Monday, September 25, 2017

Kenapa Dosen Harus Ngeblog?


Sebagai akademisi, tentu kita harus menulis. Makalah atau jurnal yang kita tulis memang butuh sentuhan SEO. Eh ada yang nggak tau SEO rupanya, Search Engine Optimation. Jadi tulisan kita bisa lebih gampang dicari karena lebih SEO atau google-friendly sih kalau bahasa saya. Orang akan menemukan tulisan kita hanya dengan memasukkan keyword tertentu. Nah, kalau orang sudah nemu tentunya akan menyitasi tulisan kita. Bukan sekedar keyword, template juga ternyata berpengaruh dalam pencarian makalah. Saya juga dapat bocoran dan tools yang memudahkan dalam penulisan makalah. Ini mungkin akan saya tulis lain waktu. 

So much drafts killing meeee -______-


Beruntung sekali saya mendapat kesempatan untuk bertemu Pak Dasapta Erwin Irawan. Seorang geologist dan dosen di ITB yang sudah malang melintang di dunia perjurnalan. Saya bertemu beliau pertama kali Sabtu (23/9/2017) lalu dalam kesempatan Mobilisasi Dosen Pakar/Ahli dalam sesi penulisan jurnal ilmiah di kampus ITERA tercinta. Sayangnya saya kurang fokus belajar di kelasnya karena harus bolak balik mengurusi persiapan kegiatan hari Minggu.


Pertama kali saya mengenalnya sebenarnya di dunia internet. Saya juga pernah menemukan akun twitternya beberapa waktu lalu, tapi dianteupkeun. LOL. Maaf ya, Pak. Dan sebelum belajar di kelas kami diberi link-link blognya dan akun-akun media sosial lainnya yang ternyata isinya sarat materi pelatihan. Sungguh berfaedah ya Pak aktivitasnya di dunia maya. Saya jadi merasa sangat left behind gitu. Selama ini blog saya isinya curhatan meski pun ada beberapa yang viewnya terus melonjak dan tampak berfaedah. Mungkin saya akan serius di kemudian hari, Pak. Pegang janji saya.

Dulu saya kenal dengan #dosengalau yang selalu cerita tentang perdosenan. Nah, kalau saya dengan tag #Bloggerlecturer semoga bisa menyeimbangkan antara dunia nyata di kampus, berbagi ilmu secara langsung, maupun sharing di media sosial termasuk blogger.Nggak peduli omongan orang tentang klasifikasi blogger remah rempeyek, remah oreo atau remahan cheese cake. Yang penting ngeblog mah jalan terus karena biar gimana pun tulisan kita akan menemukan sendiri penikmatnya.

Pak Erwin sempat bilang bahwa beliau salah jurusan karena paham tentang seluk beluk makalah hingga jurnal. Menurut saya itu bukan salah jurusan, itu justru potensi untuk melejit. Semua orang pasti punya passion. Seperti saya yang selalu punya passion di dunia jurnalistik dan new media.

Pertama kali yang membuat saya merasa sepemikiran dan cocok dengan Pak Erwin ini adalah ketika beliau berbicara tentang menulis di blog. Apa yang mau kita tulis, tulis aja. Apapun bisa jadi tulisan dan nyatanya tulisan-tulisannya di blog sudah mengundang banyak pembaca, eh at least banyak viewer karena beliau memperlihatkan page viewnya yang mencapai ribuan. 



Ceramahnya seperti mengamini pemikiran saya bahwa saya harus menulis apapun yang terjadi karena... yeah inilah prasasti kita. Pak Erwin juga sempat bicara kalau seandainya author-author dalam jurnal itu meninggal sementara tulisannya tidak open source sehingga kita harus membayar untuk membeli tulisannya atau mengirimkan email gimana? Ya, udah gitu pas kita dapat ternyata tulisannya nggak cocok dengan apa yang kita mau. Jadi ya udah sih, buat aja tulisan terbuka. At least di blog.

