Monday, October 2, 2017

Proposal Penelitianmu Gagal Memenangkan Hibah? Mungkin ini Alasannya







Selamat Oktoberrrrrr!!! Sepertinya kedepan saya akan punya tag khusus  untuk postingan dengan tema perdosenan atau perkampusan deh. Ke depan semakin banyak rasanya hal-hal yang harus dibagi.


Kali ini saya pengin berbagi tentang materi pada pertemuan ketiga Mobilisasi Dosen Pakar/Ahli dengan Pak Adi Pancoro untuk sesi proposal penelitian. Kali ini beliau memaparkan tentang panduan Simlitabmas XI untuk persiapan proposal penelitian di 2018 mendatang. Yang saya akan ceritakan di sini adalah khusus untuk kampus binaan seperti kampus saya. Jadi ada beberapa catatan yang memang hanya berlaku untuk kampus binaan karena kami merupakan PTN Baru yang masih dibina oleh ITB.


Ada beberapa hal yang menyebkan gagalnya seorang peneliti mendapatkan suatu proyek penelitian. Diantaranya saya paparkan di bawah ini.

Ketidakmampuan pengusul menulis abstrak yang baik

Abstrak adalah koentji, sodara-sodara. Ini juga termasuk ketidakpiawaian pengusul dalam menulis judul. Judul dan abstrak adalah hal pertama yang akan dilihat sebelum reviewer membaca keseluruhan isi proposal. Terkadang ada ketidaksesuaian antara judul dan abstrak sehingga isi rencana penelitian tidak tersampaikan dengan baik.

Baca dulu buku panduan di sini: Buku Panduan Simlitabmas IX

Sebagai institusi dengan status binaan, ada beberapa keterbatasan yaitu secara pribadi pengusul karena golongan dan gelar. Pengusul dengan gelar master dan belum asisten ahli baru bisa mengajukan proposal penelitian dengan skema Penelitian Dosen Pemula (PDP). Setelah itu skema yang dapat diajukan adalah PKPT dengan bekerjasama dengan institusi lain. Ada pula PDD yang hanya bisa diambil sekali seumur hidup selama menjalani pendidikan doktoral.

Sering tergiur dengan pagu

Untuk menekan kegagalan jangan sekali-kali tergiur dengan pagu yang disediakan karena masing-masing rumpun ilmu punya pagu berbeda. Asalkan dalam tim ada yang punya kapasitas dalam rumpun ilmu itu.

Jadi ada yang namanya SBK atau Satuan Biaya Keluaran tiap tahunnya. Ini berbasis output. Jadi reviewer nggak akan melihat proses tapi hasil. Salah satu tips dalam menyusun anggaran adalah jangan rakus.

“Jangan greedy! Yang proporsional aja kalau mengajukan dana!” kata Pak Adi.

Relevansi peneliti dan judul nggak nyambung

Ini alasan dari pentingnya keseriusan dalam menulis CV yang biasanya diletakkahn di lampiran proposal. Terkadang ada orang yang record penelitiannya berbeda dengan rumpun ilmu yang diajukan. Nggak salah, tapi ini akan membuat pengusul gagal mendapatkan nilai sempurna.

Tidak mengikuti format yang telah ditentukan

Dalam proposal penelitian biasanya ada lembar pengesahan yang harus ditandatangani oleh tiga orang. Ketua peneliti, ketua prodi/jurusan, ketua LP3. Seringkali pengusul hanya memasukkan tandatangan digital atan bahkan hasil scan. Ini mencerminkan kalau pengusul tidak serius atau terburu-buru. Apalagi terkadang ada yang nggak distempel basah. Jadi semua tandatangan dan stempel basah baru kemudian discan. Begitu juga dengan tandatangan pada CV.

Ketika melihat bahwa format di lembar pengesahannya udah kelihatan nggak niat, maka reviewer enggan melanjutkan membaca proposal yang diajukan.

Penulisan judul yang kurang tepat

Seringkali judul ditulis “penelitian bla bla bla di Kota Lampung,” padahal hal yang diceritakan di judul sudah merupakan general knowlegde. Kecuali “menemukan fosil gajah di lampung...” karena ini spesifik atau kita menceritakan tanaman endemik, misalnya, maka harus dituliskan lokasinya.

