Saturday, December 16, 2017

JALAN TOL TRANS SUMATERA: WUJUD MIMPI MULUSNYA SUPPLY CHAIN DAN GELIAT PEREKONOMIAN LAMPUNG





Adanya kesenjangan ekonomi di Indonesia utamanya disebabkan kelemahan dalam pengembangan rantai nilai atau value chain dan rantai pasok atau supply chain. Sebagai contoh, Lampung terletak tidak jauh dari Ibu Kota Negara, tapi harga beberapa produk di Lampung terbilang tinggi bahkan langka. Hal ini salah satu penyebabnya adalah sistem supply chain yang belum baik yang juga dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur transportasi.


Infrastruktur transportasi berperan dalam memperlancar pergerakan arus barang dan jasa sehingga lebih efektif dan efisien. Ketersediaan infrastruktur transportasi yang mumpuni ini menjadi faktor penting untuk mewujudkan konektivitas lokal, nasional, bahkan global. Dalam lingkup yang lebih sempit, infrastruktur transportasi harus mampu menghubungkan kepentingan masyarakat pedesaan, perkotaan, dan pusat-pusat ekonomi.  Dengan demikian daya saing produk nasional meningkat seiring dengan pemenuhan kebutuhan strategis masyarakat dengan harga lebih terjangkau dan jumlah yang memadai.

Dalam kesempatan kunjungan ke Institut Teknologi Sumatera pada 6 Oktober lalu, Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro mengamini pernyataan saya bahwa adanya kesenjangan sosial dan ekonomi di masyarakat juga disebabkan karena buruknya sistem supply chain.

“Itulah kenapa kita bangun infrastruktur jalan dimana-mana. Kita lakukan pembangunan mulai dari tepi Indonesia. Sehingga tidak akan ada lagi ketimpangan sosial dan ekonomi. Harga barang di Lampung dan Jakarta harus sama. Begitu juga dengan di Papua,” jelasnya.


Di lain kesempatan, saya pernah datang ke Kampung Pekandangan. Suatu kampung yang berbatasan dengan Kawasan Register 39 di Kabupaten Lampung Tengah. Disana tersimpan potensi baik wisata maupun sumber daya alam lainnya. Menurut informasi yang disampaikan oleh Ade Ma’mun, Kepala Kampung setempat, masyarakat membuat gula aren berkualitas baik. Sialnya, mereka menghadapi kendala infrastruktur transportasi yang membuat produknya harus dihargai mahal lantaran harus menanggung biaya pengiriman.

“Gula aren dari sini ya banyak, sebulan bisa dua ton. Yang pesan juga jauh-jauh dari Lampung Timur jadi ongkosnya mahal, harus turun dulu (ke kampung tetangga) terus pesan travel yang jarang ada,” keluh Ade Ma’mun.

Demikian juga komoditas kopi yang dikembangkan di dataran-dataran tinggi di Lampung yang menyumbang PDRB sebesar 26 persen. Antara Lampung News mengungkap fakta bahwa kopi  memberikan  kontribusi sebesar 21,22 persen dari produksi nasional dan 85 persen ekspor komoditas tersebut berasal  dari Lampung. Artinya, potensi ini harusnya semakin mudah untuk didistribusikan dengan adanya ketersediaan infrastruktur transportasi. Perekonomian kita tumbuh perlahan karena biaya ekonomi yang tinggi. Investasi menjadi lambat realisasinya lantaran kendala infrastruktur.

Perekonomian wilayah Sumatera pada 2016 tumbuh sebesar 4,3 persen meningkat dari 3,5 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh membaiknya kinerja ekonomi di hampir seluruh wilayah Sumatera. Hal ini terutama didorong oleh meningkatnya investasi dan membaiknya ekspor. Pengangkutan barang dari Sumatera ke Jawa juga terjadi peningkatan. Data BPS Lampung pada September 2017 menunjukkan adanya kenaikan jumlah truk yang berangkat dari Pelabuhan Bakauheni sebesar 15,34 persen menjadi 67.573 unit dan pick up menjadi 13.154 unit dibandingkan 2016.

Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan kondisi infrastruktur yang memadai. Indonesia dengan pertumbuhan penduduk yang pesat pun berdampak pada penggunaan lahan dan kepemilikan kendaraan pribadi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, saat ini penduduk Indonesia berjumlah 261.890,9 ribu orang dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk 2010–2017 sekitar 1,34 persen per tahun. Sementara di Lampung, pada tahun 2017 diproyeksikan jumlah penduduknya mencapai 8,3 juta orang. Pertambahan penduduk ini berpengaruh juga terhadap pertambahan jumlah kendaraan bermotor di Lampung yang mencapai 2,8 juta pada 2014, naik dari angka 1,07 juta unit kendaraan selama satu dekade terakhir.

