Monday, June 19, 2017

#RGHBJourney 12: Tentang Mahar Bibit Pohon Jati dan Emas



Wacana untuk meminta mahar bibit pohon ini sebenarnya muncul bertahun-tahun silam. Sejak saya ketemu HB, sejak saya berpikir untuk memilih menikah sebagai jalan hidup. Awalnya pengin banget minta mahar yang banyak. Buat ditanam di bukit, dibagikan ke orang-orang juga. Nah kalau sekarang sih mikirnya perjalanan HB dan keluarga ke Lampung aja udah butuh modal besar, apalagi untuk beli dan distribusi bibit dalam jumlah banyak. Selain itu kalau dibagikan justru takut nggak diurus sama orang. Malah saya jadi sedih nantinya.


Jadi oke, akhirnya saya putuskan untuk meminta 81 batang bibit pohon. Tapi ternyata ini kebanyakan juga. Mau ditanam dimana sementara di rumah saya udah banyak pohon. Di rumah HB nggak ada tanah tersisa. Ya namanya juga di kota.

Akhirnya mengerucutlah jadi 27 batang bibit pohon yang rencananya​ akan kami tanam di tanah yang baru dibeli dengan cara mencicil. Kebetulan tanah itu dekat dengan tol, jadi pohon bisa sedikit menyerap polusinya. Juga sebagai catchment area karena wilayahnya lumayan gersang dan air bisa dengan mudah mengalir tanpa tertahan. Sebagian lagi ya di tanam di rumah orang tua sebagai monumen kami.
Tapi kemudian jumlah ini mengerucut lagi setelah HB sedikit berharap supaya saya meminta mahar emas juga. Supaya terkesan agak mewahlah. Alasannya supaya Bapak Ibu saya nggak malu. Masak calon mantunya cuma ngasih bibit pohon. Sedikit pula. LOL.


Akhirnya disepakati bahwa saya meminta 9 batang bibit pohon jati dan emas 9 gram. Fix.


Lalu kenapa harus 9? Karena 9 adalah kesempurnaan. Angka paling tinggi di jajarannya. Saya senang dengan angka ini sejak saya berkunjung ke House of Sampoerna di Surabaya. Waktu itu saya ikut Sampoerna Best Student Visit bersama dengan mahasiswa lain perwakilan kampus-kampus di Indonesia. Awalnya saya minta 81. Ini kalau dijumlahkan 8+1=9, akar 81 juga 9. Lalu turun jadi 27 batang, 2+7=9

Saya berharap kesempurnaan hidup aja sih. Bukannya saya percaya fengsui atau ramalan, tapi logika saya bahwa 9 adalah yang tertinggi dari deretan angka-angka. Begitu aja. Sesederhana itu.

Oke, terus kenapa emas? Emas kan barang tambang. Merusak lingkungan.

Kalau kata HB, filosofinya adalah bukan memilih bibit pohon hanya karena freak terhadap isu lingkungan hidup. Jati adalah barang mahal kelak. Sepuluh tahun yang akan datang mungkin bibit pohon yang kami tanam baru akan memberikan hasil nyata berupa harta. Tapi dalam prosesnya, ada keteduhan dari rimbun daun-daun lebarnya. Ada kesegaran dari air tanah yang ditangkapnya. Dan seperti juga emas, jati ini sangat berharga. Berharga dan kuat. Kokoh. Harapannya, masa depan saya dan HB kelak juga sekokoh itu dan memberikan makna yang dalam bagi sekitar.


