Tuesday, November 28, 2017

Jangan Lagi Ada Film Seperti Naura dan Genk Juara



Foto: Youtube



Director : Eugene Panji
Actors : Adyla Rafa Naura , Joshua Rundengan , Vickram Priyono , Adryan Bimo , Shelomita
Durations : 103 Minutes
Censor Rating : SU
Genre : Drama
Language : Bahasa Indonesia
"Pah, seru banget tau pah filmnya! Nauranya nangkep penjahat sama temen-temennya...," cerita seorang anak lelaki gempal berapi-api via ponsel di depan bioskop.

Cerita di film ini bermula ketika ada perlombaan sains di sekolah. Naura, Okky, dan Bimo akhirnya menjadi juara dengan karyanya masing-masing. Naura dengan  GPSnya, Okky dengan roketnya, dqn Bimo dengan dronenya. Mereka mewakili sekolahnya untuk mengikuti Kemah Kreatif di Situ Gunung. Disana mereka bertemu dengan peserta dari sekolah yang lain. Mereka akhirnya berkenalan dengan Kipli sang ranger cilik. Mereka dipertemukan dengan gerombolan tiga orang pelaku penculikan dan perdagangan satwa liar. Hingga semua peserta berupaya untuk menggagalkan upaya mereka dengan idenya masing-masing sampai melupakan bahwa mereka sedang berkompetisi untuk memperebutkan gelar juara.

***

Sampai di bioskop, saya merasa hanyut dengan dunia anak. Serasa kembali ke dunia saya dulu sewaktu masih membaca bobo dan Donal Bebek. Teringat dulu antusiasnya penonton Petualang Sherina. Dan saya bersyukur dalam hati, ternyata lumayan juga antusiasme penonton di Lampung. Anak-anak itu ada yang dibawa oleh pihak sekolah, komunitas, ada juga yang dibawa orang tuanya. Saya awalnya dikira guru atau aktivis. Oh, enggak. Saya hanya penikmat film yang penasaran senista apa film ini. Biar saya obrak abrik sekalian bioskopnya kalau memang tidak layak tonton. Ah, tapi itu cuma dialog dalam hati aja, saya nggak sereaktif itu, kok. Saya mah masih bisa berpikir realistis.

Film ini adalah film yang sangat anak-anak, menurut saya. Menonton film ini, seperti melempar saya kembali ke masa kanak-kanak. Masa yang penuh kompetisi, bertengkar dengan kawan, sampai lari-lari sambil nari. Yakan, film musikal. Jadi dikit-dikit nari deh. Daripada nonton sinema India, mending nonton film musikal semacam ini deh. LOL.

Saya nggak paham secara sinematografi. Makanya saya nggak akan bicara soal itu. Tapi teknologi sudah menyempurnakan teknik pengambilan gambar yang memperlihatkan keindahan alam Situ Gunung, Sukabumi. Segar banget rasanya kalau bisa berada di sana.

Baca juga:Jangan Sembarangan Nonton Film Headshot

Saya awalnya sangat emosi dengan adanya broadcast untuk memboikot film bagus ini. Film yang sarat pesan persahabatan, cinta alam, dan keberanian. Makanya, saya jadi pengin banget menonton karena penasaran.

Di film ini, diperlihatkan bahwa kids zaman now itu harus kreatif. Kalau zaman saya percobaan ilmiah baru sebatas simulasi gunung meletus, sekarang anak SD udah bisa bikin GPS, alat buat ngecharge baterai, hingga roket. Kebayang dewasanya nanti seperti apa kan?

Lalu mereka diajarkan mencintai lingkungan dan menyayangi hewan. Lalu kasih sayang orangtua ke anak, anak ke orang tua serta sesama teman dan guru. Dari film ini saya juga menangkap pesan bahwa kalau bersatu kita pasti bisa melawan kejahatan. Luhur banget kan pesan-pesannya.

Film ini diproduseri oleh seorang Amalia Prabowo. Seorang muslim dan juga wanita yang mungkin jengah dengan tontonan anak-anak zaman sekarang. Film ini dibuat ketika Bulan Ramadhan, dan anak-anak kecil yang sangat aktif jingkrak-jingkrak lari-lari itu dalam kondisi puasa. That's why nggak ada adegan makan atau minum, ya.

