Friday, June 30, 2017

#RGHBJourney 15: Ujian Menjelang Pernikahan


Kalo kata HB, nggak semua yang kita rencanakan, yang kita impikan harus kita dapatkan. Saya dulu pengin banget jadi diplomat atau kerja di media, tapi nggak jebol pas seleksi masuk perguruan tingginya. Ya sekarang takdir membawa saya sampai titik ini. Nggak kerja di industri, tapi bisa terus belajar dan berbagi. Semua ada hikmahnya.


Menurut saya, ujian jelang pernikahan bagi saya dan HB adalah sekarang-sekarang ini. Sejak persiapan #LetLoveGrow selepas lebaran, terlalu banyak kejutan dan pemakluman. Awalnya kesepakatan saya dan orangtua adalah hanya mengumpulkan saudara, syukuran bareng tetangga dan bagi2 daging sapi yang diolah sendiri. Nyatanya semua orang jadi ikut campur. Keinginan mereka beda-beda. Kesederhanaan dan kesan yang saya idam-idamkan nyatanya tidak bisa saya dapatkan. Ya, semoga benar-benar cuma ini ujiannya. Sampai di sini. Acaranya akad besok bisa lancar jaya.

Kemarin, hari pertama banyak orang di rumah. Kepala saya sakit. Perut saya mual. Saya stress kalau terlalu banyak orang dan terfokus ke saya dalam hal seperti ini. Beda ceritanya kalau saya lagi di kelas. Mahasiswa ribut, tinggal saya kasih instruksi untuk diam atau saya pause kuliah sebentar, mereka sudah paham kalau saya nggak suka dengan kelakuan mereka yang berisik.

Kalau orang banyak begini, orang tua-tua pula. Mereka tanya ini-itu, menginterupsi dan bicara seolah mereka berhak mengatur hidup saya itu yang nggak bisa saya terima.
Begini rasanya hidup di kampung. Orang tua saya baru pertama punya hajat. Gara-gara ini mereka jadi lebih keriput dan terlihat stress. "Ah, coba kemarin waktu HB datang langsung dinikahin aja. Nggak usah nunggu-nunggu besok," kata Ibu. Ya, itu emang mau saya. Cita-cita saya untyk menikah di KUA lalu menggelar syukuran bareng keluarga dan tetangga. Udah gitu aja. Nggak perlu stress berlarut-larut. Nggak perlu anggaran membengkak. Kita hanya peelu bahagia.

Saya mah nggak perlu hiruk pikuk. Nggak perlu dangdutan. Nggak peelu meneeima masukan atas kebiasaan-kebiasaan. Saya hanya perlu doa. Doa agar kelak saya dan HB bisa terus bersama, hingga menua, hingga ke surga.

"Yaudah, tahun depan kita nikah ulang dengan cara kita," kata HB. Bahahahahaa. So funny!
Dia juga terlalu banyak diinterupsi oleh orang lain. Padahal dia laki-laki. Tak masalah pun datang seorang diri.

Semoga ada hikmah dari rencana Tuhan yang terindah, ya. Hati-hati dan tetap selamat dan sehat buat kalian yang lagi di perjalanan, pacarku ❤

Eh jangan lupa ramein mini giveaway di blog saya yah 

5 comments:

  1. Aheyyy nikahnya kapan ini? Semoga lancar ya. Aku juga sepakat dengan konsep nikah sederhana. Nggak hambur-hambur uang untuk orang yang belum tentu kita kenal saat salaman.

    Semangaaaat!

    www.iamandyna.com

    ReplyDelete
  2. Aku suka takjub kalau lihat pernikahan yang megah tapi juga terpesoa liat pernikahan yang sederhana. Aku kalau nikah ceremonnya menyesuaikan budget aja deh hahaha dan memang kerempongan orang-orang sama urusan begini nyebelin.

    ReplyDelete
  3. Dalam mengurus pernikahan sering banyak godaan. Calon pegantin harus tenang dan rileks.

    ReplyDelete
  4. Geli sm idenya mau nikah ulang thn dpn wkwkwk

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<