Monday, October 9, 2017

Perbaiki Supply Chain dan Gandeng Swasta, Indonesia Tekan Ketimpangan Ekonomi



Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada tahun 201 6 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 58,49 persen - Data BPS (2017)


Ketimpangan merupakan masalah seluruh masyarakat di dunia, termasuk Indonesia. Untuk menyelesaikannya harus jelas dulu identifikasi masalahnya seperti apa. Hal memang sudah terjadi sejak jaman kolonial, orde lama, orde baru, bahkan di masa demokrasi sekarang ini.

Diketahui dari data BPS, bahwa angka ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur dengan Gini ratio/ rasio Gini pada Maret 2017 bergerak stagnan sebesar 0,393. Angka tersebut sebenarnya turun, tetapi penurunannya sangat kecil yakni hanya 0,001 poin jika dibandingkan dengan rasio gini September 2016 yang mencapai 0,394. Jika dibandingkan dengan rasio Gini Maret 2016, penurunan mencapai 0,004 poin dari 0,397.

Apa sih penyebab adanya ketimpangan? Lemme try to identified, karena adanya perbedaan income, kesempatan dan akses terhadap uang, teknologi, informasi yang menyebabkan kesenjangan kesejahteraan. Hal ini juga timbul akibat adanya perspektif gender dan lingkungan fisik dan juga aset yang dimiliki.

Sejak beberapa bulan lalu, blogpost saya sering menyinggung tentang ketimpangan ini. Lalu apa sih pentingnya mengurusi tentang hal ini? Why so important?

Tentu saja penting. Hal ini erat kaitannya dengan ketidakstabilan sosio-politik di negara kita. Bayangkan saja, negara Indonesia sudah miskin (we not talking about natural resources yaaaaa) ketimpangan ekonominya tinggi pula. Ini dapat menyebabkan konflik yang tentunya kelak menghambat pertumbuhan negara. Selanjutnya, dengan adanya ketimpangan akan muncul lebih banyak hambatan dalam lingkungan bisnis, birokrasi yang memberatkan UKM, dan investasi.

Konon menurut beberapa ahli, sistem perekonomian di Indonesia memang rentan menyebabkan ketimpangan. Tentunya Indonesia tidak dapat lepas dari pengalaman masa lalu. Akibatnya, sejumlah kecil dunia usaha menjadi sangat dominan dan menguasai pasar dan akses terhadap teknologi dan informasi. Sementara sebagian besar UKM ynag dibangun dari grassroot mempunyai akses yang lebih terhadap sumber daya tersebut. UKM biasanya mempunyai kelemahan dalam pembiayaan, teknologi, kemampuan manajerial, produktivitas hingga kealpaan pengetahuan dan akses terhadap regulasi dan hukum secara umum. Sistem ekonomi semacam ini mengakibatkan adanya rantai pasok atau supply chain hanya dimiliki oleh kelompok tertentu. Sistem supply chain di luar konglomerasi sangat lemah.

Dalam kesempatan pertemuan dengan Menteri Bappenas seusai menerima penghargaan Adikarsa Mahatama di kampus Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Jumat (6 Oktober 2017) saya mengutarakan pendapat tentang buruknya supply chain dan value chain di Indonesia yang menyebabkan gap antara penduduk di Jawa dan luar Jawa menjadi sangat tinggi. Hal itu diamini oleh Pak Bambang Brodjonegoro, itulah mengapa pemerintah saat ini tengah fokus membangun infrastruktur.

Sebenarnya pemerintah telah berusaha sangat keras untuk menurunkan angka ketimpangan ini. Struktur perekonomian di Indonesia yang masih didominasi oleh masyarakat di Pulau Jawa salah satunya adalah karena konektivitas. Di pulau Jawa, manajemen rantai pasok atau supply chain sudah lebih baik daripada daerah di luar Jawa. Untuk itu pemerintah membangun konektivitas yang mampu menghubungkan wilayah timur dengan bagian barat. Dengan konektivitas yang lebih baik, kawasan timur Indonesia akan dapat merasakan dinamika pembangunan yang telah dilakukan di wilayah barat Indonesia dan tengah seperti di Pulau Jawa.

Kedua, pemerintah juga membangun sentra ekonomi di luara Jawa. Dengan membangun zonasi-zonasi industri di luar Jawa akan mampu mengurangi biaya logistik. Selama ini harga kebutuhan pokok di luar Pulau Jawa lebih tinggi. Apalagi di pelosok, sudahlah harganya tinggi, langka pula.

