Sunday, March 5, 2017

The Nekad Traveler: Ketika Bucket List Membuat Orang Selfish



www.21cineplex.com


Judul Film: Trinity, The Nekad Traveler
Sutradara : Rizal Mantovani
Penulis Naskah : Rahabi Mandra
Produser : Ronny Irawan, Agung Saputra
Produksi : Tujuh Bintang Sinema
Pemain : Maudy Ayunda, Hamish Daud, Babe Cabiita, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, Tompi dan kayaknya ada Stuart Collin juga.

“Ke mana pun kaki melangkah, rumahku Indonesia.”

Sinopsis

Film ini berkisah tentang seorang karyawan kantoran yang kesehariannya berkutat dengan keyboard dan target-target, namanya Trinity (Maudy Ayunda). Demi hobi yang membutuhkan modal yang tidak sedikit ini juga sering membuatnya diceramahi oleh bosnya (Ayu Dewi) karena selalu minta jatah cuti. Trinity mempunya dua orang sahabat sejak masa kuliah, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli). Hingga akhirnya mereka bertiga pergi traveling ke Filipina ditemani oleh sepupu Trinity, Ezra (Babe Cabita).

Selain menuliskan impiannya pada bucket list, Trinity juga menuliskan pengalaman travelingnya di blog naked-traveler.com. Seperti layaknya kebanyakan perempuan seusianya, Trinity dirundung kegalauan lantaran orang tua yang memintanya untuk menikah, passion dalam pekerjaan, hingga target dalam bucket list-nya. Dalam film ini, kepayahan Trinity soal percintaan juga digambarkan dengan gejolak perasaannya dengan Paul (Hamish Daud) seorang fotografer yang juga hobi traveling.

Film dengan pesona luar biasa

Film Trinity, The Nekad Traveler  ini dimulai dengan close up paras imut Maudy Ayunda di birunya laut yang luas seperti tanpa batas. Awalnya sudah greget banget dan bikin penonton berdecak kagum dengan teknik pengambilan gambar yang membuat tampilannya jadi mewah dan megah.

Sayangnya film ini seperti sepi konflik. Semua tampak datar. Hanya ada perselisihan antara Yasmin dan Trinity yang cuma sekedipan mata sudah baikan lagi. Lebih jauh, hanya ada pergolakan batin yang mulai dari keinginan dan pertanyaan Bapak (Farhan) dan Mamah (Cut Mini) tentang kapan Trinity serius memikirkan jodoh. Jawabannya ya standar orang macam Trinity yang saya sangat tau seperti apa.

“Nanti kalau semua bucket list sudah terpenuhi,” jawab Trinity yang berencana membuat bucket list baru kalau yang lama telah terpenuhi.
Gara-gara bucket list inilah Trinity sempat berselisih paham dengan dua sahabat dan sepupunya. Bucket list memang target pribadi yang sangat wajar jika menurut orang lain itu tak layak untuk dikejar. Sangat pribadi dan mungkin hanya menguntungkan diri sendiri, atau bahkan hanya memberikan kepuasan tanpa bonus keuntungan. Hingga pada akhirnya Trinity sadar bahwa bucket list tidak seharusnya drive her to be selfish. Perjalanan sudah semestinya bukan untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang banyak.

Ada sebuah film dokumenter yang sangat membekas dalam ingatan saya. Tentang perjalanan sekelompok orang ke Patagonia (kalau nggak salah). Film ini menyuguhkan pemandangan luar biasa keren sekaligus sarat pesan yang dalam. Mereka melakukan perlawanan terhadap industrialisasi dan kerusakan lingkungan. Pesan yang kuat ditambah soundtrack yang cocok membuat sebuah film mampu menjadi panutan para penikmatnya. 

Baca juga: Review Film Iqro.

Kalau dalam “Into The Wild” penonton seperti dituntun untuk menikmati semesta tanpa merusak alam. Duduk di bibir pantai, menyaksikan burung-burung berkejaran tanpa menembaknya supaya ekosistem tetap terjaga, di film ini berbeda. Trinity berpesan kepada Nina, untuk sekedar menikmati perjalanan. Tanpa perlu sibuk dengan kamera. Meski pada akhirnya Trinity juga tetap membutuhkan gambar yang ciamik bagi tulisan-tulisannya tentu saja.

Dalam Trinity, The Nekad Traveler, nggak ada pesan yang terlalu dalam. Padahal penting untuk menyisipkan petuah supaya traveler nggak vandal, misalnya. Justru yang saya sayangkan adalah adegan mendaki puncak-puncak tebing, padahal sudah banyak korban nyawa gara-gara pengin menaklukkan tebing. Jiwa para traveler newbie yang mungkin sangat terinspirasi dari film ini bisa aja belum siap untuk bisa mengagumi alam dari atas tebing tanpa mengabadikannya dengan cara selfie. Entah gimana cara dan usahanya, yang penting fotonya bagus dan diregram oleh influencer. Itu yang banyak saya temui di sosmed. Selain itu Trinity mendaki dengan memakai celana jeans yang lumayan ketat. Padahal pakaian yang seperti itu bisa menyebabkan cidera. So sorry.