Sebelumnya saya pernah nggak sepakat dengan salah satu dosen di Unila yang memberikan materi tentang hal serupa dalam kesempatan PEKERTI beberapa waktu lalu. Kata-katanya sangat  nggak cocok dengan pemikiran saya yang waktu itu bertanya tentang tulisan populer di media massa. Ya, saya masih tetap ingin terus menulis di media masa. Berhasil mengisi kolom opini di koran nomor satu dan diterbitkan seperti orgasme otak yang memuaskan nafsu saya. Apa yang lebih memuaskan selain uneg-uneg, keluhan, pemikiran dapat dikonsumsi oleh khalayak? Hingga pada akhirnya dikritisi, ditanggapi, didukung bahkan dicaci maki.


Dosen Unila itu mengatakan bahwa nggak ada gunanya nulis di koran, begitu juga dengan pengabdian. Nggak usah dibanyak-banyakinlah pengabdian. Begitu kurang lebih perkataannya. Jelas itu langsung mengebiri pemikiran saya yang liar. Pemikiran saya nggak bisa terkungkung dalam suatu  koridor bernama kum. Kum ini sudah seperti dituhankan. Dipuja dan dikejar. Demi kum kita harus menulis jurnal, kita harus menulis buku. Bahkan modul nilainya sangat kecil jadi kejar saja yang nilainya besar. Begitu kira-kira. Saya patah hati seketika.

Apakah semua pekerjaan yang kita lakukan di dunia ini hanya demi nilai? Dimanakah arti ketulusan? Saya masih menganut prinsip tanam-tuai dimana saya harus melupakan apa-apa yang telah saya lakukan bagi orang lain karena saya yakin akan ada balasan dari Tuhan di hari kemudian lewat jalan yang tak disangka-sangka. Kum adalah syarat kenaikan pangkat yang pada ujungnya adalah kenaikan penghasilan. Sementara berbagi membuat kita akan semakin kaya dan terus mengeksplorasi diri. Hanya orang-orang tamak yang mengejar kum semata. Dan hidup kita masih banyak ranting yang terus tumbuh dan menjalar ke segala arah.

"Bebaskan kreativitas! Jangan dulu pikirin pangkat apalagi scopus!" kata Pak Erwin.

Orasi Pak Erwin yang santai tapi bernas berhasil menggugah ghiroh menulis inilah yang penting. Menulis adalah melatih koordinasi otak, mata, telinga dan jari. Menulis paling mudah adalah blogging. Genenasi kalian harus jadi generasi pemutus, katanya. Ini mirip kata-kata di blogpost saya beberapa bulan lalu. Kata-kata yang selalu menjadi booster untuk berbuat lebih.

Baca juga: Sang Pemutus

So, daripada hanya menunggu kabar dari jurnal terindeks scopus yang antriannya mengular lebih-lebih daripada antrian diskonan J-co mending bebaskan pemikaranmu. Biarkan dia lepas bebas. Biarkan orang mengonsumsinya. Biarkan pikiranmu terus berkembang dan bertumbuh. Hidup kita bukan sesempit kenaikan pangkat atau sertifikasi, Dudes. Ada hal lain yang harus kita kejar lebih dari itu.

Ya udah gitu di jurnal cuma jadi penulis kelima, nunggunya lima tahun pula. Itu kan sakit banget kayak ditolak kecengan di depan mantan. Buat media sosial jadi bermanfaat. Bisa dari komentar-komentar yang seliweran dijadikan itu postingan di blog biar lebih berfaedah.

21 comments:

  1. Wow tulisannya full spirit banget. Aku setuju mba dgn mba ran pak erwin ini, jangan sampai pikirkan kita sempit hanya terpaku pada meraup keuntungan semata. Masih bnyak hal yang bisa kita lakukan untuk berbagi, toh ilmu kit gk akan bekurang malah semakin kaya dgn ilmu yg lain dgn cara berbagi. Yukk sellau buat kreativitas tanpa batas.