Infrastruktur transportasi sangat diperlukan untuk menjembatani kesenjangan dan mendorong pemerataan hasil-hasil pembangunan antar wilayah. Seperti dilaporkan oleh Antara pada 2015, pembangunan ruas Jalan Tol Trans Sumatera dari Pelabuhan Bakauheni hingga Terbanggi Besar diperkirakan sepanjang 140,41 kilometer dengan lebar jalan 120 meter akan memberikan dampak positif bagi daerah. Selain percepatan ekonomi, pembangunan jalan tol akan membuat beban lalu lintas di Jalan Lintas Sumatera menjadi berkurang karena kendaraan dengan tonase besar akan melalui tol.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi kawasan Sumatera diperkirakan tumbuh 4,5-5,0 persen pada tahun 2017. Pada tahun 2018, wilayah Pulau Sumatera kontribusinya diperkirakan sebesar 22,12 persen terhadap perekonomian nasional dengan menjaga momentum pertumbuhan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 5 persen selama tahun 2018. Terlebih Sumatera juga diarahkan untuk sebagai salah satu wilayah untuk mewujudkan swasembada pangan dan lumbung pangan nasional.

Posisi strategis geografis Lampung sebagai pintu utama perdagangan nasional bahkan internasional mengarahkan pembangunan infrastruktur di Lampung untuk mewujudkan pusat industri yang berdaya saing seperti pangan, energi, perkebunan, pelabuhan, dan pariwisata. Peningkatan sektor jasa juga ditopang dengan perwujudan jaringan transportasi antarmoda yang dapat meningkatkan keterkaitan antarwilayah, efisiensi ekonomi, serta membuka keterisolasian wilayah.

Adanya Jalan Tol Trans Sumatera memungkinkan wisatawan yang mengunjungi objek wisata dari dan ke Pulau Jawa dapat melanjutkan petualangan di Lampung lewat jalur darat yang lebih eksoktik dan menantang dibandingkan lewat udara.  Wisatawan luar negeri yang singgah di Singapura lewat Batam juga dapat menikmati keberagaman hayati dan aneka budaya serta kearifan lokal yang dimiliki Lampung. Dengan demikian pendapatan di sektor pariwisata akan meningkat dan promosi pariwisata akan semakin masif.

Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera ini juga mendukung persaingan Lampung pada Masyarakat Ekonomi ASEAN. Perjanjian perdagangan bebas atara Indonesia dengan negara-negara lain merupakan potensi besar untuk membuka pasar baru yang lebih luas. Lampung mempunyai perkebunan buah-buahan tropis dan Australia membutuhkan buah-buahan tersebut. Sementara Chile berkomitmen untuk membeli produk karet Indonesia yang juga banyak terdapat di Lampung. Dengan adanya akses infrastruktur transportasi di bagian timur Lampung tentu memudahkan distribusi produk-produk tersebut.

Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera ini menjawab kompleksnya dinamika dan tantangan global bagi perekonomian Indonesia, juga Lampung tentunya. Hal yang perlu menjadi prioritas untuk mendukung pengembangan sektor perekonomian satunya melalui integrasi strategi pengembangan infrastruktur logistik dengan pengembangan wilayah yang mendukung peningkatan konektivitas antarwilayah industri, permukiman, dan simpul-simpul transportasi. Jalan Tol Trans Sumatera ini mempersempit kesenjangan antara Pulau Jawa dan Sumatera. Hal ini serupa dengan pembangunan Jalan Daendles beratus tahun silam yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat Jawa. Mulusnya supply chain akibat infrastruktur transportasi yang lancar ini kelak turut berkontribusi dalam pencapaian Sustainable Development Goals yang termasuk didalamnya adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan, perbaikan kesehatan, pendidikan, serta pembangunan yang lebih berkelanjutan.



Referensi

Antara. (2016, 10 22). Antara News Lampung. (Antara) Dipetik 09 21, 2017, dari https://lampung.antaranews.com/berita/292788/asisten--pembangunan-jalan-tol-berikan-dampak-positif
Antara. (2017, Januari 31). Antara Lampung News. (Antara) Dipetik 11 1, 2017, dari https://lampung.antaranews.com/berita/294432/85-persen-ekspor-kopi-robusta-indonesia-berasal-dari-lampung?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news
Badan Pusat Statistik. (2017). Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi November 2017. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statitik. (2017). Perkembangan Transportasi September 2017 Lampung. Berita Statitik, No. 12/11/18Th. VII, 1 November 2017.
Indonesia, B. (2017). Laporan Perekonomian Indonesia 2016. Jakarta: Bank Indonesia.
Lampiran Peraturan Presiden. (2017). Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2017 Tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Republika. (2013, 12 2). Republika. (Republika) Dipetik 9 8, 2017, dari http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/12/01/mx4nm9-jalan-tol-trans-sumatera-dibangun-ini-manfaatnya
Republika. (2017, 11 1). Republika. (Republika) Dipetik 11 1, 2017, dari http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/11/01/oyqcl9382-jk-instruksikan-percepat-perundingan-perdagangan-bebas

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<