Sunday, April 23, 2017

Yang Terserak dari Perayaan Hari Bumi di Kampung Konservasi


Dalam rangka menyongsong Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 April, saya membawa bendera Jaringan Perempuan Padmarinu bersama-sama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung bekerjasama dengan Tim 10 Pemuda Karang Taruna Kampung Konservasi Pekandangan, menggelar kegiatan penanaman 1000 bibit pohon di bantaran DAS Way Seputih, Minggu (16/4).

Nggak banyak yang tau tentang keberadaan Kampung Konservasi Pekandangan. Bahkan ketika kami dalam perjalanan ke sana dan menanyakan tentang rute jalan menuju ke sana padahal pada kenyataannya lokasi udah nggak jauh lagi.


Kampung Konservasi Pekandangan masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah. Di Lampung Tengah, sebutan untuk desa adalah kampung. Kampung Pekandangan letaknya memang bersebelahan dengan Register 39. Terdiri dari empat dusun yang letaknya berjauhan, kampung ini menyimpan beragam potensi. Setiap akan berkunjung ke dusun satu dari dusun lainnya, kita harus keluar dulu ke kampung penyangga, Kampung Lingga Pura yang wilayahnya masuk ke Kecamatan Selagai Lingga melewati kebun, jalan setapak dan jembatan gantung. Hal ini dikarenakan masing-masing dusun di Kampung Pekandangan  berbentuk seperti payung mengelilingi Hutan Lindung Register 39 Kota Agung Utara.

Penanaman Pohon Sebagai Upaya Pencegahan Bencana

Masyarakat Kampung Pekandangan memang telah lama memgang teguh prinsip cinta lingkungan. Tak heran kalau tersemat kata 'konservasi' sebagai nama tengahnya. Wilayah ini menjadi kampung definitif tahun 2005 setelah memekarkan diri dari Dusun 7 Segala Mider sejak tahun 2000.
Kegiatan penanaman tersebut diikuti oleh seratus Lima Puluhan peserta yang terdiri dari WALHI Lampung dan anggota (WANACALA, POLTAPALA POLINELA, MAPALA ARDENASWARI, MAPALA AKL POTEKKES)serta jaringan WALHI Lampung (YKWS, Jaringan Perempuan Padmarini, Sispala Lingkar Generasi Hijau SMA Maarif Sukatani). Kegiatan ini didukung oleh aparatur Kampung Konservasi Pekandangan dan diikuti pula oleh anggota Pramuka, Karang Taruna, Tapak Suci, Banser, dan masyarakat sekitar dengan menanam bibit aren dan bambu betung yang merupakan tanaman konservasi air yang juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar DAS Way Seputih. Penanaman bibit sepanjang empat kilometer tersebut berfungsi mencegah abrasi dan mendukung pemulihan bantaran sungai, Menghijau setelah banjir bandang 21 februari 2017 karena hujan deras.

Menurut Jaka (43) Sekretaris Kampung dan Koordinator Tim 10,  bencana banjir memang kerap melanda kampung Pekandangan akibat pembukaan lahan di HL Reg 39 Kota Agung Utara.
Dalam sambutannya, Direktur WALHI Lampung mengutarakan harapannya agar kegiatan ini mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga dan melakukan konservasi di wilayah bantaran sungai.

"Kegiatan ini juga harapannya akan mengingatkan peran pemerintah dalam upaya konservasi lingkungan dengan mengeluarkan kebijakan yang mendukung aksi pelestarian alam," jelasnya.

Lebih lanjut Kepala Kampung Konservasi Pekandangan, Ade Ma'mun mengatakan bahwa bambu betung merupakan bahan Bangunan, tanaman konservasi air, sekaligus bahan pangan.

"Mulai 1992 terjadi banjir bandang dan longsor karena curah hujan tinggi dan karakteristik tanah lempung berpasir. pada 2012, banjir menghanyutkan empat jembatan gantung yang menghubungkan antara Kampung Konservasi Pekandangan ke kampung induk Lingga Pura," kata Ade.