Dari sini, terlihat bahwa nggak mungkin ada maksud untuk menistakan Islam. Lha wong yang buat juga orang Islam. Pemainnya muslim dan sedang menjalankan ibadah wajib sesuai perintah Tuhannya. Oke, artinya nggak nampak adanya kesengajaan untuk menista disini, ya.

Lalu apakah karena film ini dibuat oleh Eugene? Seorang pembela Ahok. Apalagi sponsornya adalah Kompas yang you knowlah citra mereka di mata beberapa orang seperti apa. Kalau saya memilih untuk netral. Saya tidak membela siapapun. Saya hanya berkata sesuai apa yang saya lihat dan rasakan. Terlepas dari tim di film ini adalah pembela seseorang yang dengan sangat sarkasnya disebut Penista Agama, saya tak peduli. Fokus saya adalah film bagus ini.

Lalu kenapa film-film islam yang sekarang nggak saya tonton lagi itu nggak diboikot? Film-film dan buku-buku yang membuat orang-orang lebih banyak galau dan pengin cepet nikah. Sudah nikah pengin nambah istri padahal belum mampu dan paham hakikatnya sama sekali. Tayangan-tayangan sinetron yang kerjaannya membully, mempertontonkan kekerasan dan kejahatan bahkan adegan-adegan seronok. Seharusnya yang diboikot itu tivi secara tivi bisa ditonton oleh semua kalangan. Kalau film kan cuma orang di kota atau yang mau bersusah payah pergi ke kota. Pun nggak semua orang kota, cuma orang yang berduit aja. Dan kampanye negatif film ini justru makin menyebarkan kebencian. Awas lho kena UU ITE. Orang-orang yang asalnya biasanya aja jadi benci sebenci-bencinya padahal nggak tau kenyataannya seperti apa. Dosamu, masyaa allah berlipat ganda, lho.

Lalu dimana letak menista agama di film ini yang dibilang orang-orang itu?

Katanya penjahatnya digambarkan berjenggot dan berdzikir. Lantas kalau berjenggot itu sudah pasti Islam? Sinterklas aja berjenggot, kok. Di film India, seorang ahli agama Hindu juga berjenggot kok. Jenggot bukanlah berarti muslim dan nggak semua muslim berjenggot. Itu yang pertama.

Kedua, penjahat di film ini bukan berjenggot. Mereka brewokan. Sepanjang saya menonton film atau sinetron, banyak penjahat memang digambarkan brewokan. Kemudian badannya kekar, berotot tapi lusuh. Kalau bersih, mungkin bakal gagal seram aktingnya. Kalau bersih, mungkin cocoknya jadi ahli agama atau sinterklas aja. Atau jadi dr. Beno aja deh.


Ketiga, penjahat dalam film ini digambarkan sebagai Wong Kito Galo. Sepanjang film dialog mereka menggunakan bahasa Palembang atau Sumsel. Dan ini berhubungan dengan poin keempat.

Keempat, orang melayu di sekitar saya... Errr... Orang Sumatera... Memang lebih sering berdzikir. Entah dalam kondisi tenang, marah, bahkan bercanda. Coba tengok orang-orang pelosok yang sering saya temui, mereka sangat sering berdzikir. Bukan cuma Astaghfirullah, tapi juga Allahuakbar. Bahkan yang bukan muslim juga demikian. Dzikir ini sudah lebih seperti kebiasan, bukan sekedar simbol agama.

Kalau saya melihat fenomena ini sebagai kelokalan. Jadi mereka ingin menunjukkan kelokalan dengan adanya Bahasa Palembang yang diucapkan oleh para penjahat dan Bahasa Sunda yang selalu diucapkan oleh Bu Laras. Namun ternyata ide ini diartikan berbeda oleh beberapa orang sensitif yang kemudian berhasil menarik orang-orang yang bahkan belum menonton filmnya untuk mengikuti arus. Alangkah jahatnya, ya. Saya bingung, jadi yang jahat itu siapa. Siapa menistakan siapa gitu lho.

Kalau saya sebagai orang Lampung justru tersinggung dengan berita  yang dibaca Naura di bus. Bahwa penjahat pelaku pencurian satwa liar diperkirakan lari ke Lampung. Lalu plat Land Rover yang dikendarai penjahatnya berplat BE dan disyut berkali-kali.

