Monday, July 10, 2017

#RGHBJourney 16: Setelah Seminggu Menikah


Banyak yang tanya, gimana rasanya setelah menikah? Mungkin ini pertanyaan ngetes atau sekedar basa-basi karena nggak jarang yang tanya pun sudah menikah. Jawaban saya gimana? Saya bingung, jawaban macam apa yang sesungguhnya mereka harapkan.
Setelah menikah ya semuanya masih sama. Saya masih harus kerja, bahkan masuk kerja di hari ketiga pernikahan. Semuanya sama. Saya tetap tinggal di wisma. Bedanya adik saya libur, jadi saya bisa tinggal bareng HB. Nggak ada yang berubah kecuali HB nggak pulang-pulang meski udah semingguan. HB malah nganterin saya ke kampus, terus njemput, terus jalan-jalan. Bedanya sekarang jalannya ke toko furnitur sama ke londri nyetor cucian kotor 

Besok deadline mini giveaway: #RGHB 14: Tying The Knot + Mini Giveaway

Saya masak baru tadi pagi. Sebelumnya kami makan di luar, atau HB yang beli makan di luar terus dibawa pulang. Apalagi ada kiriman rendang dari Ibu plus ada kegiatan di kampus yang jatah makannya bisa dibawa pulang. Logistik aman, Kapten! Masak nugget, french fries, dan sarden. Oh, terima kasih teknologi pangan siap saji!

Pertama-tama datang kesini, saya seperti yang ditarget harus ngajak HB makan dimana, atau nonton, atau berkunjung kemana. Berkali-kali kami saling meyakinkan, "Hon, aku nggak mau pulang besok, kan?" Dan nggak ada pertanyaan "Aku besok pulang pakai pesawat, atau Damri atau ngeteng?" meski sesekali ngecek aplikasi Traveloka. Ups, ini bukan postingan berbayar btw.

Menurut pengalaman saya, untuk urusan menikah yang paling repot adalah ngurusin omongan orang. Entah gimana pola pikir mereka, saya sudah kesal sejak awal persiapan. Apalagi pas keluarga HB datang malam-malam. Mereka nggak menjalankan instruksi sesuai kesepakatan. Keluarga HB sedikit terlantar. Bukannya suruh istirahat malah diajakin ngobrol sampai lewat tengah malam. Hey, mereka itu tamu lintas pulau, bukan antar kampung. Ini bikin saya dan Ibu sedih 

Hal tersebut terjadi juga di hari H akad nikah. Paginya saya udah nganterin kue, dan adik saya lanjut nganterin makanan berat. Tapi mereka udah nyuruh-nyuruh keluarga HB untuk duduk manis padahal penghulunya aja belum keliatan hilalnya. Mereka jadi nggak sempat sarapan. Padahal ada keluarga HB yang baru datang selepas subuh. Nah, hal-hal yang model beginj kayaknya emang harus ditegaskan. Masak iya musti saya lagi yang turun tangan ngontrol. Nanti dikira cerewet pula.

Kesalnya lagi udah perjanjian di awal, boleh ada soundsystem plus musik asalkan nggak ada dangdut dan suaranya nggak kenceng-kenceng. Eh ini kayaknya malah pakai volume maksimal. Enak kalau nikahannya di gedung dan pesta besar. Lha ini di kampung dan cuma akad nikahan doang. Saya nggak enak ngganggu tetangga, ngomong juga masak harus teriak-teriak. Saya sendiri suka sebel kalo ada hajatan berisik nggak jelas. Makanya saya nggak mau dong mengganggu kenyamanan tetangga kayak mereka. Lagi-lagi soal ini saya yang harus turuntangan.

Yang lebih ngeselin lagi adalah keesokan harinya. Di hari minggu, semua orang berberes kecualu HB. Ibu juga udah nyuruh HB istirahat aja karena emang lagi sakit. Tapi orang-orang yang keterlaluan. Mereka terus-terusan nyuruh saya dan HB berdua nyapu halaman. Saya nggak mau karena ya masak banyak orang terus saya yang nyapu berdua. Apa banget. Terus saya ngangkut sampah sendirian, mereka ngoceh terus bahwa yang ngangkut sampah harus saya dan HB. HARUS BERDUA!!! 

Saya kesal, sampai saya teriaki merek. Ya kalau merek nggak ikhlas bantu di rumah saya ya nggsk usah bantu kalau cuma buat maksa-maksa orang ngikuti aturan mereka. Parahnya lagi, setelah saya paksa HB untuk turun tangan dengan muka merah kesakitan, mereka belum puas juga. Katanya saya HARUS gotongan sekarung kecil sampah plastik sama HB. H-A-R-U-S-B-E-R-D-U-A!!! Ih, kok norak ya. Kalau masih bisa sendiri kenapa musti gotongan? Hellooowww... Kapan kelarnya? Konon itulah syaratnya. Syarat dari siapa? Buang sampah harus berdua gotongan sepasang pengantin baru diatur undang-undang?

Pokoknya, penuh emosilah. Benar kata HB, besar kecilnya hajatan pasti ada cacatnya. Pasti jadi pembicaraan orang. Pasti ada yang terluka. Pasti ada yang stress dalam prosesnya. Di acara saya ini, terlalu banyak keinginan orang yang pengin ikut campur ngacak-ngacak suasana. Dipikirnya care, tapi justru bikin saya sedih. Katanya, sekali seumur hidup, nggak apalah menuruti keinginan mereka. Justru itu, sekali seumur hidup justru saya pengin membuatnya sebagai suatau event yang meninggalkan kesan baik bagi perjalanan hidup saya. Saya nggak mau terlalu banyak interupsi. Saya mau yang sederhana, sakral, dan berkesan.

Tapi ya sudahlah, itu hanya selintas prosesnya. Yang penting adalah saya menikah untuk siapa dan karena apa. Saya memutuskan untuk menikah bukan karena tetangga-tetangga saya. Saya hanya ingin beribadah. Beribadah dan mengumpulkan berkah agar berdampak bahagia dalam hidup saya dan keluarga besar juga masyarakat sekitar. 

1 comment:

  1. Manten kok disuruh2? Hadech,, ini yg bikin stress di hari pernikahan ya, terlalu banyak yg ngatur ini itu, bsk saya kalo nikah ala kami berdua aja ahh. Semoga ga ada pihak yg ikut ngatur. Bikin pengumuman aja, siapa yg ngatur acara wajib kasih sumbangan paling gede😁. Nah lo..

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<