkinkan saya memilih untuk LDM sebagai jalan hidup.

Cintaku berat di ongkos

Tiket pesawat Lampung-Bandung PP rata-rata berkisar 1 juta. Kalau pakai bus Damri ya paling PP 500.000. Tapi tau sendiri jalanan dari dan menuju Bandung kalau weekend. Jangan salah, ke Lampung juga udah mulai padat arus lalu lintasnya. Keluarga HB aja harus nunggu di Merak sampai lebih dari tiga jam sekedar menunggu kapal untuk sandar. Padahal tinggal nyebur terus berenang dikit juga udah sampe pelabuhan Merak. -____-

Dan dari pengalaman kami LDR-an, maksimal sebulan sekali kami harus ketemu. Belum lagi capeknya dan harus terlihat semangat kalo ketemu. Fiuh. Ya apalagi kalo udah nikahhhh? Cintaku selalu berat di ongkos!

Belum lagi urusan tempat tinggal. Kami belum punya rumah, kalau misalnya di sini saya nyicil beli rumah atau ngontrak, berarti ada pos pengeluaran untuk tempat tinggal di Lampung. HB juga di sana kerja dan jauh dari rumah keluarganya. Biaya transportasinya besar. Belum lagi untuk makan, dia pasti beli makan di luar terus (soalnya sekarang juga gitu)

Saya pindah ke Bandung?

Aakkk... penginnya sih gitu. Saya mau banget pindah ke Bandung even kalo weekend Bandung sangat tidak manusiawi. Tapi menurut saya Bandung sangat lovable, mungkin itu juga kenapa banyak orang datang ke sana dan bikin Bandung jadi nggak nyaman.

Kalau saya pindah ke sana otomatis saya harus cari kerja lagi. Memulai segalanya dari awal lagi. Artinya, di awal kehidupan saya dan HB hanya bergantung dari pendapatan HB. Yaaa... Meski memang pendapatan HB sedikit lebih banyak dari gaji saya sekarang, tapi nggak mungkin bisa menutupi kebutuhan apalagi lifestyle  saya. Duh, berat. 

Belum lagi tentang biaya hidup di sana yang lebih mahal. Rumah di sana juga harganya dua kali lipat daripada di Lampung. Yaudah, kami akhirnya memutuskan untuk HB yang mengalah dan memulai segalanya dari awal di Lampung.
Kami sangat nggak mau LDM meski nanti kalau saya kuliah S3 sekalipun kami berencana untuk selalu bareng-bareng. Yang namanya komunikasi bisa aja mendekatkan atau justru menjauhkan. Apalagi kalau sudah menikah dan hidupnya jadi lebih rumit.

Ya ngapain nikah kalo masih jauh-jauhan mah? Gitu aja sih. Kalau ada yang memilih untuk LDR pasca menikah demi masa depan sih terserah. Tapi bagi saya dan HB yang udah empat tahun lebih mengalami drama ya emang nggak kuat kalo harus LDR lagi. Ada hal-hal yang nggak bisa dibagi lewat telepon. Video call aja kadang kebentur sinyal. Mau telpon sepanjang hari ya bisa-bisa dimarah bosnyalah. So, jalan tengahnya adalah memulai segalanya dari awal.

Meski kalo HB kerja kantoran gajinya lebih pasti dan mencukupi, tapi kalo kami jauhan terpisahkan selat ya buat apa. Merentas laut, leuweung, gunung bukan jalan hidup yang kami pilih. Toh masalah rejeki dalam bentuk uang bisa sama-sama diperjuangkan. Tapi rejeki dalam bentuk kebersamaan, bisa didapet dari telponan? You wish! 

Bismillah!

3 comments:

  1. Wah, jarang lho ada cowok yg mau ngalah utk pindah domisili dan kerjaannya. Beruntung nih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, alhamdulillah. Semoga merantau membawa berkah yaaa

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<