Tolonglah, citra Lampung ini sudah jelek gara-gara begal. Jangan lagi ditambah dengan citra sebagai daerah pelarian penjahat. Huhu, tapi sayangnya saya nggak sesensitif itu, sih. Saya nggak mengajak orang-orang Lampung untuk menuntut tim kreatif film ini meminta maaf dan melaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik. Saya nggak segitunya, dan poin ini juga saya bercanda.

Kalau saya yang sangat awam ini boleh mengoreksi film bagus ini adalah tentang typo. Ada typo di subtitle dialog Bu Laras. Coba cek deh yang di awal-awal.

Kedua, agak nggak masuk akal kali yah kalau di hutan dan pegunungan semacam itu anak-anak memakai celana pendek. Khawatirnya masuk angin deh. Anak-anak sekarang sudah lebih peka juga terhadap aurat. Mungkin bagus juga kalau celananya dibuat sedikit tertutup demi mengajarkan tentang kesopanan. Biar perempuan-perempuan juga sadar bahwa dia harus waspada dan jaga diri soal pelecehan akibat laki-laki yang memandang auratnya.

Kalau di zaman saya kecil dulu, masih belum kenal media sosial. Orang-orang tau trend fashion ya dari TV dan majalah. Saya juga sering meniru fashion dari sana. Saya juga dulu berpakaian mini dan bangga. Tapi sekarang ini informasi lebih sulit disaring, jadi ada baiknya kalau tontonan pun mengajarkan hal-hal tentang kesopanan.

Naura dan Geng Juara ini adalah film yang sangat anak-anak. Mungkin orangtua harus mendampingi demi memberikan penjelasan dan edukasi. Kalau saya bawa anak kecil, mungkin saya akan bilang bahwa celana Naura kependekan. Padahal di hutan banyak nyamuk dan dingin. Bla...bla...bla. Lalu saya juga akan bilang, orang jahat aja dzikir, masak kamu lupa. Dan lagi yang jahat itu orangnya, bukan agamanya. Semua penganut agama bisa jadi orang jahat dan orang baik bergantung pilihan hidupnya.

Ayo, dong bikin film anak lagi dan lagi. Supaya anak-anak bisa punya tontonan yang membuat mereka jadi kreatif dan pengasih! Jangan lagi hancurkan kebahagiaan anak-anak dengan hasutan kebencian. Kasian anak-anak yang berharap menonton. Kasian anak-anak yang main filmnya. Khawatir nanti berpengaruh ke mental mereka lho. Jangan sampai ada lagi film yang nasibnya seperti Naura dan Genk Juara ini, ya. Pihak yang memroduksi filmnya juga harus lebih berhati-hati karena orang zaman sekarang banyak menderita darah tinggi dan PMS.

Eh tapi, kalau kata HB kenapa sih film anak anak musti ada si baik dan si jahat? Kenapa harus ada tokoh jahat dan yang baik pasti menang? Kenapa hayo?

26 comments:

  1. Nice opinion. Sbg wong kito galo, setuju banget sama yg dipaparkan Rinda.

    ReplyDelete
  2. Itu produsernya amalia prabowo yg anaknya disleksia itu ya (buku & film wonderful life)?

    ReplyDelete
  3. saya sebagai muslim jujur agak sedih dengan kondisi kita sekarang yang kayaknya terlalu sensitif terhadap banyak hal. ujung-ujungnya image muslim jadi jelek

    ReplyDelete
  4. hahaha.. itu smua stereotype, jadi ya dipakai di film. Apapun itu, ga salah sih yg bikin. Bahkan lampung juga wkwkwk.. dasar begal :D semua memang harus ditanggapi dengan senyuman.. aku wong pelembang bae senyum2 bae dak tesinggung.

    apalagi film anak-anak. Jawaban kenapa harus ada jahat baik n yg baik menang? Karena difase inilah anak dikenalkan baik dan buruk dan mampu menjadikan role model kebaikan sekaligus yakin akan kebaikan. Kalau dah gede mah, sebodo teuing susah diatur. Film dah cinta-cintaan. eaaa. Disemua negara, selain baik dan buruk, biasanya soal kebijakan dan juga patriotisme.

    ReplyDelete
  5. bener kan kalau pakai bahasa melayu, thats why. sempat heran juga sih kok ke Lampung ya, kenapa ga ke Kalimantan aja yang hutannya lebih luas. hehe

    ReplyDelete
  6. Kak Seto aja sampai marah loh ketika dengar film ini diisukan menebar kebencian kpd agama Islam, agama yg dianut beliau. Tapi beliau gak cepat lsg percaya dan menonton filmnya. Ya gak ada yg perlu dikhawatirkan sih. Begitu menurut kak Seto.