Setelah nonton film ini, saya seperti diyakinkan bahwa saya memang harus banyak jalan-jalan. Biar nggak dibilang butuh piknik, atau mainnya kurang jauh. LOL. Sekedar mengagumi karya Tuhan nggak cukup hanya lewat karya orang lain. Film ini memberikan tips-tips sederhana bagi traveler. Sangat membantu, bahkan dalam hal merencanakan perjalanan and even how to grab licence from your boss. LOL.

Untungnya, buku The Naked Traveler sudah terbit dalam 7 edisi. Jadi Nters seperti saya nggak perlu merasa kecewa setelah nonton film yang diangkat dari buku. Cerita tentang gimana awal mula Trinity menjadi travel blogger dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu sudah sangat lama. Film ini justru melemparkan kenangan awal gimana Nters mengenal seorang Trinity. Seperti pengobat kerinduan sekaligus perkenalan yang unik bagi penonton yang bukan pembaca The Naked Traveler.

Pendongkrak pariwisata

Film Trinity, The Nekad Traveler ini dikemas jadi suatu film yang apik. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, film ini memberikan tips cerdas traveling bagi penontonnya. Gimana Trinity harus mengatur budget hingga jadwal yang membawanya ke Lampung di long weekend dadakan.

Festival layang-layang di PKOR Way Halim, Gunung Anak Krakatau dan Taman Nasional Way Kambas diceritakan sangat awal di film ini. Selain itu, di akhir ada juga pesona Gigi Hiu di Kelumbayan yang cuma diperlihatkan sekilas. Nggak heran kalau Gala Premiere film ini di Lampung digelar super meriah. Tiket gratis ditabur dimana-mana lewat kuis. Penonton yang berjumlah ratusan berasal dari seluruh daerah di provinsi Lampung. Jadi orang-orang daerah yang bahkan jauh dari bioskop bisa turut menikmati euphoria diangkatnya objek pariwisata Lampung dalam bentuk film.

We are Tapis Blogger (Foto: Naqiyyah Syam)

Sebuah trik promosi super keren dari para squad Trinity The Nekad Traveler yang memang harus disambut baik oleh pemerintah daerah. Pemerintah dibantu untuk promosi daerah dengan cara yang elegan, so sudah sewajarnya memberikan apresiasi yang tinggi.

Sayangnya, film ini diputar jam sembilan malam. Setelah paginya diskusi film di IBI Darmajaya yang dilanjutkan dengan Meet and Greet jam tujuh malam. Harapannya, meet and Greet bisa disusun sedemikian rupa sehingga penonton nggak perlu berdiri, kecuali ada panggung sehingga penonton bisa melihat dengan jelas siapa saja yang tampil. Selain itu, Meet and Greet akan sangat bermakna jika dilakukan setelah nonton filmnya. Jadi bisa sekalian bedah film. Nah, di situlah para sineas bisa mendulang kritik, saran, sekaligus pujian dari para penikmat karyanya. Selain itu, pesan-pesan moral yang mungkin implisit bisa dipaparkan dengan jelas di sana tanpa perlu kehilangan pesan yang semestinya.

“You only live once, so why not die with style?”- The Bucket List.

25 comments:

  1. Mantap Rinda, semangat mau nulis juga nih jalannya film.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayo, jangan mau kalah sama yg muda. Hihi

      Delete
  2. Keren tulisannya mb rinda. Jadi ingin traveling juga. Biar gak di bilang kurang piknik, jalannya kurang jauh

    ReplyDelete
  3. Wah makasih reviewnya Rinda, di cgv jogja kmrn ketinggalan mau nonton atau malah blm smpi sini ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya sih Lampung pertama, Manda. Tapi nggak tau juga. Di Jakarta ada tapa kayak konpers gitu

      Delete
  4. aku punya semua koleksi buku trinity..jadi harus nonton nih aku. Ngga sabar ngantri di bioskop :D

    ReplyDelete
  5. Di lampung ada meet n Greetnya? Djgja kpn

    ReplyDelete
  6. Aku belum baca bukunya, satu pun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heuheu...nonton aja makind. Biar seger mata liat pemandangan 😘

      Delete
  7. wah jadi penasaran pengen nonton, besok kalau ada kesempatan nonton aaaahhh

    ReplyDelete
  8. Sepertinya bagus filmnya ya..btw yang bener Nekad or Naked traveler yaaa.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Blognya Naked, tapi filmnya Nekad, Mak 😁

      Delete
  9. Eh, The Naked traveler di filmkan? Wouwwww kerennn. Sukaak sama quote di bawah itu
    “You only live once, so why not die with style?”- The Bucket List.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ingat film ttg bucket list, makrie

      Delete
  10. Belum nonton huhuhuhuhuhu. Segera cari download an nya ah.

    ReplyDelete
  11. Wehhh ... Solo traveler nekad pula.
    tambah greget

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<