Jangan lupa: Tying The Knot + Mini Giveaway 😘😘😘

23 comments:

  1. Oh..gitu toh..alasan kenapa nyari2 bibit jati. Untung udah ketemu ya... Selamat semoga lancar dan barokah pernikahannya :D

    Tatat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, aamiin yaa rabb. Iyah berkah komunitas tercintah nihhhhh. Nuhun teeehhh 😘

      Delete
  2. Angka 9 juga yang kupilih, Rinda. Menikah di tanggal 9 bulan 9 tahun 2009, jam 9. Maharnya berupa emas 9,99 gram dan hafalan surah ke 99 (QS Al Zalzalah). Surat itu isinya bagus banget, pengingat akan hari akhir ������ plus seperangkat alat sholat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wowww keren mak ayaaaaaaa!!! Serba sembilan hahahaha

      Delete
  3. Wah, alasan keren knp milih bibit pohon sbg mahar. Selain merawat lingkungan nantinya pohon itu bisa lebih bermanfaat utk manusia. Keren☺

    ReplyDelete
  4. Keren bgt! Kelak nanti pohonnya bisa bermanfaat untuk semua ya mbak.

    ReplyDelete
  5. Filosofinya istimewa banget. Selamat ya rinda sayang semoga SAMAWA, doa terbaik untukmu sayang

    ReplyDelete
  6. unik ya, maharnya bibit pohon jati dan emas. Niat nya bagus dan suka jg pake angka 9. apakah nanti menikahnya tgl 9 juga nba biar klop. didoakan smoga lancar ya mba sampai acara pernikahannya. amien!

    ReplyDelete
  7. Semoga lancar acara pernikahannya ya mbak?
    Keren maharnya, insyaAllah akan berharga terus sampai generasi2 berikutnya :D

    ReplyDelete
  8. Sukses dan selamat serta lancar pernikahannya mba.. keren juga nih maharnya bibit pohon jati dan emas.. 30 tahun kemudian, 1 pohon jati nilainya mgkn bisa 5-10 juta.. lumayan investasi mba

    ReplyDelete
  9. Baru tahu nih ada yg mahar bibit pohon jati. Keren tuh bisa dicontoh ama calon pengantin yg lain. Memang pohon jati nih hra dilestarikan banget. Soalnya jarang bngt skg perabotan pakai pohon jati. Padahal ketahanannya ribuan tahun.n

    ReplyDelete
  10. Keten Mas Kawinnya Pohon Jati.. Pecinta lingkungann.
    9 memang angka spesial.
    Sukses yah pernikahannya...

    ReplyDelete
  11. Ih baru tau ada manusia di dunia nyata yang minta mahar kayak beginian. Salut! Semoga bermanfaat buat semuanya ya, Mbak. Dan semoga hajatnya nanti bisa lancar sentosa. Aamiin. :D

    ReplyDelete
  12. Filosofi maharnya "dalem" dan penuh makna. Semoga sukses dan lancar pernikahannya ya!

    ReplyDelete
  13. Pohon jati memang punya prospek Bagus mba, dikampung aju juga masih banyak lahan kosong yang bisa ditanam pohon jati, tp kadang ada yg mati pas musim kemarau sayang banget.

    ReplyDelete
  14. Mudah2an diberikan kelancaran untuk pernikahannya ya mba.. aku dulu eaktu nikah belum kefikiran sama mahar bibit pohon jati gini, ternyata prospeknya juga lumayan ya mba ��

    ReplyDelete
  15. Selamat atas pernikahannya Rinda. Happily ever after yaa...
    Untuk nanem bibitnya ada prosesi apaa gitu nggak? :D

    ReplyDelete
  16. Wih maharnya minta bibit pohon jati. Keren banget mbak, anti mainstream mbak. Semoga pernikahannya awet dan rukun terus sampai maut memisahkan. Amin...

    ReplyDelete
  17. wah... baru kali ini liat yg minta mahar bibit pohon, salut mba!

    ReplyDelete
  18. Keren filosofinya. Dan mahar yg unik baru nemu nih mahar minta bibit pohon:-)

    ReplyDelete
  19. Ini ada juga program dari beberapa LSM yaa, mba Rin ...
    Bahwa menanam pohon saat ini memang tidak bisa dinikmati sekarang juga...tapi nanti...puluhan tahun kemudian.


    Bekal terbaik untuk masa depan anak-cucu nanti.

    ReplyDelete
  20. memang penting nih. Demi Indonesia yang lebih hijau dan nyaman. unik namunberguna dengan baik

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<