Pada 21 Februari 2017, banjir yang terjadi sangat besar tapi tidak membawa material sehingga tidak merusak jembatan yang dibangun oleh masyarakat secara swadaya itu.

Potensi VS Infrastruktur 

Di Kampung Pekandangan terdapat potensi air terjun di beberapa titik. Potensi ini memang belum bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai kawasan tujuan wisata. Hal ini tak lain disebabkan oleh akses yang sulit menuju lokasi.

Kami butuh waktu sekitar empat jam dari Bandar Lampung untuk menuju Kampung Lingga Pura. Ada dua rute yang bisa di tempuh. Via Terbanggi Besar Lampung Tengah, atau via Kabupaten Pringsewu. Kami memilih untuk lewat jalur Pringsewu sewaktu bersngkat karena dinilai lebih aman meaki jalannya jelek. Setelah masuk ke Sukoharjo Pringsewu, aspal mulai rata, rusaknya tapi. Setelah itu memasuki kawasan Kabupaten Lampung Tengah, jalanan mulai onderlagh sampai Lingga Pura. Entsh keberhasilan apa yang digaung-gaungkan pemerintah setempat kalau jalanan sepanjang itu masih berupa batu-batu besar padahal APBD untuk kabupaten ini sangat besar, banyak industri bercokol di sana pula. 

Masyarakat Kampung Pekandangan bisa memproduksi gula aren sampai hitungan ton setiap bulan. Mereka menerima pesanan dari kabupaten tetangga bahkan hingga Lampung Timur. Menerima pesanan produk yang banyak justru membuat mereka bingung. Gimana cara ngirimnya? Ada loket ekspedisi tspi jauh berkilo-kilo meter dan biayanya mahal sedangkan gula aren berat. Mau dititip travel juga biayanya mahal karena mereka harus menempuh perjalanan jauh dan akses yang sulit.

Masyarakat sebenarnya ingin mengolah gula gelondongan menjadi gula semut. Dengan demikian distribusi jadi lebih mudah sekaligus memberi nilai tambah. Kemudian hal yang menjadi soal adalah kampung itu belum dicover oleh aliran listrik. 

Awal tahun lalu, masyarakat sempat diberi harapan bahwa bupati mereka meyakinkan bahwa akan ada akses dari PLN masuk ke wilayah mereka. Tapi setelah dilakukan survey, hasilnya mengecewakan. Kampung Pekandangan dinyatakan belum layak untuk dialiri listrik. Hal ini lagi-lagi disebabkan karena infrastruktur jalan yang belum memadai sehingga tiang-tiang beton nggak bisa disalurkan ke pelosok kampung.

Sementara ini, masyarakat masih mengandalkan kincir air dengan bangunan sipil seadanya sehingga kalau hujan deras instalasinya sering rusak. Mereka juga nggak bisa setiap saat berfoya-foya menggunakan energi listrik. Semuanya serba dihemat.

Tak perlu menunggu uluran tangan belas kasihan, saat ini masyarakat Kampung Pekandangan masih belum menyerah. Menggunakan anggaran dana desa, mereka membangun jalan dan jembatan. Memanfaatkan jaringan, mereka melakukan pembangunan, pemberdayaan, dan pemeliharaan seluruh potensi yang ada. 

Mereka secara swadaya menjaga debit air, menjaga ekosistem sungai karena mereka sadar di sanalah hidup generasinya bergantung. Melakukan konservasi sekaligus menanam tanaman yang menghasilkan dan bisa dimanfaatkan habyalah salah satu langkah sederhana yang mereka lakukan untuk mengubah kehidupan.

2 comments:

  1. waah... hebat ya ada kampung yg cinta lingkungan seperti ini. Kalau semua kampung cinta lingkungan, pasti lingkungan kita akan terjaga

    ReplyDelete
    Replies
    1. pastinya. nggak akan nunggu pemerintah berbuat terus :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<