    ReplyDelete
  2. Setuju pakai banget dengan state ini: Yang penting ngeblog jalan terus no matter what happen karena pada alirannya tulisan kita akan menemukan sendiri penikmatnya sekaligus kita bisa menikmati prosesnya.

    ReplyDelete
  3. Kenapa dosen harus ngeblog?
    Kenapa ibu rumah tangga harus ngeblog?
    Dulu juga sempat buming ada pernyataan "guru go blog"

    Kenapa harus ngeblog? Ini yang menjadi daya tarik.

    Tulisannya bagus menginspirasi. Ubah motovasi blog sama dengan uang menjadi blog adalah menulis.

    ReplyDelete
  4. pada akhirnya tulisan kita juga merupakan amal jariah bagi orang yang mencari ilmu tersbut...

    sungguh greget juga kalau saya bisa berkenal dengan beliau yang katanya salah jurusan .

    tapi setuju juga sama penulis yang bilang tidak ada salah jurusan.. melainkan itu nilai lebih bagi kita untuk terus maju....

    ReplyDelete
  5. Hahaha masuk jurnal internasional emangg susah hehehe makanya kitabharus semangat.
    Menulis di blog memang berfaedah selain memberi manfaat, bikin kita terbiasa menulis

    ReplyDelete
  6. Setidaknya dengan ngeblog, seorang dosen dapat menyuarakan pikirannya yang kritis dan terbuka agar dapat dibaca oleh khalayak, tanpa perlu menunggu verifikasi ini itu seperti menulis di jurnal atau menerbitkan paper.

    ReplyDelete
  7. Biarkan orang mengonsumsinya. Biarkan pikiranmu terus berkembang dan bertumbuh. Suka dg kalimat ini

    Kalau udah cinta nulis ya biarin aja, urusan nanti belakangan

    Jadi beliau yg namanya dosen galau. Semoga mahasiswanya gak ikut galau

    ReplyDelete
  8. Menulis jurnal dan ngeblog itu menurut saya 2 hal yang berbeda. Jurnal tentu harus berdasarkan fakta dan data. Sementara blog justru lebih bebas dan liar. Kita ga mesti harus terikat aturan yang mengekang. Meskipunlebih bebas tapi ngeblog juga ga bisa sembarangan.

    Knowledge is worth to spread. Begitu kata TED Ed. Slogan mereka di channel youtube. Jadi ga ada salahnya membebaskan pengetahuan ke semua orang biar yang lain juga kebagian ilmunya juga. Karna katanya, semakin kita berbagi ilmu semakin banyak yang kita dapat hehe

    ReplyDelete
  9. Iya.. Sudah seharusnya dosen barus ngeblog. Sehingga semua materi perkuliahannya terarsip dengan rapi dan mahasiswanya pun bisa akses. Sehingga wktu jam perkuliahan dgn dosen yg bersangkutan tinggal memperdalamkan.

    ReplyDelete
  10. Aiiiiih kece bangeeet

    Aku tuh pernah berkhayal, pengen jadi dosen,tapi tetap ngeblog. Tapi yaaaa tentunya gaya bahasa dan konten blog akan lebih serius lagi, lebih terjaga lagi, nggak kayak sekarang yang asal seblah dan asal publish, hehehe


    Aku juga berencana untuk publish skripsiku di blog. Biar bisa diakses siapapun, supaya gak kesusahan kayak aku dulu, hahaha

    ReplyDelete
  11. Keren sih ini, karena dengan menulis blog, segala keluh kesah bisa diungkapkan secara gamblang ya.

    Yang nggak bisa diungkapkan di tempat lain, tapi masih ada media bernama blog untuk mencurahkannya. Dan nggak tau juga siapa yang bakal terinspirasi sama tulisan kita, yang penting tetap menulis. Hokyah.