Ketiga, meningkatkan peran serta swasta dalam pembangunan ekonomi dengan penciptaan lapangan kerja. Keberadaan usaha kecil dan menengah akan mampu mengatasi permasalahan supply chain dan value chain. Sebenarnya fokus bahasan utama supply chain adalah adanya kolaorasi dan koordinasi lintas organisasi, fungsi, kepentingan, hingga lokasi demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat secara efektif dan efisien.

Adanya kesenjangan antara usaha kecil dan besar di Indonesia utamanya disebabkan kelemahan dalam pengembangan rantai nilai atau value chain dan supply chain. Supply chain dibentuk oleh usaha besar, dengan mampu menguasai pemasaran, mereka mengembangkan produksi hingga menjadi vertikal integrasi. Menurut saya, akan lebih baik jika UKM dari berbagai sektor diintegrasikan dengan usaha yang sudah lebih besar dan menguasai pasar.

Aspek yang sangat dibutuhkan dalam supply chain manajemen adalah reliability (Handal), responsiveness (cepat tanggap), agility (Fleksibel dan Adaptif), process efficiency (kemampuan untuk efisiensi biaya) dan asset productivity (kemampuan untuk memaksimalkan produktivitas dan revenue dengan meminimalkan penggunaan aset). Aspek reliability, responsiveness dan agility merupakan aspek-aspek supply chain dari sisi kepentingan pelanggan, sementara process efficiency dan asset productivity lebih merefleksikan kepentingan perusahaan.

Dalam aktivitas supply chain, ada lima proses utama yang tidak bisa dilepaskan. Aspek tersebut adalah planning, procurement, production, distribution dan handling returns. Dengan adanya pemahaman antara aspek yang melingkupi proses dalam supply chain, maka upaya untuk menekan angka ketimpangan harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi dengan menggandeng pihak swasta seperti yang sebelumnya saya katakan. Saya optimis bahwa upaya ini akan lebih berdampak nyata daripada sekedar memberikan bantuan atau pun subsidi. Dengan demikian masyarakat akan bangkit dan sadar bahwa tingkat ekonomi mereka adalah tanggungjawab untuk mereka perjuangkan. Dengan adanya dukungan jalan dari pemerintah tentu akan membuka mata dan membuncahkan semangat bagi masyarakat.

19 comments:

  1. "Struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada tahun 201 6 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 58,49 persen - Data BPS (2017)"

    itu tuh yang membuat urbanisasi semakin menjadi :D

    baca tentang supply chain aku jadi ingat tentang cita-cita kuliah di jurusan supplay chain management, sayang belum kesampaian

    *jadi teringat masa lalu

    ReplyDelete
  2. Yes.. Ketimpangan alias gap antara kaya dan miskin memang peer besar. Bukan soal pertumbuhan ekonomi saja, kalau ekonomi tumbuh, tapi yang nikmati yang itu-itu aja kan ga bener.

    ReplyDelete
  3. Sampai sekarang ketimpangan itu tetap ada, di aceh saja tanah yang kaya masih banyak masyarakat miskin tingfal dirumah tsk layak begitu juga sarsna pendidikan dan infrastruktur

    ReplyDelete
  4. jangankan luar pulau Jawa, di Jawa pun masih terasa ketimpangan antar kota dan provinsinya, belum lagi penyelewengan dana pemerintahnya.

    ReplyDelete
  5. Ketimpangan ini sulit diseimbangkan (bukan berarti tidak mungkin).

    Tapi ini persis sekali seprti hukum Kimia yang mempelari tentang elektron. Bahwa yang kaya akan cenderung lebih kaya karena dia selalu menerima donor elektron, sedangkan yang miskin semakin miskin karena mendodnorkan elektronnya.

    Dan bagaimana penjelasan dari sisi ekonom?

    ReplyDelete
  6. Jadi, harus bagaimana jika ingin mereduksi ketimpangan yang terjadi di antara pulau Jawa dan pulau yang lainnya?

    Mungkin menurut saya, perbaikan infrastruktur akses transportasi bisa mereduksi ketimpangan tsb. Ya seperti yg sudah dilakukan pemerintah saat ini, perihal pembangunan jalan lintas papua itu diharapkan mampu mereduksi ketimpangan tsb, khususnya ketimpangan ekonomi. Semakin mudahnya akses transportasi tentu akan memperlancar perputaran ekonomi suatu daerh. Dan ini yg sedang digalakkan pemerintah..