    ReplyDelete
  7. Aku sukak banget ulasanmu, Rin! Sejak rame2 soal film ini, aku meyakinkan diri untuk ga ikut2an reaktif. Apalagi, aku blom nonton. Belum tau kayak gimana adegan2 dalam film ini. Setuju banget yang soal TV. Itu parah banget. Yang celana pendek sampe yang cuma bikini (Sendy kawannya Spongeboob juga cuma pake bikini, lho, oh, nooo!), lalu artis2 yang ngelawak pake kalimat2 plesetan macam ya oloh, astajim, dsb. Trus gosip2 yang oh my God tajam2, film2 syirik, sinetron aserehe dg pemain2 smlehoy, itu kenapa ga diboikot? Padahal TV lebih super duper kudah diakses anak2 dibanding bioskop. Aku aja seumur idup blom pernah ke bioskop. Artinya, cuma kalangan tertentu aja yang ke sana dan berapa persen yang balik untuk nonton ke dua kali? Ah, entahlah...

    ReplyDelete
  8. Bener banget yah, mba, kadang yang membroadcast untuk memboikot sebah film itu belum tentu sudah menonton filmnya, seharusnya melihat secara komprehensif sebuah permasalahan jangan asal membradcast sbeuah berita, saya belum nonton filmnya tapi mungkin nanti akan nonton ajak anak-anak

    ReplyDelete
  9. Aku suka banget film ini. Mengingatkan aku ketika berebut tiket bioskop demi film Petualangan Sherina belasan tahun yang lalu.
    Hmm usut punya usut yang menghebohkan film ini memang senang menghebohkan film-film lainnya. Jadi ya, mari anggap saja dia memang tukang mencari sensasi.

    ReplyDelete
  10. Zaman sekarang emang yah mba, serba sensitif T.T. Harusnya kan emang mengajarkan bahwa jangan cepat menilai orang gitu buat anak anak ya, biar mereka gedenya nggak kaget gitu sih. Iya heran, yang tontonan hiburan kurang mendidik di televisi juga masih banyak yang harus di tiadakan.

    ReplyDelete
  11. Emm, orang reaktif biasanya krn sesi tabbayunnya suka kelupaan. Kenapa? Krn yg mereka anggap "lebih dari dia" entah pendidikan,jabatan,pengalaman,ilmu agama,dll mengulasnya. Akhirnya asal percaya & lgsg meneruskan BC.

    Tapi, ada untungnya juga, yg tadinya ga tau film ini jd penasaran jadi pgn nonton buat buktiin bener ga sih kayak gitu filmnya.

    Kayak aku berburu teaser sama ulasan yg udah nonton. Hehe

    Maklum cuti nonton sampai baby bisa diajak kompromi. Xixi

    ReplyDelete
  12. Setuju, mari melihat dari kacamata anak tanpa mengaitkannya dengan agama dan politik

    ReplyDelete
  13. hmm...kemarin hampir nonton nih film, tapi ga jadi. bukan karena dengar gosip tapi karena merasa filmnya anak-anak hehe. nanti aja nontonnya kalau sudah ada anak

    *eh

    btw aku memang heran lho, film-film suka sekali menyerempet-nyerempet suku ras dan agama. ya, aku tahu, mungkin tujuan mereka adalah agar cepat tenar dan banyak yang penasaran. but please, ini bukanlah hal-hal yang seharusnya diuangkan, suku ras dan agama itu sangat sensitif, iya kan ya?

    ReplyDelete
  14. Duh aku belum nontonnya jd penasaran yg jd kontroversi org2.
    Btw kapan hari liat film Hollywood anak2 itu bisa aja sih sbnrnya menggambarkan persahabatan, dll. Ada jg toko antoagonis tapi tanpa nyinggung agama dan suku. Yaaaa, di sini lagi sensitif jd sebaiknya pembuat filmnya jg bijak gk usah nunjukin agama atau suku penjahatnya kali ya #imho

    ReplyDelete
  15. Aku juga gak mau kemakan isu boikot2 kalo belom liat filmnya. Ga mau asal boikot. Semoga setelah kejadian ini para pengusaha film masih semangat untuk terus bikin film anak

    ReplyDelete
  16. Hehehe... film ini banyak menuai pro dan kontra ya... Semakin ke sini orang udah semakin kritis. Hal sekecil apapun bisa jadi bahan kritikan.

