Saturday, November 4, 2017

Abung River Tubing, Destinasi Wisata Baru untuk Menguji Nyali Kamu

Air Terjun Belimbing (Difoto oleh Mery)


Hallo! Liburan kemana kamu weekend ini? Saya masih pengin nyeritain tentang weekend saya di Lampung Utara. Suatu wilayah di Lampung yang masih asing disebut sebagai lokasi tujuan wisata.

Pagi sekitar jam enam setelah sarapan kami menuju ke rumah dinas bupati yang ternyata lokasinya cuma selemparan batu dari hotel tempat kami menginap di Kota Bumi. Di sana udah berkumpul beberapa orang dengan seragam olah raga pada umumnya. Kaos dan celana training lengkap dengan sepatu dan mountain bike yang udah nangkring di mobil pick up. 
Wow! Serius kali agaknya adventure kita kali ini! Saya benar-benar nggak nyangka kalau persiapan mereka seserius itu. 

Ya gimana enggak, berangkat dari rumah saya cuma tau bahwa kami akan pergi mengunjungi air terjun. Tanpa tau kalau kami bakal dikasih fasilitas apa di medqn yang bagaimana dengan kewajiban apa. Heal yeah! But show must go on. Adventure is in the house.


Kami menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kota Bumi ke arah Kecamatan Bukit Kemuning. Setelah sampai di Desa Tanjung Baru, kami berbelok ke kiri melewati jalan anderlagh sekitar satu kilometer. Tim terbagi dua, yang akan mengikuti tubing dan yang langsung menuju ke air terjun sebagai titik finishnya.


Ternyata fasilitas untuk tubing nggak sampai sepuluh buah. So, hanya Wawan perwakilan kami yang mendapat kesempatan. Kami langsung menuju ke air terjun yang jaraknya sekitar 700 meter dari perkampungan melewati perkebunan sawit dan lokasi penambangan batu. Sementara untuk peserta tubing, mereka harus melewati jalan yang berbeda kurang lebih satu kilometer menuju hulu sungai.

Air terjun Belimbing dari atas tebing

Setelah ngobrol dengan penduduk setempat, saya diantarkan oleh Reza menuju lokasi air terjun. Thank God saya nggak harus jalan kaki karena ternyata dari meeting point alias lokasi parkir kami masih harus treking dengan medan yang cukup lumayan. Thank to Reza yang sudah mengantar saya sehingga saya juga bisa meminta tolong orang-orang untuk menjemput kawan-kawan yang masih di kampung. 

Untuk bisa mencapai air terjun, kami harus melewati anak tangga yang baru dibangun. Sepertinya spesial banget tangganya baru dibuat dengan sistem SKS. Tangga yang cukup curam tanpa pegangan bukan sesuatu yang baik untuk menggapai kebahagiaan di air terjun seindah apapun loh. Semoga besok-besok jalannya sudah diperbaiki, ya biar aman.

Sampai di bawah, kami masih harus meniti jalan berbatu ke arah kanan untuk sampai di air terjun belimbing yang dimaksud. Waaaaaah, air terjunnya lumayan tinggi dan deras. Ngeri. Saya masih berprinsip bahwa objek wisata semacam ini hanya untuk dinikmati dari jauh aja. Cukup bermain dengan riak di bawahnya. Ya kita kan nggak bakal tau seperti apa bahayanya, jadi be careful ya. Selalu berdoa dimana pun berada.

Untuk mencapai lokasi finish river tubing, kami harus meniti sungai berbatu besar-besar itu ke arah sebaliknya. Di sana kami menunggu tim yang bertualang cukup lama.

Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk mengarungi sungai tersebut dengan ban adalah sekitar dua jam. Begitu sampai di lokasi finish, para peserta langsung disambut dengan histeria suka cita. Wajah-wajah mereka bahagia banget. Semacam lepas dari beban hidup untuk sementara. LOL. 

Wisata river tubing di Sungai Abung ini dikelola oleh beberapa orang jebolan Himpunan Mahasiswa Lampung Utara di Yogyakarta. Jadi, emang banyak banget anak-anak dari Lampung Utara yang kuliah di Jogja. Menyebar entah dimana-mana dan mereka membentuk organisasi ini. Sementara mereka juga punya wadah lain bagi yang suka dengan alam, Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam Lampung Utara. Mereka bahkan punya program-program kerja sendiri dan hebatnya semuanya jalan!

Baca juga: Turbin Air, Indikator Desa Mandiri Energi Listrik

Eh, hebatnya lagi mereka mau mulang tiyuh. Pulang kembali ke kampung dan membangun kampung. Salah satunya ya dengan mengupayakan wisata adventure ini. Hebat! Good job, dudes!