    ReplyDelete
  7. makanya sekarang pemerintah gencar banget ya buat membangun infrastruktur di luar jawa. ya soalnya mereka butuh jalan yang mulus dan terhubung untuk memudahkan akses dan mobilitas.

    untuk ukm yang bisa dionlinekan juga, mereka butuh wifi yang kenceng, tapi apalah daya tower-tower tak sanggup menyambungkan diri karena lokasi sangat jauh dan medan sangat susah.

    semoga setelah pembangunan infrastruktur selesai, maka kita bisa menyelesaikan misi selanjutnya, yaitu membangun mindset dan kepribadian masyarakat

    ReplyDelete
  8. Ia nih gap antara kaya-miskin di Indonesia terasa banget. Terus meskipun sudah otonomi daerah tetap saja pembangunan dan pendidikan masih lebih tinggi di Jawa. Untungnya sekarang pemerintah sudah ngeh dan mulai gencar membangun infrastruktur di luar Jawa ya... Pemindahan Ibu Kota juga berperan nanntinya

    ReplyDelete
  9. wah. luar biasa penjelasannya. aku ngerasa lagi ngebaca materi kuliah. supply chain memang jadi masalah sih sehingga efektif dan efisien untuk mencapai optimal agak susah dicapai. tapi aku yakin ama kekuatan perekonomian Indonesia saat ini.

    ReplyDelete
  10. Aku sekarang lagi tinggal di kampung, perbatasan jawa timur dan jawa tengah... Kentara banget ketimpangan ekonomi jika dibandingkan saat aku berada di Salatiga, karena jalan menuju ke kampung ini ampuuunnn... Mau beli online pun harganya mahal. 😭

    Ini masih di pulau Jawa, nggak terbayangkan yang di luar jawa.

    ReplyDelete
  11. Aku di Jawa, tp kdg harga jg gak slalu stabil. Ada permainan, apalagi buat orang yang berduit

    Tp beruntungnya di desa itu kalaupun gak punya uang, bs lah makan sama sayur tanam sendiri. Jd kalau ada sayur naik, woles aja

    ReplyDelete
  12. aku sepakat banget, terjadi gap antara penduduk di Jawa dengan di luar Jawa. Ketika pemerintah sekarang mencabut subsidi listrik dan mengalihkan anggaran untuk fokus bangun luar Jawa, sayangnya malah banyak yg enggak setuju. Lalu teriak2, semua seakan salah presidennya. Itu apa enggak mikir, andai kita tinggal di luar Jawa, bahkan untuk nyari internet aja sulit.

    ReplyDelete
  13. Ketimpangan jelas sih ada banget. Dan gak tanggung-tanggung. Perusahan-perusahaan besar itu gak mungkin tumbang sama usaha kecil menengah. Yang ada malah dimonopoli. Bagaimana tidak, banyak perusahaan besar yang tersebar berbagai produk dan jasa tapi sebenarnya induknya cuma satu. Segala sektor sudah hampir dikuasai segelintir perusahaan adikuasa. Sulit kalau mau menyeimbangkan ketimpangan. Yang menurutku perlu didahulukan adalah mental rukun. Hwehehehe

    ReplyDelete
  14. Kemiskinan di negeri ini masih bisa terlihat di mana-mana. Kesenjangan antara yang miskin dan kaya masih terlihat timpang. Sendainya ketimpangan itu,gak ada lagi,emtu saja,Indonesia akan menjadi negeri yang makmur

    ReplyDelete
  15. desaku di pulau jawa tapi daerah terpencil,masih merasakan ketimpangan dlm pembangunan,makanya aku merantau ke kota. Smoga pembangunan diindonesi semakin merata,agar seluruh bngsa indonesia merasakan kekayaan indonesia.

    ReplyDelete
  16. Iya sih, suka kasian sama daerah di luar jawa, blm dpt pembangunan yg merata. Semoga kedepannya bisa rata ya kak.

    ReplyDelete
  17. Dari dulu ketimpangan ga berakhir di negara ini.
    Mulai ekonomi, pembangunan dll
    Mng bener.. Antara jawa dan pulau lain nampak beda
    Semoga suatu saat bisa merata semuanya

    ReplyDelete
  18. Mbak iesp ya? Heheheh

    Tapi ketimpangan memang sudah menjadi masalah tersendiri. Maklumlah. Secara pembangunan dari dulu selalu untuk pulau jawa aja, belum merata, baru yg skg ini,merata. :)

    ReplyDelete
  19. Kayaknya udah dari dulu sampe sekarang masalah ketimpangan ini gak selesai-selesai. Pembangunan aja belum merata sampai ke desa-desa :( Di Indonesia timur lebih-lebih lagi...

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<