    Kalau saya sendiri, gak mau ikut berkomentar. Karena saya belum nonton filmnya. Lagi pula, anak-anak saya sudah besar. Mereka gak ada yang minta nonton film ini.
    Harapannya, sih, semoga semakin banyak film anak yang mengedukasi dan bisa dijadikan teladan bagi anak-anak. Semoga.

    ReplyDelete
  17. wah suka banget sama ulasannya, tidak ngejudge, tapi emg mau lihat dulu baru berkomentar. jadi penasran, dan mau nonton juga.

    ReplyDelete
  18. Aku blm nonton jd gak berani komen banyak
    Semoga kedepannya film anak Indonesia makin banyak dan mendidik tentunya

    Dan kenapa film anak hrs ada baik dan buruk, ya buat contoh mungkin. Karena kita hrs nunjukin bahwa dunia ini gak semua baik. Jadi harus waspada

    ReplyDelete
  19. sayang banget yah film anak anak yang penuh kontroversi padahal sudah jarang film yg bawa tema anak di Indonesia. Kontennya perlu diperaiki ya. semoga ada produser dan sutradara yang lebih paham masalah kultur, budaya dan agama di Indonesia

    ReplyDelete
  20. Finally. Ada yang bikin opini yang sangat layak untuk film ini. Aku sih belum tonton film ini yah. Belum juga belu tiketnya. Hanya tahu soal berita buruk yang katanya melecehkan agama atau apalah itu.

    And after reading this post, sepertinya aku belajar sesuatu yang baru. Anyway, kok kayaknya tulisan ini mengandung spoiler ya? Hmmm.

    ReplyDelete
  21. Ya terkadang banyak orang jaman sekarang yang menilai sesuatu itu hanya sebatas "katanya.. Katanya... " tanpa pernah melihat lebih jauh dengan seksama, perihal bagaimana bentuknya, perihal bagaimana isinya, tanpa perlu menilai sesuatu yang tidak benar hanya bermodal "katanya. Katanya... "

    Sungguh saya masih saja merasa jengkel, ketika sebuah agama dibawa bawa dalam suatu persoalan sekaligus dijadikan senjata untuk. Menjatuhkan lawannya, itu sungguh tidak aduhai betul. Cara mainnya, sekalinya dianya kena kasus, eh dia kabur entah kemana...

    ReplyDelete
  22. Aku udah nonton,dan biasa aja ah gk ada scene yg harus sampai menyebabkan boikot segala. Tpi soal celana pendek aku jg sependapat,ini bkn ttg ajaran agama manapun tp soal kesopanan dan waspada diri,khawatirnya ada pihak2 yg tetiba ingin berbuat jahat krna melihat aurat anak perempuan yg mulai beranjak dewasa, ya waspada kan perlu.

    ReplyDelete
  23. Aku belum nonton nih jadi enggak bisa komentar soal yang boikot2 itu. Soal pakaian, kayaknya memang ga logis ya main ke gunung pake celana sependek itu. Selain dingin juga antisipasi serangga.
    Tapi film naura ini memang mengingatkan jaman petualangan sherina banget ya. Semoga nanti makin banyak film anak-anak yang bagus untuk ditonton lagi.

    ReplyDelete
  24. Membaca tulisan Rinda jadi pengin nonton film ini. BUkannya kemarin-kemarin ndak tertarik, tapi ndak berhasil mengajak anak-anakku. Para cowokku itu bilang ndak berminat film ini. Mungkin karena judulnya terlalu perempuan kali ya.

    ReplyDelete
  25. Aku malas nontonya saingannya Coco sih hehehe
    Yang jelas judul artikel ini Klik Bakt banget Mbakk hehehe
    Tpai senang loh ada film anak kaya Naura, banuak soalnya anak dipaksa nonton film orang dewasa di bioskop

    ReplyDelete
  26. Setuju mbasay. Sy cm me(ringis)nggaris bawahi nggak semua org pny duit buat nonton, it sy banget wkwkwk... Pengen sih suatu saat bs ngajakin anak2 nonton film gini, aamiin...

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<