Rencana target capaian tidak jelas

Buat rencana target capaian tujuan sesuai dengan skema penelitian. Yang harus diperhatikan oleh pengusul adalah tabel indikator kinerja penelitian. Konon tabel ini sering lupa diidi. Kalau PDP yang dicontreng luaran yang wajib aja dulu. Jangan semua dicotreng. Apalagi kalau skemanya hanya satu tahun. Sementara untuk Teknologi tepat guna (TKT) untuk 2017 nggak wajib tapi untuk tahun berikutnya harus ditulis. Untuk PDP, luaran tambahan sebaiknya tidak distate, fokus saja pada luaran wajib.

Selain itu rumusan masalah harus jelas. Secara umum penelitian harus memiliki dampak nasional meski pun hanya kecil aja. Hal ini harus di dukung oleh tinjauan pustaka yang baik.

Ini adalah koentji.
Kajian pustaka yang melandasi gagasan.

Nah, penyakit yang dialami oleh para pengusul ini adalah membuat proposal seperti membuat candi. Cuma semalam. Akibatnya tinjauan pustaka jadi sering asal-asalan. Parahnya lagi kalau pustaka yang disitasi udah nggak mutakhir lagi. Mutakhir di sini berarti ya sekitar sepuluh tahun ke belakang. Usahakan menggunakan jurnal, jangan text book.

Nah, setelah berhasil menyubmit proposal, pengusul sendiri akan melalui tahapan-tahapan ujian kehidupan. Mulai dari penilaian proposal secara desk atau daring atau online, setelah itu akan masuk kepada penilaian presentasi jika mungkin diadakan, terkadang ada juga kinjungan lapangan atau site visit, dan yang terakhir pengumuman.

Adapun persentase penilaian pada tahap desk evaluasi adalah sebagai berikut: 


1.       Perumusan masalah 25%
2.      Peluang luaran 25%
3.      Metode 25%
4.      Tinjauan pustaka 15%
5.      Kelayakan 10%
 



Si Reviewer juga punya tanggungjawab moral untuk memberikan komentar. Jadi reviewer harus memberikan komentar kenapa sih si proposal itu nggak lolos. Apa yang salah.

Pak Adi Pancoro mengusulkan bahwa ada baiknya, kalau di institusi kita punya grup. Di sana kita lakukan presentasi, lalu teman-teman memberikan nilai dengan betul. Untuk latihan. Ini hanya langkah awal untuk meyakinkan apakah kita sudah menulils proposal dengan baik. Jangan malu-malu untuk ngajak temannya. Dari sini kelihatan kalau penilaian dalam penulisan proposal harus ditampailkan dengan clear semuanya.

Semuanya punya pengalaman waktu menuis skripsi atau tesis. Secara garis besar semua proposal cara berpikirnya sama. Hanya luarannya yg berbeda.

Kepentingannya berbeda. Pemberi dana menginnginkan kita berlatih dengan adanya PDP. Bagaimana strategi kita agar bisa jadi pemain dalam skema perguruan tinggi. Ini menja di pemicu untuk kesempatan sekolah karena PDP hanya diberikan maksimal dua kali seumur hidup.

Sebagai informasi tambahan, semua proposal penelitian yang ditolak atau diterima punya alasan. Yang punya wewenang untuk mempertanyakan hal itu adalah ketua LP3 dengan mengirim surat resmi ke panitia seleksi.

Teman-teman ada tips lain nggak supaya proposal penelitian kita diterima? Share di kolom komentar, dong.


15 comments:

  1. research proposal oh research proposal. Saya sudah lama nggak menggeluti dunia akademik pernah harus bikin research proposal, minggu pertama komputer cuman dipelototin aja nggak tau mo mulai dari apa.