    ReplyDelete
  12. Yas motivasi banget, tulis aja dulu semua yang ada di kepala dan biarkan semua kreativitas mengalir, siapa tahu banyak orang yang jadi ikut terinspirasi. Saya juga punya dosen yang punya blog yang isinya juga nggak melulu akademik, katanya jadi buat penyeimbang gitu.

    ReplyDelete
  13. karena semua harus menulis, dan blog adalah salah satu tempat berbagi ilmu. berbagi ilmu ga harus di kelas lho heheheee

    ReplyDelete
  14. Iya saya paling salut kalau ada seseorang dengan profesi khusus ngeblog dan sharing ilmunya di blog. Gak cuma dosen sih mbk, guru, dokter, bidan, saya suka banget. Soalnya yg ditulis pasti bukan hoax dan emang sesuai bidang ilmunya, kalau nichenya sesuai profesinya itu ya...

    ReplyDelete
  15. Suka sekali kalo orang berilmu tapi gak pelit ngasih ilmunya gratis dan gak takut di copas ..


    Ada juga yg nge-share ..bikin modul..harus beli..., Ngomong dikit harus bayar..dll

    ReplyDelete
  16. Menulis di blog itu ibarat memahat sejarah hidup kita. Syukur-syukur tulisan tersebut bisa dibagi dan bermanfaat untuk orang banyak.

    ReplyDelete
  17. sebenarnya ada dua sisi jika dosen / peneliti itu ngeblog mba.. memang benar menulis semua hasil di blog itu akan mudah dibaca dan dibagikan ke orang lain daripada harus nulis di scopus / situs jurnal ilmiah gitu.. tapi mungkin di sisi lainnya nanti dosen tersebut tidak akan mendapatkan pengakuan secara akademis mba.. ya simalakama sih hehe..

    tapi setuju sih dosen bikin blog, biar mahasiswanya bisa mengetahui karakteristik kepribadiannya hehe

    ReplyDelete
  18. wah gila nulis jurnalnya udh sampe internasional ajib juga tuh. Akan tetapi, dosen perlu mengasak tulisannya melalui blog itu bagus loh biar makin mantab tulisannya.

    Apalagi kalo dosennya punya pengalaman yang banyak terus di tulis kedalam sebuah rangkaian kata dai dipublish di blog lalu disebar ke mahasiswanya.

    Pasti mahasiswanya dapat terinspirasi deh dengan kisah pengalaman dosen tersebut

    ReplyDelete
  19. Memang penting dosen membuat blog, karena dosen adl panutan mahasiswanya. Kl dosennya ngeblog pasti beberapa mahasiswanya ada yg ikutan ngeblog.

    ReplyDelete
  20. Sebenarnya saya malah baru ketemu ini...dosen nge-blog.
    Karena saya lahir dan besar dari keluarga PNS (guru dan dosen) makanya saya tahu banget kesibukan para dosen inih...

    Kaka pertama saya dosen di ITS. Mengeluh karena beban dosen bukan hanya mengajar ((yang sebelumnya menyiapkan bahan ajar dan lain-lain) tapi juga membuat laporan tertulis, penelitian dan mencari project untuk dikerjakan mahasiswa.


    masha Allah...
    dan kakak saya ini selalu pulang jam 10 ke atas.

    Jadi kalau mba Rinda bisa sembari nge-blog...ini jagoan bangeet...
    **kagum, mba Rin...


    Semangat terus yaa...

    ReplyDelete
  21. Dijawab mamaku: iya ya, mama udah lama enggak nulis.
    Jangankan disuruh ngeblog, kum pun lupa diurus, efek beberapa tahun terakhir hijrah ke Bandung demi membantu usaha keluarga.

    Eh tapi alasan menulis memang beragam sih. Demi uang atau demi hati? Aku sih mau dua-duanya.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<