Wednesday, August 9, 2017

Kenali Hepatitis, Silent Killer yang Dapat Dicegah dan Diatasi

E for Eliminasi (Foto: Anonim)


Kesehatan (Kemenkes) RI semakin serius mengejar taget SGDs eliminasi hepatitis C pada 2030. Pasalnya penyakit hepatitis merupakan masalah besar bangsa ini dan pembunuh nomor dua setelah tuberculosis. Berdasarkan data Kemenkes, ada sekitar 2,9 juta penduduk Indonesia yang mengidap penyakit hepatitis.


Saya bersama Tapis Blogger menghadiri undangan Kementerian Kesehatan RI dalam acara Temu Blogger dalam rangkaian kegiatan Peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-8  dengan tema “Eliminasi Hepatitis Menuju Keluarga Sehat, Selamatkan Generasi Penerus Bangsa” di Hotel Asoka Luxury, Sabtu (29/7/2017). Hari Hepatitis Sedunia yang ditetapkan setiap tanggal 28 Juli,  hari dimana Baruch Samuel Blumberg sang penemu virus Hepatitis B lahir.

Kami menyimak presentasi Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. H.Muhammad Subuh yang diwakili oleh dr. Wiendra Wororuntu dan dr. Rhino Ghani. Sesi diskusi merupakan sesi yang paling seru karena kebanyakan peserta sangat dekat dengan penyakit ini. Entah keluarganya ada yang menderita hepatitis atau dia sendiri adalah pengidap penyakit berbahaya ini.

Tentang Hepatitis dan Jenis-jenisnya

Hepatitis adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh peradangan sel-sel atau organ hati yang disebabkan oleh bakteri, virus, proses autoimun, obat-obatan, perlemakan, alkohol dan zat berbahaya lainnya. Sedangkan hati atau liver adalah organ tubuh yang berfungsi mengatur metabolisme, membuat protein, menyimpan vitamin dan zat besi, mengeluarkan racun dan memproduksi empedu. Maka jika hati tak berfungsi dengan baik, dapat dipastikan akan terjadi ketidakseimbangan dalam tubuh sehingga mengakibatkan penyakit serius bahkan kematian. 

World Hepatitis Day is recognized annually on July 28th, the birthday of Dr. Baruch Blumberg (1925-2011). Dr. Blumberg discovered the hepatitis B virus in 1967 and two years later developed the first hepatitis B vaccine and for these achievements won the Nobel Prize.
(www.cdc.gov)

Penamaan jenis penyakit hepatitis bukan berdasarkan fase-fasenya tapi berawal dari penemuan virus hepatitis oleh Blumberg. Maka penyakit tersebut diberi nama hepatitis B. Selanjutnya ditemukan lagi virus berbeda. Jadi tidak ada kaitan antara hepatitis A dan B karena bukan dari hepatitis A dan menjadi parah menjadi hepatitis E. Berikut penjelasannya.

1.     Hepatitis A

Penyakit ini banyak diderita oleh anak kos atau pekerja keras dengan pola makan dan hidup yang tidak teratur. Hepatitis A merupakan penyakit infeksi hati yang menular melalui makanan/minuman yang tercemar  VHA yang berasal dari tinja penderita. Hepatitis A bersifat self limiting  (sembuh sendiri) dan tidak menjadi kronis. Namun walau demikian, tetap saja harus dicegah sedini  mungkin dengan cara memasak makanan dan minuman sampai matang,  membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan pemberian imunisasi Hepatitis A.

Gejala awal penyakit ini mungkin sedikit mirip dengan penyakit tipes. Mulai dari demam, lesu, nafsu makan rendah, mual, nyeri pada perut bagian kanan atas, hingga air seni berwarna seperti teh dan  terus (warna kekuningan pada mata dan kulit). Kata dr. Wiendra, hepatitis A pada umumnya menyerang sekali dalam seumur hidup.

2.     Hepatitis B

Penyakit hati yang disebabkan virus Hepatitis B, 80 % menjadi kronik. Penyakit ini ditularkan melalui darah, sperma, air iur dan cairan otak. Kelompok yang lebih beresiko terkena peyakit ini adalah  bayi dari ibu penderita Hepatitis B, mereka yang bekerja dengan darah dan produk darah, pengguna jarum suntuk tidak steril, pengguna tattoo, tindik, pisau cukur, pasangan homosex, sering berganti pasangan.  Penyakit ini dapat dicegah dengan segera memberikan imunisasi setelah bayi lahir (sebelum 12 jam), lanjutkan 3 dosis pada usia 2, 3 dan 4 bulan.

Gejala penderita Hepatitis B hampir sama dengan Hepatitis A, namun banyak yang terlambat mengetahuinya. Bisa jadi karena menganggap remeh, atau juga karena tak tahu. 