    ReplyDelete
  2. Tim kami menang yang >50juta Mbak Rindu, pertanggungjawabannya mumet banget hahaha *nangis darah*

    ReplyDelete
  3. kalau saya biasanya di topik RND.
    memang untung dana susah sekali urusannya, pernah dulu buat laporan selisih 5000 rupiah.
    5000 rupiah apa sih? tapi ketika secara pembukuan selisih ya membahayakan

    ReplyDelete
  4. Aku kalau diminta buat proposal ya angkat tangan. Gak pinter. Kalau penelitian asal2 lan atau contoh proposal aku msh oke. Kalau bneran ya msh butuh byk blajar Mbak. Biasanya minta bantuan pd org yg pernah gol soal proposal

    ReplyDelete
  5. wah baru tahu yg soal ttd digital itu dianggap ga serius. selama ini aq ngira nya malah itu solusi e. jadi cv pun mending discan gitu bagian ttd?

    ReplyDelete
  6. Tapi rata2 orang hanya terfokus pada pague anggaran. Ketika diajukan sebiah proposal pasti anggaran dulu yg dilihat.

    Yg lainnya gak.... Kalaupun ada cuma orang ADM aja...

    ReplyDelete
  7. ni mainan akademik bangat nih, tapi bukannya proposal penelitian itu sering dikirim melaui email ya? kan kalau email mmng menggunakan ttd hasil scan hmmmm

    ReplyDelete
  8. Postingannya keren Mbak Rinda, sangat berguna buat para akademisi. Aku masih kurang paham tentang judul itu. Pencantuman lokasi di judul tidak perlu jika judulnya seperti apa Mbak? Mohon pencerahannya ya 😊

    ReplyDelete
  9. Ini postingan paling berbobot nih dari beberapa tulisan yang kubaca hari ini.

    Ada beberapa istilah yang aku ga paham. Di sisi akademik, aku belum pernah bikin proposal apalagi untuk penelitian. Tapi di bidang sosial, ada beberapa proposal yang pernah kubikin dan alhamdulillah gol.

    Tapi kalau proposal kaya gitu, kan paling "ribet" cuma di masalah pembukuan dana aja. Tetek bengek kaya kajian dan lain lain ndak terlalu dipersulit :-)

    ReplyDelete
  10. Wkwkwkwk...
    kebiasaan bikin proposal yang terinspirasi kisah bandung bandawasa membuat 1000 candi dalam semalam memang membudidaya.
    Btw, aku sering mengabaikan abstrak jika baca jurnal (tak pernah baca proposal), langsung ke isinya. ternyata salah ya

    ReplyDelete
  11. Postingan yang sangat bermanfaat Mbak. Karena sesungguhnya proposal penelitian itu gagal menerima hibah ga cuma faktor takdir juga tapi bisa lebih karena ada ikhtiar yang perlu diupayakan lebih baik lagi :)

    ReplyDelete
  12. Kadang ada ..yang ngajuin penelitian cuma cari profit..
    Katanya bantuan penelitian dari pemerintah lumayan...

    Karena niatbyg salah atau gak cocok malah gak paham yg mau diteliti bidang mananya..malah ga diterima proposal ya..

    ReplyDelete
  13. Rasa rasanya klo ditolak dan gagal terus rasanya sakit juga haha udh susah payah eh msh ga terima juga :( tetapi, kita jgn menyerah untuk meriah kesuksesan untuk lulus

    ReplyDelete
  14. Kalau soal mengajukan proposal untuk penelitian, saya harus belajar sama mamah mertua yang profesinya sama dengan Mbak Rinda. Di kampusnya, setiap dosen memang dituntut untuk bisa melakukan penelitian. Sumber penghasilan yang cukup lumayan juga, ya he he he

    ReplyDelete
  15. Kisah membuat proposal ini tentu ga seindah saat eksekusi.
    Selama membuatnya sesuai dengan teori yang dipelajari, maka habis sudah.

    Pengalaman di lab dulu, banyak faktor yang mewarnai terjadinya penyimpangan-penyimpangan hasil yang diperoleh.
    Sehingga perhitungan prosentase galat harus diperhitungkan juga.

    ((aku sejujurnya paling senang saat sudah eksekusi di lab ketimbang menyamakan dengan teori))

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<