Wisata yang baru sekitar dua tahun terakhir dirintis ini ternyata udah menarik minat banyak orang. Setiap akhir pekan, bahkan mereka nggak pernah absen untuk mendampingi para pelancong yang unjuk keberanian atau sekedar pengin escape dari reality for a while 😂😂😂

Menunggu para petualang (Difoto oleh Mery)

Jadi sebenarnya trek yang dilalui oleh kawan-kawan kami kali ini adalah trek sangat pendek. Bukan apa-apa, resiko yang dipegang oleh Tim Abung River Tubing ini lumayan besar. Pasalnya Ibu Bupati ikut nyebur ke sungai, Bo. Pemberani banget emang Ibu satu ini.

Aslinya, Tim Abung River Tubing menyediakan dua trek. Panjang dan Pendek. Trek panjang akan melewati sekitar lima belas air terjun di perjalanan. WOW!!! Jadi perjalanan kami kali ini sungguh-sungguh belum ada apa-apanya, sodara-sodara.

Buat kamu yang pengin menikmati wisata ini juga, kamu bisa memilih dua trek tersebut. Untuk trek yang pendek, mahar yang harus dibayar adalah Rp. 80.000 dan untuk trek yang lebih menantang dan panjang maharnya Rp. 100.000. Biayanya terbilang terjangkau yah. Biaya ini sudah termasuk transportasi dari Basecamp Abung River Tubing, sewa fasilitas dan perlengkapan safety, makan siang, bahkan foto-foto ciamik selama di air. Keren!

Ketika ngobrol di kampung saya mendapat informasi bahwa air terjun yang kamu tuju terletak di baqah lokasi penambangan batu split. Too bad. Dan masyarakat juga tau dampaknya bakal seperti apa jika gunung yang melingkupi desa mereka dikeruk. Gunung itu bukqn hanya catchment area bagi Desa Tanjung Baru tapi juga seluruh Lampung Utara bahkan sebagian Lampung Barat kalau tidak salah. 
Tambang batu dari kejauhan
Di atas perkampungan itu terletak hutan register. Kalau nggak salah register 34. Masyarakat tau kalau mereka nggak boleh masuk kesana. Hutan itu adalah masa depan kehidupan mereka. Sama seperti gunung yang ditambang itu, hutan lindung yqng di atas mereka juga nggak boleh dijamah demi investasi rakus ruang dan lahan semata. Dan sedihnya adalah bahwa penambangan batu itu berijin. 

Kesaksian dari beberapa masyarakat dan pengelola river tubing bahwa dulu sebelum ada penambangan batu tersebut, debit air di Sungai Abung lebih deras. Sekarang debit air lebih sedikit sehingga batu-batu juga lebuh terlihat dan arusnya sulit diestimasi karena bisa saja terdapat limpahan air mendadak jika di atas hujan deras.

Semoga kerusakan ekosistem di Sungai Abung nggak terjadi ya. Sehingga wisata petualangan andalan Kecamatan Balik Bukit dan Lampung Utara ini bisa berjaya. Kehidupan anak cucu kita kelak juga bisa terjamin keberlanjutannya. Para pengelola river tubing ternyata punya banyak rencana untuk menjadikan wisata di Sungai Abung ini bukan sekedar wisata advebture bagi orang dewasa yang pengin menguji nyali dan memompa adrenalin semata saja. Mereka juga punya harapan bahwa kelak wisata di Sungai Abung ini bisa menjadi objek bagi anak dan remaja untuk mendapatkan pendidikan lingkungan hidup secara komprehensif. Ya kalau mau jadi tempat untuk pendidikan lingkungan hidup, maka pengelolaan lingkungan di sana juga harus baik toh? Harus berkelanjutan dan tentunya ramah lingkungan.

Oh ya, satu lagi. Meski belum resmi dibuka, nyatanya di lokasi sudah terdapat beberapa sampah plastik. Menyedihkan ya kelakuan para pelancongnya. Bahkan mereka membuang puntung rokok dan plastik bekas tisu. Jangan lagi-lagi yaaa kejadian macam itu. 😭😭😭

Last but not least, fasilitas wisata air sungai semacam ini nggak pernah ada di benak saya bahwa saya bakal menikmatinya di Lampung loh. Soz ini harusnya bisa jadi potensi yang bisa kita manjukan bersama-sama. Semoga besok-besok saya bisa kembali kesana dan menikmati segala fasilitas adventurenya. Semoga besok-besok Tim Abung River Tubing sudah lebih matang dengan program-programnya, yaaa. Sakses! ❤❤❤

4 comments:

  1. Wah, mantap banget, deh. Kalo ke sana lagi kudu banget nyobain tubing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha. Swmoga ada kesempatan lagi yg oke yaaaa

      Delete
  2. Replies
    1. Masa? Asik ya tubing sendirian temennya enggak?

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<