We examined the associations between hepatitis B virus (HBV) or hepatitis C virus (HCV) infection and the development of diabetes in a cohort (N=439,708) of asymptomatic participants in health screening examinations. In this large population at low risk of diabetes, HBV and HCV infections were associated with diabetes prevalence and HBV infection with the risk of incident diabetes. Our studies add evidence suggesting that diabetes is an additional metabolic complication of HBV and HCV infection
(Hong et al, 2017).

                        3.       Hepatitis C

Penyakit ini kebanyakan menular melalui darah. Sebelumnya, transfusi darah bertanggung jawab atas 80% kasus hepatitis C. Kini hal tersebut tidak lagi terjadi berkat kontrol yang lebih ketat dalam proses donor dan transfusi darah. Virus ditularkan terutama melalui penggunaan jarum suntik untuk menyuntikkan obat-obatan, pembuatan tato dan body piercing yang dilakukan dalam kondisi tidak higienis.

Penularan virus hepatitis C (HCV) juga dimungkinkan melalui hubungan seksual dan dari ibu ke anak saat melahirkan, tetapi kasusnya lebih jarang. Seperti halnya pada hepatitis B, banyak orang yang sehat menyebarkan virus ini tanpa disadari.

Gejala hepatitis C sama dengan hepatitis B. Namun, hepatitis C lebih berbahaya karena virusnya sulit menghilang. Pada sebagian besar pasien (70% lebih), virus HCV terus bertahan di dalam tubuh sehingga mengganggu fungsi liver.

4. Hepatitis D

Pola penularan hepatitis D mirip dengan hepatitis B. Diperkirakan sekitar 15 juta orang di dunia yang terkena hepatitis B (HBsAg +) juga terinfeksi hepatitis D. Infeksi hepatitis D dapat terjadi bersamaan (koinfeksi) atau setelah seseorang terkena hepatitis B kronis (superinfeksi).

Orang yang terkena koinfeksi hepatitis B dan hepatitis D mungkin mengalami penyakit akut serius dan berisiko tinggi mengalami gagal hati akut. Orang yang terkena superinfeksi hepatitis D biasanya mengembangkan infeksi hepatitis D kronis yang berpeluang besar (70% d- 80%) menjadi sirosis.

Belum ada vaksin untuk virus HBV. Tapi kalau sudah divaksin hepatitis B maka insyaa allah nggak akan ada yang D karena biasanya virus ini nggak bisa hidup tanpa virus hepatitis B.

5.     Hepatitis E

Virus ini mirip dengan hepatitis A. Virus hepatitis E (HEV) ditularkan melalui kotoran manusia ke mulut dan menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tingkat tertinggi infeksi hepatitis E terjadi di daerah bersanitasi buruk yang mendukung penularan virus.

Hepatitis E menyebabkan penyakit akut tetapi tidak menyebabkan infeksi kronis. Secara umum, penderita hepatitis E sembuh tanpa penyakit jangka panjang. Pada sebagian sangat kecil pasien (1-4%), terutama pada ibu hamil, hepatitis E menyebabkan gagal hati akut yang berbahaya. Saat ini belum ada vaksin hepatitis E yang tersedia secara komersial. Anda hanya dapat mencegahnya melalui penerapan standar kebersihan yang baik.

Pencegahan Hepatitis

“Ada seorang pasien dengan hepatitis B datang ke saya. Dia cerita kalau pernikahannya yang tinggal dua minggu lagi dibatalkan oleh pihak laki-laki karena pasien menderita hepatitis B,” cerita dr. Rhino.

Padahal penyakit hepatitis dapat dicegah dan diatasi dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Imunisasi Hepatitis B (HBO) kurang dari 24 jam setelah bayi Iahir, dilanjutkan vaksinasi HB 1,2 dan 3. Kemudian pemberian hepatitis B immunoglobulin (HBIG) pada bayi yang lahir dari ibu yang kurang dari 24 jam setelah kelahiran dan menggerakkan masyarakat imunisasi Hepatitis B, dan melakukan imunisasi Hepatitis B secara mandiri.

Selain itu, kita juga perlu melakukan Deteksi Dini Hepatitis, khususnya bagi ibu hamil dan kelompok berisiko, melakukan pengobatan yang tepat pada penderita Hepatitis dan meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan. Kelompok beresiko ini siapa? Ada tenaga kesehatan, keluarga dengan penyakit hepatitis dan orang-orang yang hidup di lingkungan tidak sehat.

Deteksi dini hepatitis dihargai senilai Rp. 1,5 juta. Cukup lebih murah daripada penyakit-penyakit lainnya. Di beberapa faskes juga bisa dilakukan deteksi dini menggunakan fasilitas BPJS. So, perlu ditanyakan juga apakah faskes di sekitar kita sudah bisa melayani deteksi dini hepatitis  dengan BPJS.

1 comment:

  1. Lumayan ya biayanya tapi demi kesehatan oke banget deteksi dini Hepatitis

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<